Benihbaik x Metro TV

Salurkan donasi anda ke campaign-campaign di bawah ini

Campaign Pilihan Hari Ini

Pilihan Benihbaik

Panggilan Mendesak

Waktu mereka tidak banyak, mereka sangat membutuhkan bantuan kalian

Card image cap
Anak
Batuk yang Kami Kira Biasa, Ternyata Menyimpan Vonis Jantung Bocor untuk Arsyla

“Hati ibu mana yang tidak hancur saat melihat buah hatinya harus menahan sakit disuntik dan diinfus berkali-kali? Lebih menyayat lagi, anakku bahkan harus berjuang di ruang PICU selama dua hari dua malam, sendirian menghadapi rasa sakit dan ketakutan."“Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa menangis dari kejauhan karena tidak diizinkan menemuinya. Tak sanggup membayangkan Ia berada di kamar rumah sakit yang dingin, mungkin menangis mencari pelukanku.” -Sumiyati, Orang tua Arsyla-Sungguh aku sebagai orang tua rasanya seperti disambar petir di siang bolong, ketika harus mendengar anakku, Arsyla Fadhillah Wahyudi (2 thn), mengalami jantung bocor. Anakku yang ku dambakan kehadirannya, tapi lahir dengan menghadapi ujian sakit mematikan.Kenyataan pahit ini terungkap ketika anakku mengalami batuk dan flu berat yang tak kunjung sembuh. Berat badannya terus menurun, napasnya sering terdengar berat dan cepat. Aku pun langsung membawa anakku periksa ke rumah sakit.Meski demikian, hatiku tak pernah benar-benar tenang. Aku selalu merasa ada yang tidak beres, karena setiap anakku batuk, napasnya juga ikut terengah-engah. Namun, semua kekhawatiran itu dianggap biasa saja oleh dokter yang saat itu mengatakan tidak ada masalah serius terjadi pada anakku.Aku agak merasa lega saat itu, hingga akhirnya kondisi anakku kian memburuk. Batuknya semakin parah, disertai demam yang tak kunjung reda lebih dari seminggu. Aku pun membawa anakku ke rumah sakit berbeda, saat itulah dokter menemukan jantung anakku terdengar bising. Setelah diagnosa sakit anakku terungkap, anakku dirujuk untuk melanjutkan pengobatan ke Jakarta. Kini alat penutup kebocoran jantung sudah tertanam di jantung anakku. Syukurlah, kondisinya lebih baik meski Ia masih mengalami sesak napas dan tubuhnya sering lemas.Anakku masih harus rutin minum obat dan kontrol rutin. Aku terus melakukan segala cara agar anakku bisa berobat, berkali-kali aku berangkat sebelum subuh dari agar dapat nomor antrean dan selalu pulang larut malam. Makan hanya dari jatah rumah sakit, kadang orang tuaku datang mengantarkan bekal agar aku bisa tetap makan. Mas kawin sudah terjual, meminjam uang sana-sini sudah dilakukan anakku bisa terus berobat. Penghasilan suamiku sebagai kuli panggul sangat terbatas. Aku pernah mencari tambahan uang dengan berjualan kopi di pinggir jalan sambil menggendong anakku, tapi usaha itu terhenti karena anakku semakin sakit karena terkena debu. Selain biaya transportasi, anakku juga membutuhkan biaya untuk pembelian obat yang tidak ditanggung BPJS, vitamin, susu khusus dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Arsyla tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Arsyla!    

Dana terkumpul

Rp. 935.000
6 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
"Rasanya Seperti Ditusuk Berkali-Kali," Selama 10 Tahun Aku Bertahan Melawan Dua Penyakit Sekaligus

“Sudah 10 tahun aku menahan sakit yang tak tertahankan di ulu hatiku, seperti ditusuk berkali-kali. Tak jarang aku sampai tak sanggup berdiri dan akhirnya jatuh pingsan.”“Namun, hal yang paling membuatku sedih bukan hanya karena penyakit ini, tapi karena aku sudah tak mampu lagi mengurus suami dan anak-anakku seperti lalu. Penyakit ini menguras fisik dan emosionalku, rasanya aku seperti kehilangan diriku sebagai istri dan Ibu.” -Entin (50 thn)-Penyakit ini datang begitu tiba-tiba tanpa aba-aba apapun. Aku mengalami nyeri hebat seketika di bagian lambung, tapi aku kira sakit itu akan hilang dengan beristirahat. Namun, rasa sakitnya semakin hari semakin tak tertahankan. Aku langsung masuk rumah sakit dan menjalani perawatan 12 hari. Setelah pemeriksaan, aku didiagnosa penyakit lambung kronis yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Belum selesai aku pulih, penyakit lainnya datang pada tubuhku.Secara mendadak aku merasakan nyeri hebat yang menjalar ke kakinya. Langkah kakiku menjadi sangat berat dan aku jadi sulit beraktivitas. Setelah aku menjalani pemeriksaan, aku didiagnosa saraf kejepit. Sejak itu, sehari-hari aku harus menahan dua penyakit sekaligus.Kalau sakitnya datang bersamaan, rasanya aku tak sanggup dan ingin menyerah. Tapi akhirnya, aku hanya bisa berbaring sambil menangis menahan penderitaan. Terkadang, keluarga juga melarikan aku ke puskesmas. Tidak ada tindakan operasi yang harus dijalani, tapi dokter menegaskan bahwa aku harus terus menjalani pengobatan secara rutin. Jika pengobatan terhenti, kondisi lambungku  berisiko semakin parah dan rasa sakit yang ia alami bisa semakin sering kambuh.Di balik penderitaan itu, keluargaku juga sedang berjuang melawan keterbatasan ekonomi. Dulu aku bekerja sebagai asisten rumah tangga, tapi kini sudah tidak bisa dilakukan lagi. Sementara itu, suaminya bekerja sebagai tukang ojek dengan penghasilan yang tidak menentu. Ketika jadwal kontrol tiba,keluargaku harus memutar otak mencari biaya transportasi. Tidak jarang keluargaku terpaksa meminjam uang kepada tetangga atau saudara agar aku tetap bisa berobat. Bahkan, keluargaku telah menjual berbagai barang berharga agar aku punya kesempatan sembuh.Salah satu masa paling berat adalah ketika jadwal kontrol sudah tiba, tetapi aku sama sekali tidak memiliki ongkos. Rasanya sangat sedih, aku ingin berobat tapi ongkos saja tidak ada. Syukurlah, suamiku langsung melakukan apapun, Ia mengojek, bantu di ladang hingga bekerja sebagai kuli bangunan.Pengobatanku tak hanya tentang biaya transportasi, tapi juga obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Bu Entin tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Bu Entin!  

