Benihbaik x Metro TV
Salurkan donasi anda ke campaign-campaign di bawah ini
Campaign Pilihan Hari Ini
Ayo! Rutin Bersedekah Subuh
BenihBaik
Ayo Bantu Wakaf Quran Untuk Para Penghafal Quran
gie gie
Nyawanya Terancam! Dareen Harus Segera Operasi Jantung ke Jakarta
Vera Anggraini
Pilihan Benihbaik
Panggilan Mendesak
Waktu mereka tidak banyak, mereka sangat membutuhkan bantuan kalian
Aku Sampai Jadi Pengamen Demi Anakku Operasi Jantung di Jakarta
“Tak ada pilihan lagi, aku terpaksa mengamen di Pasar Tanah Abang demi sebuah harapan! Bermodal uang Rp720 ribu, aku nekat membawa anakku berobat ke Jakarta. Namun, 3 minggu berlalu tanpa kepastian, sementara uang yang kupunya semakin menipis, dan rasa takut kian mencekik diriku.”“Seolah ujian tanpa akhir, tiba-tiba dokter membawa kabar pahit. Anakku tidak bisa tindakan dioperasi karena tubuhnya terlalu lemah! Detak jantungnya hanya 14% dan napasnya tinggal 20%. Harapanku hancur, aku hanya mampu menggendong anakku sambil menangis, membawanya pulang dalam kondisi sakit parah.” -Irma Juliani, Orang tua Gamal-Sudah 16 tahun lamanya anakku, Gamal Azka Mudza (16 thn), berjuang melawan jantung bocor. Sejak kecil sampai sekarang, anakku lebih banyak menghabiskan waktu di kamar atau duduk diam di kursi. Ia hidup, tapi tidak pernah sekalipun melihat dan mencicipi dunia di luar rumah.Tubuhnya sangat mudah lelah, bahkan tak jarang Ia tiba-tiba jatuh pingsan. Hampir semua hari-hari dilaluinya dengan berdamai dengan rasa sakit dan napas tersengal. Dalam sebulan, mungkin hanya dua atau tiga hari saja ia tampak sedikit lebih baik. Saat kondisinya memburuk, aku hanya bisa memberinya bantuan oksigen dan memijat punggungnya, mendengar rintihannya sambil menahan air mata. Namun di tengah penyakit mematikan yang mengurung hidupnya, anakku justru memiliki hati paling kuat. Saat aku dan suamiku tertekan secara emosi melihat kondisinya, anakku yang menenangkan kami. Suaranya yang lirih sering berkata tegar, “Sabar Pih, Gamal sudah biasa begini.” Kalimat itu menghantam hatiku sangat keras. Bayangkan saja, usianya baru 2 tahun saat vonis jantung bocor itu datang. Tapi keterbatasan biaya membuatku tak mampu membawanya menjalani operasi. Akhirnya, anakku terpaksa bertahan dengan pengobatan alternatif saja. Sayangnya, kondisinya tak kunjung membaik dan justru semakin parah.Setelah anakku memiliki BPJS, barulah aku memberanikan diri untuk membawanya ke rumah sakit. Tapi kondisinya semakin mengkhawatirkan, aku sampai menjual motor dan harta berharga lainnya untuk membawa anakku dari Bandung ke Jakarta.Aku hanyalah pegawai pabrik, penghasilannya seadanya untuk kebutuhan sehari-hari. Aku berharap anakku bisa operasi dan sembuh, tapi biaya yang dikeluarkan sangat besar. Anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Gamal tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Gamal!
Dana terkumpul
Pirlo Butuh Cuci Darah untuk Bertahan Hidup
Di balik senyum kecilnya anak umur 5 tahun ini, ternyata didiagnosa dokter menderita gagal ginjal kronis stadium 5. Kedua ginjalnya tak mampu lagi berfungsi secara maksimal. Akibat penyakit yang dideritanya, dalam seminggu Pirlo harus 2x ke rumah sakit untuk menjalani cuci darah. Selang infus dan tajamnya jarum suntik renggut masa kecilnya.Sejak tahun 2021, Pirlo harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya hanya bisa bertahan hidup dari cuci darah.Semua bermula ketika ia mengalami muntah darah dan infeksi saluran kencingnya selama 3 bulan lamanya. Setelah dibawa ke rumah sakit untuk melakukan serangkaian pemeriksaan, rupanya Pirlo menderita gangguan ginjal hingga cairan sudah menyebar ke organ pencernaan lainnya.Kata dokter, tak ada jalan lain selain cuci darah secara rutin di rumah sakit agar kesehatannya tidak terus memburuk.Di tengah perjuangannya bisa sembuh dari penyakit kronis ini, Pirlo ditemani Bu Ida sang ibunda tercinta dengan harapan bisa berjuang bersama. Mendoakan dan meyakinkan Pirlo bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya. Namun, itu saja tak cukup, biaya pengobatan dan kontrol rutin di rumah sakit membutuhkan biaya yang tak sedikit karena jarak rumah Pirlo ke rumah sakit sekitar 5 jam dan memerlukan biaya ongkos transportasi sekitar 500 RB.Sementara, ayah Pirlo yang hanya bekerja sebagai petugas keamanan dengan upah 1.700.000 perbulan tak sanggup untuk memenuhi biaya pengobatan itu pun sudah di potong dengan pinjaman2 untuk berobat Pirlo jadi perbulan cuma menerima 500 rb. Belum lagi, dia juga harus memenuhi kebutuhan harian 3 anak lainnya. Lalu, bagaimana Pirlo mendapatkan biaya pengobatan? Padahal, Pirlo sangat membutuhkan dan hanya bisa bertahan dari cuci darah.Jika pengobatan dan cuci darah Pirlo sampai terlewat nyawanya bisa terancam.#TemanBaik, Bu Ida saat ini membutuhkan bantuanmu untuk obati ginjal anaknya yang sakit. Mari kita sama-sama ulurkan tangan untuk biaya pengobatan Pirlo dengan cara:1. Klik “Donasi Sekarang”2. Isi nominal donasi3. Pilih metode pembayaran Lebih praktis dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay. Bisa juga lewat transfer antarbank (BRI, Mandiri, BCA, BNI).
Dana terkumpul
Harapan Anak Buruh Tani untuk Operasi Jantung ke Jakarta!
