Benihbaik x LinkAja!

Salurkan donasi anda ke campaign-campaign di bawah ini

Campaign Pilihan Hari Ini

Pilihan Benihbaik

Panggilan Mendesak

Waktu mereka tidak banyak, mereka sangat membutuhkan bantuan kalian

Card image cap
Anak
Berawal dari Tertendang Temannya, Anro Ketahuan Alami Kanker Darah!

“Berawal dari sebuah insiden kecil saat bermain bola, tertendang oleh temannya, tak ada yang menyangka hidup Anro akan berubah selamanya! Rasa nyeri yang semula kami anggap hanya cedera biasa, ternyata terus menyiksa tanpa henti meski sudah kami bawa ke tukang urut.”“Anro tak mampu lagi berdiri, apalagi berjalan. Setelah diperiksa di rumah sakit, satu penyakit mengerikan dan mematikan terungkap. Ia didiagnosa Leukemia limfoblastik Akut (LLA)!” -Margaretha Shelly Natalya, Keluarga Anro-Penyakit itu datang begitu cepat, membuat kondisi Anro Gratius Bona Franciskus Manalu (13 tahun) menurun drastis. Penyakit yang dikenal dengan kanker darah ini menyebabkan Anro mudah kelelahan, demam, memar, pendarahan, nyeri pada tulang, hingga pembengkakan. Kini, hari-hari Anro tak lagi dipenuhi dengan keceriaan. Ia terpaksa kehilangan pendidikannya dan masa bermain dengan teman-temannya. Hidupnya lebih banyak diisi dengan rasa nyeri dan bolak-balik rumah sakit.Rambutnya rontok habis setelah menjalani kemoterapi di rumah sakit. Namun, dibalik wajah pucatnya itu, senyum hangatnya masih setia muncul, seolah ingin mengatakan bahwa Ia belum menyerah di tengah jarum suntik menusuk tubuhnya.Di sisi lain, ayah dan ibunya terus berjuang sekuat tenaga menghadapi beratnya biaya pengobatan Anro. Ayahnya hanya bekerja sebagai tukang tambal ban, penghasilan pas-pasan itu juga harus dibagi untuk kebutuhan sehari-hari menghidupi istri dan 3 anaknya. Tentu saja, setiap hari kendala biaya selalu terjadi. Biaya pengobatan Anro selama ini lebih banyak meminjam dana ke tetangga, bahkan orang tuanya sering menahan lapar demi bisa menghemat biaya.Biaya transportasinya saja bisa mahal sekali, karena Anro harus menempuh perjalanan jauh dari Bogor ke rumah sakit di Jakarta bisa tiga kali seminggu. Belum lagi untuk obat yang tidak dicover BPJS, susu, vitamin, da kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Anro tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Anro!

Dana terkumpul

Rp. 11.519.000
1 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Pendidikan
Hidup dengan Ayahnya yang Sakit-sakitan, Antonius Terancam Putus Sekolah!

“Sekolah terus, Nak, jangan pikirkan Bapak, suatu hari nanti hidupmu akan lebih baik.” Antonius Harefa (14 thn) terancam putus sekolah! Sejak ibunya meninggal, Ia hanya hidup berdua dengan ayahnya yang kini sakit-sakitan. Setiap hati Ayahnya harus membuat pilihan menyakitkan,  antara membeli obat, atau membiayai uang sekolah Antonius yang lama menunggak.Tentu, beban hidup itu pernah sesekali mematahkan hati dan semangat Antonius. Bayangkan saja, Ia berangkat sekolah dengan seragam robek dan sepatu bolong. Belum lagi, Ia sangat malu karena tunggakan sekolahnya semakin menumpuk. Namun ia tetap datang, meski hatinya selalu dihantui rasa takut dipanggil pihak sekolah. Saat ini Antonius duduk di bangku kelas 3 SMP Swasta Rido Balaekha Cemerlang, Nias Selatan, Sumatera Utara. Setiap hari, berjalan kaki sejauh 3 kilometer untuk sampai ke sekolah. Bahkan, saat hujan deras pun, Ia terjang dengan sandal jepitnya yang sudah tipis, demi tidak menyia-nyiakan hari sekolahnya. Segala keterbatasannya tidak pernah membuat Antonius berhenti mencetak prestasi. Ia pernah juara 1 lomba solo vocal dan menjadi juara 2 membaca puisi.  Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang jujur, rajin, dan selalu membantu teman-temannya yang kesulitan belajar.Sejak kecil, Antonius memang suka mengajari orang lain. Ia selalu mengingat pesan almarhum ibunya yang bermimpi melihat putranya menjadi seorang guru suatu hari nanti. Setiap kali ia membantu temannya memahami pelajaran, semangat itu seperti kembali hidup.Namun, kondisi penyakit Ayahnya semakin parah hingga tak bisa lagi bekerja.  Dulu, ayahnya membanting tulang sebagai pencetak batu bata dan mencari tambahan dengan mengumpulkan biji pinang dari kebun untuk dijual. Kini, Ayahnya hanya mengandalkan uluran tangan tetangga untuk sekedar bertahan hidup. Sedangkan uang sekolah Antonius terus menumpuk, Ia juga butuh membeli peralatan untuk menunjangnya sekolah.#TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa membantu Antonius untuk melanjutkan sekolah dan mengejar cita-citanya menjadi guru. Yuk, Klik Donasi Sekarang di bawah ini untuk membantu Antonius!

Dana terkumpul

Rp. 2.032.001
7 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Di Balik Senyumnya, Raihanah Menahan Sesak Akibat Jantung Bocor

“Kondisi anakku perlahan membaik setelah operasi jantung pertamanya. Aku merasa Ia adalah mukjizat, karena tidak pernah sekalipun Ia mengeluh tentang sakit yang dialaminya. Sebaliknya, kekhawatiranku selalu Ia sambut dengan senyuman.”“Meski suamiku hanya pedagang sayur yang penghasilannya pas-pasan, aku tidak akan menyerah demi kesembuhan anakku. Aku tidak sanggup terus-menerus melihatnya menderita setiap detik, hanya untuk sekedar bernapas…” -Selvia, Orang tua Raihanah-Jika dilihat sekilas, anakku, Raihanah Yuriko (6 thn), terlihat seperti anak yang sehat dan sangat ceria. Ya, Ia bermain dan tertawa dengan teman-temannya. Namun, setelah itu, hanya aku yang melihat betapa tersiksanya Ia menahan sesak napas hingga kejang tak terkendali.Penyakit ini mulai menghantui hidup anakku sejak usia 1 tahun. Ia tiba-tiba sering batuk tanpa henti. Saat kubawa ke puskesmas, dokter menemukan jantung anakku sangat berisik seperti kelainan jantung. Ucapan itu seolah menghantamku, rasa takut menguasaiku.Sejak itu, aku tak pernah berhenti memperhatikannya. Setiap hari, berulang kali kutempelkan tanganku ke dadanya, berharap apa yang dikatakan dokter keliru. Namun yang kurasakan justru detak jantungnya terasa lebih cepat dari normal. Perlahan, kuku anakku juga mulai tampak kebiruan.Aku akhirnya membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokter mengatakan anakku jantung bocor dan operasi jantung ke Jakarta. Seluruh isi kepalaku langsung penuh kekhawatiran, bukan hanya tentang kondisinya, tetapi juga biaya pengobatannya.Segala barang berharga aku jual. Tabunganku yang jumlahnya tak seberapa, aku relakan demi bawa anak berobat dari Sumatera Utara ke Jakarta. Itulah awal mula anakku menjalani operasi pertamanya, dan kini Ia sudah menjalani operasi bedah jantung.Kini, anakku tidak bisa banyak beraktivitas dan terlalu lelah. Jantungnya sering berdebar kencang, telapak tangan dan kakinya basah oleh keringat dingin. Kondisinya membuatku ketakutan setiap kali Ia akan ke bersekolah. Pengobatan anakku masih harus terus berlanjut, anakku masih butuh biaya untuk transportasi ke rumah sakit di luar kota, obat yang tidak dicover BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Raihanah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Raihanah!

