Benihbaik x MNC

Salurkan donasi anda ke campaign-campaign di bawah ini

Campaign Pilihan Hari Ini

Pilihan Benihbaik

Panggilan Mendesak

Waktu mereka tidak banyak, mereka sangat membutuhkan bantuan kalian

Card image cap
Anak
Tumor Ganas Menggerogoti Perut Nadia, Perutnya Terus Membengkak!

“Penyakit langka membuat perut anakku, Nadia Syafira (1 thn), terus membengkak! Awalnya kukira hanya kembung biasa, tapi kian hari perutnya semakin membesar dan menakutkan.”“Nadia mulai kehilangan selera makan, hingga tiba-tiba aku mendapati ada benjolan di sisi kiri perutnya. Saat aku bawa periksa ke rumah sakit, dokter mengatakan ada tumor ganas yang berasal dari sel benih menggerogoti perut anakku! Hatiku hancur hancur berkeping-keping.” -Sri Ayu, Orang tua Nadia-Belum selesai hatiku terguncang menerima vonis penyakit anakku, dokter menyampaikan Nadia harus secepatnya dioperasi. Namun, operasi tersebut hanya bisa dilakukan di rumah sakit luar kota. Aku membisu, aku harus cari biaya kemana?Suamiku baru saja habis masa kontrak kerjanya, kami tidak ada pemasukan uang sepeserpun. Ada rasa nyeri menembus hatiku, kenapa ujian hidupku terlalu berat begini? Tapi menyerah juga aku tidak sanggup, karena aku tidak mau kehilangan putriku tercinta.Aku pun menjual emas yang aku punya, dan nekat membawa anakku pengobatan ke luar kota. Namun, perjalanan itu seperti ujian yang tak kunjung selesai. Dua hari berturut-turut aku datang ke rumah sakit, mengantri berjam-jam, tapi hanya diberitahu bahwa dokternya tak datang.Setelah itu, ketika aku mengambil antrian operasi, ternyata jadwalnya harus menunggu hingga 2 bulan. Hatiku terasa seperti dihantam, Ibu mana yang tidak sakit hatinya, menyaksikan perut anaknya terus menonjol oleh tumor sambil menunggu? Akhirnya aku mencari cara agar anakku dirujuk ke rumah sakit lain. Syukurlah, perjuanganku menunjukkan titik terang. Setelah pindah rumah sakit, Nadia langsung dijadwalkan operasi! Saat ini anakku sedang dalam masa pemulihan. Perlahan senyumnya kembali, ia mulai cerewet dan ceria lagi. Namun, terkadang Ia bisa tiba-tiba murung dan menangis, mungkin karena sakit yang masih datang sesekali. Ia juga sudah mulai bisa berjalan, walau kadang-kadang terjatuh.Namun, kelegaanku itu belum sepenuhnya. Dokter mengatakan sisa tumor anakku masih ada, sehingga pengobatannya masih panjang. Sementara itu, aku terkendala biaya untuk melanjutkan pengobatannya, apalagi tiap bulan harus konsultasi ke rumah sakit di luar kota.Selain transportasi, anakku juga membutuhkan biaya obat yang tidak ditanggung BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya. Suamiku berupaya siang dan malam mengerjakan apapun ikut keluarga. Namun, upahnya juga tidak seberapa, itu pun pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nadia tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nadia!

Dana terkumpul

Rp. 8.431.501
5 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Lambungnya Terancam Bolong! Anak Tukang Ojek Berjuang dari Berbagai Penyakit

“Dokter mengatakan lambung anakku terancam bolong jika pengobatannya terhenti! Cairan asam lambung yang terus meningkat, dikhawatirkan menetes ke usus dan menggerogoti tubuh kecilnya. Jika itu terjadi, Ia juga bisa kehilangan nyawanya.”“Aku terpaku, tak mampu berkata apa pun melihat kondisi anakku yang memprihatinkan. Tubuhnya lemas dan kurus, sampai tulangnya kian menonjol dari balik kulitnya. Sementara aku kesulitan biaya untuk melanjutkan pengobatannya…” -Dian Rustami, Orang tua Salman-Muhammad Salman Alfarizi (10 bln) tidak tumbuh seperti anak-anak lain ketika usianya menginjak 6 bulan.  Saat kusuapkan makanan, Ia sama sekali tidak mau membuka mulutnya. Awalnya, aku hanya mengira Ia sedang tumbuh gigi. Namun setelah bertemu dokter, kenyataan pahit justru menamparku.Ada benjolan di belakang telinga anakku! Setelah diperiksa lebih lanjut, anakku dinyatakan positif TB Paru. Sejak itu, kondisi anakku semakin drop dan sering keluar masuk rumah sakit. Bahkan, Ia nyaris kehilangan nyawanya akibat sesak napas hebat.Seiring berjalannya waktu, penyakit anakku justru bertambah. Anakku divonis gizi buruk karena tubuhnya yang lemah selalu disertai demam, muntah, dan dehidrasi. Ia harus makan dan minum melalui selang NGT yang dimasukkan dari hidungnya, karena setiap makanan yang masuk selalu Ia tolak.Cobaan tak berhenti di situ, setelah dipasang NGT, muntahnya justru semakin parah. Aku sempat memberinya susu alergi, berharap ada perubahan. Tapi anakku tetap tersiksa oleh muntah yang tak kunjung reda.Setelah kembali periksa ke rumah sakit, anakku membawa diagnosa baru, yaitu gerd akut, kelainan lubang kencing (hipospadia), hingga amandel. Tuhan, masih pantaskah tubuh sekecil itu menanggung beban sebanyak ini? Ia terlihat begitu kelelahan, Ia masih menanti mukjizat-Mu. Tidur anakku tak pernah tenang sampai matanya sayu. Ia sering terbangun karena muntah atau perut yang bergejolak. Dalam sebulan, Ia bisa 12 kali periksa ke dokter. Namun, Ia masih menunjukkan semangatnya untuk terus hidup melalui senyuman mungilnya.Anakku harus menjalani operasi, namun biaya menjadi kendala besarku. Motor, emas, dan barang berharga lainnya sudah habis dijual untuk pengobatan anak selama ini. Suamiku hanyalah pengemudi ojek online. Meski Ia sudah bekerja dari gelap pagi ketemu gelap malam, penghasilannya tetap tak menutupi biaya pengobatan anakku.Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi bolak-balik ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu khusus, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Salman tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Salman!

Dana terkumpul

Rp. 27.650.501
4 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Pak Harsono Kehilangan Penglihatannya Setelah Bertahun-tahun Sakit Kepala Hebat!

