Benihbaik x The Body Shop
Salurkan donasi anda ke campaign-campaign di bawah ini
Campaign Pilihan Hari Ini
Pilihan Benihbaik
Panggilan Mendesak
Waktu mereka tidak banyak, mereka sangat membutuhkan bantuan kalian
Dari Raja Ampat ke Jakarta, Perjuangan Alesha Melawan Penyakit Jantung Sejak Lahir
Anakku, Alesha Khanzania (3 thn) lahir dalam kondisi down syndrome, kelainan jantung bawaan, dan hipotiroid. Hal itu membuat kondisi tubuhnya mudah lemah dan jantungnya harus bekerja lebih keras. Sejak itu, hidupku dan anakku diisi dengan perjuangan yang berat.Setiap berobat, aku harus menempuh perjalanan dari tempat tinggalku di kawasan Raja Ampat ke Sorong, Papua Barat. Anakku sering mengalami sesak napas berulang karena Ia juga mengalami pneumonia (infeksi paru-paru) hingga pembengkakan jantung.Namun, saat usia anakku 2 bulan, Ia dirujuk untuk melanjutkan pengobatan ke Jakarta karena keterbatasan alat medis di daerah. Namun, karena kondisi ekonomi yang sangat sulit, aku hanya bisa membawa anakku rawat jalan sambil berusaha bertahan dengan segala keterbatasan yang ada.Suamiku hanya bekerja sebagai kuli panggul dengan penghasilan yang hanya pas-pasan untuk kebutuhan sehari-hari. Namun, perlahan-lahan aku kumpulkan uang dan menjual barang berharga lainnya untuk membeli tiket ke Jakarta. Aku nekat berangkat meski uang pegangan seadanya.Hingga akhirnya, kondisi anakku semakin memburuk dan harus pengobatan ke Jakarta. Perjuanganku sebagai orang tua benar-benar tidak mudah. Aku dan suami menempuh perjalanan dari Sorong ke Jakarta dengan penuh ketakutan, kebingungan, dan air mata. Bahkan, uangku yang aku miliki sudah hampir habis selama anakku pengobatan di Jakarta. Aku dan suami sampai menahan lapar karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli makan. Dengan hati yang berat, kami akhirnya menghubungi keluarga untuk meminta bantuan agar bisa bertahan selama pengobatan berlangsung.Anakku telah menjalani operasi jantung dan berbagai tindakan medis lainnya, tapi kondisinya masih mengalami hipertensi paru-paru dan kebocoran jantungnya belum tertutup sempurna. Ia belum bisa bicara karena kondisinya yang istimewa.Sebagai seorang ibu, aku sangat prihatin melihat kondisi putriku. Hatiku selalu sakit setiap kali melihatnya harus berjuang menghadapi berbagai penyakit sejak lahir. Tapi aku memilih untuk tetap kuat karena setiap perjuangan tidak akan pernah sia-sia. Aku yakin putriku mampu melewati semua ini. Hingga saat ini anakku masih harus bolak-balik rumah sakit. Aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Alesha tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Alesha!
Dana terkumpul
Bersama Xtreme Impact, Hadirkan Harapan untuk Perempuan Nelayan
Pada 1 November 2026, para perenang amatir akan mencoba untuk pertama kalinya menyeberangi Selat Madura. Mereka bukan atlet profesional. Mereka berenang untuk membawa perhatian dan harapan bagi perempuan nelayan di Demak, yang rumah, keluarga, dan mata pencahariannya semakin terancam oleh perubahan iklim dan banjir rob. Aksi kemanusiaan XTREME IMPACT ini juga meliputi kegiatan operasi katarak gratis bagi masyarakat dan digerakkan oleh para alumni Kolese Kanisius dengan dukungan penuh Bandar Djakarta sebagai Official Impact Partner.l dan pendampingan dari TNI Angkatan Laut.Mari dukung setiap kayuhan mereka dengan berdonasi. Jadilah bagian dari gerakan yang mengubah keberanian menjadi kepedulian, dan kepedulian menjadi dampak nyata bagi sesama. Karena mungkin kita tidak ikut berenang menyeberangi Selat Madura, tetapi kita semua bisa ikut menyeberangkan asa bagi mereka yang membutuhkan.Terus Berdampak dan Bermakna Bagi Negeri.