Dana terkumpul

Rp. 6.796.000
8 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Berawal dari Jatuh Main Bola, Anak Tukang Bengkel Alami Kanker Nasofaring!

“Semua gara-gara jatuh kecil saat bermain bola, dokter justru menemukan anakku mengalami kanker nasofaring! Dunia seketika runtuh di hadapanku.” “Hari-harinya kini penuh rasa sakit. Ia menahan sakit kepala hebat yang tak pernah reda, siang dan malam tanpa jeda. Lehernya tidak bisa menoleh ke kiri dan kanan, mulutnya tidak bisa mangap, penglihatannya mulai rabun, dan badannya kaku hingga tak bisa berjalan. Hatiku terasa hancur setiap detik tiap melihatnya…” -Sopiah, Orang tua Fariq-Muhammad Al Fariq Komarudin (14 thn) pulang ke rumah sambil memegangi kepalanya, mengeluh kesakitan. Dengan suara lirih, Ia berkata bahwa ia terjatuh saat bermain bola. Aku sangat cemas dengan apa yang dia alami dan langsung membawanya ke tukang pijat.Namun, sudah 5 kali dipijat dan 3 kali ke pengobatan alternatif, tapi tak ada perubahan. Sementara itu, anakku terus menangis menahan sakit di seluruh tubuhnya. Aku ingin sekali membawanya ke rumah sakit, tapi kami tidak punya uang.Setiap kali melihatnya meringis, aku merasa seperti seorang ibu yang gagal melindungi anaknya. Hari demi hari, kekhawatiranku semakin menjadi. Apa pun akan aku lakukan demi membawanya berobat. Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku meminta bantuan pada kader desa. Syukurlah, anakku mendapat bantuan sehingga bisa dibawa ke rumah sakit.3 minggu dirawat di rumah sakit, kenyataan pahit itu akhirnya terungkap. Ternyata semua rasa sakit itu berasal dari kanker yang tumbuh di belakang rongga hidungnya! Hatiku bagai diterjang ombak besar. Mengapa anakku? Mengapa keluarga kecil kami yang serba kekurangan harus menghadapi cobaan seberat ini?Sejak saat itu, hidup anakku penuh dengan perjuangan. Ia bolak-balik rumah sakit, menjalani operasi, 16 kali kemoterapi, 33 kali radiasi, lalu 24 kali kemoterapi singkat. Meski kondisinya kini lebih baik, tapi Ia masih sering demam, sakit kepala, nyeri sendi, dan batuk.Anakku terpaksa kehilangan masa remajanya. Ia tidak bisa sekolah seperti teman-temannya. Padahal, Ia punya mimpi besar untuk masuk pesantren, ingin menjadi anak yang sukses dan membahagiakan orang tuanya. Tapi penyakit ini mencuri impiannya.Aku selalu memberinya semangat, bahwa kelak Ia bisa sekolah pesantren jika sembuh.  Tapi jauh di dalam hati, aku pun sedang berjuang menahan air mata, karena kondisi ekonomi kami sudah di ambang batas untuk terus membiayai pengobatannya.Suamiku bekerja sebagai buruh bengkel, mengambil pekerjaan apa pun yang ada demi menambah pemasukan. Tapi gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari, sementara kami harus menghidupi empat orang anak. sekadar ongkos ke rumah sakit saja, aku sering meminjam uang dari saudara atau makan seadanya. Di luar itu, anakku masih membutuhkan obat yang tak ditanggung BPJS, susu, vitamin, dan kebutuhan lain yang tidak bisa kami abaikan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Fariq tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup  Fariq!

Dana terkumpul

Rp. 9.991.496
3 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Tumor Ganas Menggerogoti Perut Nadia, Perutnya Terus Membengkak!

“Penyakit langka membuat perut anakku, Nadia Syafira (1 thn), terus membengkak! Awalnya kukira hanya kembung biasa, tapi kian hari perutnya semakin membesar dan menakutkan.”“Nadia mulai kehilangan selera makan, hingga tiba-tiba aku mendapati ada benjolan di sisi kiri perutnya. Saat aku bawa periksa ke rumah sakit, dokter mengatakan ada tumor ganas yang berasal dari sel benih menggerogoti perut anakku! Hatiku hancur hancur berkeping-keping.” -Sri Ayu, Orang tua Nadia-Belum selesai hatiku terguncang menerima vonis penyakit anakku, dokter menyampaikan Nadia harus secepatnya dioperasi. Namun, operasi tersebut hanya bisa dilakukan di rumah sakit luar kota. Aku membisu, aku harus cari biaya kemana?Suamiku baru saja habis masa kontrak kerjanya, kami tidak ada pemasukan uang sepeserpun. Ada rasa nyeri menembus hatiku, kenapa ujian hidupku terlalu berat begini? Tapi menyerah juga aku tidak sanggup, karena aku tidak mau kehilangan putriku tercinta.Aku pun menjual emas yang aku punya, dan nekat membawa anakku pengobatan ke luar kota. Namun, perjalanan itu seperti ujian yang tak kunjung selesai. Dua hari berturut-turut aku datang ke rumah sakit, mengantri berjam-jam, tapi hanya diberitahu bahwa dokternya tak datang.Setelah itu, ketika aku mengambil antrian operasi, ternyata jadwalnya harus menunggu hingga 2 bulan. Hatiku terasa seperti dihantam, Ibu mana yang tidak sakit hatinya, menyaksikan perut anaknya terus menonjol oleh tumor sambil menunggu? Akhirnya aku mencari cara agar anakku dirujuk ke rumah sakit lain. Syukurlah, perjuanganku menunjukkan titik terang. Setelah pindah rumah sakit, Nadia langsung dijadwalkan operasi! Saat ini anakku sedang dalam masa pemulihan. Perlahan senyumnya kembali, ia mulai cerewet dan ceria lagi. Namun, terkadang Ia bisa tiba-tiba murung dan menangis, mungkin karena sakit yang masih datang sesekali. Ia juga sudah mulai bisa berjalan, walau kadang-kadang terjatuh.Namun, kelegaanku itu belum sepenuhnya. Dokter mengatakan sisa tumor anakku masih ada, sehingga pengobatannya masih panjang. Sementara itu, aku terkendala biaya untuk melanjutkan pengobatannya, apalagi tiap bulan harus konsultasi ke rumah sakit di luar kota.Selain transportasi, anakku juga membutuhkan biaya obat yang tidak ditanggung BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya. Suamiku berupaya siang dan malam mengerjakan apapun ikut keluarga. Namun, upahnya juga tidak seberapa, itu pun pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nadia tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nadia!