“Sakit di kepalaku begitu hebat hingga aku sering membenturkan kepala ke tembok! Itulah upayaku untuk mengalihkan rasa nyeri kepalaku yang bagaikan ditonjok secara membabi-buta. Sembilan tahun lamanya aku mencoba bertahan dalam penderitaan ini.”“Semua berawal ketika aku bekerja di kebun kelapa sawit di Pulau Kalimantan. Aku berangkat dengan harapan bisa menafkahi keluarga. Namun, ternyata aku pulang dengan penyakit yang merenggut penglihatanku. Kini, dunia bagiku hanyalah kegelapan..” -Pak Harsono-Sejak 2017 lalu, Pak Harsono (50 thn) sudah mulai sering merasakan pusing ringan.   Awalnya Ia tetap berusaha menahan sakit dan terus bekerja demi keluarga. Namun, seiring waktu, rasa pusing itu semakin parah hingga Ia memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya di Sleman, Yogyakarta, untuk fokus pengobatan.Sayangnya, kepulangan itu justru menjadi awal dari ujian berat. Nyeri di kepalanya semakin menjadi-jadi. Bahkan, penglihatannya sedikit demi sedikit mulai menurun dan akhirnya Ia benar-benar tak bisa melihat. Tak hanya itu, Ia juga sering sesak napas disertai batuk berdahak yang tak kunjung sembuh. Hasil pemeriksaan dokter membuat hatinya hancur, Pak Harsono didiagnosa menderita Chronic Obstructive Pulmonary Disease (penyakit paru-paru kronis) yang sudah masuk tahap akut.Sejak saat itu, hidupnya berubah total. Ia tak lagi mampu bekerja, bahkan tak bisa melakukan aktivitas apapun. Di tengah kondisi yang kian melemah, sang istri memilih pergi meninggalkannya bersama dua anaknya. Kini, satu-satunya harapan dan tempat bersandarnya hanyalah sang kakak, yang dengan penuh kasih merawatnya meski hidup mereka pun pas-pasan. Ia sudah pasrah, setiap hari lebih banyak  menghabiskan waktu untuk bersujud dan berdoa di masjid, berharap ada keajaiban yang bisa memulihkan hidupnya.Saat ini, Pak Harsono sangat membutuhkan bantuan untuk biaya transportasi ke rumah sakit yang jaraknya 50 km, serta membeli vitamin dan obat-obatan yang tidak ditanggung oleh BPJS.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Harsono tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Harsono!

Dana terkumpul

Rp. 1.343.000
1 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Tubuh Lemah Kayla Bertahan dari Infeksi Hati dan Kurang Gizi

“Perjuangan dan tangis mewarnai perjalanan saya sebagai seorang ibu tunggal yang mencari nafkah dengan berjualan gorengan milik orang lain. Satu dari tiga anak saya sedang berjuang hidup dari penyakit infeksi hati.”“Setiap minggu saya harus menebus obat dengan nominal Rp400 ribu. Sudah sebulan lamanya, saya terpaksa meminjam uang agar pengobatan anak tidak terputus. Hari-hari saya penuh kecemasan.” -Jelita, Orang tua Kayla-Tak lama setelah lahir, demam tinggi menyergap tubuh kecil Kayla Zahra Qamela (5 bln). Puskesmas hanya menyarankan kompres untuk menurunkan demamnya, mengingat Kayla lahir prematur, tanpa memberikan obat yang diperlukan. Namun, 3 hari Kayla tak ada perubahan. Diwarnai dengan perasaan khawatir, Ibunya membawa Kayla ke rumah sakit. Naluri seorang ibu terbukti benar, Kayla langsung dilarikan ke IGD, dipasangi selang oksigen dan NGT karena napasnya yang semakin lemah.Beberapa hari dirawat, Kayla dirujuk pindah rumah sakit yang lebih besar karena kondisinya cukup parah. Tubuhnya sangat lemah karena Ia juga didiagnosa kekurangan gizi. Entah sudah berapa kali Ibunya meninggalkan anaknya yang lain di rumah, demi merawat Kayla.Jika bisa membelah diri, itu yang akan dilakukan Ibunya. Tidak ada uang masuk selama Ibunya harus merawat Kayla, sementara kebutuhan pengobatan membengkak. Susu khusus gizinya saja mencapai Rp400 ribu, itupun habis dalam 4 hari saja.Mereka sudah berupaya hidup berhemat, sehari hanya makan 2 kali sehari, dengan nasi dan telur berukuan kecil akibat dibagi-bagi. Perasaan bersalah dan kesedihan menghantui Ibunya karena ketidakmampuan memberikan yang terbaik bagi anak-anaknya.Pengobatannya masih panjang, Ia masih membutuhkan dana untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, mengganti selang NGT, serta kebutuhan lainnya.#TemanBaik, mari bantu Kayla untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!

Dana terkumpul

Rp. 9.085.003
Berakhir
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Tak Lagi Kuat Mengais Barang Bekas, Pak Nur Tetap Berjuang Sembuh dari TB Paru

“Demi bisa pergi ke rumah sakit, aku mencoba mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual. Namun, tubuhku semakin hari semakin lemah, sampai akhirnya aku harus menyerah karena tak sanggup lagi berdiri lama.”“Sekedar mengangkat galon saja aku tak mampu. Bahkan, sekedar berjalan ke kamar mandi bisa membuat napasaku sesak. Di titik ini, aku benar-benar buntu. Aku tak tahu lagi bagaimana aku harus mencari biaya untuk bertahan hidup, apalagi untuk pengobatanku.”Perkenalkan, aku Nur Pryambodo (41 thn). Sebelum penyakit ini menjadi mimpi buruk hidupku, aku bekerja sebagai pengemudi ojek online. Meski penghasilanku hanya Rp150 sehari, aku tetap bersyukur karena bisa pulang membawa uang untuk sehari-hari. Tapi kini, jangankan mencari nafkah, motor sewaan yang selama ini kupakai bekerja pun sudah ditarik oleh aplikasi ojek online. Kondisiku tak lagi memungkinkan untuk bekerja, bahkan berdiri saja sudah tak sanggup.Penyakit ini datang tiba-tiba saat aku sedang mengantar penumpang, dadaku terasa nyeri hebat yang menjalar sampai ke punggung. Setelah itu, aku mulai batuk tanpa henti, sangat menyiksa siang dan malam. Aku mencoba berobat ke puskesmas, ternyata aku didiagnosa TB Paru. Sejak itu, tubuhku tidak bisa bangkit dari posisi tidur selama 2 minggu. Bahkan, sekedar ke kamar mandi pun aku harus ngesot perlahan. Melihat kondisiku, tetanggaku langsung panik dan membawaku ke rumah sakit. Seminggu dirawat di rumah sakit, dokter juga menemukan aku punya asam lambung. Sejak itu, sesak napasku semakin menjadi-jadi hingga aku harus menggunakan oksigen untuk bisa bernapas. Kepalaku juga terasa sering berputar dan menggelap.  Keadaanku saat ini, biaya menjadi ujian terbesar. Dompetku kosong, ada hari ketika aku tidak makan sama sekali, bahkan membeli air minum pun tak sanggup.  Listrik rumahku padam karena tak mampu bayar, dan aku hanya bisa berdiam diri dalam gelap, menatap langit-langit kamar sambil menahan sakit.Selama ini aku bisa bertahan karena ketulusan tetangga-tetanggaku yang sesekali datang membawa sembako atau memberi ongkos untuk pergi berobat. Aku merasa sangat bersyukur, seolah Tuhan menggerakkan hati mereka untuk menolongku.Pengobatanku masih panjang dan biaya semakin besar. Saat ini aku membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, membeli tabung oksigen dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Nuh tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Nuh!

