Benihbaik x Metro TV
Salurkan donasi anda ke campaign-campaign di bawah ini
Campaign Pilihan Hari Ini
Tulangnya Sampai Keropos! Bu Elang Alami Kanker Payudara dan Kecelakaan
Elang Yudansih
Ditinggal Ayah, Ibu Berjuang Sendiri Mendampingi Haura yang Alami Sederet Penyakit
SYAFRINI
Dimulai dari Rasa Gatal Luar Biasa, Aku Ketahuan Mengalami Kanker Payudara!
Evi Novianti
Pilihan Benihbaik
Tulangnya Sampai Keropos! Bu Elang Alami Kanker Payudara dan Kecelakaan
Elang Yudansih
Ditinggal Ayah, Ibu Berjuang Sendiri Mendampingi Haura yang Alami Sederet Penyakit
SYAFRINI
Dimulai dari Rasa Gatal Luar Biasa, Aku Ketahuan Mengalami Kanker Payudara!
Evi Novianti
Panggilan Mendesak
Waktu mereka tidak banyak, mereka sangat membutuhkan bantuan kalian
Tidak Bisa Berlari, Anak Tukang Bawang Keliling Berjuang dari Sakit Jantung
“‘Bapak…kenapa Gendhis enggak bisa lari kencang seperti teman-teman?’ Tanyanya dengan napas tersengal setelah berjalan sedikit beberapa langkah saja. Pertanyaan polos itu terasa seperti menancap langsung di hatiku. Saat itu aku sadar, anak kecilku mulai mengerti bahwa dirinya berbeda dari anak-anak lain seusianya.”“Setiap hari,aku sering memergoki istriku diam-diam menyeka air matanya sambil menatap Gendhis. Namun dibalik semua rasa sakit itu, anakku selalu semangat untuk menjemput jantung sehatnya. Ia senang bertemu dokter, meski tahu jarum suntik akan kembali menusuk tubuhnya. Melihat keberaniannya, aku optimis mendukung kesembuhannya meski harus berhadapan dengan keterbatasan keuangan.” -Hartono, Orang tua Meyka-Meyka Gendhis Ramadhani (5 thn) kini menghabiskan sebagian besar masa kecilnya bukan untuk berlari atau bermain, tapi untuk dengan melawan penyakit jantung. Padahal dulu, ia lahir dan tumbuh seperti anak-anak sehat lainnya. Nun ketika usianya menginjak 4 tahun, kehidupan anakku berubah menyakitkan.Tiba-tiba Ia mengalami demam yang tak kunjung sembuh. Perasaan khawatir merasukiku ketika seorang bidan mengatakan detak jantung anakku tidak berirama. Aku benar-bener tak mengerti apa maksudnya? Tapi sebagai orang tua aku tau ada yang tidak beres pada anakku.Anakku dirujuk ke di rumah sakit yang lebih besar untuk pemeriksaan. Di sanalah duniaku runtuh, anakku didiagnosa kelainan jantung! Lalu, dengan hati yang penuh harap, aku membawanya berpindah rumah sakit dari Blora ke Semarang demi mencari pengobatan terbaik.Setelah menjalani kateterisasi jantung pertamanya, anakku dirujuk ke rumah sakit Jakarta. Harapan itu ada, tapi bersamaan dengan kenyataan pahit tentang kesulitan biaya yang harus aku hadapi. aku hanyalah pedagang bawang merah keliling, penghasilanku tak menentu. Akhirnya, demi kesembuhan anakku, aku menjual motor satu-satunya, menjual perhiasan bahkan meminjam dana ke bank. Selama di Jakarta, kami menumpang di rumah singgah agar bisa menghemat biaya hidup di perantauan.Kini kondisi Gendhis masih membuat hatiku sering terluka. Ia cepat sekali lelah, sering sesak napas, bahkan tubuh kecilnya terkadang membiru. Ada hari-hari di mana aku memilih menahan lapar agar sedikit uang yang tersisa bisa dipakai untuk kebutuhan anakku. Bahkan untuk membeli vitamin yang ia butuhkan pun kadang aku tak mampu.Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Meyka tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Meyka!
Dana terkumpul
Saya Lumpuh Total! Ingin Bisa bergerak Lagi
Tahun 2019 kejadian naas menimpa saya waktu itu. Saya jatuh dari pohon kelapa yang mengakibatkan saya menderita kelumpuhan sampai sekarang karena patah tulang. Kondisi kelumpuhan saya dimulai dari dada ke bawah yang mati rasa, saya tidak bisa merasakan apa-apa. Kondisi saya semakin parah dengan adanya luka di kedua sisi bokong saya yang membuat saya hanya bisa berbaring.Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi. Kaki saya bahkan tidak bisa diluruskan, saya benar-benar lumpuh. Kegiatan mandi dan mengganti perban pun harus dibantu oleh orang tua saya karena saya sudah tidak bisa melakukannya sendiri.Kondisi orang tua yang sudah sangat tua, membuat saya tidak tega apabila mereka terus mengurus keperluan saya sehari-hari. Saya tidak mau mereka kelelahan mengurus saya yang sudah tidak bisa apa-apa ini. Sekarang untuk keperluan sehari-hari kami dibantu tetangga dan masyarakat sekitar. Saya membutuhkan bantuan TemanBaik untuk membeli kebutuhan ganti perban dan obat-obatan untuk mengurangi rasa sakit. TemanBaik, saya Lumpuh. Saya ingin sembuh dan bisa bergerak lagi.