Dana terkumpul

Rp. 835.000
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Ma, Aku Ingin Bisa Berjalan dan Sekolah Lagi

Kondisi kaki Kiki ( 12 tahun ) sejak lahir memang sudah berbeda, tidak seperti anak normal lainnya. Bisa dibilang itu awal mula ia mengidap Osteogenesis imperfecta. Penyakit genetik langka yang ditandai dengan tulang rapuh dan lemah, sehingga menyebabkan mudah patah.Sempat dilakukan penambahan urat di kedua kakinya di RSUD Arifin Achmad supaya kondisi kaki bisa lurus. Walaupun sempat bisa berjalan sampai usianya 2 tahun, namun kondisinya kembali memburuk setelah ia terjatuh  dan kakinya mengalami patah tulang. Sudah dilakukan belasan operasi di RS Eka Hospital dan RSCM Jakarta, namun belum ada perubahan maksimal untuk Kiki. Ia harus terus menjalani pengobatan untuk menghindari kerapuhan tulang yang nantinya dapat membuatnya tak bisa berjalan.Akibat osteogenesis imperfecta yang dideritanya, Kiki kini tak bisa sekolah, hanya bisa berobat dan minum obat serta susu tulang dengan rutin.Orang tua berharap ada keajaiban untuk Kiki bisa sembuh. Karena dokter mengatakan alat yang dibutuhkan untuk kaki Kiki hanya bisa dipesan dari luar negeri dengan biaya yang sangat mahal.  Sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai tukang urut dengan penghasilan pas-pasan. Perjalanan Kiki masih panjang. Ia ingin bisa berjalan dan meraih cita-citanya menjadi penghafal Al-Qur'an.Yang bisa kita bantu saat ini ialah memenuhi kebutuhan obat yang tidak ditanggung BPJS serta kebutuhan lainnya selama masa pengobatan Kiki. TemanBaik, jangan biarkan tulangnya rapuh, bangkitkan semangatnya dengan bantuanmu.Bantuan TemanBaik dapat disalurkan dengan cara klik Donasi Sekarang

Dana terkumpul

Rp. 20.826.589
11 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
5 Tahun Berjuang dari Gagal Ginjal Stadium 5! Pak Arif Kesulitan Melanjutkan Pengobatan

“Aku berjalan kaki menembus hujan deras sejauh 3 km, demi membeli obat untuk suamiku. Tubuhku menggigil dan pikiranku panik, takut kehilangan suamiku. Mungkin wajahku sudah lelah dan basah oleh air hujan serta air mata, hingga petugas apotek menatapku dengan iba dan memberikan diskon pembelian obat.““Saat itu aku sadar, masih ada kebaikan di dunia ini. Aku tidak pernah menghitung lelahku, tak apa aku capek, yang penting suamiku masih bisa hidup dan ketemu anak-anak kami. Meski kadang malamku diisi dengan tangis dan doa, karena bingung harus cari uang bagaimana lagi agar suamiku bisa terus melanjutkan pengobatan.” -Siska Sartika, Istri dari Pak Arif-Suamiku, Arif Hidayat (33 thn), didiagnosa gagal ginjal kronis stadium 5 dan anemia berat. Setiap dua minggu sekali, aku selalu bangun lebih pagi untuk mengantarkan suamiku cuci darah ke rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit, tanpa sempat benar-benar beristirahat, aku langsung mencari nafkah dengan mencuci baju tetangga. Berharap ada sedikit uang yang bisa kami gunakan untuk bertahan hidup. Malamnya, aku kembali menjaga suamiku yang sering terbangun dalam keadaan sesak napas.Penghasilanku dari bekerja sering tak menentu, bisa dibilang pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, aku dan suamiku pernah sampai tidak makan selama 2 hari, karena uang yang ada habis untuk membeli obat. Saat itu, aku hanya bisa menahan air mata. Di tengah keputusasaan, suamiku pernah berkata lirih, “Kalau minggu ini tidak ada uang untuk beli obat, mungkin saya sudah tidak kuat lagi.” Kalimat itu menghantam hatiku begitu dalam. Namun, setiap kali ia mengingat anak kami, semangatnya seperti kembali menyala. Ia ingin tetap hidup, agar bisa mendampingi anak kami tumbuh dewasa.Bayangkan saja, sudah 5 tahun Ia menanggung sakit dalam keresahan, dibayangi rasa bersalah karena merasa menjadi beban keluarga. Tapi Ia tetap berusaha mencari uang tambahan. Saat kondisinya sedikit membaik, ia masih memaksakan diri menjadi tukang pijat untuk membantu kebutuhan dapur. Penyakit ini muncul saat suamiku berusia 28 tahun, Ia merasa tubuhnya sering lemas dan lelah meski hanya mengerjakan sedikit pekerjaan. Lama-kelamaan, wajahnya mulai bengkak, nafsu makannya hilang dan Ia sering sesak napas. Saat ke dokter, barulah terungkap bahwa fungsi organ ginjal suamiku sudah dibawah 10% dan Ia harus cuci darah seumur hidup untuk bertahan hidup. Sejak itu, suamiku sudah tidak bisa lagi bekerja, Ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk dan tidur. Setiap kambuh, suamiku akan mengalami bengkak pada kakinya, nyeri dada dan sesak napas berat hingga harus dilarikan ke IGD. Demi pengobatannya selama ini, aku sudah berupaya menjual perhiasan hingga mengorbankan seluruh tabungan. Anaknya juga harus berhenti les karena kekurangan biaya.Perjuangan suamiku masih terus berlanjut. Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Arif tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Arif! 

Dana terkumpul

Rp. 2.065.002
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Tubuhnya Lumpuh! Pak Aron Alami Penyumbatan pembuluh Darah dan Diabetes

“Suamiku terkena PHK dan menganggur lebih dari setahun. Namun, Ia tidak menyerah dan memutuskan untuk merantau ke Jakarta demi mendapat pekerjaan. Baru sebulan Ia mencoba menjadi supir taksi online, siapa sangka cobaan datang. Suamiku ditemukan tak sadarkan diri di kamar kosnya saat akan berangkat gereja.”“Ia didiagnosa mengalami penyumbatan pembuluh darah hingga stroke berat. Aku sempat berpikir suamiku tidak bisa selamat melewati masa kritis di ICU rumah sakit, tapi Tuhan masih memberikan kesempatan. Aku sendiri kebingungan membiayai pengobatannya yang panjang, aku juga tak mau kehilangannya.” -Ngalminah, Istri dari Aron- Suamiku, Aron Sokhizato Gea (47 thn), mengalami lumpuh badan, tangan dan kaki sebelah kanan. Seolah penderitaan tak berhenti mengintainya sampai disitu, Ia sering mengeluhkan sakit kepala hebat. Saat diperiksa, Ia didiagnosa diabetes hingga hipertensi.Kondisi suamiku terus menurun, hingga akhirnya Ia menjalani operasi pada tempurung kepalanya. Syukurlah, operasi berjalan lancar. Tapi cobaan baru datang, saat suamiku sudah bisa pulang dari rumah sakit, aku bingung harus pulang kemana? Kami di perantauan dan tidak ada uang untuk bayar kosan.Di tengah keputusasaan itu, ternyata Tuhan tak membiarkanku sendiri. Melalui keluarga dan teman dekat yang membantu dana, aku bisa melewati hari itu. Aku mencari kamar kos sederhana dan memulai hari-hariku dengan perjuangan.Aku akhirnya membawa suamiku pindah ke rumah singgah karena sudah tidak sanggup membayar sewa kos. Pikiranku juga terpecah, antara merawat suamiku dan kondisi anak-anakku di kampung halaman di Tanjung Pinang, yang dititipkan pada Ibuku.Di kondisinya yang sudah tua, Ibuku tetap harus bekerja membuat kue agar bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari anakku dan sewa rumah di sana. Demi menghemat biaya, aku mempelajari sendiri cara terapi yang aku perhatikan saat suamiku berobat, dan melakukan terapi mandiri pada suami di rumah singgah.Perjuanganku mulai menunjukkan titik terang, kesadarannya mulai kembali. Sebelumnya hanya bisa membuka mata saja, kini Ia sedang berlatih duduk dan bisa didudukkan di kursi roda. Ia juga mengikut saran dokter untuk membantu menggerakkan tangan kanan menggunakan tangan kirinya.Suamiku harus menjalani operasi lanjutan, tapi aku kesulitan biaya. Aku tidak bisa mencari nafkah karena harus fokus merawat suami, sementara keluarga sudah tak bisa lagi membantu. Aku juga sudah meminta bantuan ke pemerintah dan pihak swasta, tapi belum juga mendapatkan respon.Sementara itu, suamiku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Aron tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Aron!   

