Benihbaik x Grab Indonesia
Salurkan donasi anda ke campaign-campaign di bawah ini
Campaign Pilihan Hari Ini
Ayo! Rutin Bersedekah Subuh
BenihBaik
Ayo Bantu Wakaf Quran Untuk Para Penghafal Quran
gie gie
Nyawanya Terancam! Dareen Harus Segera Operasi Jantung ke Jakarta
Vera Anggraini
Pilihan Benihbaik
Panggilan Mendesak
Waktu mereka tidak banyak, mereka sangat membutuhkan bantuan kalian
Kepalanya Terbentur Hingga 7 Kali! Daljiro Alami Pembengkakan Otak
“Kepala anakku terbentur sebanyak 7 kali akibat jatuh! Akhirnya Ia mengalami epilepsi GTC dan trauma kepala.”“Hatiku sudah hancur, tapi lebih hancur lagi saat aku terpaksa membawanya pulang diam-diam tanpa sepengetahuan rumah sakit. Aku benar-benar sudah tak sanggup membayar tagihan rumah sakit. Ya Allah, semoga ini terakhir kalinya anakku tak bisa mendapat pengobatan yang seharusnya....” -Wahyu, Ayah Daljiro-Saat usia 1,5 tahun, Daljiro El Jaler Anditya (3 thn) terjatuh hingga kepalanya terbentur 2 kali. Selang 2 jam setelahnya, Ia tidak bisa berjalan normal, langkahnya oleng, tubuhnya tak stabil, hingga Ia lagi-lagi kembali terjatuh dan kepalanya terbentur berulang kali. Aku panik dan ketakutan, apalagi setelah itu anakku mengalami kejang-kejang tiap setengah jam. Dokter bilang ada pembengkakan di otak anakku dan kemungkinan harus dioperasi. Seketika tubuhku lemas mendengar kabar buruk itu, tapi aku juga tak berdaya. Sempat aku bersyukur, anakku tak perlu melakukan operasi karena pembengkakan di kepala anakku mereda berkat minum obat. Tapi ternyata, obat yang menyembuhkan otaknya sangat keras hingga merusak organ hati dan ginjalnya.Sejak itu, anakku hidup dalam kondisi rentan dan harus dalam pengawasan. Ia bisa kejang sewaktu-waktu dan emosinya menjadi tidak stabil. Ia juga tidak boleh kelelahan dan tidak bisa beraktivitas seperti anak lainnya. Prihatin sekali melihat kondisi anak.Meski begitu, anakku tak pernah menyerah. Ia selalu hafal jam minum obatnya, bahkan Ia sering mengingatkanku untuk minum obat. Tapi biaya pengobatannya terus membengkak, bahkan kami terpaksa mengundur saat anak butuh cek saraf. Aku hanya seorang buruh bangunan dengan penghasilan Rp70 ribu perhari. Kadang aku juga membantu membersihkan tempat ibadah dan jaga malam, demi bisa sekedar bisa beli beras. Bahkan, aku pernah menjual baju yang kupakai demi pengobatan anak.Sementara anak harus berobat rutin ke rutin dari Pacitan ke rumah sakit di Yogyakarta, minum obat rutin, obat yang tidak dicover, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, Daljiro butuh kita sekarang. Ayo bantu lanjutkan pengobatannya, klik Donasi Sekarang sebelum terlambat!
Dana terkumpul
Berbagi Beras Gratis untuk 50 Lansia di Daerah Pekanbaru
Adanya pembatasan import dan fenomena El Nino berkepanjangan, berdampak pada menurunnya produksi beras sejak Agustus 2023. Situasi ini menyulitkan lansia duafa, yang untuk makan sehari-hari saja mereka masih kesusahan. Hai TemanBaik,Beras yang menjadi makanan pokok kita, nyatanya nggak bisa didapatkan dengan mudah. Khususnya bagi TemanKita yang hidup dalam himpitan ekonomi. Siapakah yang paling terdampak dari kelangkaan dan kenaikan harga beras ini? Tentu mereka adalah lansia duafa yang hidup serba kekurangan, bahkan dalam kondisi normal untuk makan sekalipun sangat sulit.Mereka nggak pernah bingung dan bertanya “enaknya pesan makanan apa?”. Yang mereka pikirkan adalah “Besok ada beras atau tidak ya?” Kondisi ini tentu menyedihkan untuk kita yang masih bisa mendapatkan makanan dengan mudah. Maka dari itu, kami Berbagi Takkan Rugi sebagai komunitas ingin menunjukkan kepedulian kepada sesama terutama kepada orang-orang yang membutuhkan bantuan.Kali ini, kamu akan membagikan beras gratis untuk lansia duafa sebanyak kurang lebih 50 orang di daerah Pekanbaru. Gerakan kebaikan ini tentunya nggak bisa berjalan dengan baik tanpa adanya bantuan dan dukungan dari TemanBaik. Semakin banyak yang mendukung kegiatan ini, akan semakin banyak pula lansia duafa yang terbantu. Untuk TemanBaik yang mau membantu pengadaan beras dapat menyalurkannya dengan cara klik Donasi Sekarang ya!