Dana terkumpul
Setelah Vaksin, Anakku Ketahuan Alami Cerebral Palsy
“Aku pernah berada di titik terendah sebagai seorang Ibu, ku terpaksa menghentikan pengobatan anakku selama 6 bulan! Itu semua karena aku benar-benar tidak ada biaya. Sementara tubuh anakku semakin hari semakin kaku akibat kejang parah.”“Penghasilanku pas-pasan. Aku hanyalah tukang cuci, gosok dan beres-beres rumah orang. Itu pun tidak selalu ada panggilan. Kadang ada, kadang tidak. Meski aku harus mati-matian mencari pekerjaan demi pengobatannya, aku tidak pernah lelah demi kesembuhan anakku.” -Nur Koerunisa, Orang tua Rafaizan-Muhamad Rafaizan Maulana Sidik (5 thn), anakku yang seharusnya tumbuh ceria, kini harus berjuang melawan kerasnya takdir. Padahal, anakku tumbuh sehat dan ceria, setiap hari tawanya menghiasi rumah. Namun, hidupnya berubah saat penyakit gangguan otak itu datang saat usianya 2 tahun. Awalnya anakku menjalani vaksin polio, tapi pulangnya Ia mengalami kejang hebat disertai demam. Aku begitu terkejut dan langsung membawanya ke rumah sakit. Dokter saat itu mengatakan Rafaizan mengalami cerebral palsy dan epilepsi. Sejak itu, hidup anakku berubah kelam. Sudah lebih dari 2 tahun aku berjuang demi anakku, Bolak-balik rumah sakit menjadi rutinitas. Mulai dari pemeriksaan EEG, MRI, hingga terapi fisioterapi yang harus dijalani 8 kali dalam sebulan.Namun, tak banyak perubahan. Otot-ototnya kaku hebat akibat kejang setiap hari, berat badannya terus menurun. Ia hanya bisa menangis, menahan sakit yang tak mampu diungkapkan. Hatiku hancur melihat anakku tak berdaya. Di sisi lain, aku kesulitan memenuhi pengobatannya. Dalam sebulan, penghasilanku bahkan tak cukup memenuhi semua kebutuhan pengobatan anakku. Banyak obat yang tidak ditanggung BPJS, belum lagi kebutuhan susu khusus dan popok yang harus selalu tersedia.Aku sudah berupaya menjual apa yang kami miliki karena kesembuhan anakku adalah segalanya. Hatiku sering bertanya, apakah suatu saat anakku bisa sembuh dan kembali tertawa? Apakah Ia bisa bermain seperti anak-anak lainnya? Bisa berlari, berjalan, dan merasakan masa bahagianya menjadi anak-anak?Selain obat-obatan, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, vitamin, dan kebutuhan lainnya yang sulit aku penuhi.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Rafaizan tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Rafaizan!
