Benihbaik x The Body Shop

Salurkan donasi anda ke campaign-campaign di bawah ini

Campaign Pilihan Hari Ini

Pilihan Benihbaik

Panggilan Mendesak

Waktu mereka tidak banyak, mereka sangat membutuhkan bantuan kalian

Card image cap
Kemanusiaan
Aksi Berbagi Nasi Bungkus

Berbagi nasi bungkus dan santunan adalah sebuah gerakan sosial yang bertujuan untuk menumbuhkan semangat berbagi kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan. Hal ini yang rutin dilakukan Denny Reksa.Bukan tokoh masyarakat bukan pula pejabat, Denny Reksa juga tidak memiliki yayasan sosial. Namun, jiwa sosialnya begitu tinggi. Nasi bungkus tersebut dibawa keliling, mulai dari Kota Surabaya hingga Terminal Purbaya.Denny Reksa yang merupakan mantan pewarta mengatakan, rutinitas membagikan nasi bungkus setiap Jumat sejatinya sudah lama dilakukan. Terhitung sudah 10 tahun dia membagikan nasi bungkus dan santunan untuk orang yang membutuhkan. Dia tidak lelah mencari tunawisma, lansia, penyandang disabilitas, hingga kaum duafa di Kota Surabaya. Berkembangnya waktu, kini aktivitas sosialnya tidak hanya dilakukan di Surabaya, tetapi juga di Mojokerto, Malang, hingga Semarang. Denny Reksa mengajak berbagai komunitas.TemanBaik, yuk dukung terus semangat berbagi Denny Reksa. TemanBaik juga bisa ikut serta dengan cara: Klik “Donasi Sekarang”Isi nominal donasiBoleh memilih donasi lewat mana saja, bisa dengan OVO, DANA, LinkAja, ShopeePay, GoPay, Sakuku, BRI E-Pay dan BCA Klik-Pay. Bisa juga lewat transfer antarbank (BRI, Mandiri, BCA, BNI).

Dana terkumpul

Rp. 33.318.075
7 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
YOT Share Berbagi dengan Anak-anak di Panti Asuhan dan Korban Bencana Alam

Hai TemanBaik, Sudah pernah dengar belum apa itu Young On Top (YOT)? Adalah organisasi komunitas anak muda terbesar di Indonesia yang sudah menginspirasi ratusan anak muda dari Aceh hingga Papua sejak tahun 2009. Komunitas yang lahir dari sebuah buku dengan judul yang sama karya Billy Boen ini telah menginspirasi dan memberdayakan anak muda Indonesia secara nyata sesuai dengan 6 pilar yang dimilikinya. Yakni pendidikan, kesehatan, lingkungan, sosial, kewirausahaan, dan teknologi. Nggak hanya itu, sebagai komunitas yang menginspirasi - YOT biasanya juga mengadakan banyak kegiatan untuk memberikan impact yang bermakna untuk masyarakat sekitar yang kegiatannya diinisiasi oleh anak muda yang tergabung ke dalam YOT. Misalnya mengajar untuk anak-anak yang yang terkendala ekonomi, event tahunan, donor darah dan lain-lain. Kali ini, YOT menginisiasi program penggalangan donasi bernama YOT Share. Program ini diadakan untuk membantu kebutuhan pendidikan adik-adik kita di panti asuhan, dan kebutuhan sandang pangan adik-adik kita yang menjadi korban bencana alam. Karena jumlah anak yang dibantu sebanyak 60-80 anak, tentunya YOT tidak bisa bergerak sendiri. Dukungan dari TemanBaik dalam program ini sangat dibutuhkan, agar kebutuhan adik-adik kita terpenuhi dengan baik. Kalau TemanBaik mau bantu, bisa menyalurkannya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini ya!

Dana terkumpul

Rp. 54.876.232
5 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Aku Hanya Pedagang Sayur yang Berjuang Demi Anak Sakit Jantung