Dana terkumpul
Berbagai Penyakit dan Gizi Buruk Mengintai Queenzha, Ia Harus Operasi
Di usianya yang masih 2 tahun, Queenzha Elshanum Maizurra menanggung diagnosa:Hisprung, penyempitan antara usus dan anus.Virus Toxoplasma, virus yang bisa menyebabkan infeksi pada tubuh.Mikrosefali, pengecilan otak bawaan dari infeksi virus Toxoplasma.Skoliosis, yaitu pembengkokan tulang belakang 52 derajat.Pergeseran tulang panggul kiri dan kanan.Gangguan pendengaran sebelah kanan 90 dB tidak terdeteksi dengan tes bera.Gangguan penglihatan kedua mata di titik tengah retina, kata dokter menyisakan bekas luka infeksi akibat dari infeksi virus Toxoplasma.Kedua kaki yang belum bisa bergerak aktif.Keterlambatan tumbuh kembang.Aku Liza Pimi (32 thn), Ibu dari Queenzha. Sejak lahir, perut anakku sudah membengkak dan napasnya sesak akibat penyakit hisprung. Ia harus menajalani operasi, ususnya harus dipotong hingga 7 cm dan Ia harus BAB melalui perutnya yang dilubangi sementara. Setiap tangisnya selepas operasi seperti torehan luka di hatiku. Namun siapa sangka, justru tangisan itulah yang akhirnya kurindukan. Setelah operasi, anakku kehilangan suara akibat mengalami kelemahan otot. Rumah menjadi sunyi yang begitu pilu. Anakku sudah melewati banyak tindakan medis, mulai dari biopsi, periksa mata dalam bius, EEG, endoskopi dan lainnya. Rasanya terlalu banyak untuk anak sekecil dia. Namun, yang aku syukuri adalah suara anakku mulai terdengar kembali meski belum bisa berbicara.Hanya berbaring saja yang bisa dilakukan anakku, kakinya belum bisa bergerak. Ia mengalami gizi buruk yang berakibat tidak bisa operasi lanjutan penutupan lubang di perutnya, karena berat badannya tak mencukupi. Rasanya aku gagal dan merasa bersalah, karena tidak bisa memberi nutrisi yang cukup.Sementara itu, aku terlilit hutang karena biaya pengobatan anak sangat besar, apalagi aku harus membawanya berobat dari Bengkulu ke Jakarta. Suamiku hanyalah buruh harian lepas yang penghasilannya tak menentu, bekerja dari pagi hingga malam, bahkan menjadi tukang parkir jika perlu.Ada hari di mana kami hanya bisa menatap alat medis dan susu dari balik etalase, tak mampu membelinya. Aku sudah berupaya menjual kendaraan juga, tapi pengobatan tak bisa berhenti. Anakku juga masih membutuhkan biaya untuk kontrol rutin ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, membeli alat-alat terapi untuk tumbuh kembangnya, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, mari bantu Queenzha untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Kejang Hingga 18 Kali Sehari, Gafi Harus Minum Obat Seumur Hidup
“Dalam sehari, aku bisa menyaksikan anakku kejang hingga 15-18 kali. Tubuhnya sampai lemas tak berdaya setelahnya, sementara batinku juga tersiksa karena biaya membeli obatnya tak selalu ada.”“Apalagi saat anakku dirawat di rumah sakit, suamiku akan bekerja dari pagi hingga malam mengojek demi sebuah harapan yang tinggi. Sedangkan aku membuat dagangan yang dititipkan ke warung-warung untuk dapat biaya tambahan. Kami lelah, tapi tak pernah menyerah demi anak.” -Desi Mahalia, Orang tua Gafi-Saat pertama kali anakku, Gafi Hadaya Tedesya (3 thn), dirawat di rumah sakit akibat kejang 2 jam tanpa henti, kondisi justru teru memburuk. Ketakutanku memuncak, ketika suamiku panik dan membawa paksa anak keluar rumah sakit usai suster mengatakan ada pasien tak tertolong akibat kasus serupa.Dengan tubuh gemetar, aku menggendong anakku di atas motor menyusuri jalan mencari rumah sakit lain. Seminggu anakku tak sadarkan diri, Ia mendapatkan perawatan intensif. Hingga akhirnya Ia membuka mata, aku terasa seperti bisa bernapas kembali.Meski diperbolehkan pulang, anakku tidak merespon. Ia tak bisa mendengar, tak bisa makan tanpa bantuan selang yang masuk lewat hidungnya. Dokter mendiagnosa anakku epilepsi dan hidrosefalus, bagai kenyataan pahit yang menghantam hatiku.Kini, Ghafi harus fisioterapi agar tubuhnya tidak kaku dan bisa mengejar ketertinggalannya anak seusianya. Namun, ongkosnya cukup berat, apalagi harus membeli obat dan vitamin yang tidak dicover BPJS untuk membantu pertumbuhannya.Di tengah semua ini, anak kami yang lain justru divonis TB Paru, aku dan suami semakin kewalahan. Suami mencari tambahan dengan memperbaiki barang-barang rusak, tapi itu masih belum cukup. Akhirnya kami terpaksa meminjam dana sana-sini untuk menutupi pengobatan anak. Kami berharap Gafi bisa terus mendapatkan pengobatan yang layak.#TemanBaik, mari bantu Gafi untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Tak Hanya Merenggut Penglihatannya, Kanker Otak Membuat Ukkasya Tak Bisa Berjalan