Dana terkumpul
Alami Lumpuh Otak dan Mikrosefali, Anak Saya Tidak Bisa Aktivitas Apapun
“Dokter bilang kemungkinan sembuh anak saya kecil, tapi setidaknya pengobatan mengurangi rasa sakit yang Ia derita. Rasa frustasi dan rapuh sudah saya telan dalam perjalanan saya untuk memperjuangkan kesembuhan anak saya selama 5 tahun terakhir. Saya masih menggantungkan harapan saya kepada mukjizat, suatu hari saya ingin melihat anak saya bisa mandiri dan bisa berbicara agar saya tahu apa yang Ia rasakan dan Ia inginkan.” -Desi Lestari, Orang Tua Dafa-Tak pernah saya sangka sebelumnya, ternyata Tuhan menitipkan saya anak spesial ini. Muhammad Dafa Perdana (5 thn), buah hati yang sejak kecil membuat saya dan keluarga heran dengan kondisinya. Ia tampak berbeda, tidak ada perkembangan sama sekali seperti anak pada umumnya.Di usianya yang sudah 3 bulan, Dafa tidak bisa tengkurap dan lehernya belum bisa tegak. Saat dibawa ke dokter, hasilnya menunjukkan anak saya mengalami kelumpuhan otak dan kondisi kepalanya berukuran lebih kecil dari anak normal.Pantas saja tumbuh kembangnya terganggu, ternyata otaknya juga tidak berkembang.Hingga saat ini Ia tidak bisa berjalan, duduk, maupun bicara seperti anak seusianya. Ia hidup hanya untuk berbaring, tanpa bisa melakukan aktivitas apapun. Tanpa ada orang lain di sekelilingnya, Dafa tidak bisa hidup karena semua aktivitasnya membutuhkan bantuan. Makan dan minum harus disuapi, buang air kecil maupun besar dilakukan di atas kasur menggunakan pampers. Ia juga sangat kurus, mungkin tidak selera karena hanya bisa mengkonsumsi makanan yang lunak saja. Bahkan berat badannya hanya 7 Kg, Ia harus minum susu khusus untuk menambah berat badannya. Terkadang Ia juga sering mengalami kejang.Tapi saya sebagai orang tua selalu memperjuangkan kesembuhan anak. Saya selalu rutin membawa anak fisioterapi dengan harapan agar Dafa suatu saat bisa berkembang dan beraktivitas secara mandiri. Namun saya terkendala biaya untuk anak saya terapi wicara, dia juga butuh alat bantu dengar, membeli susu khusus, pampers, serta vitamin.Suami saya hanya bekerja sebagai satpam, tapi kalau lagi libur biasanya menjalani pekerjaan tambahan sebagai pengemudi ojek. Namun, motor juga sudah dijual karena untuk pengobatan anak yang berkebutuhan khusus. Jadi, kadang pinjam motor tetangga yang menganggur untuk berupaya mencari tambahan biaya.#TemanBaik, mari bantu Dafa untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Saat Biaya Pengobatan Menghimpit, Pendidikan Danish Terancam Putus
Cobaan terus datang pada perjalanan Danish menempuh pendidikannya. Tiga tahun terakhir, Neneknya sering sakit dan harus rutin kontrol ke rumah sakit. Dua tahun terakhir, adiknya pun harus menjalani pengobatan rutin. Meski biaya rumah sakit ditanggung BPJS, ongkos perjalanan tetap menjadi beban berat bagi orang taunya.Titik terendah itu terasa begitu dalam ketika adiknya harus menjalani operasi bersamaan dengan waktu Danish akan masuk SMP. Dalam keadaan tak berdaya, orang tuanya yang berpenghasilan pas-pasan hanya bisa meminjam uang pada saudara. Hati orang tuanya terbelah, memilih antara kesembuhan anak atau pendidikan.Di balik seragam putih biru yang Ia kenakan Danish Dayana Batrisya (14 tahun), tersimpan mimpi yang sangat besar. Danish yang saat ini duduk di bangku kelas VII di SMP Negeri 2 Panggang, Yogyakarta. Namun, jalannya menuju cita-cita itu tidaklah mudah.Jika pagi Ia menuntut ilmu di sekolah, maka ketika sepulang sekolah Ia lebih memilih membantu orang tuanya. Kemudian, Ia menutup Minggu sorenya dengan mengaji di pondok. Hari-harinya sederhana, namun penuh makna dan perjuangan.Di tengah keterbatasan, Danish tak henti-hentinya menorehkan prestasi sebagai bekal menyambut masa depannya. Ia juara lomba drumband, juara cerita Bahasa Jawa, juara sepak takraw, hingga menjadi anggota Pramuka Garuda. Kelak, Danish sangat optimis bahwa Ia bisa menjadi seorang TNI, Ia ingin berdiri gagah membela negeri. Bahkan kini, Ia mulai melatih dirinya dengan baris-berbaris dan latihan fisik, seakan tak ingin mimpinya hanya menjadi angan.Namun, orang tuanya hanyalah seorang petani dan buruh serabutan. Demi Danish, Ayahnya sudah memulai hari dengan bekerja dari sebelum fajar menyingsing, pukul 04.30 pagi sudah berjualan di pasar tradisional. Lalu Ayahnya melanjutkan pekerjaan mengantar galon air hingga siang, dan kembali ke ladang hingga sore hari. “Lelah memang, tapi harapan melihat anakku tetap sekolah membuatku terus bertahan,” ungkap Yuni Iswanto, orang tua Danish.Tak pernah sekalipun ia mengeluh, meski uang sakunya seringkali sangat terbatas. Sepulang sekolah, Ia tetap membantu mengurus rumah dan belajar dengan tekun. Ia sering bercerita tentang cita-citanya, tentang keinginannya mengabdi pada negara saking semangatnya.Usaha dan doa selalu menjadi senjata bagi harapan yang Danish genggam. Saat ini, ekonomi keluarganya sedang sulit dan cobaan terus menghampiri. Sementara Danish masih terus membutuhkan biaya untuk membayar uang sekolah, membeli perlengkapan sekolah, transportasi ke sekolah dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Danish untuk tetap melanjutkan pendidikan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Danish!