Dana terkumpul

Rp. 4.517.501
7 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Sering Menjerit Kesakitan! Anak Petani Alami Kelainan jantung dan Abses di Otak

“Setiap kali nyeri di dada dan kepala menyerang, tangis anakku menggema memenuhi rumah !Aku hanya bisa memeluknya erat, berusaha menenangkan di tengah kepanikan, sambil terburu-buru membawanya ke rumah sakit.”“Derita yang dialami anakku berasal dari kelainan jantung bawaan dan penumpukan nanah di kepalanya akibat infeksi. Bahkan, rambutnya sampai rontok! Seolah itu menjadi pengingat betapa besar rasa sakit tak tertahankan yang harus Ia tanggung.” -Ainin Husna, Orang tua Aisyah-Dibalik segala keterbatasan ini, aku tidak ingin menyerah! Anakku, Aisyah Fadilla (6 thn), harus bisa sembuh dan ceria lagi seperti dulu. Syukurlah, Ia selalu semangat menjalani pengobatannya, membuat hatiku terasa tenang dan hangat. Bahkan, Ia sudah tidak sabar ingin kembali bersekolah dan bertemu teman-temannya. Mungkin karena Ia seringkali bertemu dokter sejak sakit, Ia jadi selalu mengungkapkan keinginannya menjadi dokter. Kalimat polos itu sering membuatku menangis haru. Padahal, sejak lahir Ia tidak ada tanda-tanda sakit hingga usianya 6 tahun. Penyakit ini datang bagai badai, begitu cepat menghantam. Diawali anakku mengalami demam tinggi, sesak napas, badannya mulai membiru dan sakit kepala. Setelah ketahuan sakit jantung dan abses serabi di otak, dokter mengatakan jalan satu-satunya anakku untuk sembuh hanyalah operasi. Kondisi anakku sangat lemah, hingga aku harus membawa anakku berobat ke Jakarta. Kebun dan sawah saya jual demi membawa putriku dari Aceh ke Jakarta. Ia sudah menjalani kateterisasi jantung, sedangkan operasinya besar akan dilakukan dalam waktu dekat. Namun, aku terkendala biaya karena aku tidak bisa mencari nafkah selama di perantauan.Aku merupakan seorang ibu sekaligus single parent yang harus menghidupi 4 orang anakku. Sehari-hari aku bekerja sebagai buruh tani cabai dan mencuci baju. Itupun aku tidak bisa mendapatkan upah kalau hujan deras. Seringkali aku menahan lapar demi anakku, karena uang hasil menjual harta sudah hampir habis. Sementara Aisyah masih harus menjalani dua operasi besar, yaitu operasi jantung dan kepalanya. Belum lagi operasi lanjutan lainnya kelak.Anakku masih membutuhkan biaya untuk ongkos ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Aisyah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Aisyah!

Dana terkumpul

Rp. 8.591.000
3 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Penyakit Langka Menggerogoti Lambung dan Kerongkongan Balkis

“Begitu banyak anak yang terlahir di Indonesia, tapi hanya anakku satu-satunya yang mengalami penyakit langka ini! Duniaku terasa berhenti, ketika dokter mengatakan penyakit itu menggerogoti lambung dan kerongkongan anakku.”“Dadaku sesak melihatnya tak berdaya. Tatapannya ke langit-langit rumah sakit itu seperti jeritan tanpa suara, seolah memohon pertolongan dari rasa sakit yang tak sanggup Ia ucapkan. Harapan yang kupeluk erat setelah anakku operasi seakan pupus. Bukannya membaik, anakku malah semakin sulit menelan.” -Hartini, Orang tua Balkis-Hatiku hancur berkeping-keping! Anakku, Balkis Mukarramah Arabia (15 thn), tak lagi bisa makan dengan normal melalui mulut seperti dulu lagi. Kini, setiap tegukan minuman dan suapan makanan harus melewati selang NGT yang masuk melalui hidungnya.Sepanjang hidupnya anakku tidak pernah lepas dari rasa sakit. Tak lama setelah lahir, Ia selalu diare setiap kali minum susu dan berat badannya tidak pernah naik. Saat dibawa ke rumah sakit, dokter mengatakan sesuatu yang membuat lututku lemas, anakku mengalami jantung bocor.Anakku pernah menjalani operasi jantung, tapi gagal akibat tekanan di paru-parunya tinggi. Penderitaan anakku bertambah panjang. Mimpi buruknya tak pernah berhenti, penyakit lain mulai menggerogoti tubuh anakku. Di usia ke-5 tahun, Ia sering nyeri perut dan muntah. Perlahan, Ia mengalami cegukan panjang, radang tenggorokan seperti ada yang mengganjal, dan nafsu makannya hilang tak bersisa. Dokter menyimpulkan ada masalah serius pada kerongkongannya, dan Ia harus menjalani operasi. Namun, anakku akhirnya dirujuk untuk pengobatan di Jakarta, karena kondisinya semakin parah setelah operasi.Ternyata Ia didiagnosa esofagitis grade C (kriteria LA), Gastroduodenitis + gastroduodenopati + ulkus Forrest III amtrumn (katup pilorus) gerd kronis, divertikulum esofagus. Seketika aku membisu, kenyataan ini begitu pahit.Di tengah kesulitan itu, titik terang muncul. Atas izin Allah, dokter profesional menawarkan untuk melakukan operasi jantung pada anakku dan titik terang mulai terlihat. Syukurlah, operasinya berhasil! Kini, dokter sedang mencari cara mengatasi penyakit lambung dan kerongkongan anakku. Namun semakin lama kami berada di Jakarta, keuangan kami semakin menipis. Setiap kali nyeri perutnya kambuh, aku tak berdaya karena tak ada biaya membawanya ke rumah sakit. Aku sudah berupaya makan 1 kali sehari, demi menghemat biaya pengobatan anakku selama di perantauan. Aku hanyalah seorang buruh tani dari Sulawesi, dengan penghasilan yang sangat terbatas. Sementara Balkis masih membutuhkan biaya untuk obat yang tidak ditanggung BPJS, susu khusus, vitamin, penggantian selang NGT, serta kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Balkis tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Balkis!