“Tak pernah ku sangka, benturan di ujung pintu lemari itu membuat anakku mengalami kanker otak! Sel ganas itu sampai menekan matanya hingga Ia kesulitan melihat. Setiap detiknya nyawanya menjadi taruhan, karena tulang kepalanya pun mulai digerogoti penyakit kejam ini.”“Ya Allah, bagaimana caraku bisa menyembuhkan anakku? Suamiku baru diberhentikan dari pekerjaannya, penghasilanku sebagai tulang punggung keluarga satu-satunya sangat terbatas. Sementara, hatiku remuk menyaksikan anakku menderita setiap hari.” -Kiki, Orang tua Ukkasya-Tangisan pilu anakku, Ukkasya Ulinnuha Bilfaqih (3 thn), hari itu tak akan pernah ku lupakan. Bermula ketika aku sedang merapikan pakaian di rak plastik, Ukkasya tak sengaja terbentur ujung pintu rak plastik yang terbuka. Teriakannya pun memecah keceriaannya hari itu.Ubun-ubun kanan kepala anakku langsung benjol! Aku sudah membawanya berobat, tapi benjolnya malah semakin besar dan Ia demam berkepanjangan. Aku sampai berpindah klinik untuk mencari jawaban atas kondisi anakku, ada dokter yang mengatakan anakku demam reumatik hingga ada yang menduga hidrosefalus akibat benturan.Hingga suatu hari, duniaku benar-benar runtuh! Anakku tiba-tiba tak bisa berdiri, tak mampu berjalan karena tubuhnya nyeri. Akhirnya anakku dirujuk ke rumah sakit besar, saat itulah semua terjawab! Anakku didiagnosa neuroblastoma, kanker ganas yang menyerang saraf di kepalanya. Sejak itu, emosi anakku tidak terkontrol. Ia sering menangis dan berteriak jika aku tak di sampingnya. Mungkin karena sekarang kanker ini mulai merenggut penglihatannya, Ia jadi seperti ketakutan pada pandangannya yang gelap.“Ma, pijitin kaki adek,” permintaan sederhana itu selalu membuat hatiku terhantam. Tak terbayangkan, rasa nyeri pada seluruh sendi di tubuhnya yang tanpa jeda. Ia juga sering demam, lemas, kehilangan nafsu makan sampai berat badannya turun, dan mudah lelah.Kini, kemoterapi menjadi bagian hari-hari anakku saat ini. Syukurlah, Ia selalu semangat untuk sembuh dan selalu patuh apa kata dokter. Aku juga selalu menggenggam erat harapan kelak anakku bisa sembuh dan melewati semua cobaan ini.Namun, kendala biaya menjadi penghalang besar perjuangan anakku untuk sembuh. Suamiku belum mendapatkan pekerjaan lagi, dan penghasilanku sebagai buruh pabrik sangat terbatas. Aku pun sering tak bisa masuk kerja karena anakku selalu tak sanggup ditinggal. Saat ini anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, vitamin, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ukkasya tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ukkasya!
Dana terkumpul
Menderita Beberapa Kelainan Otak, Adiva Hanya Bisa Terbaring Lemah
“Di usianya yang baru 18 bulan, anak saya sudah menjalani operasi buka ubun-ubun. Sampai sekarang usianya sudah 3 tahun, anak saya belum bisa apa-apa, selain tiduran dan belajar tengkurap.” -Eliana Aprilia Saraswati, Ibunda Adiva-Semua bermula ketika anak saya, Adiva Arsyila Savina (3 thn), sering menangis tidak wajar saat usianya 3 minggu. Tanpa kenal waktu ia terus menangis pagi, siang, malam, seperti kesakitan. Matanya juga mengarah ke atas, badannya kaku, kaki bengkok, dan tangannya mengepal.Setelah diperiksa, dokter bilang anak saya hanya sakit perut kembung. Tapi anehnya anak saya masih menangis tanpa henti meski sudah minum obat. Hingga usianya 3 bulan, tumbuh kembang Adiva terhambat, mata dan pendengarannya juga tidak merespon. Saya yang semakin curiga pun kembali membawanya periksa, ternyata dokter menemukan ubun-ubun Adiva sudah tertutup (craniosynostosis) hingga membuat otaknya tidak berkembang. Selain itu anak saya juga didiagnosa cerebral palsy (lumpuh otak) dan mikrosefali (lingkar kepalanya kecil). Setelah menjalani operasi, saya sempat mengira itu merupakan awal kesembuhan anak saya. Kenyataannya saat usia 2 tahun, Adiva mendadak sering kejang dan dokter mendiagnosa anak saya juga sakit epilepsi.Kondisinya anak saya saat ini suka tantrum kalau sedang menangis, sehingga ia mencakar muka, telinga, menjambak rambutnya, dan memukul kepalanya. Biasanya akan saya bedong supaya anak saya tidak menyakiti dirinya sendiri. Anak saya masih harus kontrol rutin ke rumah sakit.Namun saya terkendala biaya pengobatan anak. Saya hanya ibu rumah tangga dan suami saya merupakan pengemudi ojek online yang penghasilannya tidak menentu. Saya sangat berharap Adiva sembuh dan perjuangan saya demi kesehatan anak berbuah manis.#TemanBaik, mari bantu Adiva agar bisa perlahan sembuh dari penyakitnya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Napas Ayesha Terus Tersendat Akibat Jantung Bocor!