Dana terkumpul
Berbagi Beras Gratis untuk 50 Lansia di Daerah Pekanbaru
Adanya pembatasan import dan fenomena El Nino berkepanjangan, berdampak pada menurunnya produksi beras sejak Agustus 2023. Situasi ini menyulitkan lansia duafa, yang untuk makan sehari-hari saja mereka masih kesusahan. Hai TemanBaik,Beras yang menjadi makanan pokok kita, nyatanya nggak bisa didapatkan dengan mudah. Khususnya bagi TemanKita yang hidup dalam himpitan ekonomi. Siapakah yang paling terdampak dari kelangkaan dan kenaikan harga beras ini? Tentu mereka adalah lansia duafa yang hidup serba kekurangan, bahkan dalam kondisi normal untuk makan sekalipun sangat sulit.Mereka nggak pernah bingung dan bertanya “enaknya pesan makanan apa?”. Yang mereka pikirkan adalah “Besok ada beras atau tidak ya?” Kondisi ini tentu menyedihkan untuk kita yang masih bisa mendapatkan makanan dengan mudah. Maka dari itu, kami Berbagi Takkan Rugi sebagai komunitas ingin menunjukkan kepedulian kepada sesama terutama kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan.Kali ini, kamu akan membagikan beras gratis untuk lansia duafa sebanyak kurang lebih 50 orang di daerah Pekanbaru. Gerakan kebaikan ini tentunya nggak bisa berjalan dengan baik tanpa adanya bantuan dan dukungan dari TemanBaik. Semakin banyak yang mendukung kegiatan ini, akan semakin banyak pula lansia duafa yang terbantu. Untuk TemanBaik yang mau membantu pengadaan beras dapat menyalurkannya dengan cara klik Donasi Sekarang ya!
Dana terkumpul
Demi Sembuh dari Tumor Payudara Stadium 3, Aku Terpaksa Menitipkan Anakku Ke Pondok Yatim
“Akibat keterbatasan ekonomi, dua anakku yang masih bailta harus ikut merasakan pahitnya keadaan ini. Aku terpaksa menitipkan mereka di pondok yatim dan dhuafa agar mereka bisa dirawat tanpa biaya. Mereka seharusnya mendapatkan pelukan dan kasih sayangku, tapi malah harus terpisah dari orang tuanya.”“Aku didiagnosis menderita kanker payudara stadium 3B! Penyakit ini berkembang begitu ganas hingga kini aku terancam kehilangan payudaraku. Setiap hari aku hanya bisa berharap pada sebuah keajaiban, berharap penyakit ini hilang begitu saja. Aku sudah tidak tahu lagi harus mencari biaya dari mana untuk bisa bertahan dan terus berjuang”Perkenalkan, namaku Kamsah (35 thn), saat ini aku sedang berjuang sembuh demi bisa kembali berkumpul bersama anak-anakku yang sangat ku rindukan. Meski pengobatan kemoterapi membuat seluruh tubuhku sakit dan seluruh rambutku rontok, tapi aku ikhlas menjalaninya. Penyakit ini bermula saat aku berusia 33 tahun. Awalnya aku mengalami batuk dan sesak napas. Aku kira hanya sakit biasa, tapi tiba-tiba ada benjolan di payudara kiriku yang membuatku merasa khawatir. Saat aku periksa ke dokter, kenyataan seakan menghantamku. Ternyata ada tumor ganas bersarang di payudaraku dan kista di ovariumku!Sejak itu, perjuanganku dimulai. Seketika aku ketakutan, sedih, dan duniaku terasa gelap. Tumor ini menyebar dengan cepat, sehingga aku langsung menjalani operasi biopsi payudara. Selain itu, aku juga operasi pengangkatan ovarium kanan dan kiri.Kini, sudah hampir dua tahun aku berjuang melawan penyakit ini. Tubuhku sudah tak lagi sekuat dulu, aku jadi mudah sekali kelelahan. Aku sudah tidak bisa lagi mencuci, mengepel, mengangkat barang karena tubuhku yang rentan.Dokter akhirnya memutuskan aku harus operasi pengangkatan payudara demi menyelamatkan nyawaku. Namun, perjuanganku tak hanya melawan penyakit, tapi juga harus bertahan dalam keterbatasan ekonomi.Aku sudah menjual kendaraan, barang elektronik hingga perabotan rumah untuk pengobatanku selama ini. Bahkan, aku terpaksa menyewakan tempat tinggalku hingga aku terpaksa tinggal di rumah bedeng. Suamiku juga terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena harus fokus mendampingiku berobat.Pernah suatu waktu, kami sampai kehabisan ongkos untuk pulang dari rumah sakit hingga harus bermalam di masjid rumah sakit. Meski perjalanan ini sangat berat, di dalam hatiku masih tersimpan harapan suatu hari nanti aku bisa sembuh atau setidaknya mencapai remisi dari kanker ini. Saat ini, aku membutuhkan biaya untuk transportasi dari Banten ke rumah sakit di Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Kamsah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Kamsah!