Dana terkumpul
Aku Rela Kehilangan Segalanya, Asal Anakku Bisa Sembuh dari Jantung Bocor
“Demi mengumpulkan biaya untuk membawa anakku berobat ke Jakarta, rumah yang selama ini menjadi tempat keluargaku berteduh terpaksa kujual, tabungan sekolah yang kupersiapkan untuk masa depan anakku yang lain harus digunakan, bahkan aku memilih mengundurkan diri dari pekerjaanku sebagai sales kendaraan agar bisa sepenuhnya mendampingi perjuangannya berobat ke Jakarta.”“Aku yakin, setiap tetes keringatku tidak ada yang sia-sia. Aku percaya tidak ada satu pun tetes keringat, pengorbanan, dan doa yang sia-sia. Di setiap sujud, aku memohon agar Tuhan menguatkan langkah kecil anakku untuk terus bertahan melawan penyakitnya. Aku percaya, akan datang hari ketika Ia tersenyum tanpa rasa sakit sama sekali.” -Salman, Orang tua Alsava-Sejak lahir, aku sudah merasakan ada yang berbeda pada kondisi anakku, Alsava Zyannisa Amanda (4 tahun). Namun, karena banyak keluarga mengatakan bahwa kondisi itu wajar terjadi pada anak-anak, aku pun mencoba menenangkan hati.Meski begitu, sebagai orang tua, ada perasaan cemas luar biasa di hati kecilku melihat kondisi anakku. Selama 6 bulan lamanya, aku terus mencari informasi tentang kondisi yang dialami anakku melalui media sosial hingga bertanya pada-teman-teman. Banyak yang menduga bahwa Alsava mengalami kelainan jantung.Akhirnya, aku pun memberanikan diri untuk membawa anakku ke rumah sakit. Kekhawatiranku pun menjadi kenyataan. Dokter mendiagnosis anakku mengalami jantung bocor. Meski sebelumnya aku sudah mencurigainya, kenyataan itu tetap terasa seperti petir yang menyambar di siang bolong. Air mataku tak henti-hentinya mengalir, duniaku rasanya runtuh, apalagi anakku dirujuk untuk melanjutkan pengobatan dari Aceh ke Jakarta. Dengan segala keterbatasan dan dukungan keluarga, aku menguatkan hati untuk membawa anakku berjuang ke Jakarta demi kesembuhannya.Saat ini, anakku sudah menjalani operasi jantung. Perlahan, warna kebiruan di tubuhnya mulai berkurang dan detak jantungnya sudah kembali normal. Namun, perjuangan kami belum berakhir. Hidupku saat ini sepenuhnya terpusat pada anakku, mulai dari mengatur segala perawatan, obat dan asupan yang dibutuhkannya.Syukurlah, di balik tubuh kecilnya, anakku memiliki semangat yang begitu besar. Setiap kali menjalani pengobatan, ia selalu berkata ingin segera pulang karena rindu bertemu kakak dan neneknya. Ia juga tak pernah lupa menelepon keluarga di rumah untuk melepas rindu. Sayangnya, perjalanan menuju kesembuhan Alsava masih panjang. Ia masih harus menjalani operasi lanjutan beberapa tahun ke depan. Sementara itu, biaya pengobatan terus bertambah, sedangkan aku selama ini mengandalkan biaya dari bantuan keluarga jika ada.Sementara itu, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Alsava tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Alsava!