Dana terkumpul

Rp. 2.188.000
13 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Hidup Sebatang Kara, Bantu Edy Sembuh dari Penyakit Saraf di Kaki

TemanBaik, perkenalkan saya Rustandi Eddy (63 tahun). Saat ini saya hidup sebatang kara dan tengah berjuang sembuh dari penyakit saraf kaki berat. Penyakit ini berawal pada tahun 2019, di mana saat itu saya sedang berada di bengkel dan selesai makan sate. Namun ketika hendak berdiri saya tidak bisa, kedua kaki saya terasa sakit sekali. Setelah diperiksakan, dokter mengatakan tensi saya 200. Sudah 2 kali berobat namun tidak juga ada perubahan, bahkan saya sudah gonta ganti dokter untuk mengobati penyakit saya ini, tapi saya tidak kunjung sembuh. Sampai akhirnya saya diberi surat pengantar untuk tes Elektroensefalogram (EEG) ke RSHS Bandung. Setelah diperiksa, menurut EEG saya didiagnosis pengidap penyakit saraf kaki berat. “Sudah minum herbal dan berobat terapi serta berobat kampung. Kalau tidak makan obat, sakitnya luar biasa bahkan tidak ada ngantuk walau 7 hari 7 malam,” ucap EdySaya membutuhkan bantuan Temanbaik untuk berobat, karena saya hidup sebatang kara, tidak memiliki anak dan juga istri. saya juga tidak berpenghasilan lagi karena tidak bisa jalan.Biaya untuk berobat selama ini hasil dari menjual harta benda yang ada di rumah dan sumbangan dari keluarga serta orang-orang baik. Jika tidak ada bantuan yang dikirim saya tidak makan. TemanBaik, maukah bantu saya sembuh dari penyakit saraf kaki berat ini? Saya ingin bisa bekerja lagi dan mencukupi kebutuhan sehari-hari saya. bantuan dari TemanBaik nantinya akan saya gunakan untuk berobat, menebus obat resep dokter dan makan.Bantuan dari TemanBaik dapat disalurkan dengan cara: Klik “Donasi Sekarang”Isi nominal donasiPilih metode pembayaran, kalau ingin lebih praktis kamu bisa berdonasi dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay, atau kamu juga bisa berdonasi dengan cara transfer antar bank (BRI, Mandiri, BCA, BNI).

Dana terkumpul

Rp. 27.906.986
Berakhir
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Hewan
Tidak Ada Shelter Hewan, Mahasiswi ini Berjuang Selamatkan Kucing Terlantar

“Banyak kucing harus menanggung derita, hanya karena masuk ke rumah orang demi mencari sesuap makan. Ada yang diusir, bahkan ada yang disakiti. Makanya saya berinisiatif merawat kucing terlantar, mulai dari korban tabrak lari, malnutrisi, jamuran, hingga yang terjebak trauma.”“Anak-anak di sekitar rumah pun sering mengetuk pintu, membawa kucing korban kecelakaan, karena mereka tahu saya tak pernah menutup hati untuk hewan-hewan ini. Namun, semakin banyak kucing yang saya rawat, semakin berat pula beban biaya yang harus saya tanggung.”Saya Winda Sugiarti, seorang mahasiswi dan konten kreator khusus affiliate yang berjuang untuk kehidupan kucing terlantar. Sudah empat tahun hidup saya dipenuhi oleh suara meong yang meminta kasih sayang. Saat ini, ada sekitar 40 kucing terlantar yang saya tampung di rumah.Di daerah saya, Dusun Wangkal Ronyok, Langkaplancar, Pangandaran, tak ada satupun shelter kucing.  Shelter terdekat berada di luar kota, terlalu jauh, butuh biaya dan waktu yang tak sanggup saya tempuh. Itulah mengapa kondisi kucing liar di sini begitu memprihatinkan.Sebagian besar dari mereka saya temukan dalam keadaan sakit. Saya hanya bisa memberikan obat seadanya yang ada di rumah, karena membawa mereka ke dokter hewan membutuhkan biaya yang tak mampu saya penuhi. Namun, keterbatasan itu membuat saya harus merelakan beberapa dari mereka wafat, pedih sekali hati saya. Setiap minggu, 20 kg dry food habis untuk mereka, ditambah 3 kg dry food per hari, dan anak-anak kucing memerlukan 1 dus wet food hanya untuk 3 hari. Biaya ini semakin sulit saya penuhi di tengah kondisi keuangan yang menipis. Kalau kepepet, saya mencoba menggalang dana lewat media sosial, namun hasilnya sering tak cukup.Saya bermimpi memiliki rumah khusus untuk mereka, mensterilkan agar tak ada lagi anak-anak kucing lahir dalam kesengsaraan, dan membuat hidup mereka layak serta sejahtera. Saya membutuhkan biaya untuk membeli dry food, wet food, vitamin kucing, obat cacing, pasir kucing dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, Rp100 ribu kita sangat berarti untuk kelangsungan hidup para kucing dan mengeluarkan mereka dari penderitaan. Yuk, klik Donasi Sekarang di bawah ini!

Dana terkumpul

Rp. 1.570.011
Berakhir
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Kateterisasi Gagal, Fathan Gagal Akibat Kebocoran Jantungnya Meluas

“Operasi kateterisasi jantung anakku dinyatakan gagal! Semua akibat kebocoran jantung anakku sudah meluas hingga 8 mm. Selama seminggu di ruang ICU, anakku juga sempat tak merespon, hingga dokter berkata bahwa anakku mengalami gejala stroke!”“Namun, aku memohon dokter untuk menemui anakku. Saat itu, aku mendekati telinganya dan membisikkan, ‘semangat lawan penyakitnya Nak, mama di depan nungguin kamu.’’ Seketika keajaiban muncul, lidah anakku bergerak, seperti berkata sesuatu. Detik itu juga, mukjizat itu nyata dan aku percaya anakku bisa sembuh.” -Ambar sari, Orang tua Fathan-“Ma sakit,” ucapan sederhana itu terasa seperti pukulan yang menghantam hatiku. Anakku, Muhammad Fathan Al Hanan (2 thn), mengatakan itu sambil memegangi dadanya.  Ia bahkan sering minta minum obat, karena Ia ingin cepat sembuh. Hidup penuh rasa sakit itu dirasakan anakku tak lama setelah Ia lahir. Anakku mendadak diserang demam tinggi yang tak kunjung turun. Saat buang air kecil pun, ia menangis dan menjerit karena kesakitan. Dalam kepanikan, aku membawanya ke klinik, namun seketika ia dirujuk ke rumah sakit besar.Hatiku terasa runtuh ketika dokter mendiagnosa anakku mengalami kebocoran jantung.  Terlebih lagi, ketika aku diberi tahu bahwa ia harus menjalani operasi di Jakarta. Dari mana harus kami mencari biayanya? Suamiku hanya buruh tani, sedangkan aku bekerja mencuci dan menyetrika baju demi menambah penghasilan.Namun demi keselamatan anakku, aku memilih untuk berjuang, sekalipun harus terlilit utang. Syukurlah, operasi penutupan kebocoran jantungnya berjalan lancar. Tapi perjuangan kami belum selesai. Kini anakku masih sering sesak napas, tidurnya gelisah, batuk tak henti, dan napasnya tersengal-sengal.Ia masih harus rutin kontrol ke Jakarta dan menjalani operasi lanjutan. Sementara itu, aku terus berusaha mencari biaya, menghemat apa pun yang bisa dihemat. Sampai beras yang kami miliki terpaksa aku jadikan bubur agar lebih mengenyangkan. Terkadang aku menjual kue dan gorengan demi menambah uang makan sehari-hari.Di luar biaya transportasi ke rumah sakit, anakku juga membutuhkan obat yang tidak ditanggung BPJS, alat bantu pernapasan, susu, dan berbagai kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Fathan tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Fathan!