Dana terkumpul
Bantu Wujudkan Cita-Cita Sekar dengan Beasiswa Pendidikan!
Sekar terlahir dari keluarga sederhana. Kondisi ekonomi yang terbatas, membuat kedua orang tuanya kesulitan membayar tunggakan sekolah dan baju sekolahnya.Hai Ka,Aku Anintiya Sekar (12th) dari Palembang. Aku duduk di bangku kelas 6 SD Negeri 87 Palembang. Aku terlahir dari keluarga sederhana, semua kebutuhan sekolahku juga jadinya terbatas, Ka. Ibu buruh cuci dan ayah penarik becak. Pulang sekolah, aku membantu kedua orang tua dengan menjaga adik-adikku. Kalau malam, aku membantu ibu membuat makanan untuk dijual lagi di sekolah. Sekarang, ibu dan ayah sedang kesulitan membelikan perlengkapan dan seragam sekolah, juga membayar tunggakan SPP sekolah, Ka. Meski begitu, aku tetap semangat dan rajin belajar, kok. Buktinya, aku berhasil masuk 10 besar di kelasku. Aku selalu bermimpi sekolahku bisa lancar terus, supaya aku jadi orang sukses dan bisa menaikan derajat kedua orang tuaku. Apalagi kalau aku sampai bisa memberangkatkan mereka naik haji. Dukung mimpiku ini ya, Ka! TemanBaik, yuk kita bantu Sekar meraih cita-citanya dan kebutuhan sekolahnya melalui #SemuaBisaBelajar dengan cara klik tombol Donasi Sekarang di bawah ini ya!
Dana terkumpul
“Adek Ingin Main Bola,” Harapan Kecil Reyndra untuk Mendapatkan Jantung Sehatnya
“Dalam kepolosannya, anakku sering bertanya, ‘Ayah… dede mau lari-lari, mau main bola. Dede nanti sembuh kan ya?’ Ia belum mengerti betapa berat kenyataan yang harus dihadapinya. ““Namun, setiap kata dari anakku menyimpan harapan besar yang tak tega aku biarkan pudar. Kalimat sederhana itu menjadi kekuatan terbesar untuk terus memperjuangkan kesembuhan anakku. Kelak, aku ingin melihatnya berlari, tertawa dan hidup seperti anak-anak sehat lainnya.” -Opik Taufik, Orang tua Reyndra-Tangisan pertama seorang bayi biasanya menjadi tanda kebahagiaan bagi orang tua. Namun, tidak bagiku dan suami…Anakku, Muhammad Reyndra Ardhana Rahman (4 thn), lahir melalui operasi sesar d karena posisi sungsang. Saat itu, aku menanti suara tangis pertama anakku dengan penuh harap, tapi yang terjadi justru keheningan. Anakku lahir tanpa tangisan, saat itu seketika aku mengalami ketakutan yang luar biasa. Setelah diperiksa, dokter menyampaikan kabar yang mengguncang perasaanku. Ada kebocoran dan penyempitan pada jantung anakku! Ia juga kekurangan oksigen sampai tubuhnya membiru. Dokter saat itu memutuskan agar anakku menjalani perawatan di inkubator selama 3 hari. Bayi kecilku, Ia sudah harus langsung berjuang untuk bertahan hidup begitu lahir di dunia. Hari-harinya tak pernah mudah, Ia sering mengalami sesak napas, mudah lelah dan tubuhnya sampai kebiruan. Dokter akhirnya merujuk anakku untuk melanjutkan pengobatan ke Jakarta. Bermodal nekat dan uang seadanya, enam jam perjalanan ku tempuh membawa anakku dari Kuningan, Jawa Barat, ke Jakarta. Namun, pengobatan berlangsung panjang, harus berkali-kali aku membawa anakku bolak-balik berobat ke perantauan. Hingga akhirnya semua uang habis, pengobatan anakku terpaksa terhenti.Seiring waktu, kondisi anakku kembali memburuk. Napasnya sesak dan anakku mengalami kelemahan pada kaki hingga tak mampu berdiri akibat kekurangan oksigen. Aku tak bisa diam saja, akhirnya aku menjual motor dan bahkan menggadaikan sertifikat rumah orang tuaku agar bisa membawa anakku berobat ke Jakarta. Syukurlah, setelah menjalani kateterisasi jantung di rumah sakit di Jakarta, kondisi anakku mulai membaik. Meski sudah ada perkembangan, tubuh anakku sesekali masih membiru dan nafsu makan anakku menurun.Anakku masih harus kontrol rutin dan menunggu operasi lanjutan pemasangan ring. Perjuangan anakku belum selesai, sementara biaya masih terus berjalan. Aku hanyalah buruh di vendor yg bekerja sama dengan PLN, penghasilanku hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Reyndra tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Reyndra!