Dana terkumpul
Tulangnya Sampai Keropos! Bu Elang Alami Kanker Payudara dan Kecelakaan
“Tak lama setelah menjalani operasi pengangkatan payudara, aku jatuh dari motor! Tubuhku benar-benar sakit dan hancur. Apalagi ketika dokter mengira tulangku patah akibat kecelakaan, ternyata tulang itu keropos karena sel kanker sudah menyebar."“Akhirnya aku menjalani operasi pengangkatan tulang dan diganti pen. Disaat aku sedang membutuhkan banyak biaya, kakakku yang biasanya menanggung pengobatanku meninggal dunia. Putusasa seketika menyelimuti, bagaimana aku bisa bertahan dengan penyakit dan keterbatasan biaya ini?”Aku Elang Yudansih (49 thn), kanker payudara benar-benar pukulan terbesar yang mengubah hidupku dan juga kakakku. Demi pengobatanku, kakak rela jorjoran mencari uang tambahan. Pagi hingga siang Ia mengajar sebagai guru di sekolah, pulangnya Ia mengajar les musik dan bimbel.Meski kakakku sudah berjuang keras, tetap tak sebanding dengan biaya pengobatan yang besar. Saat menjalani radiasi kanker selama 4 bulan di Bandung, aku benar-benar sendirian tanpa pendamping agar berhemat. Kos-kosan selama pengobatan di luar kota sempat menunggak, semua peralatan medis tak sanggup dibeli, bahkan aku sampai tidak makan 2 hari. Aku hanya bisa menahan rasa nyeri lapar dan berdoa, hingga Tuhan beri pertolongan melalui orang yang datang menjenguk dan membantu kebutuhanku. Namun, ujian hidupku seperti tak memberiku sejenak bernapas. Kabar pilu kembali datang. Akibat berjuang keras mendapatkan uang untuk pengobatanku, kakakku sampai mengabaikan kesehatannya dan lebih dulu kembali ke pelukan Tuhan. Duniaku hancur, tidak ada lagi orang yang selalu mendukungku.Ditengah kesedihan, aku masih harus terus bolak-balik dokter. Syukurlah kondisiku membaik, dari sebelumnya tidak bisa jalan, sekarang bisa jalan lagi. Namun, aktivitasku masih terbatas, luka bekas operasi masih basah dan tanganku belum bisa digerakkan akibat bengkak.Terkadang aku masuk rumah sakit, efek pengobatan membuatku diare dan anemia hingga harus transfusi darah. Entah sampai kapan aku harus menahan penyakit ini, terhitung sudah 5 tahun lalu gejalanya muncul tanpa ku sadari. Di awali rasa gatal luar biasa di area payudara yang awalnya didiagnosa dokter adalah alergi.Pengobatanku masih panjang, aku masih membutuhkan banyak biaya yang tidak bisa aku sanggupi. Diantaranya biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ibu Elang tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ibu Elang!
Dana terkumpul
Perjuangan dari Papua ke Jakarta, Elisius Jalani 4 Kali Operasi demi Sembuh dari Kelainan Usus
“Aku nekat! Bermodalkan utang di bank, aku membawa anakku berobat dari pelosok Papua ke Jakarta dengan hati cemas dan penuh harap. Namun belum juga pengobatannya selesai, uang yang kubawa sudah habis tak tersisa dan anakku malah pingsan hingga 2 kali. Aku ketakutan luar biasa menyaksikan tubuhnya tak berdaya.”“Di tengah kebingungan itu, aku juga luntang-lantung di perantauan, tidak ada uang untuk sewa tempat tinggal. Namun, di titik paling gelap itu, Seorang yang baru kukenal di rumah sakit, dengan tulus menawarkan tempat tinggal selama anakku dirawat inap. Kebaikan itu bagai pelukan hangat dari Tuhan. Saat itulah aku percaya, akan selalu ada tangan baik yang Tuhan kirimkan.” -Ika Setianingrum, orang tua Elisius-Di usianya yang baru 1 tahun, anaku, Elisius Daniel Saputra Mbaubedari (1 thn) sudah melewati 4 kali operasi! Ia didiagnosa hirschsprung disease, yaitu kelainan bawaan sejak lahir yang membuat usus besarnya tidak memiliki saraf.Di hari pertama kelahirannya, ia tak kunjung BAB dan malah muntah. Hati seorang ibu mana yang tidak panik? Dengan penuh kecemasan aku membawanya ke dokter. Benar saja, semuanya berubah serius. Di usia yang baru 4 hari, Ia sudah harus menjalani operasi pertamanya. Anakku dirujuk ke Jakarta untuk operasi lanjutannya. Namun cobaan tak berhenti di situ. Tak lama setelah operasi, perutnya kembung, ia mencret tanpa henti, ususnya membengkak. Dokter menyarankan terapi dan obat, tetapi tak ada perubahan berarti. Bahkan dokter sampai terbang ke Singapura untuk berdiskusi dengan tim medis di sana demi mencari jalan terbaik untuk anakku. Hasilnya ditemukan penyempitan di atas anusnya, dan harus menjalani operasi ulang. Setelah itu, Ia bukannya membaik, tapi malah mengalami dehidrasi, demam tinggi, campak, bahkan infeksi bakteri yang menyebabkan kista di ketiaknya.Dokter memutuskan anakku menggunakan selang NGT melalui hidungnya untuk makan dan minum agar menghindari infeksi. Ia BAB bukan melalui anus, tapi melalui perut sebelah kanannya yang dilubangi dan dibungkus kantong stoma. Setiap kali membersihkannya, aku berusaha tersenyum, meski air mata sering jatuh tanpa bisa kutahan.Namun, meski sudah sakit sejak lahir, tapi anakku jarang sekali merengek seperti anak sakit pada umumnya. Ia hanya merintih pelan saat rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan. Berat badannya yang tetap baik, meski dengan segala keterbatasan pencernaannya, seperti menjadi tanda bahwa ia ingin sembuh, ia ingin hidup.Perjuangan kami belum selesai, operasi lanjutan masih menunggu. Suamiku kini bekerja lebih keras, dari pagi hingga malam menarik ojek, meninggalkan anak kami yang lain sendirian di rumah demi biaya pengobatan adiknya. Aku sudah mencoba menghubungi berbagai yayasan, berharap ada bantuan, tetapi belum ada jawaban.Sekedar makan sehari-hari pun, aku masih dibantu oleh orang baik yang aku temui di rumah sakit. Beberapa pasien juga membantu menebus obat anakku. Sementara itu, perjalanan sembuh anakku masih panjang. Ia masih terus membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Elisius tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Elisius!