“23 bulan anakku berjuang dengan kondisi tubuh yang sering tiba-tiba menurun drastis! Ia harus bertahan dengan selang yang menempel pada tubuh mungilnya agar bisa terus hidup.”“Ibu mana yang kuat melihat anaknya berjuang di antara rasa sakit dan napas tersendat? Sering kali aku berbisik di telinganya, ‘Nak, bertahanlah, Ibu di sini, Ibu tidak akan berhenti berusaha untukmu.’ Aku tahu Ia mengerti dan terus berupaya untuk hidupnya.” -Maharani Widyasari, Orang tua Ayesha-Sejak awal tahun 2024, hidup kami berubah. Anakku, Ayesha Khadijah Azzahra (2 thn), mulai menunjukkan gejala sesak napas yang membuat dadanya naik turun begitu cepat, berat badannya turun drastis, sampai membuat tubuh kecilnya semakin tampak rapuh. Aku curiga ada sesuatu yang terjadi pada anakku.Saat aku membawanya ke puskesmas, dokter juga menduga ada yang janggal pada anakku. Bahkan, kondisi Ayesha tak kunjung membaik seminggu setelah minum obat. Namun setelah satu minggu berlalu, Ayesha tidak kunjung membaik. Sesaknya tetap sama, bahkan Ia semakin terlihat melelahkan sekedar untuk bernapas. Akhirnya Ayesha dirujuk ke rumah sakit. Saat itulah semua terungkap, dokter mendengar suara bising pada jantung anakku. Setelah pemeriksaan mendalam, anakku didiagnosa beberapa penyakit yang membuat duniaku terasa runtuh, yaitu jantung bocor, bronchopneumonia, TBC, dan stunting. Ia sering keluar masuk rumah sakit akibat napasnya yang sering tiba-tiba sesak, tubuhnya lemas, rewel, menolak makan maupun minum susu. Badannya kurus dan sangat kecil, belum sanggup berjalan. Pengobatannya masih panjang, biayanya membuatku tercekik.Suamiku bekerja sebagai buruh pabrik lepas dengan penghasilan tidak tetap. Sedangkan aku kadang mengambil pekerjaan antar-jemput anak sekolah dan menjadi kurir pesanan makanan. Penghasilanku dan suami hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari dan sekolah anakku yang lain.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Sabrina tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Sabrina!
Dana terkumpul
Investasi Hidup, Nutrisi untuk Harapan Anak Pejuang Kanker
Setiap anak seharusnya bisa tumbuh sehat, berlarian bebas, dan mengejar mimpi tanpa batas. Namun, bagi anak-anak pejuang kanker di Yayasan Pita Kuning, hari-hari mereka diisi dengan perjuangan panjang melawan rasa sakit, obat-obatan, dan perawatan intensif yang tak mudah.Di balik senyum kecil mereka, ada tubuh rapuh yang berjuang keras melawan sel kanker. Di balik mata yang berbinar, ada doa sederhana agar esok masih bisa bangun dengan kekuatan baru. Untuk bisa bertahan, mereka tak hanya membutuhkan perawatan medis, tetapi juga dukungan nutrisi dan vitamin yang sangat penting menjaga daya tahan tubuh mereka.Bayangkan, di usia mereka yang masih begitu belia, harus melewati kemoterapi dan terapi medis yang melelahkan. Tubuh kecil itu sangat membutuhkan asupan vitamin agar tidak mudah drop, agar tetap kuat, agar tetap bisa tersenyum di tengah rasa sakit.Melalui kolaborasi Panin Sekuritas dan Panin Asset Management bersama BenihBaik dan Pita Kuning, kami mengajak Anda untuk ikut mendampingi mereka. Setiap donasi yang terkumpul akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan vitamin dan nutrisi anak-anak pejuang kanker ini.Kebaikan Anda, sekecil apa pun, akan menjadi energi besar bagi mereka untuk terus bertahan, melawan, dan tumbuh dengan penuh harapan.Mari kita wujudkan doa sederhana mereka: tetap sehat, tetap kuat, dan tetap tersenyum. Klik “Donasi Sekarang” dan jadilah bagian dari perjuangan mereka hari ini.