“Terima kasih, Tuhan! Di tengah beratnya perjuangan mendampingi pengobatan jantung anakku di Jakarta, Engkau masih membukakan jalan. Aku mendapat pekerjaan sebagai kuli bangunan selama 18 hari, sehingga aku ada penghasilan untuk anak melanjutkan pengobatan.”“Hatiku semakin dipenuhi haru dan kebahagiaan melihat kondisi anakku perlahan membaik. Anakku begitu hebat, Ia tak mau kalah untuk berjuang seperti orang tuanya. Perjalanan jauh dari Sulawesi ke Jakarta untuk pengobatan tak sia-sia. Namun aku sadar, ini belum akhir. Jalan menuju kesembuhan masih panjang dan badai biaya masih terus berlanjut.” -La Sukarti, Orang tua Amira-Usianya baru 27 hari saat pertama kali anakku, Amira (9 thn), menunjukkan gejala demam, batuk dan sesak napas tanpa henti. Saat itu, tak pernah terlintas di benakku bahwa ujian besar telah menanti. Dokter menyampaikan bahwa Ia infeksi paru-paru dan ada sesuatu yang tidak normal pada jantungnya.Dokter mengatakan penyakit paru-paru anakku bisa sembuh dengan minum obat. Sementara kondisi jantungnya kemungkinan bisa sembuh sendiri saat usianya 7 tahun, asalkan anakku istirahat cukup. Dengan harapan itu, kami menjalani rawat jalan hingga ia berusia dua tahun.Namun, harapan itu pupus saat Amira berusia 9 tahun. Ia tampak berbeda dari anak-anak pada umumnya, seperti gampang lelah dan sering batuk. Tidurnya tak pernah banyak, hampir setiap malam Ia tiba-tiba terbangun dengan berteriak disertai sesak napas. Saat aku membawa anakku ke rumah sakit, Ia langsung menjalani kateterisasi jantung karena didiagnosa jantung bocor. Hatiku bagai disambar petir, penyakit yang dulu aku kira telah berlalu, ternyata masih bersarang di tubuh kecilnya.Dokter mengatakan satu-satunya cara menyelamatkan anakku dengan operasi bedah jantung di Jakarta. Sejak hari itu, aku bekerja dari pagi hingga larut malam, mengumpulkan penghasilan tambahan. Namun sekeras apa pun aku bekerja, upah sebagai buruh tani terasa begitu kecil, berobat ke Jakarta seperti angan-angan.Syukurlah, keluarga besar tak tinggal diam. Dengan segala keterbatasan, mereka ikut patungan agar Amira bisa berangkat berobat ke Jakarta. Kini, anakku telah menjalani berbagai tindakan medis dan sedang menunggu jadwal operasi.Namun perjuangan ini belum selesai. Bolak-balik dari Sulawesi ke Jakarta membutuhkan biaya yang sangat besar. Aku masih harus menebus obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, dan memenuhi kebutuhan hidup selama di Jakarta. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Amira tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Amira!
Dana terkumpul
Suamiku Siap Berikan Organ Hatinya Demi Selamatkan Nyawa Anak Kami
“Tanpa ragu, suamiku melangkah maju. Suaranya bergetar mengatakan bahwa Ia bersedia mendonorkan organ hatinya untuk anak kami! Ya, transplantasi hati menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan nyawa anak kami.”“Jika langit memiliki pelangi yang selalu Ia banggakan, maka kami sebagai orang tua memiliki Kiara yang tak pernah lelah kami perjuangkan. Dalam setiap tangis dan rasa sakit yang Ia lalui, kami percaya, Kiara adalah pemenang atas semua rasa sakit yang pernah menghampirinya.” -Murniati, Orang tua Kiara-Kiara Zevania Arrumaisha (11 bln) lahir sehat tanpa kurang apapun. Aku memberinya nama seindah wajahnya yang cantik. Tidak ada kata yang mampu menggambarkan betapa bahagianya aku dan suami saat pertama kali memeluk Kiara. Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Hidupku perlahan berubah menjadi air mata yang tak pernah berhenti. Di usia 2 bulan, Kiara menunjukkan perubahan drastis. Tiba-tiba matanya tampak berwarna kuning, Ia kesulitan BAB hingga perutnya jadi membengkak.Vonis dokter bagai petir yang menghantam dadaku, anakku duduagnosis mengalami gangguan hati kronis (atresia billier). Duniaku rasanya runtuh seketika! Kondisinya sudah sangat parah dan Kiara harus segera menjalani cangkok hati di Jakarta jika ingin bertahan hidup.Tanpa pikir panjang, aku menjual satu-satunya motor yang biasa kami gunakan sehari-hari demi membeli tiket dari Samarinda, Kalimantan ke Jakarta. Itupun aku kebingungan saat sampai di Jakarta, tidak punya siapa-siapa yang membantu.Kini, kondisi Kiara masih sering demam, flu, dan sulit tidur karena gatal hebat di seluruh tubuhnya. Ia lebih banyak menangis dan merintih, seolah sedang mengadu tentang semua rasa sakit yang harus Ia tanggung di usia yang begitu belia.Biaya transplantasi hati bukanlah jumlah yang kecil. Setelah operasi pun, aku harus tinggal di Jakarta selama satu tahun penuh karena Kiara harus terus dipantau dokter. Tempat tinggal harus steril, sebab tubuhnya sangat rentan terhadap virus dan infeksi.Sayangnya, kami terbentur biaya. Suamiku hanyalah buruh sopir dengan penghasilan terbatas. Ia juga tak bisa bekerja karena harus mendampingi Kiara di Jakarta. Sementara kebutuhan terus berjalan, biaya pengobatan, obat-obatan yang tak ditanggung BPJS, transportasi rumah sakit, proses screening donor organ hati dan kebutuhan lainnya.Semoga Kiara bisa segera berbagi organ hati dengan ayahnya dan mendapat kesempatan hidup yang layak. Aku tak ingin kehilangan anakku. Aku hanya ingin melihat Kiara tumbuh, tersenyum, dan merasakan dunia tanpa rasa sakit.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Kiara tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Kiara!
Dana terkumpul
Nyawa Rizky Terancam Akibat Infeksi Paru-paru!