Dana terkumpul

Rp. 1.950.002
10 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Anak Petugas Kebersihan Berjuang dari Sakit Jantung

“Kalau bukan karena uluran tangan pemerintah waktu itu, mungkin aku sudah kehilangan anakku. Aku hanya petugas kebersihan dengan gaji pas-pasan, tak sanggup membiayai ongkos operasi dari Karawang ke Jakarta.”“Sementara itu, hatiku hancur ketika tubuhnya yang masih begitu kecil harus menghadapi meja operasi yang begitu menakutkan. Tapi hanya itu satu-satunya jalan untuknya sembuh, tak ada yang bisa ku lakukan selain memeluknya.” -Saburi, Orang tua Fathir-Setelah vaksin, hidup Fathir Ahmad Azzamy (1 thn) berubah drastis! Tiba-tiba Ia demam berhari-hari. Saat diperiksa dokter, Ia menangis keras, tapi bibir dan kukunya membiru. Saat itulah aku dihantam kenyataan pahit, anakku didiagnosa sakit jantung.Kondisinya lemah, napasnya cepat sekali tiap menangis. Ia harus di echo jantung dan dirawat di rumah sakit. Ketiba tiba waktunya operasi di Jakarta, aku sempat kebingungan, mau tinggal di mana? Biaya makan dan kebutuhan selama di luat kota jadi beban yang menghimpit. Tapi dibalik kesulitan, Tuhan selalu hadirkan jalan. Perjuangan anakku untuk sembuh diikuti dengan keajaiban yang menyertainya, kami dapat tumpangan di rumah singgah dan dapat sedikit pinjaman selama hidup di Jakarta.Pasca operasi, anakku mulai membaik. Ia anak yang aktif, jadi kadang ketika Ia berjalan aku selalu menggandeng tangannya atau kadang menggendongnya karena Ia tidak boleh kelelahan. Penyakit itu bisa datang tiba-tiba dan Ia bisa menangis sampai sesak napas tak terkendali. Masih ada operasi lanjutan yang harus dilalui anakku, tapi lagi-lagi kendala biaya tak bisa terhindari. Padahal, setelah operasi kemarin pun, napasnya masih sering sesak hingga Ia harus menginap di rumah sakit. Tak terbayangkan, jika perjuangan ini berhenti di tengah jalan…Perjuangan ini belum usai. Aku sudah kehabisan cara. Tak ada lagi barang berharga yang bisa kujual, sementara anakku masih harus kontrol rutin, butuh obat-obatan yang tak semua ditanggung BPJS, dan keperluan penting lainnya. #TemanBaik, Fathir butuh kita sekarang. Ayo bantu lanjutkan pengobatannya, klik Donasi Sekarang sebelum terlambat!

Dana terkumpul

Rp. 5.163.002
Berakhir
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
4 Kali Operasi Otak dalam 2 Tahun, TB Meningitis Hingga Hidrosefalus Menyerang Nabila

Sakit sekali ya Nak, kamu harus menjalani 4 kali operasi dalam kurun waktu 2 tahun?  Kamu pasti bingung dan tak nyaman dengan semua selang yang menempel di kepalamu. Hati Ibu hancur setiap kali melihat tatapanmu yang sayu, seolah memohon pertolongan.Ibu ingin mencari pekerjaan agar bisa terus membiayai pengobatanmu, tapi siapa yang akan merawatmu? Penghasilan Ayah sebagai kuli bangunan sering kali membuat kami tersendat-sendat, untuk membayar harga kesembuhanmu. -Santi Wulandari, Orang tua Nabila-Anakku koma selama sebulan! Demam tinggi disertai kejang berulang saat usianya 2 tahun itu ternyata menjadi awal penderitaan anakku, Nabila Putri Arisanti (4 thn). Dokter mendiagnosanya mengalami TB Meningitis (Infeksi selaput otak), kejang, penumpukan cairan di otak, cerebral palsy (kerusakan otak). Bertubi-tubi penyakit menyerang otaknya, hingga akhirnya kesadaran anakku perlahan menurun, ia harus mengandalkan selang yang ditancapkan di hidungnya.  Ia tak mengerti perintah dan belum bisa bicara, hanya rintihan dan tangisan yang Ia lakukan untuk mengungkapkan segala penderitaannya. Seolah belum cukup, penglihatannya juga perlahan menghilang. Betapa Ibu ingin menghapus semua rasa sakitmu, tapi Ibu hanya bisa memandangmu dan berdoa.Meskipun dokter berkata harapan Nabila untuk sembuh sangat kecil, tapi anakku kuat dan bisa bertahan hingga sekarang. Harapan sekecil apapun itu selalu tertanam di hatiku untuk kesembuhannya, karena awalnya Nabila memang anak yang sehat.Namun, harapanku yang besar untuk kesembuhan anakku bertabrakan dengan kenyataan pahit. Aku kesulitan biaya untuk pengobatannya yang panjang, untuk membawanya ke rumah sakit dari Bogor dan ke Jakarta saja butuh biaya besar. Belum lagi, masih ada obat yang tidak dicover BPJS, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, mari bantu Nabila untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!

Dana terkumpul

Rp. 18.039.003
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
4 Tahun Lebih Trihadi BAB dari Lubang di Perutnya, Ia Harus Operasi Lanjutan

“Aku khawatir sekali kondisi mental anak kami terganggu karena penyakit ini! Anakku sudah mulai menyadari keadaannya, hingga suatu hari bibir mungilnya bertanya lirih, ‘kenapa aku BAB dari lubang di perut, sedangkan yang lain tidak dari situ? Pilu sekali rasanya.”“Apalagi tiap aku membersihkan kotorannya, Ia pasti selalu meringis menahan perih! Hatiku sangat teriris, aku hanya ingin Ia sembuh dan terbebas dari rasa sakit ini. Namun kenyataannya, jalan menuju kesembuhan begitu berat, terlebih karena terbatas biaya operasi…” -Siti Nurhayati, Orang tua Trihadi-Anakku, Trihadi Khusuma (4 thn), lahir dengan sehat tanpa kekurangan apapun. Namun, di usianya yang baru 2 hari, ia mendadak tidak mau minum susu dan terus menangis. Aku sempat bingung dan memeriksa seluruh tubuhnya dengan cemas, takut ada bagian yang sakit.Ternyata aku menemukan perutnya membesar dan keras. Saat itulah aku sadar, sejak lahir anakku belum pernah BAB! Duniaku runtuh, saat pihak bidan menyampaikan anakku tidak memiliki anus! Bagaimana bisa, bayiku harus menanggung penderitaan sebesar ini?Anakku langsung dilarikan ke ruang NICU rumah sakit. Kotorannya terpaksa dikeluarkan melalui selang yang dimasukkan ke dalam mulutnya. Hancur sekali hatiku rasanya, terlebih ketika dokter mendiagnosa anakku mengalami atresia ani, anus tidak terbentuk normal.Di usianya yang masih beberapa minggu, anakku sudah menjalani operasi pembuatan lubang di perutnya untuk tempat BAB sementara. Syukurlah, setelah operasi itu kondisi anakku sudah mulai membaik dan lincah, meski berat badannya sulit bertambah serta sering sakit.                                                 Namun, kelegaan yang ku rasakan hanya sesaat. Hingga suatu hari, Ia tiba-tiba demam tinggi dan ternyata lubang tempat BAB-nya ada infeksi. Selama 2 minggu, aku harus bolak-balik dari Bekasi ke Bandung membawa anakku menjalani pemeriksaan X-Ray, CT-Scan, USG, hingga MRI. Anakku saat ini sedang menunggu jadwal operasi, tapi aku kesulitan biaya untuk melanjutkan pengobatannya, tapi terkendala biaya. Suamiku bekerja sebagai tukang renovasi jok mobil, itupun Ia hanya 3 kali panggilan dalam sebulan. Diwaktu lainnya, suamiku berdagang batagor keliling. Sedangkan aku ikut membantu mencari tambahan uang dengan membuka jasa cuci dan gosok baju. Pekerjaan apapun aku dan suami jalani dengan ikhlas demi susu dan gizi anak terpenuhi. Namun, penghasilan kami sangat terbatas, bahkan pernah kami sampai tidak punya uang untuk membeli beras, hingga tetangga tergerak hati membantu.Anakku sangat membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu, membeli kantong kolostomi dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Trihadi tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Trihadi! 