Dana terkumpul
Aku Hanya Pedagang Sayur yang Berjuang Demi Anak Sakit Jantung
“Meski penghasilanku hanya Rp50 ribu per-hari, tapi dari hasil jualan sayurku lah yang menjadi satu-satunya harapan keluargaku bisa makan. Tapi semua berubah saat anakku jatuh sakit, semua aku tinggalkan demi membawa anakku ke Jakarta.”“Itu pun kami sempat terancam tak bisa pulang ke kampung halaman di Lampung, karena kehabisan ongkos. Dering telepon berubah menjadi suara penuh harap sekaligus ketakutan. Kami hanya bisa berdoa, semoga ada saudara yang menjawab dan sudi meminjamkan sedikit uang.” -Heri Iswanto, Orang tua Danish-Alhamdulillah! Tak henti aku bersyukur saat ada keluarga yang bersedia meminjamkan uang, hingga akhirnya kami bisa pulang ke kampung. Pikiran dan hatiku seperti bercabang saat itu, karena selama membawa berobat Danish Ramadhan (1 thn), ada dua anakku yang lain terpaksa kutinggalkan di rumah.Namun, perasaan lega seperti hanya sepintas di hidupku. Setibanya di rumah, aku kembali harus berkeliling menjajakan sayur. Tak ada lagi istri yang membantuku berdagang, Ia harus sepenuhnya merawat Danish yang sakit jantung. Danish memang anakku yang paling spesial, Ia lahir prematur di sebuah klinik kecil di desaku. Hening sekali ketika Ia hadir di dunia, tidak ada tangisan. Dokter langsung meminta agar anakku dibawa ke rumah sakit, itulah pertama kali kecemasan kami dimulai.Penyakit jantung ini membuat tubuh anakku membiru, Ia sering batuk dan flu. Tapi yang membuatku sangat terpukul adalah menyaksikannya sesak napas. Ia tampak sangat menderita, tapi aku hanya bisa diam sambil menggendongnya. Perkembangannya juga terhambat, tak seperti anak pada umumnya. Danish sudah menjalani operasi jantung pertamanya, tapi itu tak serta merta membuatnya seketika sembuh. Masih ada beberapa kali pertarungan antara hidup dan mati di meja operasi. Namun, tantangan keuangan membuat situasi semakin berat.Aku pernah menjual satu-satunya sapi kami demi membawanya ke Jakarta untuk berobat. Tapi sekarang, aku benar-benar buntu. Bagaimana bisa membawanya kembali ke Jakarta untuk operasi lanjutan? Biaya hidup di sana sangat tinggi. Selain ongkos, kami juga harus menyiapkan susu, pampers, dan kebutuhan harian lainnya untuk membawanya berobat.#TemanBaik, mari bantu Danish untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Wujudkan Pendidikan untuk Masyarakat Pedalaman Papua
Kami dari organisasi We Love Others (WLO) saat ini bergerak untuk membantu anak-anak dan adik-adik di pedalaman Papua agar bisa mengeyam pendidikan yang layak dengan peralatan sekolah yang maksimal, terutama buku tulis/bacaan, alat tulis, alas kaki, dll.Keterbatasan ekonomi memaksa mereka untuk berhenti sekolah karena tidak mampu membeli beragam kebutuhan untuk sekolah. Jika kondisi itu berlanjut, mereka nantinya akan sulit mendapatkan pekerjaan sehingga melestarikan jerat kemiskinan dan kebodohan.Uluran tangan dari #TemanBaik akan sangat berarti bagi mereka. Sedikit bantuan yang kita kumpulkan dan salurkan untuk kebutuhan sekolah akan membuat mereka tersenyum bahagia. Menumbuhkan semangat mereka untuk belajar sekalipun harus berjalan kaki jauh di perbukitan yang sering kali kurang bersahabat.Yuk, kita sisihkan rezeki kita untuk memberikan berkah bagi mereka yang kekurangan. Mereka adalah generasi muda yang menjadi harapan orangtua, masyarakat, bangsa dan negara untuk memajukan Papua.
Dana terkumpul
Komplikasi Penyakit Serius Merenggut Masa Kecil Intan
Pak Rohiman dan Bu Sulyati. Mereka adalah orang tua dari tiga anak yang penuh semangat. Namun, di antara tawa dan kebahagiaan itu, ada satu sosok yang menyimpan cerita yang berbeda, Intan Nirmala, putri kedua mereka.Sejak lahir, Intan telah menghadapi berbagai tantangan yang tak terbayangkan oleh orang tua manapun. Diagnosa yang mengerikan datang silih berganti: jantung, epilepsi, speech delay, tunawicara, dan tunarungu. Di usianya yang kini menginjak enam tahun, tubuhnya masih seperti bayi, tidak dapat beraktivitas seperti anak-anak seusianya. Setiap kali kejang menyerang, Pak Rohiman dan Bu Sulyati hanya bisa berdoa dan merawatnya seadanya, dengan mengompresnya menggunakan air hangat.Satu-satunya harapan bagi Intan untuk bisa beraktivitas lebih baik adalah sepatu AFO (Ankle-Foot Orthosis) yang dapat membantunya berdiri dan berjalan. Namun, untuk mendapatkan sepatu tersebut, Pak Rohiman dan Bu Sulyati harus menghadapi kenyataan pahit, mereka tidak memiliki biaya untuk berobat, apalagi untuk membeli alat bantu yang sangat dibutuhkan oleh putri mereka.Setiap hari, Pak Rohiman berangkat kerja dengan harapan dapat mengumpulkan sedikit uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, Bu Sulyati merawat kedua anaknya yang lain dan berjuang untuk memberikan perhatian ekstra kepada Intan. Keluarga ini bukan hanya berjuang melawan penyakit, tetapi juga melawan ketidakpastian dan kesedihan yang menyelimuti setiap harinya. Intan, dengan senyumnya, selalu menunggu hari di mana ia bisa merasakan kebahagiaan seperti anak-anak lainnya. #TemanBaik, setiap donasi yang diberikan akan sangat berarti bagi Intan. Dengan sepatu AFO, bukan hanya fisiknya yang akan terbantu, tetapi juga harapan dan kebahagiaan keluarganya.Yuk, bantu dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Wajahnya Dipenuhi Selang! Febrian Harus Operasi Bedah Jantung di Jakarta