Dana terkumpul

Rp. 2.532.000
2 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Menderita Beberapa Kelainan Otak, Adiva Hanya Bisa Terbaring Lemah

“Di usianya yang baru 18 bulan, anak saya sudah menjalani operasi buka ubun-ubun. Sampai sekarang usianya sudah 3 tahun, anak saya belum bisa apa-apa, selain tiduran dan belajar tengkurap.” -Eliana Aprilia Saraswati, Ibunda Adiva-Semua bermula ketika anak saya, Adiva Arsyila Savina (3 thn), sering menangis tidak wajar saat usianya 3 minggu. Tanpa kenal waktu ia terus menangis pagi, siang, malam, seperti kesakitan. Matanya juga mengarah ke atas, badannya kaku, kaki bengkok, dan tangannya mengepal.Setelah diperiksa, dokter bilang anak saya hanya sakit perut kembung. Tapi anehnya anak saya masih menangis tanpa henti meski sudah minum obat. Hingga usianya 3 bulan, tumbuh kembang Adiva terhambat, mata dan pendengarannya juga tidak merespon.  Saya yang semakin curiga pun kembali membawanya periksa, ternyata dokter menemukan ubun-ubun Adiva sudah tertutup (craniosynostosis) hingga membuat otaknya tidak berkembang. Selain itu anak saya juga didiagnosa cerebral palsy (lumpuh otak) dan mikrosefali (lingkar kepalanya kecil).  Setelah menjalani operasi, saya sempat mengira itu merupakan awal kesembuhan anak saya. Kenyataannya saat usia 2 tahun, Adiva mendadak sering kejang dan dokter mendiagnosa anak saya juga sakit epilepsi.Kondisinya anak saya saat ini suka tantrum kalau sedang menangis, sehingga ia mencakar muka, telinga, menjambak rambutnya, dan memukul kepalanya. Biasanya akan saya bedong supaya anak saya tidak menyakiti dirinya sendiri. Anak saya masih harus kontrol rutin ke rumah sakit.Namun saya terkendala biaya pengobatan anak. Saya hanya ibu rumah tangga dan suami saya merupakan pengemudi ojek online yang penghasilannya tidak menentu. Saya sangat berharap Adiva sembuh dan perjuangan saya demi kesehatan anak berbuah manis.#TemanBaik, mari bantu Adiva agar bisa perlahan sembuh dari penyakitnya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!

Dana terkumpul

Rp. 46.056.017
7 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Di Usia Senja, Bayi Suminar Justru Berjuang Melawan Sesak dan Kerusakan Jantung

“Saat aku sesak napas hebat dan harus dibawa ke IGD rumah sakit, keluargaku benar-benar tidak memiliki uang sepeserpun untuk ongkos ambulans. Mereka bahkan mengesampingkan rasa malu mereka, menangis dan memohon pertolongan tetangga agar bisa membantu membawaku ke rumah sakit.”“Rasanya sangat menyakitkan, ketika waktu terus berjalan aku tak bisa langsung ditangani, malah harus melihat keluargaku harus kesusahan karenaku. Aku ingin sembuh, aku tak ingin keluarga kerepotan lagi dan aku masih ingin berkumpul dengan cucuku.” -Bayi Suminar-Di usia yang memasuki 63 tahun ini, harapan terbesarku bukanlah kemewahan, melainkan bisa menikmati masa tua dengan tubuh sehat dan tetap berada di tengah keluargaku tercinta. Namun kini, yang aku jalani justru berbanding jauh dengan harapan.Aku didiagnosa mengalami kerusakan jantung. Penyakit ini mulai terasa saat aku berusia 61 tahun, aku sering mengalami sesak napas berat, dada terasa seperti dihimpit, tubuhku lelah meski hanya aktivitas ringan hingga kedua kakiku membengkak.Keluargaku sempat mengira aku hanya kelelahan karena usiaku yang sudah tua. Namun, kian hari kondisiku justru semakin memburuk. Bahkan, berbaring membuatku kesulitan bernapas. Aku harus terus duduk untuk bisa menghirup udara. Akhirnya, aku periksa ke dokter dan hasilnya kerusakan jantungku cukup serius. Aku terkejut menyadari kehidupan pahitku baru saja dimulai. Sejak itu, aku menjalani hari-hari berjuang mengambil napas di tengah rasa pengap yang menyiksa.Penyakit ini merenggut banyak hal dari hidupku. Dulu, aku masih bisa menjalankan peran sebagai ibu rumah tangga yang mandiri. Kini, selangkah saja sering membuat tubuhku oleng dan napas terengah. Aku juga tak sanggup lagi mengangkat barang, berjalan jauh dan melakukan pekerjaan rumah seperti dulu.Perjuangan menuju sembuh juga tak mudah. Jika malam-malam aku sesak napas, maka keluargaku sejak subuh sudah mengantre di rumah sakit agar aku mendapatkan pelayanan yang paling cepat. Sedikit demi sedikit tabungan habis dan barang berharga telah dijual. Sumber keuangan di rumah berasal dari anggota keluarga yang bekerja sebagai guru honorer, penghasilannya terbatas. Bahkan, untuk sehari-hari juga sering kali kurang.Sementara itu, aku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ibu Bayi tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ibu Bayi!  

Dana terkumpul

Rp. 7.377.007
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Gerakan Berbagi Makan Siang Gratis untuk Kaum Duafa

#Berbagitakkanrugi merupakan aktivitas atau gerakan membagikan makan siang gratis kepada orang-orang yang membutuhkan yang diadakan saat akhir pekan. Kegiatan ini sudah kami lakukan sejak tahun 2022. Tujuan utama gerakan ini adalah kami ingin mengajak teman semua untuk sama-sama bergerak membantu orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan. Kami tidak ingin menjadi organisasi ataupun komunitas.Kami berencana membuat kegiatan ini menjadi kegiatan rutin setiap seminggu sekali di sekitaran Kota Pekanbaru. Maka dari itu, karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang baik, kami ingin mengajak Teman-temanBaik untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.   Selain itu, kami juga berencana untuk tetap melakukan kegiatan #Berbagitakkanrugi di bulan Ramadhan dengan membagikan makan gratis untuk saudara-saudara kita berbuka puasa. Kami senang apabila TemanBaik ikut mendukung gerakan ini. Dana yang terkumpul akan dibelikan bahan-bahan makanan yang nantinya akan diolah menjadi makan sehat dan bergizi. Bantuan untuk gerakan #Berbagitakkanrugi dapat disalurkan dengan cara klik Donasi Sekarang 