“Anakku kini berjuang melawan infeksi paru-paru! Salah satu penyakit yang menyebabkan kematian utama pada anak di bawah usia 5 tahun. Ketakutan menggerayangiku di setiap tarikan napasnya. Sementara biaya pengobatan terus membayang sebagai beban yang berat.”“Tanpa sadar, aku jadi sering melamun memikirkan nasib anakku hingga aku kehilangan fokus. Bahkan, pernah kakiku terlindas ban mobil karena pikiranku sepenuhnya tertuju padanya. Namun, perlahan aku mencoba menerima keadaan, dan bertekad melakukan yang terbaik untuk anakku.” -Yanti Mardiana, Orang tua Rizky-Anakku, Rizky Moch Ramdan (1 thn), mengalami bronkopneumonia! Setiap napasnya terasa seolah Ia sedang tenggelam, hingga Ia harus berjuang keras untuk sekedar meraih udara. Dadanya naik turun dengan susah payah, disertai batuk yang menyakitkan.Tak jarang anakku menangis, seolah ingin mengadukan kesulitan yang Ia rasakan. Alat bantu napas menjadi sandarannya untuk terus bertahan hidup. Sementara aku selalu berusaha menguatkan diri, meski setiap hari menitikkan air mata melihat anakku yang tidak bisa hidup tenang.Sudah 7 bulan lamanya penyakit ini ada di tubuh anakku. Berat badannya menurun drastis, nafsu makannya hilang karena ia kesulitan minum susu sambil bernapas. Ia sering rewel, menangis saat beraktivitas, dan tak tahan terhadap udara dingin.Perjalanan pengobatannya masih panjang, sementara kemampuan keuanganku sangat terbatas. Suamiku bekerja sebagai kuli bangunan dengan upah sekitar Rp70 ribu per hari, itu pun sering terhenti karena harus mengantar Rizky berobat ke rumah sakit.Seluruh harta berharga yang kami miliki telah dijual demi pengobatan anak kami. Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, pembelian alat bantu napas atau nebulizer, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, serta kebutuhan medis lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Rizky tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Rizky!
Dana terkumpul
Dukung Aksi Andreas Nainggolan, Driver Ojol yang Jadi Pahlawan Penyelamat bagi Kucing Terlantar
Di dunia ini, hidup manusia berdampingan dengan habitat kehidupan para kucing. Apabila ada dari mereka yang kelaparan atau menderita luka, tak sedikit pula manusia yang peduli menolong. Itulah yang dilakukan oleh Andreas Nainggolan.Pria asal Magelang, Jawa Tengah yang berprofesi sebagai driver ojek online (ojol) itu sehari-hari hidup dengan merawat kucing-kucing sakit dan terlantar. Dia pun mendirikan shelter rescue sederhana yang diberi nama Shelter Miau Miau Cats Rescue sejak 2017.Saat ini, Andreas merawat 65 kucing di shelternya. Kegiatan yang rutin dilakukan selama ini adalah memberikan pakan, vitamin serta obat-obatan pada kucing yang sedang sakit ringan. Apabila ada kucing yang sakit berat, dia membawanya ke dokter hewan. Semua biaya tersebut dia tanggung sendiri dan ada juga beberapa sumbangan dari para donatur. Sehari-hari, dia juga menerima kucing-kucing terlantar yang dititipkan dari orang lain. Andreas juga bergerak cepat apabila ada panggilan atau pesan yang dikirim kepadanya untuk menyelamatkan kucing terlantar di jalan atau pasar. Namun kendalanya sekarang adalah banyaknya jumlah kucing yang ditampung juga memperbesar biaya operasional yang harus dia keluarkan. Kondisi ekonomi saat ini tidak dalam keadaan baik, sehingga donatur banyak yang mengundurkan diri karena kondisi finansial mereka yang terpuruk.TemanBaik, Andreas Nainggolan butuh bantuan kamu untuk bisa menyelamatkan kucing-kucing yang terlantar di jalan. Yuk kita bantu Andreas agar tetap menjadi pahlawan penyelamat kucing terlantar dengan cara:Klik “Donasi Sekarang”Isi nominal donasiPilih metode pembayaran, bisa dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay. Bisa juga lewat transfer antar bank (BRI, Mandiri, BCA, BNI).
Dana terkumpul
Selain Sakit Jantung, Arjuna Juga Mengalami Lumpuh Akibat Ada Nanah di Otaknya!
“‘Tidak apa-apa Nak, jika kamu sudah terlalu lelah berjuang dan tak ingin lagi berada di pangkuan Ibu. Ibu ikhlas,’ bisikku lirih di telinganya. Dua puluh hari ia terbaring koma, dan aku tak lagi sanggup menahan perih karena anakku menderita.”“Ada gumpalan nanah di dalam jaringan otak anakku! Tiga bulan penuh ia harus dirawat inap di rumah sakit. Seluruh tabunganku habis untuk pengobatannya, hingga aku dan anakku harus terusir dari kontrakan. Di saat nyawa anakku dipertaruhkan, hidupku seakan di ujung jurang.” -Vani Susanti, Orang tua Arjuna-Selain otaknya terinfeksi virus, anakku Arjuna Sutarno Putra (7 thn) juga mengalami kelainan jantung bawaan. Penghasilan suamiku yang hanya berasal dari berdagang pisang sering kali tak cukup untuk menutup biaya pengobatan Arjuna. Setiap hari kami berjuang dengan keterbatasan.Saat ini, kondisi anakku berbeda dari anak-anak seusianya. Ia belum mampu berjalan karena ada stroke di bagian kanan tubuhnya, dan berat badannya sulit naik. Sesak napas kerap datang tanpa aba-aba, membuatku harus memberikan uap hingga tiga kali sehari agar anakku bisa bernapas sedikit lebih lega.Mimpi buruk anakku bermula ketika Ia berusia 1 tahun. Aku melihat kukunya membiru. Awalnya aku mengira Ia hanya kedinginan. Namun aku curiga, kian hari kukunya semakin menggelap. Saat aku bawa ke dokter, barulah ketahuan Ia punya penyakit jantung.Selama 6 tahun sakit, anakku belum pernah menjalani operasi. Ia lebih sering keluar-masuk rumah sakit akibat abses di otaknya. Untuk penyakit jantungnya, ia hanya bergantung pada antibiotik. Jika sakitnya kambuh, Ia akan memegang kepalanya untuk menunjukkan Ia kesakitan. Meski hidupnya dipenuhi penderitaan, tapi anakku semangat untuk sembuh. Ia anak yang aktif dan pantang menyerah. Dengan napas terengah-engah, Ia tetap berusaha belajar berjalan meski tubuhnya tak mampu mengimbangi keinginannya. Ia belum bisa bicara, jadi aku tak tahu apa yang Ia rasakan selama ini. Anakku akan menjalani operasi kateterisasi jantung karena karena kondisi abses otaknya mulai membaik. Namun, biaya pengobatannya sangat berat. Aku sudah menggadaikan motor demi menyewa ambulans agar anakku bisa dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar. Rumah pun telah tergadai, barang berharga dijual, dan utang kepada teman-teman menjadi jalan terakhir agar Arjuna tetap bisa berobat selama ini. Saat ini anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, nebulizer dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Arjuna tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Arjuna!
Dana terkumpul
Berjuang Pengobatan Jantung, Pak Subandi Malah Mengalami Pendarahan Otak!