Dana terkumpul
Di Tengah Keterbatasan, Anak Kuli Bangunan Ini Butuh Operasi Jantung Lanjutan
“Dokter sempat tercengang dan tak bisa berkata-kata, tak tega menyampaikan kenyataan yang harus aku terima. Beliau akhirnya menyampaikan kebocoran jantung pada anakku tak hanya di satu titik, melainkan ada banyak. Aku terkejut dan tak sanggup percaya, seperti kisah menyedihkan yang biasanya hanya ada di film.““Sejak hari itu, aku membawa anakku berobat bolak-balik dari Garut ke Jakarta. Empat tahun berjuang, tapi proses pengobatan anakku tak kunjung usai. Bahkan, anakku dengan polos menyampaikan bahwa Ia bosan terus-menerus ke rumah sakit. Sementara aku tak ada habis-habisnya menyemangati anakku dan mencari cara membiayai pengobatannya.” -Heni Sumarni, Orang tua Zeannisa-Betapa hatiku mendapatkan pukulan berat, setiap hari menanti keajaiban, berharap kesembuhan itu datang untuk anakku, Zeannisa Fatina Kayra (4 thn). Tak lama setelah lahir, tarikan napas anakku sangat cepat sampai dadanya cekung dan keringatnya sangat banyak.Naluriku sebagai Ibu langsung curiga, aku segera membawanya ke dokter. Namun, dokter mengatakan tidak melihat tanda-tanda bahaya pada anakku. Namun, seminggu setelah itu anakku mengalami flu. Anehnya, ketika Ia menangis, suaranya tidak keluar, seperti tertahan karena sakit. Kekhawatiranku memuncak, aku pun meminjam uang kakakku agar bisa membawa anakku ke rumah sakit. Dan benar saja, firasat buruk itu menjadi kenyataan. Anakku didiagnosis penyakit mematikan. Dunia rasanya runtuh saat dokter mengatakan Ia harus segera dirujuk ke rumah sakit di Bandung, sementara aku tak punya biaya sedikit pun.Aku membawa anakku pulang dengan perasaan hancur dan sedih. Di tengah kesulitan itu, aku bersyukur keluarga besar bersedia membantu biaya. Namun, 5 kali anakku bolak-balik berobat ke rumah sakit di Bandung, dokter akhirnya angkat tangan karena kondisi anakku sangat parah.Akhirnya, anakku dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Aku menjual semua barang berharga yang kami punya, bahkan kembali berhutang ke saudara, hanya agar anakku bisa terus berjuang. Alhamdulillah, di sana ia mendapatkan penanganan cepat dari dokter terbaik dan sehingga Ia mendapatkan penanganan cepat dan tak perlu antri lama. Hingga kini, anakku sudah menjalani dua kali operasi jantung. Kondisinya masih sering kelelahan, demam, flu dan batuk. Napasnya sangat berat, bahkan perlu bantuan oksigen. Ia harus menjalani operasi ke-3, tapi lagi-lagi aku dihadapkan dengan keterbatasan biaya.Suamiku hanyalah seorang kuli bangunan, kadang menjadi sopir demi tambahan penghasilan. Ia rela mengorbankan waktu istirahatnya, bekerja tanpa lelah agar anak kami tetap bisa berobat. Sementara aku, melakukan apa saja yang bisa, mencuci, menggosok, demi menambah sedikit demi sedikit biaya pengobatan anakku.Perjuangan ini masih panjang, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zeannisa tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zeannisa!