Dana terkumpul

Rp. 14.255.058
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
“Ayah Janji, Nanti Kita Main Lagi," Kini Shanum Berjuang Melawan Meningitis TB dan Hidrosefalus

“Kakak, Ayah mohon kuat ya kak. Ayah janji, nanti kalau Kakak sehat, kita pergi ke kebun binatang dan main sama-sama lagi.” Itulah kalimat yang selalu aku bisikkan ke telinga anakku. Berbulan-bulan lamanya aku harus merawat putriku sekaligus banting tulang mencari nafkah seorang diri.”“Bahkan, bersamaan ketika anakku harus berkali-kali operasi, kontrak kerjaku tidak diperpanjang perusahaan. Akhirnya, aku banting setir menjadi kurir paket karena biaya pengobatan anakku terus menanti. Aku harus memanggul puluhan kilogram barang untuk diantar, pikiranku hanya tertuju pada satu hal, putriku. Semoga jerih payah ini bisa membuat putriku terus berjuang dan suatu hari benar-benar sembuh.” -Muamar, Orang tua Shanum-Shanum Mecca Alfhatunnisa (1 thn), nama cantik itu kuberikan pada anakku sebagai doa agar putriku tumbuh sehat dan membahagiakan keluarga. Kehadirannya menjadi anugerah terindah yang memenuhi rumah kami dengan tawa dan harapan. Tapi siapa sangka, damai hatiku hilang dalam sekejap saat anakku menginjak usia 1 tahun.Semua bermula dari demam tinggi yang tak kunjung sembuh. Setelah menjalani perawatan rumah sakit, kondisi anakku justru semakin memburuk. Ia mulai hilang kesadaran, tatapannya kosong, Ia tak lagi merespon ketika dipanggil dan matanya juling.Setelah pemeriksaan lanjutan di rumah sakit, anakku didiagnosa Meningitis TB (ada bakteri di otak), hidrosefalus (penumpukan cairan di otak), dan epilepsi (kerusakan saraf otak). Mendengar satu per satu vonis itu, rasanya dada ini sesak. Hidupku rasanya bagai diterjang badai!Sejak itu, hidup anakku berubah menjadi penderitaan. Tidurnya tak pernah nyenyak, bahkan dalam sehari ia hanya mampu terlelap sekitar dua jam. Selebihnya, ia harus menahan kejang, tremor, dan detak jantung yang berdetak begitu cepat. kondisi anakku saat ini tak bisa aktivitas apapun, hanya tiduran saja. Anakku harus menjalani terapi agar tubuhnya tidak kaku. Ia sudah menjalani operasi berkali-kali pemasangan selang untuk mengurangi kelebihan cairan di kepalanya. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi orang tua selain melihat anaknya terus berjuang melawan rasa sakit tanpa mampu menggantikannya. Bohong jika aku tak merasakan putus asa, tentu saja aku sering merasakannya, apalagi ketika sedang tidak ada uang.Penghasilanku hanya Rp70 ribu sehari, belum dipotong bensin dan makan.  Saat Shanum mulai jatuh sakit, istriku sedang mengandung. Kini setelah adiknya lahir, ia harus merawat dua anak sekaligus, bayi yang baru mengenal dunia dan Shanum yang membutuhkan perhatian sepanjang waktu.Demi menambah penghasilan, aku kerap mengambil pekerjaan tambahan sebagai kenek truk pengangkut ayam. Namun, penghasilan yang kami dapat tetap belum mampu mengejar kebutuhan yang terus bertambah. Sementara anakku masih butuh bolak-balik rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Shanum tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Shanum!  

Dana terkumpul

Rp. 14.990.000
1 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
13 Tahun Selvi Bertahan Melawan Hidrosefalus, Kini Masih Menanti Operasi Penyelamat

“Saat anakku menjalani operasi pertamanya di Jakarta, aku dan anakku menumpang tinggal di rumah singgah selama tiga bulan karena keterbatasan biaya. Aku juga tidak bisa bekerja karena harus terus mendampingi anakku. Berkali-kali aku menahan lapar dan bingung ketika harus membeli kebutuhan anakku. Hari-hariku rasanya berat sekali.”“Suamiku mengambil pekerjaan apapun demi anakku bisa terus berobat. Terkadang Ia jadi kuli bangunan, juru parkir hingga bekerja di ladang milik orang lain. Aku sendiri bekerja mencuci pakaian dan membersihkan rumah tetangga jika ada yang membutuhkan. Penghasilan kami tak menentu, sementara aku kesulitan karena pengobatan anakku menanti di depan mata.” -Hayat, Orang tua Selvi-Sudah 13 tahun anakku, Selvi (13 thn), berjuang dari penyakit hidrosefalus. Penyakit yang mulai menjadi mimpi buruknya saat Ia menginjak usia 3 bulan. Bermula dari tubuhnya tampak lemah dan sering sakit, anakku dirujuk untuk periksa ke rumah sakit besar.Hatiku dipenuhi kecemasan, tapi biaya pengobatan membuat pengobatannya terhenti. Akhirnya aku hanya bisa membawa anakku pulang ke rumah dengan hati hancur. Hari demi hari berlalu, sementara kondisi Selvi semakin mengkhawatirkan. Di tengah keputusasaan itu, ternyata ada secercah harapan yang akhirnya datang. Ada yayasan yang bersedia membantu pengobatan anakku. Aku pun membawanya periksa ke rumah sakit, saat itulah anakku didiagnosa ada penumpukan cairan di otaknya yang menyebabkan kepalanya membesar. Rasanya dadaku sesak dan aku tak sanggup berkata-kata mendengar penjelasan dokter. Semakin menyakitkan lagi ketika anakku harus menjalani operasi besar di usianya yang masih 5 bulan. Aku tak henti-hentinya menangis dan berdoa agar Allah menyelamatkan anakku.Operasi memang berjalan lancar, tapi lagi-lagi aku terkendala biaya untuk membawa anakku kontrol rutin. Bertahun-tahun anakku berhenti pengobatan, hidup dalam rasa sakit, dan tak dapat penanganan semestinya. Baru saat usianya 5 tahun, menjalani operasi keduanya, yaitu pemasangan selang untuk mengurangi cairan di kepalanya.Setelah itu, pengobatan anakku kembali terhenti hingga akhirnya lagi-lagi Allah memberikan pertolongan melalui Kementrian Sosial. Sayangnya, bantuan itu tak berlangsung lama dan anakku lagi-lagi harus berhenti pengobatan. Kini, kondisi anakku memprihatinkan. Hampir setiap hari Ia harus menahan nyeri hebat di kepalanya. Ketika sakit itu datang, Ia akan muntah dan kejang berulang. Ia tidak dapat berlari, bermain maupun sekolah. Sepanjang hari anakku hanya berbaring di tempat tidur, bergantung pada perawatanku.Dokter menyampaikan bahwa anakku masih membutuhkan pengobatan dan operasi lanjutan. Setiap kali harus kontrol, aku harus meminjam uang kepada tetangga atau saudara. Bahkan tak jarang aku menjual barang berharga demi membiayai perjalanan dan kebutuhan Selvi.Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Selvi tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Selvi!  