Dana terkumpul

Rp. 6.224.002
1 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Keagamaan
Atap Mushola Al Hidayah Hancur, Hujan Membasahi Tempat Sujud Kami

“Setiap kali hujan turun, hati para jamaah yang beribadah ikut diliputi rasa cemas. Bukan hanya karena derasnya hujan, tapi juga karena genteng mushola yang retak dan bisa runtuh kapan saja. Belum lagi air yang masuk melalui celah atap dan pintu mushola yang sejajar dengan jalanan, membuat lantai mushola akan tergenang!”“Namun, di tengah kekhawatiran itu, para jemaah tetap datang untuk beribadah. Mereka tetap menggelar sajadah di tempat yang lembab dan basah. Bukan karena tak peduli, tapi karena mereka benar-benar tak memiliki biaya untuk memperbaiki rumah Allah itu.”Sejak tahun 2017, Mushola Al Hidayah berdiri sederhana di Desa Teluk Jaya, Pakis Jaya, Karawang. Bangunannya lahir dari hasil swadaya masyarakat dan sumbangan orang-orang di jalanan, karena besar sekali kerinduan warga untuk memiliki tempat mereka bisa bersujud bersama.Kini, sekitar 50 jamaah masih setia beribadah di mushola kecil itu. Di sinilah mereka menunaikan salat berjamaah, mengikuti majelis ta’lim mingguan, membagikan zakat fitrah, hingga menyembelih hewan kurban setiap Idul Adha.Namun, bertahun-tahun berdiri, bangunan mushola juga termakan usia. Atap rapuh dan kayu penopangnya keropos, sementara warga sekitar yang mayoritas bekerja sebagai buruh tani kesulitan mengumpulkan biaya untuk merenovasi.Saat cuaca panas, suasana mushola terasa gerah dan pengap. Tapi ketika hujan turun, keadaannya jauh lebih memprihatinkan. Air mengalir dari celah genteng dan nyiprat masuk ke dalam mushola. Pengurus bahkan harus menutup bagian samping mushola dengan terpal seadanya, agar jamaah masih bisa beribadah tanpa basah kuyup.Meski begitu, semangat dan keikhlasan tak pernah padam. Karmin Abdurohim (42 tahun), sang pengurus mushola, setiap hari tetap menyapu, mengepel, dan menyemprotkan pewangi agar mushola tetap nyaman. Ia tak ingin para jamaah enggan datang hanya karena kondisi bangunan yang memprihatinkan.Bersama warga, Karmin berusaha keras mengumpulkan dana. Mereka menabung sedikit demi sedikit, mencari donasi di pinggir jalan, bahkan mengirim proposal ke kantor dan media sosial, namun hasilnya belum membuahkan harapan.Tak jarang, Karmin harus mengeluarkan uang pribadinya dari hasil berdagang dan mengajar di PAUD, sekadar untuk membayar token listrik, memperbaiki lampu, mesin air, atau pengeras suara. Semua dilakukan demi satu hal, agar rumah Allah ini tetap hidup dan menjadi tempat sujud yang hangat bagi semua jamaahnya.#TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa membantu Jemaah Mushola Al Hidayah bisa tetap beribadah dengan tenang. Yuk, klik Donasi Sekarang di bawah ini untuk alurkan tanganmu!

Dana terkumpul

Rp. 4.420.000
Berakhir
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Anak Tukang Pijat Alami Sakit Jantung Hingga Gizi Buruk, Harus Segera Operasi

“Anakku didiagnosa penyakit jantung, sementara istriku berjuang melawan tiroid! Rasanya terlalu berat untuk keluarga kecil seperti kami. Terlebih lagi, anakku harus berobat di rumah sakit besar, biaya pengobatannya jauh melampaui kemampuan kami.”“Penghasilanku sebagai tukang pijat terapis tak menentu. Penghasilan yang pas-pasan membuatku tak berdaya, hingga anakku harus menanggung gizi buruk karena kami benar-benar kekurangan. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ayah selain melihat istri dan anaknya menderita.” -Nur Oktaffianto, Orang tua Hafizah-Sejak lahir, Hafizah Aprilia Nurfianto (2 thn) harus menjalani hidup yang tak mudah. Di usianya yang baru 4 hari, anakku sudah didiagnosa down syndrome (kelainan genetik), jantung bocor, hingga hipotiroid. Kelahiran Hafizah yang selalu kunantikan, berganti jadi rasa terpukul dan duka. Kondisi keuanganku juga tidak siap menghadapi cobaan ini. Aku terlilit utang karena pinjam uang sana-sini, karena pengobatan Hafizah harus berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Mulai dari rumah sakit Makassar, Surabaya, hingga Jakarta, telah menjadi saksi perjuangan hidup anakku.Selama hampir 2 tahun 6 bulan, Hafizah menjalani berbagai pemeriksaan, diantaranya echo, mantoux, nebulisasi, NGT, hingga bilas lambung. Anakku tidak bisa dioperasi karena mengalami gizi buruk. Berat badannya baru 6 kg, sementara syarat operasi minimal 10 kg. Setiap Hafizah kambuh, tubuhnya melemah, jari dan bibirnya sampai membiru. Hatiku selalu dipenuhi rasa takut melihatnya terus tersiksa. Namun di balik semua itu, Hafizah tetap menjadi anak yang kuat, sabar, dan penuh semangat. Ia seolah mengajarkanku arti perjuangan sebenarnya.Dalam kesulitan ekonomi, aku dan istriku hidup seadanya selama pengobatan anak di Jakarta. Sekedar kontrol rutin saja, kami harus menempuh jaral 40 Km ke rumah sakit. Aku  sering kebingungan mencari biaya.Belum lagi, aku harus memenuhi kebutuhan dasar anakku, seperti susu, pampers, dan kebutuhan lainnya selama di perantauan. Aku harus meminjam sana-sini, gali lubang tutup lubang, demi anakku tetap bisa bertahan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Hafizah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Hafizah!“Anakku didiagnosa penyakit jantung, sementara istriku berjuang melawan tiroid! Rasanya terlalu berat untuk keluarga kecil seperti kami. Terlebih lagi, anakku harus berobat di rumah sakit besar, biaya pengobatannya jauh melampaui kemampuan kami.”“Penghasilanku sebagai tukang pijat terapis tak menentu. Penghasilan yang pas-pasan membuatku tak berdaya, hingga anakku harus menanggung gizi buruk karena kami benar-benar kekurangan. Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ayah selain melihat istri dan anaknya menderita.” -Nur Oktaffianto, Orang tua Hafizah-Sejak lahir, Hafizah Aprilia Nurfianto (2 thn) harus menjalani hidup yang tak mudah. Di usianya yang baru 4 hari, anakku sudah didiagnosa down syndrome (kelainan genetik), jantung bocor, hingga hipotiroid. Kelahiran Hafizah yang selalu kunantikan, berganti jadi rasa terpukul dan duka. Kondisi keuanganku juga tidak siap menghadapi cobaan ini. Aku terlilit utang karena pinjam uang sana-sini, karena pengobatan Hafizah harus berpindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya. Mulai dari rumah sakit Makassar, Surabaya, hingga Jakarta, telah menjadi saksi perjuangan hidup anakku.Selama hampir 2 tahun 6 bulan, Hafizah menjalani berbagai pemeriksaan, diantaranya echo, mantoux, nebulisasi, NGT, hingga bilas lambung. Anakku tidak bisa dioperasi karena mengalami gizi buruk. Berat badannya baru 6 kg, sementara syarat operasi minimal 10 kg. Setiap Hafizah kambuh, tubuhnya melemah, jari dan bibirnya sampai membiru. Hatiku selalu dipenuhi rasa takut melihatnya terus tersiksa. Namun di balik semua itu, Hafizah tetap menjadi anak yang kuat, sabar, dan penuh semangat. Ia seolah mengajarkanku arti perjuangan sebenarnya.Dalam kesulitan ekonomi, aku dan istriku hidup seadanya selama pengobatan anak di Jakarta. Sekedar kontrol rutin saja, kami harus menempuh jaral 40 Km ke rumah sakit. Aku  sering kebingungan mencari biaya.Belum lagi, aku harus memenuhi kebutuhan dasar anakku, seperti susu, pampers, dan kebutuhan lainnya selama di perantauan. Aku harus meminjam sana-sini, gali lubang tutup lubang, demi anakku tetap bisa bertahan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Hafizah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Hafizah!