“Aku pernah berada diambang kematian! Pendarahan otak menyerangku setelah aku meminum obat pengencer darah akibat sakit jantung. Setengah liter darah dikeluarkan dari kepalaku, dokter bahkan mengatakan harapanku untuk sembuh sangat kecil. Namun, aku memilih bertahan!”“Aku masih ingin terus hidup, menyaksikan cucuku tumbuh dewasa. Namun, sedih dan gelisah tetap membayangiku, karena tubuhku tak mampu lagi mencari nafkah untuk pengobatanku. Bahkan, kebutuhan sehari-hari pun aku mengandalkan bantuan saudara yang ada rezeki lebih. Sementara pengobatanku butuh biaya yang besar.” Aku Subandi (62 thn), sudah 18 tahun lamanya aku berjuang melawan penyakit jantung. Namun, perlahan kondisiku justru semakin memburuk. Usaha konveksi kain yang dulu kubangun dengan penuh harapan terpaksa berhenti, karena tubuhku tak sanggup lagi bekerja. Meski penyakit ini berdampingan dengan kematian, tapi aku tak akan pernah menyerah untuk sembuh. Setiap hari aku berupaya berjalan kaki dan berjemur di bawah sinar matahari agar kondisiku lebih baik, minum obat tepat waktu hingga rutin kontrol ke rumah sakit. Semua bermula saat usiaku 44 tahun, hari yang menjadi awal mimpi burukku. Tiba-tiba aku sering mengalami sesak napas hebat hingga dilarikan ke rumah sakit. Di sanalah aku mengetahui bahwa aku sakit jantung. Aku luar biasa terpukul, takut penyakit ganas itu ada di tubuhku.Hidupku tak lagi sama, aku kini bergantung pada alat bantu napas oksigen yang aku sewa setiap bulan. Hari-hariku lebih banyak terbaring di kasur. Berjalan ke kamar mandi pun aku sudah tak sanggup, hingga terpaksa menggunakan pampers.Aku sangat bersyukur memiliki istri dan anak yang merawatku dengan penuh kesabaran dan ketulusan. Namun, aku juga merasa bersalah karena tidak bisa mencari nafkah dan sering merepotkan mereka. Mereka adalah tanggung jawabku, tapi kini malah aku yang menjadi beban. Aku takut keluargaku runtuh karena keterbatasanku.Semua aset yang kumiliki sudah aku jual untuk biaya pengobatan selama ini. Sekarang keuanganku terbatas, untuk membiayai transportasi ke beberapa poli rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, pampers, menyewa tabung oksigen dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Subandi tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Subandi!
Dana terkumpul
Sakit Jantung Mengintai Milka, Ia Hanya Ingin Sembuh dan Bisa Berlari
“Pernah suatu malam, Milka menangis memintaku susu. Persediaan benar-benar habis, sementara kami tak memiliki uang sepeser pun. Dengan hati yang remuk dan air mata yang kutahan, aku hanya mampu memberinya segelas teh hangat agar ia bisa terlelap.”“Sejak saat itu, suamiku berangkat bekerja lebih awal setiap hari, menantang lelah dan harapan, demi satu tujuan agar anak kami bisa kembali minum susu. Syukurlah, Tuhan masih begitu sayang pada Milka. Hari itu, suamiku pulang membawa susu. Tangisku pecah karena rasa syukur tak terhingga.” -Siti Nurohmah, Orang tua Milka-Ada satu momen yang tak pernah bisa aku lupakan seumur hidupku. Saat itu anakku, Milka Alifa Rahma (5 tahun), terbaring lemas dengan tubuh panas karena demam. Dengan sisa tenaganya, Ia menatapku dengan wajah polos dan mata penuh harap, lalu berkata pelan:‘Ma, nanti kalau dedek sudah sembuh, dedek bisa lari kencang kan, Ma? Dedek bisa main hujan-hujanan juga. Makanya dedek rajin minum obat biar cepat sembuh.’ Kalimat sederhana itu menghancurkan hatiku. Harapannya tak besar, Ia hanya ingin hidup normal seperti teman-teman seusianya. Namun bagi anak sekecil itu, harapan sederhana tersebut terasa begitu berat untuk diwujudkan.sejak usianya baru 5 bulan, Milka sudah akrab dengan sakit. Demam dan batuk datang silih berganti. Penyakit yang terlihat ringan bagi orang lain, namun membuat tubuh kecilnya tak pernah benar-benar sehat. Hingga suatu hari, duniaku hancur saat dokter mengatakan bahwa sakit Milka bukan sakit biasa, melainkan jantung bocor. Bahkan, lebar lubang di jantungnya mencapai 6,5 mm. Angka itu mungkin terdengar kecil, tapi dampaknya sangat besar untuk kehidupan anakku. Keterbatasan alat di rumah sakit daerahku di Lampung, membuat anakku harus dirujuk ke Jakarta. Sebagai orang tua, hatiku benar-benar hancur. Apalagi, aku keterbatasan biaya untuk membawanya berobat ke Jakarta. Suamiku hanyalah buruh tani serabutan. Kadang bekerja di sawah, kadang di kebun orang. Pekerjaan itu pun tak selalu ada, sehingga penghasilannya tidak menentu. Sementara aku tak bisa meninggalkan Milka, fokus merawatnya setiap hari. Hidup kami berjalan dari satu kecemasan ke kecemasan lainnya.Ada kalanya aku benar-benar putus asa, aku membutuhkan biaya untuk membawa anak berobat. Saat itu hujan deras seharian, suamiku tidak bisa bekerja. Di tengah kepasrahan itu, tiba-tiba tetangga datang membutuhkan jasa cuci dan gosok. Syukurlah, aku bisa mendapatkan upah untuk membawa anakku kontrol rutin.Namun, aku tak tega melihat anakku terus kesakitan. Akhirnya, aku mulai dari menjual barang-barang berharga dan meminjam uang hingga bisa membawa anakku ke Jakarta. Saat ini kondisi anakku masih sering demam, batuk, dan mudah lelah. Pengobatan selama di Jakarta sangat membuatku kesulitan. Apalagi, suamiku tidak bisa mencari nafkah karena ikut mendampingi anak berobat di Jakarta. Sementara anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Milka tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Milka!