Dana terkumpul

Rp. 1.660.000
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Bantuan Sembako untuk Yatim, Duafa, dan Lansia di Panti Babussalam Cisalak

Panti Babussalam Cisalak berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, setiap anak berhak untuk hidup dan tumbuh kembang berdasar pada kasih sayang.Hai TemanBaik, Aku memutuskan untuk mendirikan Yayasan Babussalam Cisalak pada tahun 2017 di Kota Depok, atas keprihatinanku dalam melihat banyaknya anak menjadi pekerja serabutan dan terlantar. Panti ini kemudian bergerak di bidang penyantunan anak yatim, duafa, dan lansia. Sudah 80 anak yang terdiri dari anak yatim, piatu dan duafa, yang kami tampung. Banyak dari mereka yang tidak mampu secara ekonomi, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan pendidikan dan makanannya. Salah satunya, Satria. Anak yang ditelantarkan ayahnya sejak masih kecil. Sementara, ibunya bekerja sebagai satpam dan jarang pulang. Ia lalu dititipkan ke Panti Babussalam Cisalak. Alhamdulillah, selama di sini Satria mendapatkan perhatian dan bantuan untuk sekolah. Maka dari itu, aku ingin tetap bisa menjaga mereka, mencukupi kebutuhan sehari-hari anak binaan. Supaya selain pendidikan, gizi dan asupan mereka pun terpenuhi dengan baik. Untuk TemanBaik yang ingin turut membantu anak-anak di sini, boleh dengan meng-klik Donasi Sekarang di bawah ini!

Dana terkumpul

Rp. 15.870.446
13 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Dari Sopir Angkot Menjadi Terbaring Tak Berdaya, Suamiku Masih Berjuang Melawan Tumor

“Dulu, suamiku bekerja sebagai sopir angkot dengan penghasilan tak menentu. Di waktu senggangnya, Ia juga berjualan bensin eceran demi dapur keluarga kami tetap ngebul. Kini, semua tinggal kenangan. Dokter memintanya berhenti bekerja dan beristirahat total. Sejak saat itu, suamiku hanya bisa menahan sakit di rumah.”“Aku menjadi satu-satunya tulang punggung menggantikan suami. Aku bekerja sebagai asisten rumah tangga yang penghasilannya sangat terbatas. Ada saat-saat ketika aku hanya bisa memeluknya sambil menangis, karena tak memiliki ongkos untuk membawanya berobat. Rasanya begitu menyakitkan melihat suamiku terus keskitan.” -Khotimah, Istri dari Suhaeril-Tak pernah ku sangka! Benjolan kecil yang muncul di leher suamiku, Suhaeril (45 thn), perlahan merenggut kehidupannya. Benjolan itu muncul saat suamiku berusia 41 tahun, awalnya terasa tidak berbahaya. Jadi suamiku mengabaikannya dan tetap bekerja seperti biasa.Namun, hari demi hari benjolan itu kian membesar. Rasa nyeri yang awalnya muncul sesekali, mulai menjalar ke leher hingga kepala suamiku. Setiap kali Ia bekerja, Ia terpaksa berhenti di tengah jalan karena rasa sakit tak tertahankan menghentikan tubuhnya. Lehernya terasa kaku, kepalanya berdenyut hebat, sementara tubuhnya semakin lemah. Melihat kondisinya yang terus memburuk, aku akhirnya membawanya ke puskesmas di kampung. Saat itulah semua kenyataan pahit terungkap!Dokter menyampaikan kabar yang membuatku kehilangan harapan, ternyata ada tumor di lehernya! Suamiku akhirnya harus menjalani operasi pengangkatan tumor, tapi ternyata perjuangannya tak berhenti sampai disitu.Setelah operasi, penyakit itu kambuh kembali.  Suamiku malah kembali merasakan sakit luar biasa di leher bekas operasinya. Lehernya juga kaku lagi, bahkan Ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Akhirnya, Ia butuh bantuan untuk melakukan aktivitas apapun.Sejak sakit, suamiku menjadi pribadi yang lebih diam. Aku sangat sedih menyaksikan Ia tak berdaya, tapi aku tak berhenti menunjukkan perjuanganku dan rasa cintaku yang tulus agar Ia juga semangat untuk kesembuhanku.Namun, pengobatannya masih panjang dan biaya menjadi hambatan besar. Tak jarang aku juga meminjam uang kepada keluarga agar suamiku bisa berobat. Bahkan untuk kebutuhan makan sehari-hari tak jarang kami dibantu saudara dan tetangga. Meski pengobatan suamiku ditanggung BPJS, tapi masih ada biaya yang harus diperjuangkan sendiri.  Jarak ke rumah sakit cukup jauh, biaya transportasinya mahal. Selain itu, aku juga butuh biaya untuk membeli obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Suhaeril tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Suhaeril!  

Dana terkumpul

Rp. 390.000
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Anak Kuli Kubah Masjid Harus Berjuang Operasi Jantung

“Pernah kami hanya bisa pasrah menangis, pikiran kami sudah sangat buntu karena terkendala biaya pengobatan anak, tapi kami masih belum ikhlas jika harus kehilangan anak kami.” -Anah Zayinah, Orang tua Adhyasta-Batuk tanpa henti dialami anakku, Muhammad Adhyasta Syauqi (4 thn), saat usianya menginjak 2 bulan. Suara batuknya seperti batuk orang tua, terdengar nyeri, sekaligus kering. Saat aku bawa periksa, pihak bidan mengatakan anakku hanya batuk dan flu biasa. Tapi nyaris satu setengah bulan anakku tak kunjung sembuh. Hingga pada suatu pagi, anakku mengalami muntah hebat seperti semburan air.Setelah pemeriksaan mendalam, baru diketahui anakku mengalami kelainan jantung kompleks dan kondisinya sudah memburuk. Beberapa rumah sakit daerah yang kami datangi tidak bisa menangani anakku, hingga anakku dirujuk untuk berobat ke rumah sakit di Jakarta. Emas dan barang berharga aku jual untuk biaya membawa anak dari Brebes, Jawa Tengah, menuju ke Jakarta. Syukurlah, anakku mendapat penanganan yang baik dan sudah menjalani operasi bedah jantung untuk pertama kalinya. Ia diharuskan minum obat pH hingga 3 kali sehari.Kondisinya saat ini lebih baik, tapi tidak bisa terlalu lelah dan rentan terkena batuk disertai flu. Dokter bilang anakku harus menjalani operasi jantung lanjutan. Jujur saja, hati ini tidak tega jika harus melihatnya terbaring di meja operasi berkali-kali. Tapi itu satu-satunya jalan agar anakku bisa sembuh.Aku kembali terkendala biaya, suamiku hanya bekerja sebagai kuli yang membuat kubah dan menara masjid yang upahnya 150 ribu rupiah perhari. Sedangkan aku berupaya jualan online, itu pun hasilnya tak seberapa. Anakku masih membutuhkan biaya transportasi ke Jakarta, pembelian obat pH, obat yang tidak tercover BPJS, vitamin, vaksin influenza, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, mari bantu Adhyasta untuk melanjutkan pengobatan jantungnya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!

Dana terkumpul

Rp. 35.622.028
13 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Kanker Payudara Stadium 4 Menjalar ke Tulang Selangka dan Tulang Ekor Bu Arwin!