Dana terkumpul
Senyum Getir Fayzel di Tengah Kerusakan Organ Hatinya yang Terus Memburuk
“Saat dokter mengatakan anakku mengalami gangguan organ hati serius, momen itu menjadi titik yang menghancurkanku. Lututku lemas, dadaku sesak menahan tangis. Di hadapanku terbaring tubuh anakku yang begitu rapuh, membuatku terus bertanya, mampukah Ia bertahan dari penyakit yang mengancam nyawanya setiap detik?”“Sejak itu, suamiku terpaksa meninggalkan pekerjaannya karena fokus mendampingi anak berobat. Setiap bulan, anakku harus dibawa kontrol rutin dari Lampung ke Jakarta. hanyalah guru honorer dengan penghasilan yang tak seberapa, itupun aku sering cuti demi anak. Kondisi ini membuat keluarga kami kesulitan ekonomi. bahkan kebutuhan sehari-hari kini sering bergantung bantuan keluarga.” -Asri Bunga, Orang tua Fayzel-Fayzel Ghava Kareem (9 bln) mulai menunjukkan gejala sakitnya saat usianya baru 1 minggu. Tubuhnya tiba-tiba tampak berwarna kuning. Awalnya aku mencoba menenangkan diri, berpikir mungkin ini hanya kuning biasa pada bayi. Namun, kian hari warna kuning itu tak memudar, justru makin pekat dan mengkhawatirkan. Hingga akhirnya dokter mengatakan ada yang tidak biasa. Aku masih ingat betul bagaimana paniknya aku saat mendengar kenyataan pahit yang terjadi pada anakku. Ternyata, anak yang baru saja ku peluk dengan rasa syukur, harus menghadapi kelainan metabolik-genetik yang menyerang fungsi hatinya.Penyakit itu menyebabkan organ hati anakku membesar dan mengeras hingga membuat perutnya membengkak. Kulit hingga matanya kuning, tubuhnya mengalami anemia, trombositnya rendah, pertumbuhannya terganggu, bahkan beresiko pendarahan. Saat ini, anakku tidak bisa beraktivitas seperti bayi seusianya. Ia mudah lelah, napsu makannya sering menurun dan perkembangan motoriknya terhambat. Dalam kondisi tertentu, anakku bisa beresiko untuk menjalani transplantasi hati jika kerusakannya semakin parah.Namun dibalik tubuhnya yang lemah, Fayzel adalah anak yang luar biasa kuat. Tangisnya tak pernah lama meski Ia sakit setiap waktu. Ia tetap tersenyum setiap kali diperiksa dokter, seolah ingin menguatkanku bahwa ia belum menyerah. Senyum kecil itulah yang menjadi sumber kekuatanku. Aku percaya, Tuhan masih menyimpan harapan untuknya.Kini Fayzel masih dalam pemantauan intensif. Perjuangannya belum selesai. Namun di tengah ikhtiar untuk menyelamatkan anakku, aku dihadapkan pada kenyataan biaya yang tak sedikit. Untuk kontrol saja, kami harus menyeberang pulau dengan biaya transportasi yang besar. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, susu khusus, serta kebutuhan hariannya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Fayzel tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Fayzel!