Dana terkumpul
Anak Petani Raih Berbagai Prestasi Demi Mewujudkan Mimpi Menjadi Guru
“Aku ingin sekolah sampai perguruan tinggi dan kelak bisa menjadi guru. Demi meraih cita-cita itu, setiap hari aku selalu belajar giat hingga meraih prestasi juara 1 atau 2 di kelas. Aku juga pernah meraih juara harapan dalam lomba pidato Bahasa Arab, sebuah pencapaian kecil yang membuatku semakin percaya diri untuk terus melangkah.”“Saat ini aku telah menghafal dua juz Al-Qur’an, dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak berhenti belajar dan berusaha. Siapa tahu suatu hari nanti, prestasi-prestasi ini menjadi jalan bagiku untuk mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan sekolah dan mewujudkan mimpiku.”Namaku Prajna Paramitha Chamile (13 thn), saat ini aku duduk di bangku kelas 6 MI Miftahul Huda Lamong. Setiap hari kegiatanku sederhana, yaitu bersekolah, mengaji, dan belajar. Kendati demikian, aku menjalani semuanya dengan penuh sungguh-sungguh.Prestasi yang aku raih selama ini bukan karena aku paling pintar, tapi karena aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Aku punya mimpi besar, yaitu ingin menjadi seorang guru, agar ilmu yang kupelajari bisa bermanfaat untuk banyak orang.Aku percaya, selama aku tidak berhenti berjuang, selalu ada jalan yang Allah siapkan. Aku ingin sukses, membanggakan orang tuaku, dan menjadi guru agar bisa memberi manfaat untuk banyak orang.Namun, kondisi ekonomi keluarga menghalangiku untuk membayangkan masa depan cerah yang ku nantikan. Ayahku hanyalah seorang petani, penghasilannya tak menentu. Akibatnya, kebutuhan untuk pendidikanku sering tak terpenuhi.Ibuku juga berupaya membantu mencari nafkah tambahan agar aku tak berhenti sekolah. Beliau mencoba peruntungan dengan jualan online. Meski uang yang dihasilkan tak seberapa, tapi Ibu sudah berjuang demi aku.Saat ini, aku membutuhkan biaya untuk membayar uang sekolah, membayar ujian, memberi perlengkapan sekolah dan kebutuhan lainnya. Kerja keras orang tuaku tak akan aku sia-siakan, aku tidak akan menyerah oleh keadaan dan selalu belajar keras. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Prajna untuk tetap punya harapan melanjutkan sekolah. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Prajna!
Dana terkumpul
Dukung Flying Doctor untuk Menjangkau Kesehatan Masyarakat di Pedalaman
Sebagian wilayah pedalaman Indonesia masih mengalami tantangan besar terhadap akses layanan kesehatan. Banyak masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil sulit untuk mendapatkan akses ke fasilitas kesehatan yang memadai. Flying Doctor atau Dokter Terbang merupakan suatu inisiatif yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kesehatan yang cepat dan tepat kepada masyarakat di daerah terpencil yang susah terjangkau. Beberapa tempat yang menjadi daerah prioritas program Dokter Terbang yaitu: 1. Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Oktober 2024 2. Luwu Utara, Sulawesi Selatan, November 2024 3. Rote Ndao, NTT, November 2024 4. Kepulauan Aru, Maluku, Desember 2024Dari keempat wilayah tersebut dengan berbagai isu kesehatan di wilayah pedalaman Indoensia, doctorSHARE berdedikasi untuk memberikan akses kesehatan yang efisien danlengkap kepada masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan terisolasi di Indonesia melalui program Flying Doctor.Tim Dokter Terbang kami terlibat langsung dalam memberikan bantuan medis darurat, melakukan kampanye kesehatan, dan menyediakan pelayanan kesehatan bagi 500 pasien untuk satu lokasi yang sulit dijangkau oleh sistem kesehatan konvensional.Dukungan dan perhatian sahabat dapat membantu program kami untuk menyediakan: 1. Peralatan Medis : Peralatan medis modern dan dapat diandalkan untuk memberikan diagnosis dan perawatan yang tepat kepada pasien. Serta memastikan bahwa kami memiliki persediaan obat-obatan yang cukup. 2. Pendidikan dan Pelatihan : Pelayanan medis 500 pasien, 10 opersi mayor, 20 operasi minor, 50 pemeriksaan USG dan antenatal. Serta pelatihan dokter kecil di setiap lokasi. 3. Operasional Lapangan : Biaya operasional termasuk transportasi udara, logistik medis, dan administrasi lapangan. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memastikan kelancaran operasi di lapangan, sehingga kami dapat merespons dengan cepat dan efisien dalam setiap situasi darurat#TemanBaik bisa ikut kontribusi membangun RSA dr Lie Dharmawan II, dengan cara Donasi Sekarang di bawah ini
Dana terkumpul
Cita-Cita Sekolah yang Terhenti, Rafael Berjuang dari Sakit Jantung dan Abses Otak
“Menginjak usia 6 tahun, anakku menunjukkan tekadnya untuk bersekolah. Ada rasa takut dalam hatiku, khawatir tubuhnya yang rapuh tak sanggup mengikuti aktivitas sekolah. Namun aku tetap mengizinkannya, karena aku ingin Ia merasakan kebahagiaan sederhana, pergi sekolah seperti anak-anak seusianya.”“Meski dengan keterbatasan bicara, anakku tetap aktif dan ceria. Setiap hati aku mengawasinya di sekolah. Semua berjalan lancar, hingga masuk bulan ke-3, akhirnya kesehatan anakku menurun drastis. Tak ada lagi tawanya di kelas, kini hari-harinya lebih banyak dihabiskan dengan berjuang di kamar rumah sakit.” -Herika Priani, Orang tua Rafael-Keceriaan anakku seketika hilang! Tiba-tiba tubuh anakku, Rafael Austin Edgard (8 thn) mendadak lemas dan tak berdaya. Dokter di desaku, di kawasan Kalimantan Barat, tak mampu menangani anakku. Tubuhku gemetar ketakutan, aku tak mau kehilangan anakku!Di tengah kepanikan itu, dokter merujuk anakku untuk berobat ke Jakarta. Tapi aku harus bagaimana? Aku tak punya cukup biaya. Sambil menangis, aku membawa anakku pulang dengan berat hati. Warga desa yang iba, akhirnya gotong royong mengumpulkan dana agar anakku bisa berangkat ke Jakarta. Sejak lahir, Rafael memang telah diuji dengan sakit. Ia mengalami infeksi tali pusar. Saat usianya menginjak 2 tahun, ia mulai sering sesak napas dan didiagnosis infeksi paru-paru. Kondisinya terus memburuk, hingga pemerintah desa membantu mengurus BPJS agar anakku bisa dirawat di rumah sakit. Saat itulah, penyakit jantung itu terungkap!Aku menyaksikan anakku terbaring dipasangi oksigen tinggi. Penyedotan darah juga dilakukan, karena ditemukan darah kotor dan kental di tubuh anakku. Namun, setelah berobat ke Jakarta, ternyata dokter menemukan anakku mengalami infeksi otak (abses serebri).Hatiku hancur melihat keadaannya. Di usia yang seharusnya ia belajar, bermain, dan tertawa bersama teman-temannya, Rafael justru harus menghabiskan hari-harinya di ranjang rumah sakit, berjuang melawan penyakit yang begitu berat.Pantas saja, anakku sering pusing hebat, bahkan pada kondisi tertentu membuat tubuhnya lumpuh. Anakku harus menjalani operasi kepala dan dirawat selama dua bulan penuh. Syukurlah, setelah tindakan, anakku sudah tak lagi mengalami pusing. Saat ini, anakku masih menunggu jadwal operasi jantung di Jakarta. Namun lagi-lagi, biaya menjadi tembok besar di hadapan kami. Suamiku hanya bekerja menjaga kebun milik orang lain, penghasilannya tak seberapa, bahkan untuk kebutuhan sehari-hari pun sering kali tak cukup.Kini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit di Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Rafael tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Rafael!