“Kanker payudara stadium 4 yang aku  derita kini tak lagi hanya menyerang satu bagian tubuh, penyakit ini sudah menjalar hingga ke tulang selangka dan tulang ekor! Sudah menjalar ke tulang selangka dan tulang ekor!”“Rasa sakit yang tak terbayangkan itu perlahan merenggut kemampuanku untuk sekadar duduk, apalagi berjalan. Tulang kakiku mulai keropos, tubuhku semakin lemah. Hingga kini aku hanya bisa terbaring, menjalani hari dengan penuh harap di tengah ketidakberdayaan.”Perkenalkan, aku Arwin Tri Herawati  (48 thn), hidupku berubah sejak penyakit itu datang 4 tahun lalu. Kini, hanya anakku satu-satunya alasan aku ingin bertahan sampai hari ini. Ia yang selalu membantuku untuk beraktivitas ketika tubuhku tak berdaya sama sekali.Awalnya benjolan kecil muncul di payudaraku, tapi aku tak menghiraukan. Namun lama-lama membengkak, menghitam dan mengeluarkan cairan. Kulit di sekitar payudaraku juga mulai berkerut seperti kulit jeruk. Rasa sakit mulai menjalar ke seluruh tubuhku, setiap hari tanpa henti.Duniaku terasa berhenti, ketika dokter mengatakan aku mengalami kanker payudara. Penyakit itu dengan cepat mengganas sebelum aku menyadarinya, bahkan sudah kena ke organ hatiku. Akibatnya, perutku terasa begah, tubuhku terasa remuk saking sakitnya. Aku sudah menjalani dua kali operasi. Namun, penyakit ini seperti tidak memberikanku istirahat. Luka bekas operasiku ternyata sempat terinfeksi dan jahitannya terbuka, menambah rasa sakit yang harus aku tanggung.Tak jarang aku menangis karena tak kuat menahan sakit dan sedih dengan keadaanku, rasanya nyaris menyerah. Tapi, pada akhirnya aku tetap ingin terus hidup dan sembuh agar perjuangan anakku yang sudah mengurusku tidak sia-sia. Aku juga ingin bekerja lagi, agar hidupku tak terus diisi dengan meminta-minta bantuan.Biaya pengobatanku sangat berat, sekedar untuk ke rumah sakit aja aku harus menempuh 4 jam perjalanan. Akhirnya, aku sering tidak berangkat ke rumah sakit karena biaya transportasi yang mahal. Bahkan, untuk sekedar membeli obat pereda nyeri saja aku tidak mampu. Dulu, Ibuku masih membantu biaya hidupku. Beliau adalah seorang pensiunan guru, tapi sekarang beliau terkena stroke dan harus pengobatan juga. Sehingga, aku harus berjuang sendiri untuk hidupku. Itu pun aku sering menunggu belas kasihan tetangga yang kadang membantu memberikan makan. Aku sudah menjual rumah dan isinya untuk pengobatan untuk pengobatanku selama ini. Kini, aku dan anakku terpaksa tinggal dengan menumpang di rumah adikku. Pinjaman uang sana-sini juga tidak bisa lagi aku hindarkan.Saat ini, aku masih membutuhkan biaya untuk sewa mobil ke rumah sakit, obat dan vitamin yang tidak ditanggung BPJS, pampers, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ibu Arwin tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ibu Arwin!

Dana terkumpul

Rp. 6.940.001
7 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Dulu Aku Menghidupi Keluarga, Kini Aku Hanya Bisa Menanti Keajaiban untuk Sembuh

“Di tempat kerja, tiba-tiba dadaku terasa seperti diremas begitu kuat. Jantungku berdebar tak beraturan, nyeri menjalar hingga ke punggung, napasku sampai sesak, tubuhku dipenuhi keringat dingin, lalu perlahan kehilangan tenaga.”“Rekan-rekanku yang saat itu melihat kondisiku langsung panik dan membawaku ke puskesmas. Saat itulah duniaku berubah berubah menjadi gelap, ternyata aku dinyatakan mengalami serangan jantung dan terjadi penyumbatan pembuluh darah.” -Bahrul Ulum (49 tahun)-Kini sudah hampir 1 tahun 4 bulan aku berjuang melawan penyakit jantung ini. Dulu sebelum sakit, aku merupakan tulang punggung keluarga yang bekerja sebagai juru masak di perusahaan katering. Tapi sekarang, aku terpaksa berhenti kerja total karena aku tak sanggup beraktivitas seperti dulu.Aku sudah menjalani operasi kateterisasi jantung, tapi perjuanganku untuk sembuh masih panjang. Hingga kini, aku masih sering nyeri dada, sesak napas tiba-tiba, tak sanggup berdiri dalam waktu lama, dan terengah-engah meski berjalan beberapa langkah. Jika sudah parah, biasanya aku masuk IGD rumah sakit. Setiap bulan, aku harus menempuh perjalanan dari Cipanas, Cianjur ke rumah sakit jantung Jakarta. Sekali berangkat, biaya transportasi paling murah mencapai Rp400 ribu. Bagiku jumlah itu sangat besar, bahkan untuk makan sehari-hari saja keluargaku sering bergantung pada bantuan tetangga.Demi mempertahankan pengobatanku, keluarga rela menjual kendaraan dan barang-barang berharga di rumah. Selain itu, keluargaku meminjam uang sana-sini. Aku sendiri berharap bisa sembuh dan bisa menghidupi keluargaku seperti dulu, aku tak tega melihat mereka kesusahan karena aku. Dalam diam, aku sering menahan rasa sakit sendiri karena tidak mau keluargaku khawatir dan tahu kondisi ekonomi keluarga sulit. Istriku kini berjuang, jualan jajanan anak-anak sekolah untuk menyambung hidup dan membantu biaya pengobatan. Anak-anakku juga berupaya bekerja apapun untuk membantu istriku. Ada hari ketika keluargaku harus memilih, harus mengisi dapur atau menyiapkan ongkosku berobat. Menahan lapar bagi keluargaku sudah menjadi bagian sehari-hari. Terkadang rasa putus asa itu muncul, tapi perjuangan keluargaku selalu menjadi pengingat agar aku selalu kuat. Sementara itu, pengobatanku masih panjang dan aku harus menjalani kateterisasi jantung lanjutan.. Selain untuk transportasi ke rumah sakit, aku masih membutuhkan biaya untuk obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Bahrul tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Bahrul!  