Dana terkumpul

Rp. 6.354.000
4 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Berawal dari Jatuh Main Bola, Anak Tukang Bengkel Alami Kanker Nasofaring!

“Semua gara-gara jatuh kecil saat bermain bola, dokter justru menemukan anakku mengalami kanker nasofaring! Dunia seketika runtuh di hadapanku.” “Hari-harinya kini penuh rasa sakit. Ia menahan sakit kepala hebat yang tak pernah reda, siang dan malam tanpa jeda. Lehernya tidak bisa menoleh ke kiri dan kanan, mulutnya tidak bisa mangap, penglihatannya mulai rabun, dan badannya kaku hingga tak bisa berjalan. Hatiku terasa hancur setiap detik tiap melihatnya…” -Sopiah, Orang tua Fariq-Muhammad Al Fariq Komarudin (14 thn) pulang ke rumah sambil memegangi kepalanya, mengeluh kesakitan. Dengan suara lirih, Ia berkata bahwa ia terjatuh saat bermain bola. Aku sangat cemas dengan apa yang dia alami dan langsung membawanya ke tukang pijat.Namun, sudah 5 kali dipijat dan 3 kali ke pengobatan alternatif, tapi tak ada perubahan. Sementara itu, anakku terus menangis menahan sakit di seluruh tubuhnya. Aku ingin sekali membawanya ke rumah sakit, tapi kami tidak punya uang.Setiap kali melihatnya meringis, aku merasa seperti seorang ibu yang gagal melindungi anaknya. Hari demi hari, kekhawatiranku semakin menjadi. Apa pun akan aku lakukan demi membawanya berobat. Dengan sisa keberanian yang kupunya, aku meminta bantuan pada kader desa. Syukurlah, anakku mendapat bantuan sehingga bisa dibawa ke rumah sakit.3 minggu dirawat di rumah sakit, kenyataan pahit itu akhirnya terungkap. Ternyata semua rasa sakit itu berasal dari kanker yang tumbuh di belakang rongga hidungnya! Hatiku bagai diterjang ombak besar. Mengapa anakku? Mengapa keluarga kecil kami yang serba kekurangan harus menghadapi cobaan seberat ini?Sejak saat itu, hidup anakku penuh dengan perjuangan. Ia bolak-balik rumah sakit, menjalani operasi, 16 kali kemoterapi, 33 kali radiasi, lalu 24 kali kemoterapi singkat. Meski kondisinya kini lebih baik, tapi Ia masih sering demam, sakit kepala, nyeri sendi, dan batuk.Anakku terpaksa kehilangan masa remajanya. Ia tidak bisa sekolah seperti teman-temannya. Padahal, Ia punya mimpi besar untuk masuk pesantren, ingin menjadi anak yang sukses dan membahagiakan orang tuanya. Tapi penyakit ini mencuri impiannya.Aku selalu memberinya semangat, bahwa kelak Ia bisa sekolah pesantren jika sembuh.  Tapi jauh di dalam hati, aku pun sedang berjuang menahan air mata, karena kondisi ekonomi kami sudah di ambang batas untuk terus membiayai pengobatannya.Suamiku bekerja sebagai buruh bengkel, mengambil pekerjaan apa pun yang ada demi menambah pemasukan. Tapi gajinya hanya cukup untuk makan sehari-hari, sementara kami harus menghidupi empat orang anak. sekadar ongkos ke rumah sakit saja, aku sering meminjam uang dari saudara atau makan seadanya. Di luar itu, anakku masih membutuhkan obat yang tak ditanggung BPJS, susu, vitamin, dan kebutuhan lain yang tidak bisa kami abaikan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Fariq tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup  Fariq!

Dana terkumpul

Rp. 18.132.491
1 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Terjatuh dan Pingsan Sendirian di Rumah, Pak Edison Berjuang Melawan TB Paru

“Cobaan ini terasa begitu berat. Baru sembilan bulan lalu, aku kehilangan istriku tercinta yang wafat setelah berjuang panjang melawan kanker rahim.  Disaat aku masih berusaha bangkit dari kehilangan itu, aku justru didiagnosa sakit paru-paru.”“Ketika sakitku kambuh, aku bisa terkapar hingga tak sadarkan diri. Ironisnya,  tanpa ada seorang pun yang tahu, aku hanya tergeletak sendiri di rumah menahan sesak napas.  Jarak rumah ke rumah sakit mencapai 50 km, sementara aku tak lagi memiliki biaya dan kekuatan fisik untuk berobat.”Perkenalkan, aku Edison Purba (60 thn). Penyakit yang menyerang pernapasanku ini mulai muncul ketika usiaku 53 tahun. Awalnya, aku tidak terlalu memikirkan keluhan sesak napas yang sering datang. Toh, aku masih bisa beraktivitas seperti biasa. Namun seiring waktu, sesak napasku semakin parah. Setiap malam, rasanya seperti ada yang mengganjal di dadaku setiap kali menarik napas. Melihat kondisiku yang terus memburuk, almarhumah istriku saat itu tidak tega dan langsung membawaku ke rumah sakit. Disanalah dokter mendiagnosaku mengalami TB Paru.Seminggu aku dirawat di rumah sakit, akhirnya aku menjalani operasi bikroskopy untuk melihat kondisi paru-paruku. Tapi sampai sekarang, kondisiku masih lemah, napasku berat, dan aku tetap memerlukan perawatan. Aku tidak lagi mampu bekerja seperti dulu.Alat bantu oksigen kini menjadi sahabat yang selalu menempel di hidung dan mulutku. Hanya dengan itu aku bisa bernapas.  Hidupku serba terbatas, bahkan motor butut peninggal almarhumah istriku, satu-satunya kenangan yang masih ada, terpaksa kujual untuk biaya berobat. Selama ini, untuk kebutuhan sehari-hari, aku hanya bergantung pada bantuan anak dan tetangga yang iba melihat keadaanku. Warga sekitar sering mengantarkan makanan dan minuman saat aku tak mampu apa-apa selain berbaring pasrah di rumah.Aku benar-benar kebingungan untuk biaya pengobatanku. Saat ini aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Edison tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Edison!

