Benihbaik x Metro TV

Salurkan donasi anda ke campaign-campaign di bawah ini

Campaign Pilihan Hari Ini

Pilihan Benihbaik

Panggilan Mendesak

Waktu mereka tidak banyak, mereka sangat membutuhkan bantuan kalian

Card image cap
Anak
Selain Lahir Tanpa Anus, Zayyan Juga Mengalami Kerusakan Organ Hati

“Dokter mengatakan organ hati anakku sudah mulai menghitam akibat kerusakan! Seketika aku mematung, tubuhku gemetar dan aku menangis sejadi-jadinya mendengar fakta itu. Itulah momen paling menyakitkan selama hidupku.”“Pikiran buruk terus menghantui, takut kehilangan anakku untuk selamanya. Bahkan, rambutku rontok parah karena stres. Kadang aku menyalahkan diriku sendiri, merasa gagal menjaganya. Belum lagi, kenyataan tentang biaya pengobatan yang besar membuatku semakin tak berdaya.” -Nadila Desi, Orang tua Zayyan-Masih dalam keadaan lemas usai melahirkan, aku langsung dihadapkan pada kenyataan yang tak terbayangkan. Anakku, Zayyan Alfarizi (18 bln), didiagnosa tidak memiliki lubang anus, entah bagaimana itu bisa terjadi. Di usianya yang baru 4 hari, anakku harus operasi pembuatan lubang pada perutnya  sebagai jalan sementara untuk buang air besar sementara. Namun cobaan itu ternyata belum berakhir. Aku mulai merasa ada yang tidak beres, karena tubuh perlahan menguning.Dan benar saja, saat pemeriksaan lanjutan, anakku tidak memiliki saluran empedu. Kondisi itu membuat organ hatinya perlahan rusak. Anakku langsung menjalani operasi kasai dengan harapan organ hatinya membaik. Tapi sebulan usai operasi, anakku tiba-tiba mengalami sesak napas, perutnya mengeras, dan demamnya tinggi. Ia sampai harus masuk rumah sakit. Namun, 5 hari dirawat, kondisinya semakin memburuk. Tubuhnya membengkak, kesadarannya menurun. Aku berteriak histeris memanggil perawat agar memeriksa kondisi anakku. Hingga akhirnya Ia harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, menempuh perjalanan panjang selama 2 jam dengan penuh kecemasan di dada. Di rumah sakit itu, tubuh anakku dipenuhi selang dan alat medis. Di usia yang masih belasan bulan, anakku sudah sering keluar masuk rumah sakit. Kini tubuhnya sering lemas, semakin kurus, dan hampir setiap malam ia menangis kesakitan hingga terbangun dari tidurnya. Dokter mengatakan anakku masih harus menjalani operasi lanjutan. Tapi di sisi lain, biaya pengobatan terus membengkak tanpa bisa aku hentikan. Aku sudah menjual mahar pernikahan, menjual ponsel, bahkan terpaksa berutang ke tetangga demi anakku tetap bisa bertahan. Suamiku hanya bekerja sebagai pemotong pohon karet, dengan penghasilan yang bahkan sering tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Kami juga harus mengeluarkan biaya besar untuk bolak-balik dari kampung ke rumah sakit di kota.Selain itu, anakku juga membutuhkan obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, kantong kolostomi yang harus rutin dibeli, susu, dan berbagai kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zayyan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zayyan!

Dana terkumpul

Rp. 3.506.001
13 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Bekas Jahitan Operasi Kankernya Terbuka, Pak Endang Kesulitan Biaya Melanjutkan Pengobatan

“Kondisi suamiku kini sangat kritis, rasa sakit yang ia tanggung setiap hari akan semakin menjadi-jadi. Kotorannya keluar bukan hanya melalui anus, tetapi juga dari lubang bekas jahitan operasi di perutnya yang terbuka. Setiap hari ia menahan perih, malu, dan penderitaan yang sulit dibayangkan.” -Asih Triyani, Istri dari Endang-Tiba-tiba suamiku, Endang Suhendar (39 thn), perlahan mengeluhkan sulit buang air besar dan tidak bisa kentut. Hari demi hari perutnya semakin membesar, keras, dan sembelit yang Ia rasakan begitu menyiksa. Aku tidak pernah menyangka, dari keluhan sederhana itu justru menjadi awal cobaan panjang dalam keluargaku. Dokter mengatakan bahwa suamiku menderita kanker usus besar. Saat itu, dadaku seketika sesak dan air mataku jatuh, tidak kuat mendengar kenyataan getir itu.Kanker besar itu terjadi karena adanya tumor di bagian usus, sehingga saluran pencernaannya terganggu. Rasa sakit yang Ia rasakan begitu hebat, sementara aku hanya bisa menemaninya sambil berdoa agar penderitaannya diringankan.Suamiku sudah menjalani 3 kali operasi dan tiga kali masuk ICU. Ia juga sudah menjalani rawat inap serta kemoterapi rutin 3 kali dalam sebulan. Setiap kali akan ke rumah sakit, aku harus menempuh perjalanan dari Pandeglang, Banten menuju Jakarta.Kini, kondisi suamiku sangat memprihatinkan. Ia hanya bisa berbaring di kasur, duduk saja harus aku bantu perlahan sambil disandarkan ke bantal. Bangun dan berjalan pun sangat sulit, Ia akan merasakan nyeri hebat di perut dan lubang anusnya setiap kali kambuh.Meski tubuhnya melemah, semangat suami saya untuk sembuh tak pernah surut. Setiap hari Ia terus berdoa dan berusaha kuat, seringkali Ia menangis sambil berkata ingin sembuh karena ingin melihat anak-anak kami tumbuh besar. Ia ingin kembali memeluk anak-anaknya dan menjadi ayah yang selalu ada untuk mereka.Sejak sakit, suami saya tidak lagi bisa bekerja dan tidak memiliki penghasilan. Kini saya yang berjuang mencari nafkah seorang diri. Saya bekerja cuci gosok di rumah tetangga, kadang membantu membuat gorengan, dengan upah Rp50 ribu setiap selesai kerja. Demi pengobatannya, aku sudah menjual rumah dan barang-barang sampai tak tersisa. Aku dan keluargaku sampai menumpang tinggal di rumah kakekku yang sudah tua dan rapuh. Pernah ada masa ketika di rumah tak ada uang sedikitpun, akhirnya aku meminjam uang ke tetangga hanya agar anak-anak bisa makan serta suami saya bisa berobat.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Endang tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Endang! 