“Wajah mungil anakku kini dipenuhi selang dan alat medis! Setiap kali aku menatapnya, dadaku sesak. Ia bahkan sulit menggerakkan kepalanya, karena hampir seluruh wajahnya tertutup alat-alat yang membantu napasnya tetap berjalan.”“Seharusnya Ia sedang belajar tersenyum, bukan berjuang untuk bernapas. Aku hanya bisa berdoa sambil memeluk harapan yang sama kuatnya seperti perjuangannya untuk tetap terus hidup.” -Hanif Fahtul, Orang tua Febrian-Sejak hari pertama saya, Febrian Ananda Putra (10 bln), hadir ke dunia, Ia sudah menanggung ujian besar. Ia mengalami sakit jantung bawaan lahir. Kini usianya baru 7 bulan, dan kami harus bolak-balik berobat ke RS Pusat Jantung Harapan Kita, Jakarta.Penyakit ini baru kami ketahui saat usianya 2,5 bulan, ketika ia dibawa imunisasi. Saat itu napasnya terlihat jauh lebih cepat dari bayi lain. Wajahnya pucat, lalu perlahan tangan, kaki, dan bibirnya mulai membiru. Hati saya seakan runtuh melihat kondisi itu.Dokter menjelaskan bahwa penyakit jantung itu membuat pembuluh darah anak saya tertukar, darah kotor dan darah bersih mengalir terbalik. Sejak lahir tubuh kecilnya berjuang tanpa henti. Penanganan awal berupa operasi BAS sudah dilakukan, namun itu belum cukup.Anak saya masih membutuhkan satu kali operasi bedah jantung besar agar bisa bertahan dan tumbuh seperti anak-anak lainnya. Namun, saat ini kondisinya kembali menurun. Sudah tiga hari Ia demam, tubuhnya sering membiru, dan Ia tidak kuat beraktivitas sedikit pun. Kelelahan kecil saja bisa sangat berbahaya baginya.Saya berharap anak saya mendapat kesempatan untuk hidup lebih lama, bernapas tanpa rasa sesak, dan merasakan masa depan yang layak Ia miliki. Tapi biaya pengobatan yang sering tidak bisa aku sanggupi, bahkan untuk sekedar transportasi dari Pacitan ke rumah sakit di Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Febrian tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Febrian!
Dana terkumpul
YOT Share Berbagi dengan Anak-anak di Panti Asuhan dan Korban Bencana Alam
Hai TemanBaik, Sudah pernah dengar belum apa itu Young On Top (YOT)? Adalah organisasi komunitas anak muda terbesar di Indonesia yang sudah menginspirasi ratusan anak muda dari Aceh hingga Papua sejak tahun 2009. Komunitas yang lahir dari sebuah buku dengan judul yang sama karya Billy Boen ini telah menginspirasi dan memberdayakan anak muda Indonesia secara nyata sesuai dengan 6 pilar yang dimilikinya. Yakni pendidikan, kesehatan, lingkungan, sosial, kewirausahaan, dan teknologi. Nggak hanya itu, sebagai komunitas yang menginspirasi - YOT biasanya juga mengadakan banyak kegiatan untuk memberikan impact yang bermakna untuk masyarakat sekitar yang kegiatannya diinisiasi oleh anak muda yang tergabung ke dalam YOT. Misalnya mengajar untuk anak-anak yang yang terkendala ekonomi, event tahunan, donor darah dan lain-lain. Kali ini, YOT menginisiasi program penggalangan donasi bernama YOT Share. Program ini diadakan untuk membantu kebutuhan pendidikan adik-adik kita di panti asuhan, dan kebutuhan sandang pangan adik-adik kita yang menjadi korban bencana alam. Karena jumlah anak yang dibantu sebanyak 60-80 anak, tentunya YOT tidak bisa bergerak sendiri. Dukungan dari TemanBaik dalam program ini sangat dibutuhkan, agar kebutuhan adik-adik kita terpenuhi dengan baik. Kalau TemanBaik mau bantu, bisa menyalurkannya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini ya!
Dana terkumpul
Akibat ISK Hingga Thalasemia, Naufal Sampai Alami Gangguan Emosi dan Perilaku
“Operasi buah zakar telah dijalani anakku dengan penuh harapan. Namun kenyataan berkata lain, penyakit itu tak kunjung sembuh seolah tak memberi jeda! Kondisi anakku semakin diperparah dengan gangguan pencernaan dan darah yang kerap tiba-tiba mengalir dari hidungnya akibat kelainan darah yang dideritanya.”“Aku benar-benar kehilangan kata-kata saat dokter menyampaikan bahwa anakku harus menjalani rawat inap. Pikiranku dihantui kecemasan, antara ketakutan melihat kondisi anakku yang memburuk dan keterbatasan biaya yang harus kuhadapi untuk pengobatannya.” -Nurhayati, Orang tua Naufal-Setiap kali ada panggilan kerja, suamiku hanya memperoleh upah Rp50 ribu. Namun, penghasilannya sebagai montir mobil bahkan jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Di tengah keterbatasan itu, anakku, Naufal Arya Nurhadi (4 bln), membutuhkan biaya pengobatan yang tidak sedikit.Hingga saat ini, Naufal belum bisa makan dengan sempurna karena masalah pencernaannya yang belum pulih. Ia harus menjalani transfusi darah secara rutin ke rumah sakit, serta kontrol berkala akibat Infeksi Saluran Kemih (ISK) sebagai persiapan untuk operasi lanjutan.Saat mencoba berjalan, Naufal sering terjatuh dan belum mampu berbicara seperti anak seusianya. Ya, penyakit ini tak hanya menggerogoti tubuh kecilnya, tetapi juga mempengaruhi emosi dan perilakunya. Ia harus menjalani terapi bicara dan terapi perilaku agar tumbuh kembangnya tidak semakin tertinggal.Hampir setiap hari aku dan suamiku berjuang mengantarkan anak pengobatan ke rumah sakit. Kami hanya ingin satu hal, melihat anak kami membaik, bisa berbicara dengan lancar, emosinya lebih terkontrol, dan tidak terus bergantung pada obat-obatan.Namun, perjuangan menuju kesembuhan terasa semakin berat karena biaya pengobatan yang masih panjang. Suamiku hanya bekerja jika ada panggilan, dan ketika harus mengantar anak berobat, Ia terpaksa kehilangan kesempatan mencari nafkah.Sementara itu, aku sering kali kebingungan memikirkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, serta kebutuhan lainnya yang terus datang tanpa bisa ditunda.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Naufal tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Naufal!