Dana terkumpul

Rp. 2.984.001
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Dukung Flying Doctor untuk Menjangkau Kesehatan Masyarakat di Pedalaman

Sebagian wilayah pedalaman Indonesia masih mengalami tantangan besar terhadap akses layanan kesehatan. Banyak masyarakat yang tinggal di wilayah terpencil sulit untuk mendapatkan akses ke fasilitas kesehatan yang memadai. Flying Doctor atau Dokter Terbang merupakan suatu inisiatif yang dibentuk untuk memberikan pelayanan kesehatan yang cepat dan tepat kepada masyarakat di daerah terpencil yang susah terjangkau. Beberapa tempat yang menjadi daerah prioritas program Dokter Terbang yaitu: 1. Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, Oktober 2024 2. Luwu Utara, Sulawesi Selatan, November 2024 3. Rote Ndao, NTT, November 2024 4. Kepulauan Aru, Maluku, Desember 2024Dari keempat wilayah tersebut dengan berbagai isu kesehatan di wilayah pedalaman Indoensia, doctorSHARE berdedikasi untuk memberikan akses kesehatan yang efisien danlengkap kepada masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan terisolasi di Indonesia melalui program Flying Doctor.Tim Dokter Terbang kami terlibat langsung dalam memberikan bantuan medis darurat, melakukan kampanye kesehatan, dan menyediakan pelayanan kesehatan bagi 500 pasien untuk satu lokasi yang sulit dijangkau oleh sistem kesehatan konvensional.Dukungan dan perhatian sahabat dapat membantu program kami untuk menyediakan: 1. Peralatan Medis : Peralatan medis modern dan dapat diandalkan untuk memberikan diagnosis dan perawatan yang tepat kepada pasien. Serta memastikan bahwa kami memiliki persediaan obat-obatan yang cukup. 2. Pendidikan dan Pelatihan : Pelayanan medis 500 pasien, 10 opersi mayor, 20 operasi minor, 50 pemeriksaan USG dan antenatal. Serta pelatihan dokter kecil di setiap lokasi. 3. Operasional Lapangan : Biaya operasional termasuk transportasi udara, logistik medis, dan administrasi lapangan. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk memastikan kelancaran operasi di lapangan, sehingga kami dapat merespons dengan cepat dan efisien dalam setiap situasi darurat#TemanBaik bisa ikut kontribusi membangun RSA dr Lie Dharmawan II, dengan cara Donasi Sekarang di bawah ini

Dana terkumpul

Rp. 5.957.003
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Penyakit Kronis Bersarang di Tubuh Ridwan

“Hatiku hancur! Setiap langkah menuju kesembuhan anakku selalu dihantui dengan ujian baru. Setelah berhasil menaklukkan sakit jantung yang hampir merenggut nyawanya, kini Ridwan dinyatakan gagal ginjal stadium akhir!” Muhammad Ridwan (14 thn), bukan hanya anak laki-laki satu-satunya di keluarga yang paling disayangi ibunya, tapi juga satu-satunya yang paling berjuang untuk meraih kata ‘sembuh.’ Awalnya saat usia 10 tahun, Ridwan mengalami sesak nafas.Saat dibawa periksa, dokter mendiagnosa Ridwan mengalami pembengkakan jantung. Tiga tahun Ia berjuang minum obat secara rutin dan bolak-balik rumah sakit, akhirnya Ia dinyatakan sembuh oleh dokter. Bahagia tak terhingga yang dirasakan Ridwan, beban terbesar hidupnya terangkat. Begitupula ibunya, yang sudah hampir merasa lega hingga hal tak diinginkan kembali terjadi.Kondisi kesehatan Ridwan kembali menurun, Ia tiba-tiba sesak nafas disertai muntah darah berwarna pink. Bahkan Ia sampai hilang kesadaran saat dibawa ke rumah sakit. Ternyata gagal ginjal stadium 5 mengintainya! Jantungnya juga sempat dinyatakan bengkak kembali dan paru-parunya terendam. Ia harus mendapat perawatan di ruang PICU. Lantai rumah sakit yang keras dan dingin sering menjadi saksi bisu dari cinta Ibunda Ridwan yang rela menunggu kabar sang anak yang tengah terbaring tak berdaya. Berat sekali hati Ibunya, apalagi Ridwan harus cuci darah tiap 2 kali seminggu! Biaya pengobatan Ridwan semakin berat, Ibunya yang single parent kesulitan finansial. Sementara kondisi Ridwan semakin sering lemas dan pusing. Tidak ada lagi sekolah dan bermain, Ia kini lebih banyak menghabiskan waktu di kasur rumah sakit dengan selang medis tertancap di tubuhnya. Selama ini Ibunya hanya bisa mengandalkan dua anaknya yang lain dalam membiayai pengobatan Ridwan, itupun tak menutupi.  Kadang terpaksa meminjam uang tetangga, kadang tidak makan, menghemat ongkos Ridwan ke rumah sakit. Mencari pekerjaan juga sudah diupayakan, tapi terkendala usia.  Saat ini Ridwan masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu, alat medis dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, mari bantu Ridwan untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!

Dana terkumpul

Rp. 5.389.002
13 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
13 Tahun Anakku Sakit Jantung Tanpa Sepengetahuanku!

Selama 13 tahun aku tak pernah tahu anakku terlahir dengan penyakit jantung! Saat Muhammad Tajuddin Nur (13 thn) lahir, tubuhnya membiru dan ia tidak menangis. Dokter saat itu menduga karena ia menelan air ketuban. Aku pun berusaha percaya bahwa semuanya baik-baik saja.Seiring waktu, perkembangan anakku terasa berbeda. Ia baru bisa berjalan di usia 2 tahun, setiap kali berjalan, bibir, tangan, dan kakinya membiru. Aku sudah membawanya periksa, tetapi dokter mengatakan jantung dan paru-parunya sehat. Hati ini sempat lega mendengar itu, meski sebenarnya aku selalu melihat betapa mudahnya Ia lelah, sering jongkok, kadang sesak napas, demam, bahkan jarinya membiru. Ia tidak bisa bebas olahraga seperti teman-temannya, padahal anakku ingin sekali main sepak bola.Hingga usianya menginjak 13 tahun, aku membawanya periksa di posko kesehatan saat ada acara di kota. Saat itulah kenyataan pahit terungkap: saturasi anakku sangat rendah dan dokter mencurigai adanya kebocoran jantung.Rasanya aku begitu terkejut sampai badanku lemas mendengar di tubuh anakku ada penyakit mematikan. Parahnya lagi, rumah sakit di kota terbatas alat medis dan anakku harus melanjutkan pengobatan di Jakarta. Tabunganku jelas tak cukup, tapi aku tidak bisa menyerah. Akhirnya aku ikut membantu suami mencari nafkah tambahan, dengan jualan ikan di pasar hingga berbagi satu mie instan berdua. Bahkan, aku meminjam uang pada keluarga dan kerabat dekat.Syukur tak terhingga! Perjuangan itu akhirnya membuahkan hasil, aku membawa anakku berobat dari Kalimantan ke Jakarta. Operasi anakku juga berjalan dengan lancar. Kini, kondisinya berangsur pulih dan aku bisa melihat kembali senyum di wajahnya. Namun perjuangan kami belum selesai. Ia masih harus rutin kontrol, membutuhkan biaya untuk transportasi bolak-balik dari Kalimantan ke Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS, peralatan medis untuk membersihkan bekas operasi, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Tajuddin tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Tajuddin!