Dana terkumpul
Perjuangan Pak Ridwan Membuat Alat Pengubah Sampah Plastik Menjadi Bahan Bakar Cair
Perkenalkan, saya Mochammad Ridwan (51 thn). Selama 32 tahun hidup, saya mengabdikan diri di dunia manufaktur, bekerja untuk perusahaan yang berorientasi pada keuntungan dan pencapaian bisnis. Namun hari ini, di usia yang tidak lagi muda, saya memiliki mimpi yang berbeda. Saya ingin bekerja bukan untuk laba, melainkan untuk menciptakan perubahan yang bermanfaat bagi banyak orang.Perjalanan ini bermula ketika saya mengunjungi sebuah Bank Sampah binaan Chandra Asri Group di Kota Cilegon. Di sana saya melihat sesuatu yang mengubah cara pandang saya, bahwa sampah plastik yang selama ini dianggap tidak berguna ternyata dapat diolah menjadi bahan bakar cair melalui teknologi pirolisis.Berbekal pengalaman puluhan tahun di bidang manufaktur, saya memberanikan diri merancang dan membangun mesin pirolisis sendiri. Saya ingin teknologi ini dapat digunakan oleh Bank Sampah di lingkungan masyarakat sehingga sampah plastik memiliki nilai ekonomi yang nyata dan mampu membuka peluang kerja baru.Saat ini pembangunan mesin masih berjalan dengan progres sekitar beberapa persen di sebuah workshop sederhana yang berada di samping TPS Mandiri. Setiap hari saya berjuang mewujudkan impian ini bersama dukungan seorang sahabat yang dengan tulus meminjamkan tempat dan material sisa proyek yang masih bisa dimanfaatkan.Namun perjuangan ini tidak mudah, saya kesulitan biaya untuk pembelian bahan-bahan material pembuatan bank sampah. Saat ini saya hanya memiliki modal sebuah laptop untuk membuat desain dari mesin ini.lima bulan yang lalu saya memutuskan resign dari pekerjaan. Sejak saat itu kondisi keuangan keluarga saya berada dalam keadaan yang sangat sulit. Namun, demi mewujudkan cita-cita ini, saya harus mengorbankan waktu yang seharusnya saya gunakan untuk mencari nafkah bagi keluarga.Saya percaya, setiap perubahan besar selalu dimulai dari keberanian untuk mengambil langkah pertama. Melalui karya saya ini, saya ingin menunjukkan bahwa teknologi yang saya bangun mampu memberikan manfaat bagi orang lain, membuka peluang bagi masyarakat, dan menghadirkan perubahan nyata bagi lingkungan.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Ridwan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita mewujudkan bank sampah yang berguna bagi masyarakat!
Dana terkumpul
Wujudkan Pendidikan untuk Masyarakat Pedalaman Papua
Kami dari organisasi We Love Others (WLO) saat ini bergerak untuk membantu anak-anak dan adik-adik di pedalaman Papua agar bisa mengeyam pendidikan yang layak dengan peralatan sekolah yang maksimal, terutama buku tulis/bacaan, alat tulis, alas kaki, dll.Keterbatasan ekonomi memaksa mereka untuk berhenti sekolah karena tidak mampu membeli beragam kebutuhan untuk sekolah. Jika kondisi itu berlanjut, mereka nantinya akan sulit mendapatkan pekerjaan sehingga melestarikan jerat kemiskinan dan kebodohan.Uluran tangan dari #TemanBaik akan sangat berarti bagi mereka. Sedikit bantuan yang kita kumpulkan dan salurkan untuk kebutuhan sekolah akan membuat mereka tersenyum bahagia. Menumbuhkan semangat mereka untuk belajar sekalipun harus berjalan kaki jauh di perbukitan yang sering kali kurang bersahabat.Yuk, kita sisihkan rezeki kita untuk memberikan berkah bagi mereka yang kekurangan. Mereka adalah generasi muda yang menjadi harapan orangtua, masyarakat, bangsa dan negara untuk memajukan Papua.