Dana terkumpul
Derita 9 Tahun Penyakit Prostat, Tangis Bapak Ngatiyo Tak Tertahan Tiap Kencing Darah
“Bapakku sempat pesimis, dengan suara lirih dan putusasa Ia mengatakan ingin mati saja! Ia tidak sanggup menahan sakit yang terus menghantuinya, Ia juga sedih karena menjadi beban bagi anaknya sendiri. Bayangkan saja, 9 tahun lamanya bapakku bertahan dengan penyakit prostat di tubuhnya.”“Setiap kali kambuh, bapakku akan menjerit kesakitan dan menangis pecah menggema di rumah. Saking menderitanya, kencingnya sampai mengeluarkan darah. Sudah 9 kali bapakku harus pasang-copot selang kencing, itulah bukti perjuangannya untuk bertahan setiap harinya.” -Sri Kusnia, anak dari Bapak Ngatiyo-Bapakku, Ngatiyo Muklis (67 thn), kini hanya terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur. Tubuh yang dulu kuat mencari nafkah, kini tak lagi mampu menahan rasa sakit yang terus menghantui setiap harinya.Semua bermula pada 2017 silam, bapak selalu mengalami nyeri hebat setiap buang air kecil. Bahkan, terkadang kencingnya bercampur darah. Hingga suatu hari, bapak sama sekali tidak bisa buang air kecil. Aku pun membawanya ke puskesmas karena sangat khawatir.Saat itu, petugas kesehatan memasangi bapak selang kencing selama 2 minggu sebelum akhirnya dirujuk ke rumah sakit besar.Dokter mengatakan bapakku terkena prostat, sehingga membuat saluran kencingnya tersumbat. Seiring waktu, penyakit bapakku semakin parah. Hal yang paling mengerikan adalah kencingnya tak hanya keluar darah, tapi juga nanah. Rasa sakit yang Ia rasakan semakin tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Akhirnya, dokter memutuskan agar bapakku dioperasi karena sudah di tahap infeksi. Sebenarnya bapak sempat menolak, karena takut operasi tersebut lenyakitkan dari apa yang selama ini Ia rasakan. Namun, demi harapan sembuh, Bapak tetap memberanikan diri. Sayangnya, setelah operasi, kondisi bapak justru semakin menurun.Sepulang ke rumah usai operasi, bapak merasa kesakitan luar biasa. Ia kehilangan nafsu makan dan muntah-muntah. Bahkan, untuk bangun dan duduk pun, bapak sudah tidak sanggup. Bapak harus kontrol rutin lebih lanjut, tapi kondisi ekonomi keluarga kami juga terpuruk.Saat masih sehat, bapak bekerja sebagai tukang parkir. Sejak sakit, bapak tidak bisa bekerja lagi dan ibu juga tidak punya penghasilan. Aku pun berinisiatif membawa bapak dan ibu tinggal bersamaku. Aku tidak tega melihat bapak sampai tidak bisa tidur tenang karena kesakitan.Tapi kondisi ekonomiku juga sangat kurang, suamiku hanya bekerja sebagai pegawai swasta dengan penghasilan kurang dari Rp2 juta per bulan, yang harus mencukupi kebutuhan kami dan tiga anak. Dalam keadaan terdesak, aku bahkan menjual kendaraan yang sebenarnya sudah tidak layak pakai, hanya agar bapak bisa tetap berobat. Perjuangan bapak belum berakhir, Ia bapa masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit yang jaraknya jauh, obat yang tidak dicover BPJS, pampers dewasa, vitamin, dan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Bapak Ngatiyo tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Bapak Ngatiyo!
Dana terkumpul
Nyawa Sarfaraz Bergantung Pada Transplantasi Hati
“Perut anak saya kian membesar hingga Ia tidak bisa duduk, Kondisinya saat ini memprihatinkan, sering diare berulang, demam, muntah darah, keluar darah dari hidung dan BAB darah. Nyawa anak saya bisa diselamatkan dengan transplantasi hati, tapi saya tidak ada biaya. Apalagi anak saat itu sempat kritis, keuangan sangat menipis selama anak pengobatan di Jakarta.” -Kardina Rafsayani, orang tua Sarfaraz-Awalnya saya tidak tahu jika ciri-ciri yang ditunjukkan anak saya, Sarfaraz Rafsa Utama (1 thn), merupakan sakit serius. Matanya terlihat kuning dan BAB-nya berwarna putih. Seperti anak mengalami dehidrasi.Namun setelah diperiksa, Sarfaraz menderita atresia bilier atau saluran empedunya bermasalah. Perutnya semakin membesar akibat cairan menumpuk di hati. Di dalam perutnya tersebut penuh kandungan racun yang tiap hari bisa bertambah dan membuat perutnya semakin membesar. Akhirnya kondisi tubuhnya semakin lemah membuatnya terpaksa harus terkulai lemah di rumah sakit.Akhirnya Sarfaraz dirujuk pengobatan ke Jakarta. Rasanya sedih, khawatir dan terpukul jadi satu, tapi saya harus kuat karena anak masih membutuhkan saya. Tanpa pikir panjang, saya menguras semua tabungan demi membawa anak pengobatan dari Kalimantan ke Jakarta.Sejauh ini Sarfaraz sudah mendapat tindakan biopsi dan masih harus kontrol rutin menjelang transplantasi hati. Tindakan ini harus dilakukan, sebab nyawa Sarfaraz jadi taruhannya. Saya yakin anak saya semangat sembuh, karena ketika sakitnya tidak kambuh, anak saya selalu ceria dan sering tersenyum kepada orang tuanya. Tapi saat ini saya kesulitan biaya, suami bekerja hanya sebagai karyawan swasta dan biaya pengobatan anak sangat besar.Saat ini saya membutuhkan biaya untuk operasi transplantasi hati anak, jika tak segera mendapatkan tersebut, racun yang ada di perutnya akan menyebar ke organ tubuhnya yang lain dan melemahkan fungsinya.#TemanBaik, mari selamatkan nyawa Sarfaraz agar bisa melakukan transplantasi hati dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Perut Musyaffa Terus Membesar Akibat Digerogoti Tumor!