Dana terkumpul
Leher Nida Menonjol Akibat Tumor Ganas, Menoleh pun Tak Bisa!
“Sembilan tahun aku hidup dengan tumor ganas di leherku! Masa remajaku yang seharusnya indah dan penuh keceriaan, harus kulewati dengan rasa sakit. Ada hariku hanya bisa menunduk, cukup minder karena kondisiku berbeda, leherku bengkak sebelah.”“Dokter bilang aku harus kemoterapi dan radioterapi. Namun, Ibuku yang bekerja hanya sebagai penyapu jalan, tampak lemas ketika mendengar pengobatan cukup besar. Sementara itu, nyawaku bisa terancam jika aku tak pengobatan.”Perkenalkan, Aku Nida Alya Nur (24 thn). Penyakit ini mulai menghantui hidupku sejak aku masih 17 tahun. Awalnya hanya nyeri dan pegal di sekujur tubuh yang aku dianggap biasa. Namun lama-kelamaan rasa sakit itu makin menjadi hingga leherku terasa seperti tertusuk.Orang tuaku langsung membawaku ke rumah sakit karena aku terus menangis kesakitan. Setelah pemeriksaan, aku didiagnosa tumor ganas! Ibuku nyaris pingsan mendengar kabar itu. Aku berasal dari keluarga sederhana, untuk memenuhi biaya pengobatanku, rasanya jauh sekali dari kata mungkin. Sejak itu, hari-hariku dipenuhi obat-obatan dan perjalanan bolak-balik ke rumah sakit. Selebihnya, aku lebih sering terbaring di kamar karena tubuhku sangat lemah. Seluruh badanku masih terasa sakit, terutama bagian leher. Bahkan berjalan agak jauh saja membuatku sesak napas.Aku harus segera menjalani operasi. Sedangkan untuk ke rumah sakit saja aku butuh biaya besar, karena menempuh perjalanan dari Subang, Jawa Barat, ke Jakarta. Belum lagi, untuk obat-obatan yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. Ibuku berusaha sekuat tenaga. Ia mencari pekerjaan tambahan, berdagang kecil-kecilan kebutuhan sehari-hari dari pagi hingga malam. Tapi hasilnya tetap belum mampu menutupi seluruh biaya pengobatanku, hanya cukup untuk kebutuhan harian kami.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nida tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nida!
Dana terkumpul
200 Lebih Lansia Prasejahtera di Desa Lembu, Semarang Butuh Santunan Darimu
Peningkatan jumlah penduduk lansia disebabkan karena adanya tingkat sosial ekonomi masyarakat yang meningkat, kemajuan di bidang pelayan kesehatan dan lain sebagainya. Menurut Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, ada 30,16 juta jiwa penduduk lanjut usia di Indonesia pada tahun 2021. Melihat meningkatnya jumlah lansia, itu juga yang terjadi di Lingkungan Desa Lembu, Kecamatan Bancak, Kabupaten Semarang. Total kurang lebih 200 orang lansia membutuhkan bantuan untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka. Contohnya saja lansia bernama Mbah Raminah yang berusia 80 tahun yang tinggal di rumah gubuk berukuran 3 x 6 meter, tidak memiliki apa-apa di dalam rumahnya dan hanya bisa mengandalkan pemberian dari saudara laki-lakinya yang juga lansia. Mbah Raminah mungkin 1 dari kebanyakan lansia yang sudah tidak bisa beraktivitas lagi dan membutuhkan bantuan dari tetangga karena faktor ekonomi dan juga kesehatan sebab umur. Maka dari itu adanya kita untuk membantu sesama apalagi untuk mereka yang membutuhkan. Donasi yang didapatkan dari galang dana ini nantinya akan disalurkan kepada lansia di Desa Lambu dalam bentuk sembako, lauk pauk, dan santunan. TemanBaik, ayo salurkan bantuan terbaikmu untuk lansia di Desa Lambu dengan cara klik Donasi Sekarang
Dana terkumpul
Di Balik Tidur Tak Tenang, Anak Sopir Berjuang dari Cerebral Palsy
“Di sunyinya malam, saat semua orang terlelap, tiba-tiba saja tubuh anakku kejang habat! Tangisku pecah karena ketakutan, suamiku sedang bekerja dan dompetku kosong untuk membawa anak ke rumah sakit. Sambil menggendong anakku, aku berlari ke rumah tetangga meminta pertolongan.”“Syukurlah, tetangga memberikan uang agar aku bisa menyewa ambulans untuk anakku. Memiliki anak spesial dengan kondisi keuangan pas-pasan adalah ujian yang berat. Tapi anakku lah yang paling menderita, Ia harus bersabar menahan sakit lebih lama ketika orang tuanya masih berupaya meminjam uang.” -Gusri Lusiani, Orang tua Hana-Berkali-kali aku menyebut nama Tuhan setiap kali melihat anakku, Hana Zahra Alwani (4 thn), menahan sakit. Berharap Tuhan bisa mendengar dan meredakan penderitaan anakku. Hana sering tiba-tiba menangis tanpa sebab, rasa sakit itu tak terungkap karena Ia belum bisa bicara. Tanpa mengenal waktu, Hana sering mendadak kejang dan muntah hingga harus masuk rumah sakit. Hari-harinya lebih banyak diisi dengan tangisan. Bahkan, untuk ekedar untuk tidur saja ia selalu resah. Badannya semakin hari semakin kaku. Sudah empat tahun minum obat, tapi kejangnya tak kunjung hilang. Penyakit ini mulai menunjukkan wujudnya saat usia anakku 6 bulan. Saat anak-anak seusianya mulai bisa mengangkat kepala, telungkup, dan duduk, Hana belum mampu melakukannya. Kemudian, Ia mengalami kejang berulang rutin tiap bulan. Saat itulah anakku didiagnosa cerebral palsy.Aku tak sanggup menahan air mataku saat pertama kali mendampingi anakku menjalani pengobatan. Hati Ibu mana yang tak hancur mengetahui anaknya mengalami kerusakan otak? Belum lagi, aku harus menyaksikan anakku ditusuk jarum suntik dan di rawat inap di rumah sakit.Hingga kini, belum ada tindakan operasi untuk Hana. Namun ia harus rutin menjalani kontrol ke rumah sakit. Perjalanan dari desa kami di Provinsi Riau menuju Pekanbaru membutuhkan waktu sekitar empat jam dan biaya yang tidak sedikit. Selain ongkos perjalanan, aku juga harus membeli obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, serta memenuhi kebutuhan selama mendampingi Hana menginap di perantauan. Suamiku hanya bekerja sebagai sopir pengantar air, dengan penghasilan yang pas-pasan, cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Saat ini pun, kami masih menumpang tinggal di rumah mertua demi menghemat biaya. Tak jarang suamiku terpaksa meminjam uang kepada bos tempatnya bekerja ketika Hana harus berobat. Namun, sebelum utang itu lunas, kami kembali harus meminjam demi pengobatan berikutnya.Sebagai seorang ibu, keinginanku hanyalah agar anakku bisa terus mendapatkan pengobatan yang ia butuhkan. Aku percaya, selama harapan masih ada, aku akan terus berjuang agar suatu hari nanti Hana bisa hidup lebih baik dan terbebas dari penderitaan ini.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Hana tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Hana!