Dana terkumpul
Kondisinya Semakin Lemah, Adlan Harus Segera Operasi
“Tak terbayangkan sebelumnya, anakku didiagnosa penyakit jantung. Tubuhku seketika lemas, apalagi aku tengah hamil besar calon adiknya dan suamiku sedang merantau kerja di Jakarta. Aku menghadapi kepahitan ini sendirian!”“Anakku harus segera operasi, tapi biaya selama anak berobat di Jakarta sangat besar. Ironisnya, suamiku yang bekerja di rumah makan sampai tak bisa beli makan karena tak ada uang sama sekali. Aku berharap bisa melanjutkan pengobatan anakku meski dunia seolah menentang.” -Fira, Orang tua Adlan-Tepat di hari ulang tahunnya yang ke-4 tahun, seharusnya Muhammad Adlan Pratama merayakannya dengan bahagia dan tawa. Namun justru sebaliknya, hari itu anakku malah terbaring lemas dengan batuk menyakitkan terus-menerus. Tubuhnya yang lebih kecil dibanding anak seusianya membuat petugas puskesmas curiga dan menyarankan agar Adlan melakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dan hasilnya, dokter mengatakan jantungnya sudah bengkak dan bocor, Ia harus melanjutkan pengobatan ke Jakarta.Saat itu aku merasa hancur, tidak tahu harus bagaimana, hingga sempat menunda pengobatan anakku, berusaha mengumpulkan biaya dengan meminjam dari sana-sini. Sementara itu, kondisi anakku semakin memburuk, selalu sesak napas, cepat lelah, dan selalu berkeringat setiap saat. Syukurlah, akhirnya aku bisa membawa anakku pengobatan ke Jakarta, tapi cobaan anakku malah semakin bertambah. Selain sakit jantung, anakku juga didiagnosa infeksi paru-paru. Anakku harus tindakan kateterisasi jantung dan menjalani operasi lanjutan lainnya. Setiap hari, biaya pengobatan yang semakin membengkak dan terus membayangi kepalaku. Padahal anakku selalu antusias untuk sembuh, tak pernah menyerah minum obat dan patuh pada anjuran dokter. Tak ada lagi barang bisa dijual, suami pun sudah bekerja keras mengambil pekerjaan tambahan, namun biaya pengobatannya tetap luar biasa besar. Anak kami masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, kebutuhan susu, dan banyak hal lainnya. Hati ini penuh harap, berharap Adlan bisa merasakan kehidupan yang lebih baik, meski tantangan yang kami hadapi begitu berat.#TemanBaik, mari bantu Adlan untuk melanjutkan pengobatannya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Anak Kuli Bangunan Tak Ada Biaya untuk Operasi Jantung
Kirana (1 tahun) saya lahirkan di RS Hermina Pasteur Bandung. Sejak lahir ia memang sudah memiliki kelainan jantung bawaan. Posisi jantungnya berada di sebelah kanan, tentu ini bukan letak seharusnya jantung berada.Salurannya yang seharusnya ke jantung justru milik Kirana ke paru-paru yang mengakibatkan terjadinya komplikasi jantung. Tubuhnya membiru dan saturasinya di angka 60. Karena kondisi Kirana termasuk yang mengkhawatirkan, maka ia dirujuk ke RSCM untuk dapat menjalani operasi karena alat di rumah sakit sebelumnya kurang lengkap.Sampai saat ini, kami terus membawa Kirana berobat bolak-balik dari Bandung-Jakarta. Karena kami sebagai orang tua akan melakukan berbagai cara agar ia bisa sembuh. Sayangnya, sampai detik ini Kirana belum bisa dioperasi karena terkendala biaya.Jujur, saya tidak ingin kehilangan anak untuk kedua kalinya. Maka dari itu ikhtiar terus menerus dilakukan demi kesembuhan Kirana. Namun apa daya, ayahnya hanya bekerja sebagai kuli bangunan, penghasilannya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja.Kalau tak ada biaya, kami terpaksa tidak berangkat ke Jakarta, dan mau tidak mau echo CT Scan Kirana tertunda lagi yang bisa berakibat pada kondisi serta mundurnya jadwal operasi. Kami ingin Kirana bisa segera mendapatkan tindakan operasi karena kalau tidak ada tindakan medis maka pernapasannya akan terganggu.TemanBaik, kami membutuhkan bantuannya untuk biaya transportasi agar Kirana bisa berobat rutin ke RSCM serta kebutuhan dan operasional selama di sana.Kabar baiknya kami sudah mendapatkan titik terang dari pihak rumah sakit terkait penjadwalan operasi jantung Kirana. Hanya saja kami tak memiliki biaya untuk berangkat ke Jakarta.TemanBaik, maukah bantu Kirana agar bisa operasi jantung dan sembuh dari penyakitnya? Bantuan TemanBaik dapat disalurkan dengan cara klik Donasi Sekarang
Dana terkumpul
Perutnya Bengkak dan Tubuhnya Kuning. Khairi Butuh Cangkok Hati