Dana terkumpul

Rp. 3.508.002
Berakhir
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Berjuang di Sisa Usia, Pak Mugni Berjuang Melawan Kanker Usus Stadium 4

“Saat ini aku sedang bertarung melawan kanker stadium empat! Namun, perjuangan ini bukan hanya milikku seorang, tapi juga ada istriku, wanita yang tak pernah pergi meski setiap hari menyaksikanku menahan sakit. Di usia kami yang tak lagi muda, kami hanya hidup berdua, tanpa anak, dan saling menguatkan.”“Setiap hari perutku melilit hebat, membuatku merintih. Di sisi tempat tidur, istriku hanya bisa menangis, tak berdaya karena sering tak punya biaya untuk membawaku berobat. Ia hanya bisa mengusap perutku berulang kali, berharap sentuhannya bisa meredakan rasa sakit yang menggerogoti tubuhku.”Aku Mugni (57 thn). Dulu aku seorang petani, pekerjaan yang membuatku merasa hidup, karena membuatku menafkahi diriku dan istriku. Namun, penyakit ini merenggut segalanya, tak hanya tubuhku, tapi juga penghasilanku. Kini, hidupku semakin sulit karena tak bisa bekerja lagi. Perut sebelah kiriku bengkak dan mengeras saat pertama kali penyakit ini datang. Aku sampai tidak bisa BAB, bahkan buang angin pun tidak. Dengan harapan sembuh, aku bergegas ke rumah sakit. Tapi kenyataannya, perutku malah makin membengkak hanya dalam waktu 1 malam.Dokter mengungkapkan kenyataan yang begitu kejam, aku didiagnosa kanker usus. Duniaku runtuh, sejak itu hidupku tak mudah. Aku buang air melalui perutku yang dilubangi, dengan ususku berada diluar perut setelah 2 kali menjalani operasi. Tubuhku semakin kurus dihabisi penyakit, bagai tulang dibalut kulit.Selama ini, kebutuhan sehari-hari dan pengobatan, aku hanya bisa menunggu bantuan dari keluarga dan tetangga. Kadang ada, kadang tidak sama sekali. Pernah kondisi tubuhku memburuk karena pengobatan terputus karena tak ada biaya.Di tengah semua kesulitan itu, istriku setiap hari merawatku, mengantarkanku bolak-balik ke rumah sakit dengan tubuhnya yang juga mulai renta. Kesabarannya menjadi kekuatan yang sering kali membuatku menahan air mata.Aku masih ingin sembuh. Aku ingin bisa bekerja lagi, berdiri di atas kaki sendiri, dan tidak merepotkan siapa pun. Namun jalanku masih panjang. Aku masih harus menjalani kemoterapi dan berbagai pengobatan lainnya.Saat ini aku sangat membutuhkan biaya transportasi dari Banten ke rumah sakit di Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS, kantong kolostomi untuk menampung kotoran buang air, alat medis, dan kebutuhan lainnya. 

Dana terkumpul

Rp. 27.739.026
Berakhir
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
7 Tahun Menanti Kehadirannya, Anakku Malah Didiagnosa Atresia Bllier dan Jantung Bocor!

“Setelah 7 tahun menanti dengan doa dan harapan, akhirnya aku dikaruniai buah hati pertamaku. Ironisnya, kebahagiaan itu meredup ketika anakku didiagnosa penyakit langka yang mematikan, atresia billier. Tak berhenti sampai disitu, anakku juga didiagnosa penyakit jantung.”“Di balik tubuh kecilnya yang lemah, ia sudah melewati masa kritis yang begitu berat, bahkan saat operasi yang dijalani dinyatakan gagal. Kini, anakku harus cangkok hati! Aku sebagai orang tua akan tetap berjuang, demi anakku bisa tumbuh besar dalam keadaan sehat.” -Siti Aisyah, Orang tua Nada-Setiap malam anakku, Nada Putri Masruri (2 thn), hampir tak pernah benar-benar tidur. Ia sering menangis karena rasa tidak nyaman di tubuhnya. Aku hanya bisa memeluknya, mencoba menenangkan, meski hatiku juga hancur melihatnya menderita. Tubuh anakku sangat kurus dan ringkih, karena nutrisinya tidak terserap dengan baik. Ia tidak bisa berjalan dan sering menangis, tapi bukan karena ingin bermanja dengan orang tuanya, tapi karena Ia selalu merasa ada yang salah pada tubuhnya.Penyakit ini bermula saat tubuhnya tampak menguning dan kotoran BAB-nya berwarna pucat. Dokter kemudian menjelaskan bahwa saluran empedu di tubuh anakku tidak terbentuk dengan sempurna atau mengalami sumbatan, sehingga perlahan merusak organ hatinya. Aku mencoba berharap anakku menjalani terapi obat yang disarankan dokter, tapi harapan itu perlahan menyusut ketika tubuh anakku tak merespon. Perutnya terus membuncit karena organ hatinya membengkak. Gatal tak tertahankan di seluruh tubuhnya membuatnya tidak sengaja melukai wajahnya sendiri karena garukan. Di tengah kecemasan itu, aku semakin terpukul karena Ia juga didiagnosa sakit jantung. Akibatnya, Ia jadi sering sesak napas dan mudah lelah. Di tengah penyakit berat yang menyusul datang, anakku harus menjalani operasi kasai untuk empedunya yang tersumbat.Namun, operasi yang dijalani anakku dengan taruhan hidup dan mati itu gagal! Dokter mengatakan langkah terakhir dan satu-satunya hanyalah transplantasi hati. Hati kami hancur, tentu. Tapi jika aku lemah, bagaimana dengan anakku?Biayanya besar dan kondisi gizi anakku belum optimal, langkah itu luar biasa berat bagiku. Aku sudah menjual perhiasan, motor, bahkan menghabiskan tabungan untuk pengobatan anakku selama ini. Suamiku hanya pegawai di rumah sakit, sedangkan aku hanya guru TK. Penghasilan kami tak sebanding dengan biaya pengobatannya yang sangat besar. Sementara itu, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nada tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nada! 

Dana terkumpul

Rp. 2.363.008
7 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Gerakan Berbagi Makan Siang Gratis untuk Kaum Duafa

#Berbagitakkanrugi merupakan aktivitas atau gerakan membagikan makan siang gratis kepada orang-orang yang membutuhkan yang diadakan saat akhir pekan. Kegiatan ini sudah kami lakukan sejak tahun 2022. Tujuan utama gerakan ini adalah kami ingin mengajak teman semua untuk sama-sama bergerak membantu orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan. Kami tidak ingin menjadi organisasi ataupun komunitas.Kami berencana membuat kegiatan ini menjadi kegiatan rutin setiap seminggu sekali di sekitaran Kota Pekanbaru. Maka dari itu, karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang baik, kami ingin mengajak Teman-temanBaik untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.   Selain itu, kami juga berencana untuk tetap melakukan kegiatan #Berbagitakkanrugi di bulan Ramadhan dengan membagikan makan gratis untuk saudara-saudara kita berbuka puasa. Kami senang apabila TemanBaik ikut mendukung gerakan ini. Dana yang terkumpul akan dibelikan bahan-bahan makanan yang nantinya akan diolah menjadi makan sehat dan bergizi. Bantuan untuk gerakan #Berbagitakkanrugi dapat disalurkan dengan cara klik Donasi Sekarang 