Dana terkumpul
Ayo Bantu Kaki Palsu untuk Saudara-saudara Kita
Semua orang terlahir dengan keistimewaannya masing-masing, salah satunya ada TemanKita yang lahir dengan kondisi tidak memiliki anggota tubuh yang lengkap. Kondisi ini bisa sejak lahir atau karena satu kejadian, seperti kecelakaan yang membuat orang tersebut harus rela kehilangan anggota tubuhnya.Kehilangan anggota tubuh, seperti kaki misalnya bisa membuat seseorang kesulitan dalam melakukan kegiatan, dalam bergerak. Tentu saja mereka membutuhkan bantuan orang lain untuk bisa menjalankan aktivitasnya.Oleh karena itu BenihBaik.com bekerjasama dengan Kick Andy Foundation menggalang dana untuk program “Gerakan Seribu Kaki Palsu Gratis” bagi penyandang disabilitas yang membutuhkan kaki palsu.Untuk satu kaki palsu di bawah lutut Rp1,5 juta dan di atas lutut Rp2,5 juta.TemanBaik, teman-teman penyandang disabilitas ini butuh kamu untuk bisa mendapatkan kaki palsu, gerakan ini juga bisa berjalan kalau kamu ikut ambil bagian. Yuk, ikut bergerak dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Saat Aku Masih Berjuang Melawan Sakit, Takdir Menguji Anakku dengan Jantung Bocor
“Ujian hidupku seolah menggores luka yang masih menganga! Saat aku sedang berjuang melawan sakit jantung, ternyata anakku didiagnosa jantung bocor dan hipertensi paru. Hatiku hancur dan pikiranku kusut, tubuhku yang rapuh dan terancam ini tetap harus kuat menopang anakku yang kondisinya jauh lebih parah.”“Belum sempat menarik napas, keterbatasan biaya menambah panjang daftar penderitaan kami. Dalam waktu yang hampir bersamaan, aku dan anakku sama-sama harus dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Di titik itulah aku benar-benar tersungkur. Tapi sebagai seorang ibu, aku tak punya pilihan selain bangkit dan bertahan.” -Eli Suryani, Orang tua Ilham-“Nanti setelah disuntik, Ilham sehat ya, Bu?” Itulah kalimat sederhana yang sering dikatakan anakku, Ilham Ramadhani (4 thn), untuk menguatkan dirinya. Ia berharap semua rasa sakit yang Ia rasakan ditebus dengan bayaran kesembuhan.Anakku lahir secara prematur, di usia kandungan 35 minggu. Di usia 14 bulan, anakku didiagnosa mengalami paru-paru kotor dan kekurangan kalsium. Sejak itu, kehidupannya sudah diuji dan Ia harus perawatan rutin ke rumah sakit.Seiring waktu, kondisi anakku membaik dan Ia tumbuh seperti anak-anak sehat lainnya. Namun, menginjak usia 3 tahun, anakku jadi sering mengeluh kepalanya pusing dan Ia mudah lelah. Hatiku mulai gelisah, rasanya janggal anak sekecil itu sering sakit kepala.Saat aku membawanya untuk diperiksa, anakku didiagnosa jantung bocor. Rasanya seperti disambar petir di siang bolong. Rasa bersalah langsung menyergap pikiranku, apakah sakit jantung yang ku derita ini menjadi sebab anakku harus menanggung sakit yang sama?Tanpa pikir panjang, aku menguras tabungan dan meminta bantuan biaya dari kerabat dekat agar bisa membawa anakku berobat dari Lampung ke Jakarta. Ia sudah menjalani kateterisasi jantung, tapi kondisi masih sering mudah lelah dan sesak napas.Perjuangannya untuk sembuh masih panjang, Ia harus bolak-balik Lampung dan Jakarta untuk kontrol rutin. Biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan cukup besar, sementara suamiku hanyalah petani yang penghasilannya tak menentu. Saat malam, suamiku narik ojek untuk tambahan biaya. Anakku masih akan membutuhkan biaya untuk obat yang tidak dicover BPJS, transportasi ke rumah sakit, tempat tinggal selama di Jakarta, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ilham tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ilham!
Dana terkumpul
Gagal Jantung di Usia 30, Aku Hampir Tak Kembali dari saat melahirkan anakku
“Nyawaku terancam! Kondisiku tak sadarkan diri dan kritis saat akan melahirkan! Semua akibat jantungku tidak stabil dan napasku sesak.”“Akhirnya, dokter mengambil keputusan untuk melakukan operasi caesar pada persalinanku demi menyelamatkanku dan bayiku.”Perkenalkan, aku Jumiyati (31 thn). Hidupku berubah total ketika usiaku memasuki 30 tahun, aku didiagnosa mengalami gagal jantung. Awalnya, aku mengalami bengkak seluruh badan, nyeri dada disertai sesak napas parah yang membuatku nyaris saja pingsan. Saat periksa ke rumah sakit, dokter menemukan bahwa paru-paruku dipenuhi cairan, hingga jantungku tidak bisa bekerja dengan baik. Aku sampai harus dirawat di ICU rumah sakit selama 7 hari. Seketika lututku lemas, rasanya tak percaya di tubuhku ada penyakit mematikan. Sejak itu, aku harus bolak-balik rumah sakit untuk menjalani pengobatan. Namun, hingga kini aku masih sering mengalami sesak napas dan nyeri dada. Segala aktivitasku terbatas, bahkan melakukan pekerjaan rumah tangga yang berat pun sudah tidak sanggup lagi.Hidupku bergantung pada alat bantu napas tabung portabel. Jadi, setiap bulan keluargaku harus memikirkan bagaimana caranya mendapatkan biaya untuk membeli oksigen. Belum lagi, biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat uang tidak dicover BPJS, terapi jantung, dan kebutuhan lainnya. Orang tuaku bekerja sebagai petani, sedangkan suamiku bekerja hanya sebagai kuli bangunan. Penghasilan keluargaku tak menentu, itupun untuk sehari-hari terbatas. Semakin terpukul lagi aku, karena aku memiliki anak-anak yang masih kecil dan membutuhkanku. Di tengah semua keterbatasan ini, aku harus terus berjuang untuk sembuh demi anak-anakku. Begitupula suamiku, yang bekerja lebih keras, bahkan mencari pekerjaan tambahan, hanya agar aku bisa terus melanjutkan pengobatan dan tetap bertahan.Namun, kenyataannya biaya sering menjadi kendala terbesar. Jika aku tidak melanjutkan pengobatan, kondisiku bisa memburuk dan mengancam nyawaku.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Jumiyati tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Jumiyati!