Dana terkumpul
Matanya Berjamur Demi Bekerja untuk Keluarga, Pak Warjo Kehilangan Penglihatan
Dulu, Pak Warjo adalah tulang punggung keluarga yang tak pernah mengenal lelah. Ia rela bekerja keras dari pagi hingga larut malam. Bahkan, Ia mengambil resiko dalam bekerja yang membuat matanya terkena percikan las, debu dan membuatnya sering begadang.Siapa sangka, pengorbanan itu justru meninggalkan luka yang tak terbayangkan. Sedikit demi sedikit, kondisi matanya semakin memburuk hingga merenggut penglihatannya. Akhirnya, Pak Warjo tak lagi bisa bekerja. Kini, sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kesulitan, apalagi untuk biaya pengobatannya.Sejak tahun 2024, hidup Bapak Warjo (41 tahun) berubah drastis. Mata kirinya yang dulu membantu mencari nafkah untuk keluarga kini mengalami kerusakan serius. Warnanya berubah menjadi abu-abu, sering terasa perih, silau, berair, bahkan tampak menonjol hingga mengganggu aktivitasnya sehari-hari.Setiap kali rasa sakit itu datang, Pak Warjo harus menahan pusing hebat yang menusuk hingga membuat air matanya terus mengalir. Ia hanya bisa meredakan nyeri dengan obat tetes mata dan membutuhkan bantuan orang lain untuk melakukan aktivitas sederhana.Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menyampaikan kabar yang begitu berat. Terdapat infeksi jamur yang telah mengenai retina matanya. Jika tidak segera mendapatkan penanganan lebih lanjut, Pak Warjo terancam kehilangan penglihatannya secara permanen.Beliau harus menjalani operasi lanjutan, tapi Ia tidak ada biaya transportasi dari rumahnya di Indramayu ke rumah sakit di Bandung. Ia juga tidak memiliki wali yang bisa membantu biaya pengobatannya.Pak Warjo sudah berjuang menjalani operasi pertamanya dengan harapan bisa kembali melihat dan bekerja seperti sedia kala. Namun, perjuangannya belum berakhir. Kondisinya masih membutuhkan operasi lanjutan dan pengobatan intensif.Sayangnya, keterbatasan ekonomi menjadi hambatan besar. Pak Warjo tidak memiliki biaya transportasi untuk menempuh perjalanan dari Indramayu ke rumah sakit di Bandung. Ia juga tidak memiliki pendamping yang dapat membantu memenuhi kebutuhan selama menjalani pengobatan.Sejak sakit, Pak Warjo sudah tidak mampu bekerja secara maksimal seperti dulu. Meski begitu, ia tak pernah menyerah. Dengan sisa kekuatan dan penglihatan yang dimilikinya, Pak Warjo terus berusaha mengerjakan apapun yang ia bisa demi bertahan hidup. Selain biaya transportasi, masih ada kebutuhan obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS dan harus dibeli secara mandiri.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Warjo tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Warjo!
Dana terkumpul
YOT Share Berbagi dengan Anak-anak di Panti Asuhan dan Korban Bencana Alam
Hai TemanBaik, Sudah pernah dengar belum apa itu Young On Top (YOT)? Adalah organisasi komunitas anak muda terbesar di Indonesia yang sudah menginspirasi ratusan anak muda dari Aceh hingga Papua sejak tahun 2009. Komunitas yang lahir dari sebuah buku dengan judul yang sama karya Billy Boen ini telah menginspirasi dan memberdayakan anak muda Indonesia secara nyata sesuai dengan 6 pilar yang dimilikinya. Yakni pendidikan, kesehatan, lingkungan, sosial, kewirausahaan, dan teknologi. Nggak hanya itu, sebagai komunitas yang menginspirasi - YOT biasanya juga mengadakan banyak kegiatan untuk memberikan impact yang bermakna untuk masyarakat sekitar yang kegiatannya diinisiasi oleh anak muda yang tergabung ke dalam YOT. Misalnya mengajar untuk anak-anak yang yang terkendala ekonomi, event tahunan, donor darah dan lain-lain. Kali ini, YOT menginisiasi program penggalangan donasi bernama YOT Share. Program ini diadakan untuk membantu kebutuhan pendidikan adik-adik kita di panti asuhan, dan kebutuhan sandang pangan adik-adik kita yang menjadi korban bencana alam. Karena jumlah anak yang dibantu sebanyak 60-80 anak, tentunya YOT tidak bisa bergerak sendiri. Dukungan dari TemanBaik dalam program ini sangat dibutuhkan, agar kebutuhan adik-adik kita terpenuhi dengan baik. Kalau TemanBaik mau bantu, bisa menyalurkannya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini ya!
Dana terkumpul
Anak Tukang Cuci Baju Bolak-balik Masuk ICU Akibat Sakit Jantung!