Dana terkumpul

Rp. 1.110.000
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Dari Sopir Angkot Menjadi Pasien Usus Bocor, Ayah Kini Bergantung pada Perawatan Keluarga

“Ayah yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir angkot, tiba-tiba mengeluhkan nyeri perut yang luar biasa hebat. Bahkan, perutnya keras seperti papan, sampai Ia mual, muntah dan demam tinggi. Ia sampai lemas tak berdaya karena tak kuat menahan penderitaan yang nyari merenggut nyawanya.” “Kini, di keluarga hanya aku satu-satunya yang mencari nafkah. Sebagai guru honorer, aku hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp500 ribu setiap bulan. Penghasilan itu tak hanya dibagi untuk pengobatan ayahku, tapi juga untuk kebutuhan sehari-hari dan pengobatan Ibuku yang sakit jantung. Rasanya begitu berat, tapi aku tak mau kehilangan orang tuaku.” -Fanny Nurul, Anak dari Pak Komarudin-Awalnya, Keluarga mengira Ayahku, Komarudin, sakit maag. Namun, akhirnya keluarga melarikan ke rumah sakit dengan sangat panik karena kondisinya yang terus menurun. Hasil pemeriksaannya menjadi titik paling menyakitkan bagi keluarga, Ia didiagnosa usus bocor. Dokter menjelaskan bahwa usus bocornya menyebabkan isi saluran pencernaan beserta bakteri keluar ke rongga perut. Tanpa banyak waktu untuk berpikir, dokter segera melakukan operasi darurat untuk menutupi kebocoran ususnya dan membuat lubang pada perutnya untuk tempat BAB.Perjuangan Ayah belum berakhir meski sudah operasi. Luka operasi masih sering terasa nyeri dan perih.  Beliau harus merawat kantong stoma setiap hari agar tidak menimbulkan infeksi baru. Hampir semua aktivitas sehari-harinya harus dibantu keluarga karena kondisi fisiknya lemah. Saat nyeri kambuh, beliau hanya bisa meringis kesakitan sambil memegangi perut. Tak jarang rasa sakit itu kembali disertai mual dan demam tinggi sehingga keluarga harus segera memberikan obat atau dibawa ke IGD."Aku ingin sembuh. Kasihan keluarga kalau harus mengurus aku terus dalam keadaan sakit seperti ini," kalimat sederhana itu menjadi penguat keluarga untuk terus mendampinginya melewati masa-masa sulit ini.Aku sendiri sebagai anak melakukan apapun agar pengobatan ayahku tak terputus. Aku mengatur jadwal berobat, membantu membersihkan dan mengganti kantong stomanya, mengantarnya ke rumah sakit, hingga mengantre sejak dini di rumah sakit. Di sisi lain, aku berupaya mencari pekerjaan tambahan agar pengobatan ayahku terpenuhi.Jujur, aku benar-benar buntu. Aku kesulitan untuk menanggung biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, membeli peralatan medis, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Komarudin tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Komarudin!   

Dana terkumpul

Rp. 878.000
13 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Buruh Tani Ini Berjuang Menyelamatkan Istri Tercinta yang Mengidap Jantung Bocor

"Setiap kali istriku sesak napas, hatiku ikut terasa sesak. Aku hanya bisa menggenggam tangannya sambil berdoa agar Allah tidak mengambilnya terlalu cepat." -Nasrudin, Suami dari Eli-Istriku, Eli Suryani (36), didiagnosis menderita jantung bocor tipe ASD sekundum. Bermula pada 2022 lalu, istriku mengalami batuk berulang yang aku kira hanya sakit biasa. Namun dua bulan berlalu, batuk itu tak kunjung reda. Tubuhnya malah jadi lemas dan napasnya sering sesak.Aku pun akhirnya membawanya ke rumah sakit dengan harapan kondisinya segera membaik. Tapi, harapan itu berubah menjadi ketakutan luar biasa ketika istriku dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar karena kondisi lubang di jantungnya.Hidup kami berubah, terutama istriku. Ia harus bolak-balik rumah sakit, minum obat, hingga menjalani kateterisasi jantung. Tapi karena tekanan paru-parunya masih terlalu tinggi, tindakan penutupan lubang di jantungnya belum bisa dilakukan.Perjuangannya dilanjutkan dari Lampung menuju rumah sakit Jakarta. Hari demi hari kondisi istriku melemah, Ia cepat lelah dan bahkan aktivitas sederhana bisa membuatnya kesakitan. Sebagai suami, rasanya begitu menyakitkan melihat orang yang paling saya cintai berjuang melawan penyakit, sementara aku tak mampu menghilangkan rasa sakitnya.Sementara itu, beban biaya yang membengkak juga membuat putus asa. Aku hanyalah buruh tani dan kadang aku juga bekerja sebagai tukang ojek demi tambahan biaya di rumah. Tak jarang aku meminjam uang pada saudara atau menjual barang berharga demi pengobatan istriku.Namun setiap kali harus mendampinginya menjalani pengobatan di Jakarta, saya tidak bisa bekerja. Di sisi lain, dua anak kami juga tetap membutuhkan makan, susu, dan biaya hidup sehari-hari.Istriku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Eli tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Eli!   

Dana terkumpul

Rp. 2.456.001
2 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Perut Yaya Membesar Seperti Hamil 7 Bulan, Ternyata Kista 3 Kg Terus Mengancam Nyawanya

Selama hampir tiga tahun, penyakit itu terus menggerogoti tubuh Yaya. Perutnya membesar hingga tampak seperti wanita yang sedang hamil tujuh bulan. Namun, yang dikandungnya bukanlah calon buah hati, melainkan kista yang semakin hari semakin membahayakan nyawanya. Tepatnya 3 tahun lalu, Yaya Soraya (42) mulai merasakan nyeri pada perutnya. Namun, Ia hanya menahannya karena mengira hanya sakit karena salah makan. Tapi, kondisinya benar-benar janggal karena perutnya perlahan membesar! Keluarga hanya bisa merawat seadanya tanpa mampu membawanya menjalani pengobatan karena keterbatasan biaya.Sejak itu, malam-malam Yaya terasa sangat kelam. Alih-alih tidur, Ia harus menahan rasa sakit luar biasa di perutnya yang begitu menyiksa. Bahkan, perutnya semakin membesar hingga membuatnya sulit bernapas dan berjalan.Suami Yaya saat itu berupaya meminta bantuan tetangga agar istrinya bisa dibawa ke rumah sakit. Lalu, semua rasa sakit itu terjawab dengan kenyataan yang begitu berat. Di dalam perut Yaya tumbuh kista ovarium dengan ukuran yang sudah mencapai sekitar 3 kilogram. Kondisi Yaya semakin memburuk, selain mengalami nyeri hebat di perut, Ia juga mengalami sesak napas, tubuh yang lemas, hingga demam disertai menggigil kerap datang menghampirinya. Ketika rasa sakit itu kambuh, keluarga harus meminta bantuan tetangga untuk mengantarkan Yaya ke IGD terdekat karena mereka tidak memiliki kendaraan maupun biaya.Yaya harus menjalani operasi karena kondisinya sudah sangat berbahaya. Namun, beban ekonomi semakin berat karena pengobatannya membengkak. Suaminya dari Yaya, Malik, bekerja sebagai pengambil pasir di sungai. Dalam sehari, jika cuaca cerah, ia hanya mampu membawa pulang sekitar Rp25 ribu.Di tengah perjuangan itu, anak-anak Yaya memilih mengorbankan waktu mereka untuk merawat kedua orang tuanya. Setelah menjaga sang ibu, mereka juga rela melakukan pekerjaan apa saja yang tersedia demi mendapatkan sedikit upah untuk membeli makanan atau membantu biaya berobat.Tak jarang mereka harus meminjam uang dan mengetuk pintu rumah tetangga, berharap ada yang bersedia menolong agar Yaya tetap bisa menjalani pengobatan. Mereka harus menahan lapar karena seluruh tenaga dan biaya habis untuk mengupayakan kesembuhan Yaya. Jarak rumah sakit yang jauh, ongkos transportasi yang mahal. Belum lagi membeli obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Yaya tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Yaya!   