Dana terkumpul

Rp. 14.303.054
Berakhir
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Anak Kuli Bangunan Sampai Kejang Akibat Penyakit Jantung

“Sesak napas dan kejang-kejang itu sudah menjadi bagian hidup anakku. Tubuhnya yang kecil itu begitu rapuh akibat menanggung derita. Tatapan matanya penuh harap dan keteguhan, itulah yang menguatkanku, aku belajar artinya sebenarnya bertahan dan berjuang.”“Tak usah ditanya bagaimana perjuanganku. Demi anakku, aku rela melakukan apapun, bahkan sampai meminjam uang pada rentenir, hanya agar bisa membawanya berobat dari Lampung ke Jakarta. Saat Ia dirawat di rumah sakit, aku berjuang bukan hanya karena rasa takut kehilangan, tapi juga karena uangku semakin menipis. Aku tidak tahu harus mencari ke mana lagi.” -Jamala Sari, orang tua Aisyah-Ada yang terasa janggal ketika berat badan anakku, Aisyah Humairah (3 thn), mulai menurun saat usianya baru 6 bulan. Ia sering batuk dan flu yang tak kunjung sembuh, kadang juga napasnya terdengar sesak. Tapi aku berusaha menenangkan diri, mencoba berpikir bahwa semuanya akan baik-baik saja.Namun, ketenangan itu hancur ketika Aisyah tiba-tiba demam tinggi dan kejang-kejang. Saat melihat tubuh kecilnya menegang dan wajahnya memucat, aku panik luar biasa. Aku langsung menggendongnya ke rumah sakit dengan air mataku yang terus mengalir. Dalam hati, aku tahu ada sesuatu yang tidak beres.Dan benar saja. Saat dokter mengatakan anakku mengalami jantung bocor, rasanya hidupku bagai diterjang badai. Anakku yang selama ini kupikir hanya flu biasa, ternyata harus berjuang melawan penyakit mematikan.Anakku harus dirawat inap di rumah sakit. Setiap hari aku hanya bisa menangis, memandangi wajah mungilnya yang lemah sambil berdoa agar Tuhan memberinya kekuatan.  Namun, 9 bulan dirawat, tak ada tindakan berarti karena rumah sakit di daerah kami tidak memiliki peralatan untuk operasi jantung.Akhirnya, dengan sisa tenaga dan keberanian, aku meminjam uang ke sana-sini demi membawa Aisyah berobat ke Jakarta. Aku yang pergi membawa harapan, tapi setelah di Jakarta, aku harus menerima kabar buruk lagi. anakku didiagnosa lambung (gerd berat) dan penyakit THT.Kini, anakku masih dirawat di rumah sakit. Ia sering demam dan sesak napas, hidupnya bergantung pada tabung oksigen. Setiap kali jarum suntik menembus kulitnya, aku hanya bisa membelai kepalanya dan berbisik lembut, “sabar ya, Nak, Ibu di sini.”Anakku sedang menunggu jadwal operasi. Namun, aku terkendala biaya selama di Jakarta. Suamiku hanya bekerja sebagai buruh babat rumput dan kuli bangunan harian, penghasilannya sangat terbatas untuk kebutuhan sehari-hari.Sementara itu, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, alat medis, stroller, susu dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Aisyah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Aisyah!

Dana terkumpul

Rp. 2.419.007
1 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Sering Menjerit Kesakitan! Anak Petani Alami Kelainan jantung dan Abses di Otak

“Setiap kali nyeri di dada dan kepala menyerang, tangis anakku menggema memenuhi rumah !Aku hanya bisa memeluknya erat, berusaha menenangkan di tengah kepanikan, sambil terburu-buru membawanya ke rumah sakit.”“Derita yang dialami anakku berasal dari kelainan jantung bawaan dan penumpukan nanah di kepalanya akibat infeksi. Bahkan, rambutnya sampai rontok! Seolah itu menjadi pengingat betapa besar rasa sakit tak tertahankan yang harus Ia tanggung.” -Ainin Husna, Orang tua Aisyah-Dibalik segala keterbatasan ini, aku tidak ingin menyerah! Anakku, Aisyah Fadilla (6 thn), harus bisa sembuh dan ceria lagi seperti dulu. Syukurlah, Ia selalu semangat menjalani pengobatannya, membuat hatiku terasa tenang dan hangat. Bahkan, Ia sudah tidak sabar ingin kembali bersekolah dan bertemu teman-temannya. Mungkin karena Ia seringkali bertemu dokter sejak sakit, Ia jadi selalu mengungkapkan keinginannya menjadi dokter. Kalimat polos itu sering membuatku menangis haru. Padahal, sejak lahir Ia tidak ada tanda-tanda sakit hingga usianya 6 tahun. Penyakit ini datang bagai badai, begitu cepat menghantam. Diawali anakku mengalami demam tinggi, sesak napas, badannya mulai membiru dan sakit kepala. Setelah ketahuan sakit jantung dan abses serabi di otak, dokter mengatakan jalan satu-satunya anakku untuk sembuh hanyalah operasi. Kondisi anakku sangat lemah, hingga aku harus membawa anakku berobat ke Jakarta. Kebun dan sawah saya jual demi membawa putriku dari Aceh ke Jakarta. Ia sudah menjalani kateterisasi jantung, sedangkan operasinya besar akan dilakukan dalam waktu dekat. Namun, aku terkendala biaya karena aku tidak bisa mencari nafkah selama di perantauan.Aku merupakan seorang ibu sekaligus single parent yang harus menghidupi 4 orang anakku. Sehari-hari aku bekerja sebagai buruh tani cabai dan mencuci baju. Itupun aku tidak bisa mendapatkan upah kalau hujan deras. Seringkali aku menahan lapar demi anakku, karena uang hasil menjual harta sudah hampir habis. Sementara Aisyah masih harus menjalani dua operasi besar, yaitu operasi jantung dan kepalanya. Belum lagi operasi lanjutan lainnya kelak.Anakku masih membutuhkan biaya untuk ongkos ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Aisyah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Aisyah!