“Anakku keluar masuk ruang ICU rumah sakit selama 7 bulan akibat penyempitan napas! Aku sampai trauma, karena selalu dihadapkan situasi panik dan mengerikan menyaksikan anakku dipasangi berbagai selang dan alat medis. Ia sering diambang kondisi di mana resiko kehilangannya sangat besar.”“Pada bagian ujung bibir anakku sampai muncul bekas keloid, karena terlalu sering dipasangi selang alat bantu napas. Hatiku hancur melihat penderitaannya setiap saat. Aku ingin Ia sembuh dan hidup seperti anak sehat lainnya. Meski dengan uang seadanya, aku tetap nekat membawa anakku berobat ke Jakarta.”Perkenalkan, aku Wulandari, merupakan seorang buruh cuci yang terkadang mencari nafkah tambahan dengan menjaga warung es. Sebagai single parent, aku harus berjuang lebih keras demi anak-anakku bisa makan dan juga demi pengobatan Reyshaka Keenan Alvaro (13 bln).Namun, biaya pengobatan anak begitu memberatkanku. Bahkan, saat anakku operasi saja, aku hanya pegang uang Rp50 ribu dan tidak bisa membeli obat untuk anakku yang sulit buang air kecil. Rasanya aku merasa gagal menjadi orang tuanya. Tapi syukurlah Tuhan tak tinggal diam, melalui bantuan tangan orang lain, aku bisa memenuhi kebutuhan anakku.Sejak usia 4 bulan, anakku sudah berjuang dari sakit jantung. Bermula dari dadanya yang tampak cekung setiap Ia bernapas dan hembusannya juga terlihat terengah-engah. Ia bahkan kesulitan untuk menyusui akibat kondisi itu. Aku pun membawanya ke rumah sakit, ternyata anakku memiliki kelainan jantung. Tubuhku langsung membeku dan mulutku tak bisa berkata-kata, tak pernah terbayangkan darah dagingku harus menanggung penyakit mematikan ini.Sejak itu, anakku rutin keluat bolak-balik rumah sakit hingga dirujuk dari Solo ke Jakarta. Ia sudah menjalani operasi belah dada, tapi anakku kembali diuji ketika dokter mendapati anakku mengalami penyempitan saluran napas. Kini, kondisi anakku harus menggunakan alat bantu napas. Ia tidak boleh terkena asap rokok, polusi maupun debu. Tak jarang aku menangis karena keadaan, seandainya bisa, aku ingin menggantikan anakku yang sakit. Biar aku yang menggung semua dan Ia yang sehat.Setiap saat aku harus hati-hati menjaga kesehatannya dan memikirkan biaya pengobatannya sendirian. Hidup di Jakarta memerlukan biaya yang sangat besar, sementara aku tidak ada siapa-siapa yang membantu karena keluarga di kampung halaman. Pengobatan anakku masih panjang, Ia masih membutuhkan baiay untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, alat bantu napas dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Reyshaka tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Reyshaka!
Dana terkumpul
Nyawa Kembarannya Tak Selamat, Adreina Kini Berjuang Sembuh dari Sakit Jantung
“Bayi kembarku lahir dalam kondisi kritis! Tubuh mereka membiru dan tidak mengeluarkan tangisan. Dokter dan perawat berlarian membawa keduanya ke ruang ICU untuk dipasangi alat bantu napas. Hatiku dipenuhi ketakutan saat mengetahui bahwa kedua buah hati kami mengalami kelainan jantung bawaan.”“Di tengah ketegangan itu, dokter memutuskan melakukan tindakan kateterisasi jantung pada kedua anak kami. Dua jam menunggu di depan ruang tindakan, dokter keluar dengan membawa kabar buruk. Salah satu anakku tidak bisa diselamatkan nyawanya! Seketeika hatiku hancur berkeping-keping…” -Destri Lestari, Orang tua Adreina-Tuhan, cobaan ini begitu berat bagi anakku, Adreina Syakila Nariswari (11 bln). Nyawanya memang selamat, tapi Ia harus menanggung penyakit jantung. Selain itu, Ia juga didiagnosa infeksi paru-paru dan gizi buruk.Saat menangis atau terlalu aktif, tubuh anakku akan membiru karena kekurangan oksigen. Setiap kali menyusui Ia sering tersedak, napasnya terengah-engah dan mudah kelelahan. Pertumbuhan dan perkembangannya juga terganggu. Kini di usia 11 bulan, ia baru mampu tengkurap, itupun hanya sebentar.Hal yang membuat hatiku