Dana terkumpul

Rp. 12.912.058
11 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Ditinggal Ayah, Ibu Berjuang Sendiri Mendampingi Haura yang Alami Sederet Penyakit

Cobaan semakin berat ketika Ayah Haura memilih pergi meninggalkan keluarga saat usia haura baru 2 bulan, tanpa kabar dan tanpa tanggung jawab. Tinggallah Ibu dari Haura yang harus bertahan sendiri, merawat empat anaknya yang masih kecil sambil merawat Haura yang sakit.Setiap minggu, Ibunya harus bolak-balik puluhan kilometer untuk membawa Haura ke rumah sakit. Tapi seringkali pada akhirnya langkah itu terhenti karena tidak ada biaya. Sementara Ibunya hanya mengandalkan sisa tabungan yang makin menipis karena tidak punya penghasilan… -Syafrini, orang tua Haura-Haura Adzkia Shalfina (21 bln) lahir secara prematur, tubuh mungilnya belum siap lahir ke dunia. Sejak pertama kali membuka mata, Ia sudah harus berjuang di ruang NICU. Di sana, napasnya kerap terhenti seolah Ia kelelahan untuk bertahan.Suara napasnya lirih, tubuhnya lemah, bahkan untuk menyusu pun Ia tidak mampu. Alat medis menjadi penopang hidupnya di hari-hari awal Ia lahir. Setelah pulang ke rumah, perjuangan itu tak juga mereda dan rasa cemas orang tuanya justru semakin menghantui.Kondisi Haura tak menunjukkan perubahan, dokter saat itu mendiagnosa Haura hanya mengalami gizi buruk. Namun kondisinya tetap mengkhawatirkan, dengan hati berdebar dan penuh ketakutan, orang tuanya membawanya ke rumah sakit.Saat itulah, kenyataan pahit satu per satu terungkap. Ada lubang di jantung kecilnya, Ia juga didiagnosa laringomalasia (jaringan pita suara lemah), GERD, hipertiroid, serta kekurangan gizi. Ia harus makan dan minum menggunakan selang NGT yang dimasukkan melalui hidungnya, karena napasnya sesak setiap menyusui.Hidup Haura sejak itu tak pernah lepas dari tabung oksigen untuk bisa terus bernapas. Ia sering muntah, napasnya sering bunyi, mudah diare, bahkan sulit buang air. Ia tidak boleh kelelahan sama sekali, karena beresiko kesehatannya menurun drastis. Tak ada yang bisa menggambarkan perih hati Ibunya menyaksikan Haura sudar menderita sejak lahir, apalagi jika Haura harus masuk rumah sakit. Demi pengobatan anaknya, ibunya rela menjual motor, telepon genggam hingga meminjam uang ke banyak orang. Padahal kebutuhan terus berdatangan, Haura masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, alat medis, dan kebutuhan lainya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan haura tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup haura!    

Dana terkumpul

Rp. 12.754.019
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Tumor Ganas Terus Menggerogoti Dagu Diyana Hingga Ia Pendarahan!

“Gumpalan darah terus mengalir dari tumor ganas di dagu Diyana! Bantal yang Ia tiduri sampai kuyup berubah merah. Tapi Ia hanya terbaring diam, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Namun, air matanya diam-diam mengalir dalam keheningan, akibat rasa sakit yang begitu hebat. ”“Di titik terendah itu, Diyana kesulitan biaya untuk pengobatan. Bahkan pernah, saat penyakitnya kambuh hingga membuatnya tak sadarkan diri, keluarganya harus berlari mencari pinjaman uang terlebih dahulu untuk membawanya ke rumah sakit. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, betapa sedih keluarganya karena keadaan itu.”Benjolan itu muncul di dagu Diyana (31 thn) dengan ukuran yang kecil. Semula terlihat biasa saja dan samar, jadi diabaikan begitu saja. Siapa sangka, ternyata benjolan tersebut perlahan membesar dan mulai menakutkan. Tubuh Diyana juga terasa berbeda, Ia jadi mudah lelah dan sakit.Setelah bertemu dokter, fakta pahit terkuak. Ternyata bengkak tersebut berasal dari tumor yang sudah mengganas. Dunia Diyana terasa runtuh seketika. Tindakan operasi sudah diupayakan untuk mengangkat penyakit tersebut, tapi harapan pupus ketika benjolan itu tumbuh lagi.Akhirnya operasi kedua kembali dilakukan. Namun, belum sempat Diyana bernapas lega dan merasakan kesembuhan, penyakit itu kembali menggerogoti tubuhnya untuk ketiga kalinya. Ia seakan tak diberi ampun, sampai akhirnya Ia harus dirujuk melanjutkan pengobatan dari Lampung ke Jakarta.Bayangkan, sudah 9 tahun Diyana harus bertahan dari penyakit ini. Tidak ada sedetikpun yang dilaluinya tanpa rasa sakit dan air mata. Kondisinya malah semakin lemah, tidak bisa bekerja lagi dan tidak stabil. Ia harus terus menjalani kemoterapi untuk bertahan hidup.Tiap kali kambuh, Ia akan merasa nyeri hebat di bagian bengkak tumornya dan sampai harus dilarikan ke IGD rumah sakit. Di tengah segala penderitaan yang tak berjeda itu, Diyana selalu semangat untuk sembuh. Ia masih ingin hidup lebih lama, bersama suaminya, menemani anak-anaknya tumbuh besar. Namun, biaya pengobatan yang sangat besar sangat membebani. Suaminya hanyalah buruh tani dengan penghasilan terbatas. Keluarganya sudah menjual segala barang-barang berharga untuk pengobatan Diyana selama ini. Bahkan, keluarga nekat meminjam sana-sini hingga tengah malam dengan harapan tinggi, tapi justru jarang sekali ada yang menolong.Pengobatan Diyana masih panjang, Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, pampers, vitamin dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Diyana tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Diyana!