Dana terkumpul

Rp. 15.217.500
1 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Wujudkan Rumah Sakit Apung Nusa Waluya II (RSA 3)

Rumah Sakit Nusa Waluya II merupakan Rumah Sakit Apung ketiga doctorSHARE yang mana rumah sakit berbentuk tongkang pertama di dunia dan menjadi fasilitas perawatan kesehatan tingkat lanjut di seluruh kepulauan Indonesia salah satunya Kepulauan Papua di tahun 2024.Rumah sakit ini dapat merawat pasien yang membutuhkan perhatian medis khusus yang dirujuk ke rumah sakit apung oleh Puskesmas setempat. Hal ini akan terkoordinasi dengan baik dengan sistem kesehatan lokal dengan memanfaatkan fasilitas RSA Nusa Waluya II yang lebih lengkap.RSA Nusa Waluya II dirancang dengan tujuan program pelayanan jangka panjang, bisa menyediakan layanan kesehatan primer serta lanjutan, dan melaksanakan program pemberdayaan masyarakat serta tenaga medis setempat. Dengan fasilitas setara rumah sakit Tipe C di darat, masyarakat setempat dapat mendapatkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan dekat dengan tempat wilayah merekaPada pelayanan medis selanjutnya RSA Nusa Waluya II akan mendukung fasilitas kesehatan milik pemerintah di daerah yaitu Kepulauan Yapen Papua. Akses perawatan lanjutan semakin mudah dan perawatan primer seperti Puskesmas akan diperkuat perannya dengan keberadaan RSA Nusa Waluya II.Bantuan dan perhatian anda akan sangat berdampak bagi 6.000 pasien wilayah tersebut melalui implementasi RSA Nusa Waluya II untuk menyediakan:1. Peralatan Medis dan Fasilitas : Pemeliharaan dan perbaharuan peralatan medis, termasuk peralatan diagnostik, alat bedah, dan perlengkapan medis lainnya.2. Tenaga Medis dan Pelatihan : Pelayanan medis 6000 pasien, 100 operasi mayor, 200 operasi minor, 100 pemeriksaan USG dan antenatal. Serta pelatihan dokter kecil dan tenaga kesehatan di setiap lokasi.3. Operasional Lapangan : Biaya operasional seperti transportasi laut, logistik medis, dan administrasi harian untuk memastikan Rumah Sakit Apung dapat beroperasi dengan efisien dan responsif terhadap kebutuhan mendesak komunitas dilayani#TemanBaik bisa ikut kontribusi membangun RSA dr Lie Dharmawan II, dengan cara Donasi Sekarang di bawah ini 

Dana terkumpul

Rp. 11.223.019
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Mulut Alicia Terus Mengeluarkan Darah Akibat Operasi Jantungnya Gagal!

“Operasi jantung anakku gagal! Akibatnya, Ia sering mengalami pendarahan yang keluar dari mulutnya di tengah napasnya yang sesak. Dokter menyarankan anakku cek kromosom, tapi apa daya, biaya untuk itu belum sanggup kupenuhi.”“Setiap hari, air mataku menjadi saksi betapa berat perjuangan anakku melawan sakit. Dalam setiap helaan napasnya yang lemah, aku hanya bisa memanjatkan doa, semoga ada pertolongan untuk melanjutkan pengobatan. Aku ingin melihatnya tersenyum tanpa rasa sakit…” -Puji Lestari, Orangtua Alicia-Saat Alicia Alessandra Manulang (2 thn) lahir, aku kira semua baik-baik saja. Dokter bilang anakku terlahir sempurna, tidak ada cacat sedikitpun. Namun, tak lama kemudian, aku terkejut mendapati  tubuhnya mulai menguning. Saat dibawa ke dokter, anakku dinyatakan mengalami infeksi pusar dan harus dirawat di inkubator. Sejak itu, hari-hariku berganti dengan tangis dan doa tanpa henti. Namun, kenyataan menghantamku lebih keras dari yang kubayangkan. Alicia  didiagnosa down syndrome, jantungnya bocor 1,7 mm, dan mengalami gizi buruk! Terpukul sekali rasanya, apalagi aku tahu, aku tak memiliki cukup biaya untuk pengobatannya. Sebagai ibu, tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat anak sendiri menderita, sementara aku tak mampu memberi yang terbaik, bahkan untuk membeli susu khusus pemulihan gizinya aku tak mampu.Suamiku hanya seorang sopir antar-jemput anak sekolah, dan aku tak bisa bekerja karena harus merawat Alicia dan kakaknya yang masih duduk di kelas 1 SD. Namun dibalik semua lelah dan air mata, aku tak pernah berhenti berjuang.Anakku merupakan satu-satunya yang menguatkanku dalam menghadapi hidup yang berat ini. Aku melihat semangat hidup yang luar biasa. Meski tubuhnya lemah, Alicia selalu berusaha tersenyum dan tetap aktif. Ia juga selalu semangat mengikut terapi untuk perkembangannya. Aku yakin Ia bisa sembuh!Kapan pun ada kesempatan, aku mencoba mencari uang tambahan dengan menjualkan dagangan orang lain. Hasilnya memang tak seberapa, tapi bagiku itu adalah harapan untuk anakku. Operasi keduanya harus segera dilakukan, namun lagi-lagi biaya menjadi dinding besar yang sulit kutembus.Bahkan untuk kontrol rutin dari Jakarta Timur ke Jakarta Barat saja, aku sering harus meminjam uang dari keluarga atau teman. Belum lagi untuk obatnya yang tidak dicover BPJS, susu khusus, alat bantu pernapasannya dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Alicia tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Alicia!

Dana terkumpul

Rp. 14.993.500
Berakhir
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Alami Autoimun yang Menyerang Saraf, Iqbal Sampai Tak Bisa Berjalan

“Aku sangat putus asa setiap kali hujan turun dengan deras, karena aku hanya mampu meringkuk di atas kasur sambil menahan sakit. Kakiku tak bisa berdiri lama akibat mengalami autoimun langka yang menyerang saraf dan menyebabkan kelemahan otot.”“Sementara itu, biaya menyewa mobil terasa sangat berat. Namun, tanpa pengobatan, aku bisa terancam lumpuh! Pada akhirnya, aku hanya bisa pasrah menanti  keajaiban dan pertolongan dari situasiku yang tak berdaya ini.”Perkenalkan, aku Muhammad Iqbal (31 thn). Hidupku berubah sejak penyakit yang menggerogoti tubuhku ini muncul saat aku merantau dan bekerja di Malaysia. Awalnya tubuhku terasa lemas, pinggang dan pahaku sering nyeri, kaki sering kesemutan.Sempat aku mengira semua gejala sakit yang aku alami hanya kelelahan biasa. Namun hari demi hari, kondisiku semakin memburuk.Tiba-tiba kaki dan tubuhku kehilangan kekuatan! Sekedar berdiri saja, aku harus berjuang keras. Sedangkan berjalan jauh, sangat mustahil rasanya. Akhirnya aku berobat ke dokter, tapi kemampuan biayaku sangat terbatas di negara orang. Akhirnya, dengan hati yang berat, aku dipulangkan ke kampung halamanku di Aceh oleh Persatuan Anak Aceh di Malaysia,agar bisa melanjutkan pengobatan di tanah air.Sekarang aku sedang fokus menjalani terapi dan pengobatan rutin. Tapi penyakit ini sering kambuh, membuatku sulit untuk beraktivitas. Satu-satunya keinginanku adalah kembali sehat, agar bisa bekerja lagi, tapi biaya pengobatan membuatku kesulitan.Sebelumnya saya bekerja di tempat spa di Malaysia, selama ini pengobatanku dari tabungan hasil bekerja dan sudah habis hanya dengan beberapa bulan pengobatan. Sementara aku masih butuh biaya transportasi ke rumah sakit, membeli obat dan vitamin yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Iqbal tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Iqbal!