hancur adalah putriku masih terlalu kecil menceritakan apa yang Ia rasakan. Ia belum bisa mengatakan dadanya sakit atau apakah Ia merasa sesak, tapi setiap hari dia menangis. Dokter mengatakan tangis anakku bersumber dari ketidaknyamanan yang Ia rasakan.Di Tengah situasi yang berat itu, untunglah anakku sabar menjalani semua pengobatan. Bahkan, Ia tidak pernah menolak obat meski rasanya pahit sekalipun. Ia seolah memahami bahwa semua itu adalah bagian dari perjuangannya untuk bertahan hidup. Tak terhitung berapa kali aku bolak-balik mengantarkan anakku ke rumah sakit. Banyak hal yang aku korbankan, aku sendiri terpaksa berhenti bekerja agar bisa merawat anakku sepenuh waktu. Suamiku bekerja di warung jamu milik orang lain, penghasilannya jauh dari kata cukup untuk memenuhi kebutuhan pengobatan anakku. Pernah suatu malam, putriku mengalami demam tinggi, sesak napas, tubuhnya membiru, dan muntah sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Padahal saat itu ia baru sekitar 10 hari pulang dari perawatan sebelumnya. Saat itu aku bingung dan berlari ke rumah tetangga hingga saudara untuk meminjam uang demi bisa membawa anak ke rumah sakit.Namun, setelah mendapat pinjaman dan membawa anak ke rumah sakit, suamiku terpaksa kembali pulang untuk mencari pinjaman uang tambahan lagi. Aku hanya bisa duduk di rumah sakit sambil menangis seharian, bertahan dengan makanan jatah rumah sakit menanti suamiku.Pengobatan anakku masih panjang, Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Adreina tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Adreina!
Dana terkumpul
Suamiku Tiba-tiba Alami Stroke Saat Sedang Bekerja Sebagai Tukang Ojek
“Saat itu suamiku sedang bekerja sebagai tukang ojek, berjuang mencari nafkah seperti biasanya. Namun di tengah aktivitasnya, ia tiba-tiba mengeluhkan seluruh tubuhnya terasa kaku. Kondisinya semakin memburuk hingga akhirnya kami membawanya ke rumah sakit.”“Setelah menjalani pemeriksaan, dokter menyampaikan kabar yang begitu menghancurkan hati. Suami saya didiagnosis mengalami stroke! Sejak saat itu, perjuangan panjang melawan penyakit ini dimulai.” -Minah, Istri sari Ali-Penyakit stroke membuat kemampuan gerak suamiku, Muhammad Ali (63 thn), turun drastis. Tangan dan kakinya sulit digerakkan, bahkan Ia kesulitan untuk berbicara. Suamiku lebih banyak terbaring di kasur, memakai popok karena tidak bisa ke kamar mandi untuk buang air.Sudah lima tahun lamanya suamiku telah menjalani berbagai pengobatan dan perawatan ke rumah sakit. Padahal, dulu beliau adalah seorang tukang ojek yang selalu bekerja keras demi keluarga. Tetapi kini, seluruh tubuhnya terasa kaku dan bahkan bisa dilarikan ke rumah sakit jika penyakitnya kambuh. Di balik keterbatasannya, suami saya tidak pernah kehilangan harapan. Dengan suara yang terbata-bata, beliau sering menyampaikan kalimat yang selalu membuatku menangis, yaitu “kalau sudah sembuh, saya ingin ngojek lagi.” Kalimat sederhana itu menjadi bukti bahwa semangatnya untuk pulih masih sangat besar.Sebagai istri sekaligus pendampingnya, hatiku hancur melihat kondisi beliau sekarang. Aku selalu berusaha mendampinginya dalam setiap proses pengobatan, tetapi perjuangan ini tidak mudah. Demi memenuhi kebutuhan suami, aku bahkan harus meminjam uang kepada teman karena keterbatasan ekonomi yang kami alami.Saat ini kebutuhan biaya transportasi untuk kontrol ke rumah sakit dan pengadaan kursi roda menjadi kendala terbesar bagi kami. Penghasilan keluarga hanya bergantung pada anak kami yang berjualan di warung kopi dengan pendapatan yang tidak menentu. Sementara kebutuhan pengobatan dan perawatan suami terus berjalan setiap harinya. Suamiku masih membutuhkan biaya untuk obat yang tidak ditanggung BPJS, susu, pampers, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Ali tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Ali!
Dana terkumpul