Dana terkumpul
“Aku Janji Jadi Anak Baik Kalau Sembuh,” Anak Petani dari Sumba Berjuang Melawan Penyakit Jantung
“‘Kalau aku sembuh, aku mau jadi anak yang baik.’ Kalimat polos itu keluar dari mulut anakku, membuat hatiku menghangat sekaligus basah oleh air mata. Tanpa berusaha pun, ia telah menjadi anak yang baik di mataku. Kehadirannya merupakan anugerah terindah di hidupku.”“Namun, kenyataan akan penyakit ganas yang menggerogoti tubuhnya seakan menghantamku. Meski begitu, aku berjanji pada diriku sendiri, aku tak akan pernah menyerah. Aku akan terus mendampinginya, hingga suatu hari nanti ia bisa sehat, tertawa bebas, dan hidup seperti anak-anak seusianya.” -Louru Peda, Orang tua Noel-Begitu berat ujian yang harus dijalani anakku, Noel Saputra Limu (4 thn), sejak usianya 2 tahun. Napasnya tiba-tiba sering tersengal dan kukunya tampak kebiruan. Ia jadi mudah lelah ketika beraktivitas dan sering duduk jongkok karena kehabisan tenaga.Saat itu, dokter menduga bahwa anakku ada masalah paru-paru. Namun, harapan akan kesembuhan itu tak kunjung muncul. Dua tahun Ia minum obat, tapi kondisinya tak membaik. Setelah dirujuk ke rumah sakit, ternyata ketahuan anakku selama ini jantung bocor.Penyakit itu tak hanya mengguncang hatiku, tapi juga membuat hidup keluarga kami berubah. Aku mulai membawa anakku bahkan dari Sumba, Nusa Tenggara Timur, ke Bali agar Ia bisa kateterisasi jantung. Namun, itu semua ternyata masih kurang, anakku harus operasi bedah ke Jakarta. Dokter bilang kalau anakku tidak ditangani dengan serius, bisa terjadi hal-hal yang tak kami inginkan. Rasanya aku ketakutan sekali kehilangan anakku, apalagi kalau jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, bibir dan kuku tangan serta kakinya membiru. Kami hanyalah keluarga sederhana. Saya bekerja sebagai petani, sementara istri saya mengurus rumah tangga. Kondisi ekonomi kami sangat terbatas, tapi suamiku berupaya bekerja keras dan meminta bantuan keluarga agar anakku bisa operasi. Puji Tuhan, anakku telah menjalani operasi lanjutan BCPS. Saat ini Ia masih menjalani masa pemulihan di rumah sakit. Namun, anakku masih harus menjalani kontrol rutin dan pengobatan selama di Jakarta. Tentunya, anakku membutuhkan biaya untuk membeli obat yang tidak dicover BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Noel tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Noel!
Dana terkumpul
Perutnya Terus Membuncit, Ada Tumor Ganas Pada Testis Ezhar!
“Kanker ganas itu menyerang alat reproduksi anakku tanpa ampun! Penyakit ini menggerogoti tubuh anakku dalam waktu singkat. Perutnya membuncit, sementara badannya semakin kurus. Setiap kali makan, ia harus lebih dulu menelan obat agar rasa mual tak menyiksanya.”“Demi mendampingi anakku, aku terpaksa berhenti dari pekerjaanku. Hari-hariku habis untuk bolak-balik mengantarkan anak ke rumah sakit dari Bogor ke Jakarta. Kini aku hanya bisa bekerja sebagai kenek truk, pekerjaan yang waktunya lebih fleksibel. Namun, penghasilanku sangat terbatas, bahkan untuk sehari-hari.” -Irpan Hardiansyah, Orang tua Ezhar-Tak pernah terlintas di benakku, penyakit yang berawal dari demam tinggi itu ternyata awal pertanda buruk untuk anakku, Muhammad Ezhar Alfarezi (3 thn). Ia sempat mendapat diagnosa tumor testis. Tapi kenyataannya jauh lebih parah, Ia didiagnosa yolk sac tumor.Hatiku luar biasa terpukul. Tapi di tengah keterpurukan itu, aku seolah tak diberi ruang untuk meratapi kesedihan. Kondisi anakku terus memburuk, testis anakku semakin membengkak tanpa terkendali dan anakku terus meringis kesakitan. Di usianya yang masih balita, anakku sudah menjalani operasi pada alat reproduksinya. Kepahitan ini tak pernah ingin ku hadapi sebagai orang tua. Syukurlah, kondisinya menunjukkan perkembangan yang lebih baik meski Ia sering tidak nafsu makan dan lemas.Perjalanan pengobatan anakku masih panjang. Saat ini ia masih harus menjalani kemoterapi. Sejak awal dirawat, anakku harus menjalani rawat inap hingga 10 hari di rumah sakit. Di saat yang sama, kondisi keuanganku kian terpuruk. Aku mulai kebingungan, tak tahu lagi bagaimana cara membiayai pengobatannya.Aku jadi sering meminjam uang pada saudara untuk pengobatan anakku. Biasanya aku berupaya membayar cicilan utang kalau sedang ada pekerjaan. Saat ini anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. Aku terpaksa meminjam uang ke sana kemari, kepada saudara dan kerabat, demi anakku bisa berobat. Setiap ada pekerjaan, aku berusaha mencicil utang itu sedikit demi sedikit. Hingga hari ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tak ditanggung BPJS, serta kebutuhan lain selama pengobatan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ezhar tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ezhar!
Dana terkumpul