Dana terkumpul

Rp. 970.001
8 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Alami Lumpuh Otak dan Mikrosefali, Anak Saya Tidak Bisa Aktivitas Apapun

“Dokter bilang kemungkinan sembuh anak saya kecil, tapi setidaknya pengobatan mengurangi rasa sakit yang Ia derita. Rasa frustasi dan rapuh sudah saya telan dalam perjalanan saya untuk memperjuangkan kesembuhan anak saya selama 5 tahun terakhir. Saya masih menggantungkan harapan saya kepada mukjizat, suatu hari saya ingin melihat anak saya bisa mandiri dan  bisa berbicara agar saya tahu apa yang Ia rasakan dan Ia inginkan.” -Desi Lestari, Orang Tua Dafa-Tak pernah saya sangka sebelumnya, ternyata Tuhan menitipkan saya anak spesial ini. Muhammad Dafa Perdana (5 thn), buah hati yang sejak kecil membuat saya dan keluarga heran dengan kondisinya. Ia tampak berbeda, tidak ada perkembangan sama sekali seperti anak pada umumnya.Di usianya yang sudah 3 bulan, Dafa tidak bisa tengkurap dan lehernya belum bisa tegak. Saat dibawa ke dokter, hasilnya menunjukkan anak saya mengalami kelumpuhan otak dan kondisi kepalanya berukuran lebih kecil dari anak normal.Pantas saja tumbuh kembangnya terganggu, ternyata otaknya juga tidak berkembang.Hingga saat ini Ia tidak bisa berjalan, duduk, maupun bicara seperti anak seusianya. Ia hidup hanya untuk berbaring, tanpa bisa melakukan aktivitas apapun. Tanpa ada orang lain di sekelilingnya, Dafa tidak bisa hidup karena semua aktivitasnya membutuhkan bantuan. Makan dan minum harus disuapi, buang air kecil maupun besar dilakukan di atas kasur menggunakan pampers. Ia juga sangat kurus, mungkin tidak selera karena hanya bisa mengkonsumsi makanan yang lunak saja. Bahkan berat badannya hanya 7 Kg, Ia harus minum susu khusus untuk menambah berat badannya. Terkadang Ia juga sering mengalami kejang.Tapi saya sebagai orang tua selalu memperjuangkan kesembuhan anak. Saya selalu rutin membawa anak fisioterapi dengan harapan agar Dafa suatu saat bisa berkembang dan beraktivitas secara mandiri. Namun saya terkendala biaya untuk anak saya terapi wicara, dia juga butuh alat bantu dengar, membeli susu khusus, pampers, serta vitamin.Suami saya hanya bekerja sebagai satpam, tapi kalau lagi libur biasanya menjalani pekerjaan tambahan sebagai pengemudi ojek. Namun, motor juga sudah dijual karena untuk pengobatan anak yang berkebutuhan khusus. Jadi, kadang pinjam motor tetangga yang menganggur untuk berupaya mencari tambahan biaya.#TemanBaik, mari bantu Dafa untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!

Dana terkumpul

Rp. 11.571.000
14 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Pendidikan
Hidup dengan Ayahnya yang Sakit-sakitan, Antonius Terancam Putus Sekolah!

“Sekolah terus, Nak, jangan pikirkan Bapak, suatu hari nanti hidupmu akan lebih baik.” Antonius Harefa (14 thn) terancam putus sekolah! Sejak ibunya meninggal, Ia hanya hidup berdua dengan ayahnya yang kini sakit-sakitan. Setiap hati Ayahnya harus membuat pilihan menyakitkan,  antara membeli obat, atau membiayai uang sekolah Antonius yang lama menunggak.Tentu, beban hidup itu pernah sesekali mematahkan hati dan semangat Antonius. Bayangkan saja, Ia berangkat sekolah dengan seragam robek dan sepatu bolong. Belum lagi, Ia sangat malu karena tunggakan sekolahnya semakin menumpuk. Namun ia tetap datang, meski hatinya selalu dihantui rasa takut dipanggil pihak sekolah. Saat ini Antonius duduk di bangku kelas 3 SMP Swasta Rido Balaekha Cemerlang, Nias Selatan, Sumatera Utara. Setiap hari, berjalan kaki sejauh 3 kilometer untuk sampai ke sekolah. Bahkan, saat hujan deras pun, Ia terjang dengan sandal jepitnya yang sudah tipis, demi tidak menyia-nyiakan hari sekolahnya. Segala keterbatasannya tidak pernah membuat Antonius berhenti mencetak prestasi. Ia pernah juara 1 lomba solo vocal dan menjadi juara 2 membaca puisi.  Di sekolah, ia dikenal sebagai anak yang jujur, rajin, dan selalu membantu teman-temannya yang kesulitan belajar.Sejak kecil, Antonius memang suka mengajari orang lain. Ia selalu mengingat pesan almarhum ibunya yang bermimpi melihat putranya menjadi seorang guru suatu hari nanti. Setiap kali ia membantu temannya memahami pelajaran, semangat itu seperti kembali hidup.Namun, kondisi penyakit Ayahnya semakin parah hingga tak bisa lagi bekerja.  Dulu, ayahnya membanting tulang sebagai pencetak batu bata dan mencari tambahan dengan mengumpulkan biji pinang dari kebun untuk dijual. Kini, Ayahnya hanya mengandalkan uluran tangan tetangga untuk sekedar bertahan hidup. Sedangkan uang sekolah Antonius terus menumpuk, Ia juga butuh membeli peralatan untuk menunjangnya sekolah.#TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa membantu Antonius untuk melanjutkan sekolah dan mengejar cita-citanya menjadi guru. Yuk, Klik Donasi Sekarang di bawah ini untuk membantu Antonius!