Dana terkumpul

Rp. 2.030.001
Berakhir
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Penyakit Jantung Kompleks Mengintai Nyawa Daviandra

“Kami rela mengubur semua mimpi-mimpi kami, sekarang tujuan kami hanya berjuang keras agar anak bisa pengobatan. Hidup kami hanya berputar pada perjuangan, bahkan kami harus menumpang tinggal di rumah kakak untuk bisa menghemat tidak bayar kontrakan.”“Namun, sudah 8 bulan lamanya, kami tidak bisa membawa anak ke Jakarta untuk kontrol rutin karena tidak ada biaya. Suamiku yang bekerja sebagai petani, penghasilannya tak menentu, kadang semua yang ditanam gagal panen karena cuaca buruk.” -Yanti Ristia, Orang tua Daviandra-Tiga jam perjalanan menggunakan motor kutempuh dengan kekhawatiran, demi membawa anakku, Daviandra Elvano Triyan (2 thn), periksa ke rumah sakit. Semua bermula ketika petugas posyandu curiga melihat bibir anakku yang membiru saat menangis.Diagnosa sakit jantung kompleks harus diterima anakku bagai petir yang menyambar.  Anakku juga harus dirujuk pengobatan ke Jakarta, taka pernah kubayangkan sebelumnya. Bingung sekali, tapi saat itu aku bertekad untuk kesembuhan anakku bagaimanapun caranya.Berbekal meminjam dana, aku membawa anakku dari Lampung ke Jakarta. Syukurlah, Ia sudah menjalani operasi dan pulih dengan cepat. Kondisinya saat ini membaik, meski sesak napas jika kelelahan dan belum bisa jalan untuk anak seusianya. Anakku harus terus kontrol rutin di rumah sakit Jakarta dan rumah sakit daerah menjelang operasi lanjutan, namun biaya yang terus mengalir membuatku merasa hampir putus asa. Di sisi lain, aku takut, karena dokter mengatakan anakku mungkin tidak akan bertahan lama jika pengobatannya terhenti.Sementara untuk kontrol ke rumah sakit daerah saja kami harus menghabiskan biaya Rp500 ribu karena jaraknya yang jauh, apalagi untuk kontrol rutin ke Jakarta. Belum lagi, untuk membeli obat yang tidak dicover BPJS yang harganya ratusan ribu dan kebutuhan lainnya. Aku telah berusaha dengan segala cara, berjualan online demi mencari tambahan biaya, namun pendapatannya masih jauh dari cukup. Aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana untuk memberikan yang terbaik bagi kesehatannya.#TemanBaik, mari bantu Daviandra untuk melanjutkan pengobatannya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!

Dana terkumpul

Rp. 13.043.000
5 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Buruh Las Menjadi Tak Berdaya Akibat Melawan Epilepsi Akut Selama 3 Tahun

Aku Rapiah, sedangkan Jaja adalah adikku yang sedang menjalani kehidupan yang berat selama 3 tahun terakhir. Sebelumnya Ia sehat dan menjalani hari-hari seperti biasanya, hingga suatu hari Ia mengalami kejang-kejang kecil. Aku terkejut dan mulai curiga bahwa kejadian itu merupakan pertanda besar.Saat aku membawanya berobat, adikku hanya diberikan obat. Aku kira setelah itu adikku akan sembuh, tapi harapanku mulai memudar ketika jaja mengalami kejang berulang yang semakin sering dan semakin hebat. Setelah dibawa ke rumah sakit, Jaja didiagnosa epilepsi akut. Sejak itu, kejang-kejang menjadi bagian dari kesehariannya. Bahkan, di saat-saat tertentu Jaja terlihat komat-kamit sendiri, seolah sedang mengungkapkan rasa sakitnya yang tak tertahankan.Di usia 41 tahun, tubuhnya semakin melemah. Jaja yang dulu dikenal sebagai buruh las keliling yang giat bekerja, perlahan kehilangan kemampuannya untuk berdiri, berjalan, bahkan mengurus dirinya sendiri.Jaja sering terjatuh setiap Ia mencoba untuk berdiri, tangannya sering tremor, hingga suaranya semakin jarang terdengar. Sekedar untuk makan pun, Ia harus dibantu. Bahkan, untuk sekedar buang air, Ia lakukan di tempat tidur.Di sela-sela kondisinya yang lemah, Jaja sering mengungkapkan harapannya ingin sembuh, ingin kembali bekerja dan ingin menikah. Keinginananya sederhana, tapi betul-betul mengiris hatiku. Aku harus menempuh jarak tujuh kilometer setiap akan membawa Jaja ke rumah sakit. Bagi sebagian orang, itu terdengar cukup dekat, tapi bagiku itu perjalanan yang berat. Pekerjaanku hanyalah tukang cuci gosok, biaya transportasi saja sudah menjadi beban yang tak ringan.Terkadang, aku harus berhutang ke tetangga untuk memenuhi biaya pengobatannya. Jaja saat ini masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, membeli kursi roda, susu, pampers dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Jaja tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Jaja!   

Dana terkumpul

Rp. 665.001
9 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Beasiswa Pendidikan
Harapan Anak Petani untuk Menjadi Guru Terancam Akibat Keterbatasan

Orang tua Daniel hanyalah petani dan pedagang kecil. Hujan yang tak menentu membuat hasil panen sering gagal. Kios kecil ibunya pun semakin sepi pembeli. Penghasilan yang tak menentu sering membuat biaya kuliah tertunda. Ada rasa cemas yang diam-diam menghantui, takut harus berhenti di tengah jalan.Daniel Gerson Baisila (32 thn), menjalani hari-harinya dengan penuh perjuangan dan harapan. Langkahnya mungkin terasa lebih berat dibanding mahasiswa lain, namun semangatnya tak pernah surut sedikit pun.Hari-harinya memang melelahkan. Tugas kuliah menumpuk, pekerjaan rumah tak pernah berhenti, dan sesekali ia harus mencari pekerjaan sampingan. Tapi Daniel tidak pernah mengeluh. Baginya, lelah hari ini adalah harga untuk masa depan yang lebih baik.Ia sedang menempuh pendidikan di Universitas Terbuka dengan jurusan S1 PGSD, selalu berjuang menjaga agar nilainya tetap baik. Bagi Daniel, pendidikan bukan sekadar gelar, pendidikan adalah jalan untuk mengubah masa depan keluarga.Keinginan Daniel untuk menjadi seorang guru sekolah dasar bukan hanya untuk mengajar, tetapi untuk menjadi cahaya bagi anak-anak lain yang hidup dalam keterbatasan, seperti dirinya. Ia ingin hadir di depan kelas, membimbing, menyemangati, dan berkata pada murid-muridnya, bahwa mimpi tidak pernah salah, meski lahir dari keadaan yang sederhana.Kedua orang tua Daniel juga tak pernah berhenti berjuang. Meski tubuh mulai lelah dan usia tak lagi muda, mereka tetap bekerja keras. Sakit pinggang, panas matahari, dan sepinya pembeli tak pernah menjadi alasan untuk menyerah.“Ibu dan bapak mungkin hidup sederhana, tapi mereka tak pernah berhenti berusaha agar aku tetap bisa kuliah,” Itulah kalimat dari orang tuanya yang menjadi penguat langkah Daniel.Namun, pendapatan orang tuanya dari bekerja tak sebanding dengan uang kuliahnya yang besar. Saat ini, Daniel butuh membayar uang kuliah yang nilainya mencapai jutaan. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Daniel tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Daniel! 