“Senyum indah itu masih setia menghiasi wajah anakku, Ia seolah berusaha menyembunyikan rasa sakit luar biasa yang bersarang di perutnya. Tubuh kecilnya begitu kuat di tengah perutnya yang kian membesar akibat tumor. Sementara muntah yang tak kunjung berhenti menguras seluruh tenaganya hingga tubuhnya lemah.”“Aku sendiri berjuang mati-matian, siang dan malam tak kenal waktu sebagai kuli angkut pabrik konveksi. Tapi perjuanganku masih jauh dari kata cukup untuk mengumpulkan biaya untuk pengobatan penyakit yang mengintai nyawa anakku. Namun, harapan sekecil apapun itu akan aku upayakan.” -Saiful Bahri, Orang tua Musyaffa-Dimulai saat usianya 1 bulan, Musyaffa Aryan Al Hafiz (13 bln) tiba-tiba sering muntah setiap kali minum susu hingga perutnya perlahan membesar. Aku mencoba menenangkan diri, mungkin hanya kembung biasa. Tapi aku tetap membawa anakku ke rumah sakit karena rasa cemas dalam diriku yang tak mau pergi.Ternyata dokter menduga hal yang sama tentang kondisi anakku, sehingga tidak ada penanganan serius saat itu. Namun, seiring waktu, kekhawatiranku berubah menjadi ketukan ketik melihat perut anakku terus membesar dengan ukuran tak wajar. Akhirnya, aku membawa anakku ke rumah sakit yang lebih besar. Hasil pemeriksaan sungguh mengerikan, ada tumor di perut anakku. Ya Tuhan! Ternyata beberapa waktu lalu ada benda asing di dalam tubuh anakku dan aku tak tahu. Seketika aku menangis merasa bersalah, membayangkan selama ini Ia merasakan sakit yang tak mampu Ia ungkapkan. Organ hati anakku mengalami pembengkakan dan ususnya mengalami penebalan. Dokter memutuskan anakku harus menjalani operasi pengangkatan tumor, sekaligus operasi empedunya yang sobek. Tak bisa ku bayangkan betapa kesakitannya tubuh kecil anakku yang harus merasakan meja operasi berkali-kali.Meski sudah menjalani tindakan, tapi anakku masih sering demam, tubuhnya terus terasa nyeri. Ia juga sering dehidrasi dan pertumbuhannya terhambat. Kini, ia masih harus menjalani operasi lanjutan untuk menutup organ empedunya yang bocor. Jalan panjang itu masih terbentang di depan anakku, sementara kendala biaya terus menghantuiku. Istriku sendiri berusaha mencari pinjaman sana-sini untuk menambah pengobatan anakku yang membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Musyaffa tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Musyaffa!
Dana terkumpul
Sedekah Bantu Makan dan Biaya Pendidikan Santri Yatim Dhuafa
Perkenalkan saya, Muhammad Arief Rahman, Pekerjaan saya sehari-hari sebagai Karyawan Swasta dan relawan pengurus di panti asuhan dan pesantren yatim dhuafa Al-Fitra di Kab Bandung, Jawa Barat. Saya ingin menggalang dana untuk memenuhi biaya hidup santri di panti asuhan dan pesantren yatim dhuafa, Kegiatan yang saya lakukan selama ini seperti mengajak kebaikan untuk berbagi bersama adik yatim, serta peduli terhadap pendidikannya. Kami berharap penggalangan dana ini bisa menjadi gerbang kebaikan. Saya sudah melakukan kegiatan ini sejak dua tahun yang lalu.Yang ingin dibantu ada 45 anak binaan. Kondisi sekarang, kami membutuhkan pembiayaan untuk pendidikan, kebutuhan sandang pangan, biaya kesehatan, serta pembangunan dan perbaikan infrastruktur Anak-anak yang ada di sini kebanyakan adalah para dhuafa dan yatim yang datang dari Garut serta Kabupaten Bandung. Sebagai catatan, di panti asuhan ketika hujan besar, atap kami bisa bocor. Atap kami menggunakan asbes jadi saat hujan angin air masuk ke dalam. Status pesantren pun masih asrama sewa atau mengontrak.Anak santri Yatim dhuafa Al-fitra tidak hanya belajar tentang agama. Mereka juga dibekali soft skill lainnya seperti bercocok tanam. TemanBaik, yuk bantu para santri yatim dhuafa di panti asuhan dan pesantren Al-Fitra di Kab Bandung, Jawa Barat.
Dana terkumpul