Dana terkumpul

Rp. 756.001
10 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Pirlo Butuh Cuci Darah untuk Bertahan Hidup

Di balik senyum kecilnya anak umur 5 tahun ini, ternyata didiagnosa dokter menderita gagal ginjal kronis stadium 5. Kedua ginjalnya tak mampu lagi berfungsi secara maksimal. Akibat penyakit yang dideritanya, dalam seminggu Pirlo harus 2x ke rumah sakit untuk menjalani cuci darah. Selang infus dan tajamnya jarum suntik renggut masa kecilnya.Sejak tahun 2021, Pirlo harus menerima kenyataan pahit bahwa dirinya hanya bisa bertahan hidup dari cuci darah.Semua bermula ketika ia mengalami muntah darah dan infeksi saluran kencingnya selama 3 bulan lamanya. Setelah dibawa ke rumah sakit untuk melakukan serangkaian pemeriksaan, rupanya Pirlo menderita gangguan ginjal hingga cairan sudah menyebar ke organ pencernaan lainnya.Kata dokter, tak ada jalan lain selain cuci darah secara rutin di rumah sakit agar kesehatannya tidak terus memburuk.Di tengah perjuangannya bisa sembuh dari penyakit kronis ini, Pirlo ditemani Bu Ida sang ibunda tercinta dengan harapan bisa berjuang bersama. Mendoakan dan meyakinkan Pirlo bisa sembuh dari penyakit yang dideritanya. Namun, itu saja tak cukup, biaya pengobatan dan kontrol rutin di rumah sakit membutuhkan biaya yang tak sedikit karena jarak rumah Pirlo ke rumah sakit sekitar 5 jam dan memerlukan biaya ongkos transportasi sekitar 500 RB.Sementara, ayah Pirlo yang hanya bekerja sebagai petugas keamanan dengan upah 1.700.000 perbulan tak sanggup untuk memenuhi biaya pengobatan itu pun sudah di potong dengan pinjaman2 untuk berobat Pirlo jadi perbulan cuma menerima 500 rb. Belum lagi, dia juga harus memenuhi kebutuhan harian 3 anak lainnya. Lalu, bagaimana Pirlo mendapatkan biaya pengobatan? Padahal, Pirlo sangat membutuhkan dan hanya bisa bertahan dari cuci darah.Jika pengobatan dan cuci darah Pirlo sampai terlewat nyawanya bisa terancam.#TemanBaik, Bu Ida saat ini membutuhkan bantuanmu untuk obati ginjal anaknya yang sakit. Mari kita sama-sama ulurkan tangan untuk biaya pengobatan Pirlo dengan cara:1. Klik “Donasi Sekarang”2. Isi nominal donasi3. Pilih metode pembayaran Lebih praktis dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay. Bisa juga lewat transfer antarbank (BRI, Mandiri, BCA, BNI).

Dana terkumpul

Rp. 24.166.548
9 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Sedekah Bantu Makan dan Biaya Pendidikan Santri Yatim Dhuafa

Perkenalkan saya, Muhammad Arief Rahman, Pekerjaan saya sehari-hari sebagai  Karyawan Swasta dan relawan pengurus di panti asuhan dan pesantren yatim dhuafa Al-Fitra di Kab Bandung, Jawa Barat. Saya ingin menggalang dana untuk memenuhi biaya hidup santri di panti asuhan dan pesantren yatim dhuafa,  Kegiatan yang saya lakukan selama ini seperti mengajak kebaikan untuk berbagi bersama adik yatim, serta peduli terhadap pendidikannya. Kami berharap penggalangan dana ini bisa menjadi gerbang kebaikan. Saya sudah melakukan kegiatan ini sejak dua tahun yang lalu.Yang ingin dibantu ada 45 anak binaan. Kondisi sekarang, kami membutuhkan pembiayaan untuk pendidikan, kebutuhan sandang pangan, biaya kesehatan, serta pembangunan dan perbaikan infrastruktur Anak-anak yang ada di sini kebanyakan adalah para dhuafa dan yatim yang datang dari Garut serta Kabupaten Bandung. Sebagai catatan, di panti asuhan ketika hujan besar, atap kami bisa bocor. Atap kami menggunakan asbes jadi saat hujan angin air masuk ke dalam. Status pesantren pun masih asrama sewa atau mengontrak.Anak santri Yatim dhuafa Al-fitra tidak hanya belajar tentang agama. Mereka juga dibekali soft skill lainnya seperti bercocok tanam. TemanBaik, yuk bantu para santri yatim dhuafa di panti asuhan dan pesantren Al-Fitra di Kab Bandung, Jawa Barat. 

Dana terkumpul

Rp. 13.080.067
11 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Mulut Alicia Terus Mengeluarkan Darah Akibat Operasi Jantungnya Gagal!