Dana terkumpul

Rp. 2.631.002
2 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Kurelakan Ginjal Kiriku untuk Lovely, Kini Ia Kembali Berjuang untuk Transplantasi Kedua

"Demi menyelamatkan nyawa anakk, aku rela mendonorkan ginjal kiriku untuknya. Harapanku sangat besar agar putriku bisa hidup normal, tumbuh sehat, dan tak lagi bergantung pada mesin cuci darah. Saat itu, aku benar-benar percaya perjuangan kami akan segera berakhir.""Namun, harapan itu kembali runtuh. Pada Januari 2024, ginjal yang kudonorkan justru terserang virus hingga mengalami penolakan (rejection). Dengan hati yang hancur, aku harus mengikhlaskan anakku menjalani operasi pengangkatan ginjal yang selama ini menjadi simbol pengorbananku sebagai seorang ibu.” -Darlis Romanti, Orang tua Lovely-Sebagai seorang ibu tunggal, tidak ada hari tanpa perjuangan untuk menyelamatkan anakku, Lovely Franda (17 thn). Cobaan ini bermula ketika Lovely masih bayi berusia 6 bulan. Ia terus-menerus muntah hingga tubuh mungilnya semakin lemah. Aku membawanya ke rumah sakit, tapi kondisinya tak juga membaik dan kami belum mendapatkan kepastian penyakitnya. Karena keterbatasan biaya, aku meminta agar Lovely dirujuk ke rumah sakit Jakarta. Disanalah, anakku didiagnosa gagal ginjal kronik. Rasanya bagai disambar petir!Selama bertahun-tahun, Lovely harus rutin kontrol, menjalani diet ketat, membatasi makanan dan minuman, serta hidup dengan berbagai pantangan. Syukurlah, ia masih mampu bertahan hingga usia 11 tahun sebelum akhirnya harus menjalani cuci darah secara rutin. Rasanya ikut terluka, melihat anak yang masih kecil harus ditusuk jarum berkali-kali.Cintaku pada anakku begitu besar, hingga akhirnya aku bersedia mendonorkan ginjalku meski akhirnya semuanya sia-sia. Itu adalah saat yang berat, malam-malamku dipenuhi air mata. Aku terus berdoa, “Tuhan... tolong selamatkan Lovely. Aku tahu dia milik-Mu, tapi aku belum sanggup kehilangannya. Tolong beri dia kesempatan untuk tetap hidup.”Puji Tuhan, Lovely berhasil melewati masa kritisnya. Namun perjuangan kami belum selesai. Ia harus kembali menjalani cuci darah dua kali setiap minggu. Bila cairan dalam tubuhnya berlebihan, Ia akan sesak napas hingga harus menyediakan tabung oksigen di rumah. Ia juga masih sering muntah dan tubuhnya mudah lelah.Kini usianya menginjak 17 tahun. Di usianya yang seharusnya dipenuhi tawa bersama teman-teman, ia justru menghabiskan hari-harinya di ruang medis. Meski begitu, semangatnya tidak pernah padam. Ia selalu berkata ingin bersekolah seperti anak lainnya.Sebagai ibu tunggal, aku hanya memiliki usaha laundry kecil di rumah dengan penghasilan sekitar Rp3-4 juta setiap bulan. Penghasilan itu harus cukup untuk menghidupi 3 anakku dan biaya rumah sakit Lovely.Aku sudah menjual motor dan modal usahaku untuk pengobatan Lovely. Bahkan pernah ada masa ketika aku sama sekali tidak memiliki uang. Aku lembur hingga larut malam menyelesaikan cucian pelanggan hanya agar keesokan harinya kami bisa berangkat ke rumah sakit.”Kini Lovely harus menjalani proses transplantasi ginjal untuk yang kedua kalinya. Namun, aku tak sanggup memenuhi obat yang tidak ditanggung BPJS, pemeriksaan laboratorium, transportasi dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Lovely tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Lovely!  

Dana terkumpul

Rp. 3.770.000
9 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Pecah Pembuluh Darah Otak Merenggut Ingatannya, Aku Menjadi Orang Asing di Mata Suamiku Sendiri

“Hal yang paling menyayat hati adalah ketika suamiku kehilangan hampir seluruh ingatannya. Bayangkan, empat bulan lamanya Ia tidak mengenali aku! Bahkan, anak-anak dan orang sering berada di sekelilingnya Ia tidak ingat. Tatapannya sering kosong, aku seperti kehilangan suamiku meski Ia di depan mata.”“Dulu Ia merupakan tulang punggung keluarga, bekerja keras sebagai sopir angkot demi menghidupi keluarga. Kini Ia hanya bisa menatap langit-langit kamar dan tak bisa melakukan apapun. Melihatnya menangis karena merasa jadi beban keluarga, adalah luka bagiku.” -Yayat, Istri dari Waing-Suamiku, Waing (62 thn), tiba-tiba mengeluhkan sakit kepala yang luar biasa hebat sambil memegangi kepalanya. Aku cukup panik karena tidak pernah melihat kondisinya separah itu. Tanpa pikir panjang, aku langsung membawanya ke rumah sakit.Semua berubah menjadi ketakutan ketika dokter mengatakan pembuluh darah di otak suamiku pecah! Aku semakin terkejut lagi karena suamiku hanya bisa diselamatkan melalui operasi. Sepuluh hari Ia dirawat di rumah sakit setelah tindakan, di waktu itu pula kegelisahan dan doa aku panjatkan agar kondisinya membaik.Namun, harapanku runtuh! Sudah setahun penuh tubuh suamiku tak mampu bergerak karena stroke. Segala aktivitasnya membutuhkan bantuan biaya. Aku terus berupaya membawanya terapi dan merawatnya tanpa menyerah sedikitpun. Siapa sangka, keajaiban itu benar-benar datang! Suamiku sudah mulai bisa berjalan kembali meski langkahnya tertatih dan harus dibantu. Namun, ingatannya yang hilang belum juga kembali sepenuhnya. Ia masih sering lupa, sulit berkonsentrasi dan sering sakit kepala hebat.Meski melewati begitu banyak penderitaan, tapi suamiku tak pernah menyerah. Setiap hari Ia selalu berkata, “aku ingin cepat sembuh, sehat lagi, supaya bisa kerja seperti dulu.” Rasanya bahagia sekali mendengarnya kalimat positif itu. Biaya pengobatan suamiku bukanlah hal yang mudah bagiku. Kini hanya aku yang mencari nafkah dengan berjualan sayuran hingga menjadi asisten rumah tangga. Penghasilanku terbatas, bahkan sering tidak cukup untuk makan sehari-hari.Perabotan dan barang di rumah sudah habis terjual. Tak jarang aku terpaksa meminjam uang kepada keluarga dan tetangga agar suamiku bisa terus berobat. Meski pernah merasa sangat buntu, aku juga merasa pertolongan Tuhan itu nyata. Saat itu aku pernah menjual barang terakhir di rumah untuk ongkos membawa suamiku berobat. Namun, uang itu belum cukup karena jarak ke rumah sakit jauh. Lalu tiba-tiba ada tetangga yang iba dan menawarkan untuk membawa suamiku ke rumah sakit. Kebaikan itu menjadi penyemangat untukku terus bertahan. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Waing tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Waing!   

Dana terkumpul

Rp. 1.536.000
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Lihat Semua
  Lihat Semua Campaign