Dana terkumpul

Rp. 295.000
13 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Bantuan Sembako untuk Yatim, Duafa, dan Lansia di Panti Babussalam Cisalak

Panti Babussalam Cisalak berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, setiap anak berhak untuk hidup dan tumbuh kembang berdasar pada kasih sayang.Hai TemanBaik, Aku memutuskan untuk mendirikan Yayasan Babussalam Cisalak pada tahun 2017 di Kota Depok, atas keprihatinanku dalam melihat banyaknya anak menjadi pekerja serabutan dan terlantar. Panti ini kemudian bergerak di bidang penyantunan anak yatim, duafa, dan lansia. Sudah 80 anak yang terdiri dari anak yatim, piatu dan duafa, yang kami tampung. Banyak dari mereka yang tidak mampu secara ekonomi, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan pendidikan dan makanannya. Salah satunya, Satria. Anak yang ditelantarkan ayahnya sejak masih kecil. Sementara, ibunya bekerja sebagai satpam dan jarang pulang. Ia lalu dititipkan ke Panti Babussalam Cisalak. Alhamdulillah, selama di sini Satria mendapatkan perhatian dan bantuan untuk sekolah. Maka dari itu, aku ingin tetap bisa menjaga mereka, mencukupi kebutuhan sehari-hari anak binaan. Supaya selain pendidikan, gizi dan asupan mereka pun terpenuhi dengan baik. Untuk TemanBaik yang ingin turut membantu anak-anak di sini, boleh dengan meng-klik Donasi Sekarang di bawah ini!

Dana terkumpul

Rp. 14.244.446
5 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Berawal dari Kecelakaan Motor Biasa, Ternyata Jadi Penyebab Aku Kanker Otak Stadium 3!

“Aku mengalami kecelakaan tunggal hingga jatuh dari motor! Awalnya semua terlihat sepele dan baik-baik saja, tapi ternyata hal itu berujung fatal dan menjadi ujian panjang dalam hidupku. Sejak itu, aku mulai sering sakit kepala hebat, penglihatan memburam dan tubuhku lemas.”“Akhirnya aku memutuskan untuk periksa ke dokter, ternyata aku mengalami kanker otak bahkan sudah stadium 3! Saat itu, aku merasa duniaku runtuh. Apalagi, penyakit ini beresiko menyebar ke bagian tubuhku yang lain, bisa sampai mengancam nyawaku.”Aku Suhedi (34 thn), sejak didiagnosa penyakit mengerikan, kondisi kesehatanku terus menurun. Aku mendadak mengalami kejang-kejang, daya ingatku menurun, hingga kesulitan berbicara dengan jelas. Aktivitas sederhana yang biasanya mudah dilakukan, kini menjadi hal yang mustahil. Aku tak lagi bisa mencari nafkah, berkendara, bahkan sekedar untuk berdiri maupun berjalan lama pun aku tak sanggup.Proses pengobatanku juga tidak mudah, aku sudah menjalani operasi biopsi, operasi pengangkatan sel kanker. Tak cukup sampai disitu, aku juga harus menjalani 33 kali radiasi dan 12 kali kemoterapi. Bekas jahitan besar di kepalaku itu menjadi penanda perjuangan besarku. Aku harus menempuh perjalanan jauh dari Banten ke rumah sakit di Jakarta tiap kali berobat. Tak ada kata menyerah demi kesembuhanku. Aku ingin sekali bisa hidup sehat seperti dulu, bisa bekerja untuk keluarga dan hidup tanpa rasa sakit.Namun, banyak juga pengorbanan besar yang tak terlihat dari keluarga demi menyelamatkanku. Keluarga sampai menjual tanah sawah, motor, barang-barang elektronik, bahkan meminjam uang sana-sini untuk pengobatanku selama ini. Pengobatanku masih panjang, keluargaku sudah kebingungan membiayaiku berobat. Sementara istriku hanya pedagang sayur di pasar, setiap hari Ia terus berdoa bahkan untuk sekedar makan sehari-hari. Sementara itu, aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Suhedi tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Suhedi! 

Dana terkumpul

Rp. 685.000
8 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Ditabrak Saat Pulang Kerja, Yontrinus Harus Operasi Bedah Tulang!

“Adikku ditabrak saat mengendarai motor sepulang kerja! Kejadian itu mengubah hidupnya dalam sekejap. Tulang kaki kanan dan jari kelingkingnya patah, memaksanya menjalani serangkaian operasi bedah tulang. Kini, yang paling menakutkan bukan hanya rasa sakit, tapi ancaman kehilangan kakinya untuk selamanya.”“Saat ini, adikku mengalami dilema dan stres karena takut kehilangan kakinya karena tak mampu membiayai pengobatannya. Baginya, kaki itu bukan sekadar anggota tubuh, tapi harapan untuk kembali berdiri, berjalan, dan mencari nafkah seperti dulu. Sementara aku, dengan segala keterbatasan, hanya mampu berusaha semampuku, menahan sesak di dada karena tak bisa berbuat lebih untuknya.” -Narto Yabu, Kakak dari Yontrinus-Adikku, Yontrinas Umbu Kapanding (27 thn), saat ini masih terbaring tak berdaya di kamar rumah sakit. Ia sudah menjalani dua kali operasi pada kakinya. Ia masih belum bisa melakukan aktivitas apapun, kakinya masih sangat sakit untuk digerakkan.Terkadang, rasa nyeri yang sangat tajam pada kakinya kambuh. Ia hanya bisa menahan sendiri sambil meneguk obat, lalu mencoba tidur, berharap sakit itu mereda ketika Ia bangun. Hal yang membuat adikku semakin terpukul, Ia diperkirakan tidak bisa bekerja hingga 1-2 tahun. Sementara Ia juga harus membiayai hidupnya dan pengobatannya, tidak bisa selamanya mengandalkan bantuan dari orang yang ada. Tabungan yang Ia kumpulkan dari keringat sebagai tukang aluminium untuk pembuatan lemari, jendela, dan pintu, kini habis tak tersisa. Sedangkan aku sebagai walinya, lebih banyak membantu mencari pinjaman sana-sini, bahkan pernah tidak tidur dua malam untuk mengurus keperluannya.Aku juga berupaya mencari pekerjaan apa pun agar adikku bisa melanjutkan pengobatannya. Saat ini, Yontrinus masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, pampers dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Yontrinus tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Yontrinus! 