“Operasi jantung anakku gagal! Akibatnya, Ia sering mengalami pendarahan yang keluar dari mulutnya di tengah napasnya yang sesak. Dokter menyarankan anakku cek kromosom, tapi apa daya, biaya untuk itu belum sanggup kupenuhi.”“Setiap hari, air mataku menjadi saksi betapa berat perjuangan anakku melawan sakit. Dalam setiap helaan napasnya yang lemah, aku hanya bisa memanjatkan doa, semoga ada pertolongan untuk melanjutkan pengobatan. Aku ingin melihatnya tersenyum tanpa rasa sakit…” -Puji Lestari, Orangtua Alicia-Saat Alicia Alessandra Manulang (2 thn) lahir, aku kira semua baik-baik saja. Dokter bilang anakku terlahir sempurna, tidak ada cacat sedikitpun. Namun, tak lama kemudian, aku terkejut mendapati  tubuhnya mulai menguning. Saat dibawa ke dokter, anakku dinyatakan mengalami infeksi pusar dan harus dirawat di inkubator. Sejak itu, hari-hariku berganti dengan tangis dan doa tanpa henti. Namun, kenyataan menghantamku lebih keras dari yang kubayangkan. Alicia  didiagnosa down syndrome, jantungnya bocor 1,7 mm, dan mengalami gizi buruk! Terpukul sekali rasanya, apalagi aku tahu, aku tak memiliki cukup biaya untuk pengobatannya. Sebagai ibu, tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat anak sendiri menderita, sementara aku tak mampu memberi yang terbaik, bahkan untuk membeli susu khusus pemulihan gizinya aku tak mampu.Suamiku hanya seorang sopir antar-jemput anak sekolah, dan aku tak bisa bekerja karena harus merawat Alicia dan kakaknya yang masih duduk di kelas 1 SD. Namun dibalik semua lelah dan air mata, aku tak pernah berhenti berjuang.Anakku merupakan satu-satunya yang menguatkanku dalam menghadapi hidup yang berat ini. Aku melihat semangat hidup yang luar biasa. Meski tubuhnya lemah, Alicia selalu berusaha tersenyum dan tetap aktif. Ia juga selalu semangat mengikut terapi untuk perkembangannya. Aku yakin Ia bisa sembuh!Kapan pun ada kesempatan, aku mencoba mencari uang tambahan dengan menjualkan dagangan orang lain. Hasilnya memang tak seberapa, tapi bagiku itu adalah harapan untuk anakku. Operasi keduanya harus segera dilakukan, namun lagi-lagi biaya menjadi dinding besar yang sulit kutembus.Bahkan untuk kontrol rutin dari Jakarta Timur ke Jakarta Barat saja, aku sering harus meminjam uang dari keluarga atau teman. Belum lagi untuk obatnya yang tidak dicover BPJS, susu khusus, alat bantu pernapasannya dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Alicia tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Alicia!

Dana terkumpul

Rp. 8.631.500
2 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan Terus Berlayar

Sebagai bagian dari misi kemanusiaan doctorSHARE, kami dengan bangga menghadirkan program Rumah Sakit Apung untuk mendukung pelayanan kesehatan di daerah 3T (terluar, tertinggal, dan terdepan di Indonesia). Program ini dirancang khusus untuk memberikan akses medis yang memadai kepada komunitas-komunitas yang sulit dijangkau oleh sistem kesehatan konvensional. Dengan isu kesehatan yang beragam dan tingkat kesulitan akses ke fasilitas kesehatan yang tinggi, maka doctorSHARE melalui Program Rumah Sakit Apung membuat alternatif solusi yang inovatif dan terjangkau dalam rangka menghadirkan layanan kesehatan yang merata di wilayah rentan. Beberapa wilayah tersebut yang menjadi tujuan program layanan kesehatan RSA dr Lie Dharmawan II yaitu: 1. Kepulauan Manui, Morowali, Sulawesi Tengah 2. Kepulauan Sinjai, Sulawesi Selatan 3. Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi TenggaraDari beberapa tempat di atas merupakan wilayah kepulauan prioritas kami untuk mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan dikarenakan beberapa isu kerentanan yang layak untuk mendapatkan bantuan. Bantuan dan perhatian anda akan sangat berdampak bagi 1.000 pasien wilayah tersebut melalu operasi RSA dr. Lie Darmawan II untuk menyediakan: 1. Peralatan Medis dan Fasilitas : Pemeliharaan dan perbaharuan peralatan medis, termasuk peralatan diagnostik, alat bedah, dan perlengkapan medis lainnya.2. Tenaga Medis dan Pelatihan : Pelayanan medis 1000 pasien, 10 operasi mayor, 20 operasi minor, 50 pemeriksaan USG dan antenatal. Serta pelatihan dokter kecil di setiap lokasi. 3. Operasional Lapangan : Biaya operasional seperti transportasi laut, logistik medis, dan administrasi harian untuk memastikan Rumah Sakit Apung dapat beroperasi dengan efisien dan responsif terhadap kebutuhan mendesak komunitas dilayani#TemanBaik bisa ikut kontribusi membangun RSA dr Lie Dharmawan II, dengan cara Donasi Sekarang di bawah ini 

Dana terkumpul

Rp. 30.093.047
14 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
7 Tahun Aina Berjuang Sembuh Bertahan dari Kelainan Usus Besar

“4 jam perjalanan ku tempuh sambil menggendong anakku di atas  sepeda motor ke rumah sakit. Hujan deras membuat perjalanan semakin terasa berat. Begitulah hari-hari yang penuh kepahitan karena penyakit yang perlahan menggerogoti pencernaannya.”“Sampai hari ini, ia masih menahan perih yang luar biasa dari luka bekas operasinya. Setiap gerakan membuatnya meringis kesakitan. Ia semakin sulit beraktivitas, bahkan sekolah yang begitu ia rindukan pun harus tertunda.” -Indarsih, Orang tua Aina-Aina Ramadhani (7 thn), merupakan anak pertamaku yang menderita kelainan usus besar (hisprung). Masalah pencernaannya ini sudah terlihat sejak usia 6 bulan, Ia mengalami Buang Air Besar secara terus-menerus tanpa henti. Tentu hal itu membuatku curiga, ada sesuatu yang tak wajar.Saat aku membawanya ke rumah sakit, dokter mengatakan anakku mengalami masalah usus besar. Selain itu, anakku harus menjalani operasi jika tidak mau nyawanya terancam. Aku terdiam seketika dan kemudian menangis sejadi-jadinya. Aku takut kehilangan anakku!Di luar ruang operasi, aku menunggu anakku sambil memanjatkan doa untuk keselamatan. Hingga akhirnya dokter menyatakan operasinya berjalan lancar, saat itulah aku bisa lega luar biasa. Namun, hatiku hancur ketika menyaksikan perut anakku harus dilubangi sebagai jalan BAB-nya.Setiap hari, aku harus mengganti kantong stoma yang di tempelkan di perutnya yang berlubang sebagai tempat pembuangan airnya. Namun, di tengah rasa sakit itu, Aina selalu menunjukkan semangat yang membuatku belajar arti dari sebuah kesabaran dan ketabahan.“Mama, aku pengen cepat sembuh, biar bisa ngaji dan sekolah lagi,” itulah kalimat yang selalu diucapkannya dengan senyum penuh harap. Rasanya aku terpukul sekali, karena aku tidak ada yang bisa ku lakukan agar Ia bisa sembuh saat itu juga. Saat ini, Aina masih harus menjalani operasi tahap kedua, yaitu penutupan stoma. Kondisinya kemungkinan pulih dalam 3-4 bulan ke depan. Sementara biaya pengobatannya yang panjang cukup besar. Suamiku hanya pedagang bakso keliling, penghasilan yang kami dapat terkadang hanya cukup untuk makan sehari-hari. Bahkan, demi pengobatan Aina, kami harus berhutang ke sana kemari. Aina saat ini membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Aina tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Aina!

Dana terkumpul

Rp. 5.550.000
8 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Lihat Semua
  Lihat Semua Campaign