Dana terkumpul

Rp. 2.182.001
5 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Rumah Sakit Apung dr. Lie Dharmawan Terus Berlayar

Sebagai bagian dari misi kemanusiaan doctorSHARE, kami dengan bangga menghadirkan program Rumah Sakit Apung untuk mendukung pelayanan kesehatan di daerah 3T (terluar, tertinggal, dan terdepan di Indonesia). Program ini dirancang khusus untuk memberikan akses medis yang memadai kepada komunitas-komunitas yang sulit dijangkau oleh sistem kesehatan konvensional. Dengan isu kesehatan yang beragam dan tingkat kesulitan akses ke fasilitas kesehatan yang tinggi, maka doctorSHARE melalui Program Rumah Sakit Apung membuat alternatif solusi yang inovatif dan terjangkau dalam rangka menghadirkan layanan kesehatan yang merata di wilayah rentan. Beberapa wilayah tersebut yang menjadi tujuan program layanan kesehatan RSA dr Lie Dharmawan II yaitu: 1. Kepulauan Manui, Morowali, Sulawesi Tengah 2. Kepulauan Sinjai, Sulawesi Selatan 3. Kaledupa, Wakatobi, Sulawesi TenggaraDari beberapa tempat di atas merupakan wilayah kepulauan prioritas kami untuk mendapatkan fasilitas pelayanan kesehatan dikarenakan beberapa isu kerentanan yang layak untuk mendapatkan bantuan. Bantuan dan perhatian anda akan sangat berdampak bagi 1.000 pasien wilayah tersebut melalu operasi RSA dr. Lie Darmawan II untuk menyediakan: 1. Peralatan Medis dan Fasilitas : Pemeliharaan dan perbaharuan peralatan medis, termasuk peralatan diagnostik, alat bedah, dan perlengkapan medis lainnya.2. Tenaga Medis dan Pelatihan : Pelayanan medis 1000 pasien, 10 operasi mayor, 20 operasi minor, 50 pemeriksaan USG dan antenatal. Serta pelatihan dokter kecil di setiap lokasi. 3. Operasional Lapangan : Biaya operasional seperti transportasi laut, logistik medis, dan administrasi harian untuk memastikan Rumah Sakit Apung dapat beroperasi dengan efisien dan responsif terhadap kebutuhan mendesak komunitas dilayani#TemanBaik bisa ikut kontribusi membangun RSA dr Lie Dharmawan II, dengan cara Donasi Sekarang di bawah ini 

Dana terkumpul

Rp. 30.342.047
12 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Di Balik Senyumnya, Raihanah Menahan Sesak Akibat Jantung Bocor

“Kondisi anakku perlahan membaik setelah operasi jantung pertamanya. Aku merasa Ia adalah mukjizat, karena tidak pernah sekalipun Ia mengeluh tentang sakit yang dialaminya. Sebaliknya, kekhawatiranku selalu Ia sambut dengan senyuman.”“Meski suamiku hanya pedagang sayur yang penghasilannya pas-pasan, aku tidak akan menyerah demi kesembuhan anakku. Aku tidak sanggup terus-menerus melihatnya menderita setiap detik, hanya untuk sekedar bernapas…” -Selvia, Orang tua Raihanah-Jika dilihat sekilas, anakku, Raihanah Yuriko (6 thn), terlihat seperti anak yang sehat dan sangat ceria. Ya, Ia bermain dan tertawa dengan teman-temannya. Namun, setelah itu, hanya aku yang melihat betapa tersiksanya Ia menahan sesak napas hingga kejang tak terkendali.Penyakit ini mulai menghantui hidup anakku sejak usia 1 tahun. Ia tiba-tiba sering batuk tanpa henti. Saat kubawa ke puskesmas, dokter menemukan jantung anakku sangat berisik seperti kelainan jantung. Ucapan itu seolah menghantamku, rasa takut menguasaiku.Sejak itu, aku tak pernah berhenti memperhatikannya. Setiap hari, berulang kali kutempelkan tanganku ke dadanya, berharap apa yang dikatakan dokter keliru. Namun yang kurasakan justru detak jantungnya terasa lebih cepat dari normal. Perlahan, kuku anakku juga mulai tampak kebiruan.Aku akhirnya membawanya ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Dokter mengatakan anakku jantung bocor dan operasi jantung ke Jakarta. Seluruh isi kepalaku langsung penuh kekhawatiran, bukan hanya tentang kondisinya, tetapi juga biaya pengobatannya.Segala barang berharga aku jual. Tabunganku yang jumlahnya tak seberapa, aku relakan demi bawa anak berobat dari Sumatera Utara ke Jakarta. Itulah awal mula anakku menjalani operasi pertamanya, dan kini Ia sudah menjalani operasi bedah jantung.Kini, anakku tidak bisa banyak beraktivitas dan terlalu lelah. Jantungnya sering berdebar kencang, telapak tangan dan kakinya basah oleh keringat dingin. Kondisinya membuatku ketakutan setiap kali Ia akan ke bersekolah. Pengobatan anakku masih harus terus berlanjut, anakku masih butuh biaya untuk transportasi ke rumah sakit di luar kota, obat yang tidak dicover BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Raihanah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Raihanah!

Dana terkumpul

Rp. 6.796.000
6 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Warga Panik! Gunung Semeru Meletus Hingga Berstatus Siaga

“Gunung Semeru kembali meletus! Kali ini, ledakannya sangat menggelegar, hingga awan panas menggumpal tinggi dan menyebar cepat hingga sejauh 8,5 Km.”“Warga yang awalnya hanya memandang dari jauh, tiba-tiba diliputi kepanikan ketika abu pekat bergerak mendekat menelan langit.  Warga berlarian dan menjerit histeris, memanggil anggota keluarga yang terpisah agar menyelamatkan diri. Kepanikan masal itu membuat situasi semakin mencekam.”Letusan gunung tertinggi di Pulau Jawa ini terjadi pada Rabu (19/11/2025) pukul 16.00 WIB. Dalam sekejap, kedamaian para saudara kita yang tinggal di sekitar lereng gunung lenyap.Para ahli dari MAGMA Indonesia juga merekam dugaan awan panas guguran yang terus berlangsung, bahkan setelah erupsi awal. Kini, gunung yang berada di Jawa Timur ini telah berubah status, dari Level II (Waspada) naik menjadi Level III (Siaga).Peringatan keras dikeluarkan, yaitu masyarakat dilarang beraktivitas dan mendekati area dalam radius 2,5 kilometer dari puncak. Hal itu karena risiko batu pijar dapat meluncur kapan pun dan bisa mengancam nyawa.Selain itu, warga diminta ekstra waspada terhadap potensi awan panas, aliran lava, dan lahar yang dapat mengalir melalui sungai-sungai berhulu Semeru. Di mana sungai-sungai tersebut diantaranya Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, termasuk anak-anak sungainya.Begitulah teror yang dirasakan sejuta nafas di lereng Semeru. Rumah-rumah mereka tertutup debu, napas menjadi sesak, dan ketakutan membayang di mata anak-anak. Suara sirine peringatan menggema di udara, dan banyak yang langsung naik ke tempat yang lebih aman.Situasi ini bukan lagi sekadar bencana alam. Ini adalah krisis kemanusiaan yang terjadi di depan mata kita. Di tengah kepanikan itu, kita bisa memberikan mereka harapan dan bantuan berupa sembako, obat-obatan, masker debu, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, Rp100 ribu kita bisa membuat para warga di sekitar Gunung Semeru tidak merasa sendiri. Mari beri mereka harapan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!

Dana terkumpul

Rp. 3.032.000
6 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Lihat Semua
  Lihat Semua Campaign