Dana terkumpul

Rp. 2.331.000
7 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Hewan
Dukung Aksi Andreas Nainggolan, Driver Ojol yang Jadi Pahlawan Penyelamat bagi Kucing Terlantar

Di dunia ini, hidup manusia berdampingan dengan habitat kehidupan para kucing. Apabila ada dari mereka yang kelaparan atau menderita luka, tak sedikit pula manusia yang peduli menolong. Itulah yang dilakukan oleh Andreas Nainggolan.Pria asal Magelang, Jawa Tengah yang berprofesi sebagai driver ojek online (ojol) itu sehari-hari hidup dengan merawat kucing-kucing sakit dan terlantar. Dia pun mendirikan shelter rescue sederhana yang diberi nama Shelter Miau Miau Cats Rescue sejak 2017.Saat ini, Andreas merawat 65 kucing di shelternya. Kegiatan yang rutin dilakukan selama ini adalah memberikan pakan, vitamin serta obat-obatan pada kucing yang sedang sakit ringan. Apabila ada kucing yang sakit berat, dia membawanya ke dokter hewan. Semua biaya tersebut dia tanggung sendiri dan ada juga beberapa sumbangan dari para donatur. Sehari-hari, dia juga menerima kucing-kucing terlantar yang dititipkan dari orang lain. Andreas juga bergerak cepat apabila ada panggilan atau pesan yang dikirim kepadanya untuk menyelamatkan kucing terlantar di jalan atau pasar. Namun kendalanya sekarang adalah banyaknya jumlah kucing yang ditampung juga memperbesar biaya operasional yang harus dia keluarkan. Kondisi ekonomi saat ini tidak dalam keadaan baik, sehingga donatur banyak yang mengundurkan diri karena kondisi finansial mereka yang terpuruk.TemanBaik, Andreas Nainggolan butuh bantuan kamu untuk bisa menyelamatkan kucing-kucing yang terlantar di jalan. Yuk kita bantu Andreas agar tetap menjadi pahlawan penyelamat kucing terlantar dengan cara:Klik “Donasi Sekarang”Isi nominal donasiPilih metode pembayaran, bisa dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay. Bisa juga lewat transfer antar bank (BRI, Mandiri, BCA, BNI). 

Dana terkumpul

Rp. 10.152.023
8 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Ibu Single Parent Berjuang untuk Anaknya yang Sakit Jantung Hingga Hidrosefalus

“Tak hanya lahir dengan berbagai penyakit di tubuhnya, anakku juga hadir di tengah kisah rumah tanggaku yang hancur. Saat usianya baru 8 bulan, Ia harus berjuang di meja operasi untuk mempertahankan hidupnya. Sementara itu, aku hanya bisa berdiri sendiri di luar ruangan, menunggu selama hampir 4 jam dengan perasaan takut.”“Hanya anakku yang aku punya satu-satunya, yang menjadi penyemangat hidupku setelah aku berpisah dari suami yang entah kemana. Aku tak mau kehilangan anakku, tapi aku juga kesulitan membiayai pengobatannya. Sementara aku tidak bekerja karena mengurus anak, bahkan masih menumpang tinggal di rumah orang tuaku..” -Septa Riani, Orang tua Gintari-Aku sangat cemas ketika anakku, Gintari Bilqis (2 thn), lahir prematur tanpa menangis sama sekali seperti bayi pada umumnya. Tubuh kecilnya justru segera dilarikan ke ruang NICU rumah sakit. Selama 13 hari, ia bertahan di dalam inkubator, berjuang sejak detik pertama kehidupannya.Setelah aku diizinkan untuk membawa anakku pulang, aku berpikir kondisinya akan baik-baik saja. Namun, harapan itu pupus ketika berat badan anakku tak kunjung naik setelah sebulan di rumah. Setiap kali menyusui, Ia selalu tersedak. Tubuhnya tampak membiru hingga urat-uratnya tampak tegang.Saat dibawa ke rumah sakit, ternyata hal yang harus dihadapi anakku sangat menyakitkan. Anakku didiagnosa jantung bocor, epilepsi yang memicu kejang, bronkopneumonia (radang pada paru-paru), cerebral palsy (kerusakan otak) hingga hidrosefalus (penumpukan cairan di otak).Rasanya aku hilang arah mendengar rentetan penyakit anakku, yang bahkan sebelumnya nama penyakit itu sangat asing di telingaku. Pikiranku dipenuhi pertanyaan tak terjawab, apakah anakku bisa menanggung semua ini? Bagaimana bisa aku menjaganya tetap bertahan?Akhirnya, dokter mengambil tindakan untuk menyelamatkan anakku. Ia sudah menjalani operasi pemasangan selang VP-Shunt, untuk mengalirkan penumpukan cairan dari otak ke pertunya. Setiap operasi, aku menjaganya sendirian sampai aku sendiri jatuh sakit karena kelelahan. Anakku hanya bisa menghabiskan waktunya dengan berbaring tak berdaya, jarang sekali bergerak bebas seperti anak-anak seusianya. Terkadang, tanpa tanda apapun, kondisinya tiba-tiba demam. Setiap waktu terasa begitu lambat karena aku terus menanti kondisi anakku membaik.Hingga saat ini, aku masih mengandalkan orang tuaku untuk sehari-hari dan dua anakku. Mereka hanya bekerja sebagai buruh cuci mobil yang penghasilannya Rp70 ribu sehari, itu pun jika hanya ada mobil. Bahkan saat anakku dirawat inap, aku pernah pasrah tidak ada uang sama sekali.Suster saat itu memintaku untuk mempersiapkan pampers, minyak telon, dan minyak zaitun. Aku bingung harus melangkah kemana karena tidak anak uang sama sekali. Namun, hal tak terduga terjadi, orang tua pasien lain yang satu kamar dengan anakku membantu mencarikan semua kebutuhan itu. Ternyata masih ada tangan baik yang hadir tanpa diminta.Pengobatan anakku masih berlanjut, sementara aku kesulitan biaya. Anakku masih membutuhkan transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Gintari  tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Gintari ! 

Dana terkumpul

Rp. 10.706.001
5 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
5 Tahun Berjuang dari Gagal Ginjal Stadium 5! Pak Arif Kesulitan Melanjutkan Pengobatan