“Saat itu anakku muntah-muntah parah dan malam itu juga dengan situasi laut gelombang tinggi disertai angin, aku membawanya menggunakan kapal kayu ke rumah sakit. Selama 10 hari anakku dirawat dan harus transfusi darah, Ia sempat kejang saat itu. Siapa sangka, ternyata dokter bilang anakku harus transplantasi hati.” -Nadia Oktafina, orang tua Al Khairi-Perubahan yang terjadi pada anakku, Muhammad Al Khairi Dewangsa Pratama (11 bln), bermula saat usianya 2 bulan. Tiba-tiba matanya menjadi kuning, aku kira karena kurang terkena sinar matahari. Aku pun mulai rajin menjemur anakku, tapi hampir 1 bulan tetap tidak ada perubahan.Aku mulai merasa ketakutan, tapi saat itu aku juga tidak punya biaya dan BPJS Khairi sedang dalam pengurusan. Tak lama setelah itu, tiba-tiba Al Khairi muntah-muntah disertai dengan percikan darah. Aku sangat panik dan langsung melarikan anak ke rumah sakit. Air mataku tak henti-hentinya jatuh, apalagi dokter langsung merujuk anakku untuk pengobatan ke Jakarta. Aku langsung meminjam dana dan membawa anakku pengobatan dari Batam menuju Jakarta. Setelah diperiksa, anakku didiagnosa sakit atresia bilier. Sakit itu membuat saluran empedu anakku tersumbat hingga organ hatinya rusak. Dokter mengatakan kesembuhan anakku harus dilakukan transplantasi hati. Rasanya sesak sekali perasaan ini, berat sekali penderitaan yang dirasakan anakku. Aku juga sulit berpikir, bagaimana biaya operasi anakku?Kondisi anakku saat ini seluruh badan dan matanya kuning, perutnya sedikit besar, berat badannya menurun, badannya gatal-gatal, BAB-nya berwarna pucat dan sedikit sesak. Anakku juga harus kontrol rutin 2 kali seminggu di rumah sakit Jakarta.Aku sudah kehabisan biaya untuk pengobatan anak, suami bekerja hanya sebagai helper las yang penghasilannya tak cukup untuk pengobatan anak. Anakku masih butuh operasi, transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak tercover BPJS, tempat tinggal dan biaya hidup selama pengobatan di Jakarta, serta kebutuhan anak lainnya.#TemanBaik, mari bantu Al Khairi agar bisa menjalani transplantasi hati dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Sudah 6 kali Operasi! Alvarendra Alami Usus Buntu Hingga Paru-paru Tak Berkembang
“3 kali anakku harus dirawat inap, bahkan masuk PICU hingga 2 bulan! Kondisi kesehatanku juga sempat drop, karena emosi terkuras akibat ketakutan kehilangan anakku dan kelelahan fisik. Di saat terberat itu, suamiku justru memilih pergi, meninggalkan aku dan anak kami yang tengah berjuang melawan sakitnya.”“Untuk bertahan hidup, aku terpaksa mengandalkan uang pemberian dari Ibuku yang sudah renta. Aku juga mencoba mengais rezeki dengan berjualan minuman, tapi sering kali harus kutinggalkan karena harus mendampingi anakku.” -Novrida, orang tua Alvarendra-Alvarendra Arroyyan (2 thn), adalah penyejuk hatiku, buah hati yang seharusnya tumbuh dalam pelukan dan tawa. Namun, sejak masih dalam kandungan, hidupnya justru telah diuji. Ia mengalami usus buntu dan ketika lahir secara prematur, paru-parunya belum berkembang sempurna.Tak ada hangatnya rumah, tak ada pelukan dariku di awal hidupnya. Sejak lahir, anakku harus tinggal di rumah sakit. Enam bulan lamanya, hari-harinya dihabiskan di balik dinding ruang perawatan, menghirup aroma obat-obatan, jauh dari kasih sayang seorang ibu yang hanya bisa menatapnya dengan doa.Tubuh mungil anakku telah menanggung banyak luka. Enak kali operasi sudah Ia lalui, mulai dari tindakan mengeluarkan cairan yang terus menumpuk di paru-parunya hingga operasi pada ususnya. Tapi anakku luar biasa, Ia mampu bertahan dari semua rasa sakit yang tak bisa Ia ucapkan.Saat ini, kondisi anakku lebih banyak diam karena belum lancar berbicara. Namun, setiap menjalani terapi motorik dan belajar berjalan, senyum cerianya selalu hadir, walau batuk-batuk masih datang karena masalah paru-parunya. Ia juga mengalami gizi buruk karena hanya mampu menerima asupan susuPengobatan harus terus dijalani, tapi aku mulai terhimpit oleh keterbatasan biaya. Dalam seminggu, bisa empat kali aku harus membawanya ke rumah sakit yang berjarak 30 menit dari rumah kami di Pulogadung, Jakarta Timur. Biaya transportasi menjadi beban berat bagiku yang tak memiliki penghasilan tetap. Belum lagi, ada juga obat yang tidak dicover BPJS, susu, dan kebutuhan lainnya untuk anakku.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Alvarendra tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Alvarendra!
Dana terkumpul