“Aku berjalan kaki menembus hujan deras sejauh 3 km, demi membeli obat untuk suamiku. Tubuhku menggigil dan pikiranku panik, takut kehilangan suamiku. Mungkin wajahku sudah lelah dan basah oleh air hujan serta air mata, hingga petugas apotek menatapku dengan iba dan memberikan diskon pembelian obat.““Saat itu aku sadar, masih ada kebaikan di dunia ini. Aku tidak pernah menghitung lelahku, tak apa aku capek, yang penting suamiku masih bisa hidup dan ketemu anak-anak kami. Meski kadang malamku diisi dengan tangis dan doa, karena bingung harus cari uang bagaimana lagi agar suamiku bisa terus melanjutkan pengobatan.” -Siska Sartika, Istri dari Pak Arif-Suamiku, Arif Hidayat (33 thn), didiagnosa gagal ginjal kronis stadium 5 dan anemia berat. Setiap dua minggu sekali, aku selalu bangun lebih pagi untuk mengantarkan suamiku cuci darah ke rumah sakit. Sepulang dari rumah sakit, tanpa sempat benar-benar beristirahat, aku langsung mencari nafkah dengan mencuci baju tetangga. Berharap ada sedikit uang yang bisa kami gunakan untuk bertahan hidup. Malamnya, aku kembali menjaga suamiku yang sering terbangun dalam keadaan sesak napas.Penghasilanku dari bekerja sering tak menentu, bisa dibilang pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Bahkan, aku dan suamiku pernah sampai tidak makan selama 2 hari, karena uang yang ada habis untuk membeli obat. Saat itu, aku hanya bisa menahan air mata. Di tengah keputusasaan, suamiku pernah berkata lirih, “Kalau minggu ini tidak ada uang untuk beli obat, mungkin saya sudah tidak kuat lagi.” Kalimat itu menghantam hatiku begitu dalam. Namun, setiap kali ia mengingat anak kami, semangatnya seperti kembali menyala. Ia ingin tetap hidup, agar bisa mendampingi anak kami tumbuh dewasa.Bayangkan saja, sudah 5 tahun Ia menanggung sakit dalam keresahan, dibayangi rasa bersalah karena merasa menjadi beban keluarga. Tapi Ia tetap berusaha mencari uang tambahan. Saat kondisinya sedikit membaik, ia masih memaksakan diri menjadi tukang pijat untuk membantu kebutuhan dapur. Penyakit ini muncul saat suamiku berusia 28 tahun, Ia merasa tubuhnya sering lemas dan lelah meski hanya mengerjakan sedikit pekerjaan. Lama-kelamaan, wajahnya mulai bengkak, nafsu makannya hilang dan Ia sering sesak napas. Saat ke dokter, barulah terungkap bahwa fungsi organ ginjal suamiku sudah dibawah 10% dan Ia harus cuci darah seumur hidup untuk bertahan hidup. Sejak itu, suamiku sudah tidak bisa lagi bekerja, Ia lebih banyak menghabiskan waktu dengan duduk dan tidur. Setiap kambuh, suamiku akan mengalami bengkak pada kakinya, nyeri dada dan sesak napas berat hingga harus dilarikan ke IGD. Demi pengobatannya selama ini, aku sudah berupaya menjual perhiasan hingga mengorbankan seluruh tabungan. Anaknya juga harus berhenti les karena kekurangan biaya.Perjuangan suamiku masih terus berlanjut. Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Arif tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Arif! 

Dana terkumpul

Rp. 1.310.002
8 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
7 Tahun Tak Bisa Berjalan, Nenek Kiyah Hidup Bergantung pada Bantuan Orang

“Di usiaku yang sudah 75 tahun, aku tak pernah membayangkan hidupku akan bergantung pada belas kasih orang lain. Penyakit telah merenggut kakiku, membuatku tak mampu berjalan. Hari-hari kuhabiskan dengan berbaring, menatap langit-langit rumah yang sunyi sambil menunggu bantuan, bahkan untuk sekedar makan.”“Berobat pun aku harus menahan perih karena keterbatasan biaya. Suamiku telah berpulang 12 tahun lalu, sesekali anakku datang mengurusku. Meski kesembuhan terasa seperti mimpi yang jauh, aku masih menyimpan harapan kecil untuk kesembuhanku.”Namaku Kiyah, Sudah tujuh tahun lamanya aku hidup berdampingan dengan osteoartritis. Penyakit ini perlahan merusak bantalan antar tulang pada sendi kakiku. Hingga suatu pagi, hidupku berubah selamanya. Aku terkejut, mendapati dari pinggang ke bawah tubuhku lumpuh total.Nyeri hebat di kakiku datang setiap hari, tak pernah memberi jeda. Malam-malamku berlalu tanpa tidur nyenyak. Namun pada akhirnya, tak ada yang bisa kulakukan selain menahan rasa sakit itu dalam diam. Beraktivitas sudah tak mungkin, bahkan untuk sekedar berjalan ke kamar mandi atau berwudhu pun aku tak sanggup.Aku harus menunggu bantuan orang lain jika ingin beribadah. Padahal kini, hanya doa yang menjadi satu-satunya cara bagiku untuk bertahan, memohon harapan dan kekuatan. Saat ini, yang kuhadapi bukan hanya rasa sakit, tetapi juga beban biaya pengobatan yang terus berjalan.Pernah ada hari-hari di mana aku tak makan apa pun karena tak ada yang bisa membantu. Namun ada pula hari-hari yang penuh syukur, ketika keponakanku datang membawa sepiring nasi dan telur goreng, setelah sejak pagi perutku kosong.Segala harta yang kumiliki telah kujual satu per satu. Namun pengobatan tak bisa berhenti selama aku belum sembuh. Selama ini, aku hanya mengandalkan bantuan dana dari warga sekitar yang kadang ada dan kadang tidak ada sama sekali.Aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, pampers, serta kebutuhan dasar lainnya untuk bertahan hidup.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nenek Kiyah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nenek Kiyah!

Dana terkumpul

Rp. 1.787.000
7 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Keluar Masuk Rumah Sakit Tiap Bulan, Adzriel Didiagnosa Jantung Bocor dan Down Syndrom

“Titik terkelamku adalah ketika melihat tubuh kecil anakku masuk ruang PICU dan dipasangi alat ventilator, aku hanya bisa menangis karena tak tega. Pikiranku bertanya-tanya, seberapa sakit yang Ia rasakan? Apakah Ia bisa menahan semuanya?”“Hatiku semakin hancur ketika sebuah selang NGT dimasukkan melalui hidungnya untuk makan dan minumnya. Tangisnya yang lirih seakan menusuk sampai ke hati. Pikiranku terus dipenuhi pertanyaan, ‘seberapa sakit yang sedang anakku rasakan? Apakah tubuh kecilnya sanggup menahan semua ini?” -Haedy, orang tua Adzriel-Kenyataan berat harus aku terima begitu anakku, Muhammad Adzriel Alfarizqy (1 thn), lahir. Saat itu, dokter mengatakan bahwa ada tanda-tanda down syndrom pada anakku. Sambil menangis, aku hanya bisa menatap wajahnya sambil terus berdoa, semoga semua ini hanya kekhawatiran sementara.Namun, ujian itu ternyata baru saja dimulai. Tiga hari setelah membawa anakku pulang ke rumah, tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi kekuningan sampai harus dirawat di rumah sakit. Di tengah kecemasan itu, lagi-lagi hal buruk lainnya muncul, anakku mendadak mengalami sesak napas.Ternyata dokter lagi-lagi membawa berita yang membuat hatiku hancur, anakku didiagnosa jantung bocor. Sejak itu, hidupku dipenuhi suara alarm IGD, ruang perawatan dan tangis. Siapa sangka, setiap bulan anakku harus keluar masuk rumah sakit karena sesak napas dan infeksi paru-paru berulang.Setiap hari aku selalu memeluk dan mengajak anakku berbicara, ‘Ayo Dek, lawan sakitnya ya. Dedek anak hebat. Dedek pasti kuat dan bisa sembuh.’ Hanya itu yang bisa terus aku tanamkan agar Ia terus bertahan, sambil berharap Allah SWT mengangkat semua penyakit yang dideritanya.Di tengah perjuangan ini, aku juga dihimpit masalah ekonomi. Suamiku hanya bekerja sebagai petugas keamanan, sedangkan aku bekerja sebagai pegawai swasta. Penghasilan itu harus cukup untuk kebutuhan tiga anak kami sekaligus biaya pengobatan Adzriel.Sebagai orang tua, aku berharap anakku bisa tumbuh sehat, bisa bernapas lega tanpa alat bantu, bermain dan tertawa seperti anak lainnya. Namun, aku kesulitan memenuhi biaya pengobatan anak yang membutuhkan transportasi ke rumah sakit, membeli obat, alat medis dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Adzriel tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Adzriel!  

Dana terkumpul

Rp. 12.516.000
9 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Alami TB Meningitis Hingga Fungsi Ginjalnya Terganggu, Sultan Terancam Harus Cuci Darah!

“Nak, yang kuat ya, jangan pernah menyerah melawan sakitmu. Ayah selalu di sini, terus mendampingimu, menggenggam harapan untukmu, apa pun keadaanmu.Ayah juga akan terus mendampingimu, bagaimanapun kondisimu.”“Setiap hari Ayah merindukan suaramu yang dulu memanggil ‘ayah’ dengan penuh ceria, yang kini hanya bisa Ayah dengar kembali dalam ingatan Ayah. Tapi Ayah tidak akan berhenti percaya, akan ada mukjizat yang diberikan Tuhan bagi yang berusaha.”Perkenalkan, aku Uden Efendi, hanya tukang ojek pangkalan di Cisarua yang setiap hari menggantungkan harapan dari upah yang tak menentu. Namun, penghasilanku yang tak seberapa itu kini juga harus mencukupi pengobatan anakku, Sultan Aly Shaheer Arrafif (10 bln).Anakku baru berusia 4 tahun, tapi Ia sudah harus menanggung penyakit yang mengerikan akibat TB meningitis yang menyerang otaknya. Awalnya penyakit ini datang dengan gejala demam, Ia juga lebih sering tertidur. Pihak rumah sakit mengatakan anakku baik-baik saja.Hingga akhirnya kesadaran anakku hilang seiring waktu, tubuhnya terus berkeringat tanpa henti dan Ia mulai sering kejang-kejang. Rasanya duniaku seolah berhenti saking terkejutnya. Aku hanya bisa panik, melarikannya dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya karena keterbatasan ruang intensif.Sejak itu, tak ada lagi anakku yang aktif, ceria dan pandai bicara. Kini, pemandanganku hanya anakku yang terbaring lemah, tubuhnya kaku karena sering kejang. Bahkan, untuk sekedar bergerak bahkan memanggilku saja, dia sudah tidak mampu. Napasnya sering sesak, harus menggunakan alat bantu napas oksigen. Makan dan minum pun harus mengandalkan selang NGT yang ditancapkan melalui hidungnya, dia tidak mampu mengunyah.Sudah 10 bulan Ia bertahan dari penyakitnya, kondisinya terus memburuk hingga fungsi ginjalnya terganggu. Anakku mengalami dehidrasi berat hingga kembali harus dirawat secara intensif. Anakku dihadapkan dengan kemungkinan terburuk, yaitu cuci darah. Seolah berdiri di ujung harapan, aku begitu ketakutan kehilangannya. Sementara itu, biaya pengobatan anak membuatku terpuruk. Keluarga kami sangat sederhana, penghasilanku dari narik ojek harus dibagi untuk menafkahi empat anak. Sejak anakku sakit, istriku akhirnya ikut serta mencari nafkah sebagai ibu rumah tangga.Bahkan, satu-satunya tanah yang aku miliki, sudah aku relakan untuk dijual demi anakku bisa terus pengobatan. Sementara itu, aku anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, oksigen, selang NGT, obat yang tidak dicover BPJS dan kebutuhan lainnya, Aku yakin, suatu saat anakku bisa kembali seperti dulu, berlari, tertawa dan bisa merasakan kehidupan seperti anak-anak pada umumnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Sultan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Sultan! 

Dana terkumpul

Rp. 2.848.003
6 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Ma, Aku Ingin Bisa Berjalan dan Sekolah Lagi

Kondisi kaki Kiki ( 12 tahun ) sejak lahir memang sudah berbeda, tidak seperti anak normal lainnya. Bisa dibilang itu awal mula ia mengidap Osteogenesis imperfecta. Penyakit genetik langka yang ditandai dengan tulang rapuh dan lemah, sehingga menyebabkan mudah patah.Sempat dilakukan penambahan urat di kedua kakinya di RSUD Arifin Achmad supaya kondisi kaki bisa lurus. Walaupun sempat bisa berjalan sampai usianya 2 tahun, namun kondisinya kembali memburuk setelah ia terjatuh  dan kakinya mengalami patah tulang. Sudah dilakukan belasan operasi di RS Eka Hospital dan RSCM Jakarta, namun belum ada perubahan maksimal untuk Kiki. Ia harus terus menjalani pengobatan untuk menghindari kerapuhan tulang yang nantinya dapat membuatnya tak bisa berjalan.Akibat osteogenesis imperfecta yang dideritanya, Kiki kini tak bisa sekolah, hanya bisa berobat dan minum obat serta susu tulang dengan rutin.Orang tua berharap ada keajaiban untuk Kiki bisa sembuh. Karena dokter mengatakan alat yang dibutuhkan untuk kaki Kiki hanya bisa dipesan dari luar negeri dengan biaya yang sangat mahal.  Sedangkan ibunya hanya bekerja sebagai tukang urut dengan penghasilan pas-pasan. Perjalanan Kiki masih panjang. Ia ingin bisa berjalan dan meraih cita-citanya menjadi penghafal Al-Qur'an.Yang bisa kita bantu saat ini ialah memenuhi kebutuhan obat yang tidak ditanggung BPJS serta kebutuhan lainnya selama masa pengobatan Kiki. TemanBaik, jangan biarkan tulangnya rapuh, bangkitkan semangatnya dengan bantuanmu.Bantuan TemanBaik dapat disalurkan dengan cara klik Donasi Sekarang

Dana terkumpul

Rp. 19.530.589
10 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Lihat Semua
  Lihat Semua Campaign