“Meski penghasilanku hanya Rp50 ribu per-hari, tapi dari hasil jualan sayurku lah yang menjadi satu-satunya harapan keluargaku bisa makan. Tapi semua berubah saat anakku jatuh sakit, semua aku tinggalkan demi membawa anakku ke Jakarta.”“Itu pun kami sempat terancam tak bisa pulang ke kampung halaman di Lampung, karena kehabisan ongkos. Dering telepon berubah menjadi suara penuh harap sekaligus ketakutan. Kami hanya bisa berdoa, semoga ada saudara yang menjawab dan sudi meminjamkan sedikit uang.” -Heri Iswanto, Orang tua Danish-Alhamdulillah! Tak henti aku bersyukur saat ada keluarga yang bersedia meminjamkan uang, hingga akhirnya kami bisa pulang ke kampung. Pikiran dan hatiku seperti bercabang saat itu, karena selama membawa berobat Danish Ramadhan (1 thn), ada dua anakku yang lain terpaksa kutinggalkan di rumah.Namun, perasaan lega seperti hanya sepintas di hidupku. Setibanya di rumah, aku kembali harus berkeliling menjajakan sayur. Tak ada lagi istri yang membantuku berdagang, Ia harus sepenuhnya merawat Danish yang sakit jantung. Danish memang anakku yang paling spesial, Ia lahir prematur di sebuah klinik kecil di desaku. Hening sekali ketika Ia hadir di dunia, tidak ada tangisan. Dokter langsung meminta agar anakku dibawa ke rumah sakit,  itulah pertama kali kecemasan kami dimulai.Penyakit jantung ini membuat tubuh anakku membiru, Ia sering batuk dan flu. Tapi yang membuatku sangat terpukul adalah menyaksikannya sesak napas. Ia tampak sangat menderita, tapi aku hanya bisa diam sambil menggendongnya. Perkembangannya juga terhambat, tak seperti anak pada umumnya. Danish sudah menjalani operasi jantung pertamanya, tapi itu tak serta merta membuatnya seketika sembuh. Masih ada beberapa kali pertarungan antara hidup dan mati di meja operasi. Namun, tantangan keuangan membuat situasi semakin berat.Aku pernah menjual satu-satunya sapi kami demi membawanya ke Jakarta untuk berobat. Tapi sekarang, aku benar-benar buntu. Bagaimana bisa membawanya kembali ke Jakarta untuk operasi lanjutan? Biaya hidup di sana sangat tinggi. Selain ongkos, kami juga harus menyiapkan susu, pampers, dan kebutuhan harian lainnya untuk membawanya berobat.#TemanBaik, mari bantu Danish untuk melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!

Dana terkumpul

Rp. 14.741.000
3 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Demi Impian Keliling Dunia, Anak Tukang Ojol Tak Menyerah Lawan Tumor Stadium 4

“Meski diserang penyakit mematikan, tapi anakku tidak banyak mengeluh dan tidak pula menyalahkan keadaan. Aku selalu berkata padanya, ‘kamu anak hebat, kuat dan istimewa. Tuhan percaya kamu bisa lewati ini.’ Dan dia selalu menjawab, ‘aku pengen sembuh biar bisa keliling dunia, Yah.’ Kalimat itulah yang menjadi api semangatnya untuk bertahan.”“Namun, penghasilanku sebagai tukang ojek online sering tak cukup bahkan untuk sekedar makan. Terlebih ketika cuaca buruk, aku tidak bisa mendapatkan nafkah. Tapi, keajaiban selalu datang. Tak jarang aku mendapatkan bantuan tiba-tiba demi pengobatan anak.” -Dewi Susanti, Orang tua Dhavin-Usia anakku, Dhavin Christian Silitonga (15 thn), masih 13 tahun saat itu, ketika Ia seharusnya menikmati masa remajanya dengan bermain dan melakukan hal baru. Awalnya anakku mengalami nyeri dada kiri, aku kira hanya masuk angin biasa dan hanya memberinya obat biasa.Tak lama setelah itu, dada kirinya kembali sakit dan bahkan membengkak. Saat itulah aku merasa ada yang tak beres dan langsung membawanya berobat ke puskesmas. Pihak medis saat itu memberikan anakku obat pereda nyeri, tapi tak ada perubahan sama sekali.  Nyeri dadanya malah semakin parah hingga berpindah ke dada kanannya. Setelah pemeriksaan, dokter mengatakan ada tumor bersarang di paru-parunya. Duniaku rasanya runtuh! Apalagi Anakku tak bisa langsung mendapatkan perawatan karena BPJS-nya tidak aktif. Berbekal hati yang ketakutan, aku terpaksa membawa anakku pulang. Namun, penyakit itu tak kenal ampun. Anakku kembali merasakan nyeri dada yang lebih dahsyat hingga dilarikan ke rumah sakit. Kenyataan pahit yang aku terima malah makin parah, tumor di tubuh anakku ternyata sudah stadium 4 dan disertai kista. Tumor di dadanya menggeser posisi jantung anakku hingga Ia mengalami kesakitan dada, kesulitan bernapas, hingga nyeri pada seluruh tubuhnya. Sejak itu, berat badan anakku menurun drastis dengan cepat. Ia tak sanggup lagi berjalan. Bahkan, buang air kecil saja harus dilakukan di kasur dengan menggunakan ember yang diletakkan di samping ranjang.Ia harus menjalani kemoterapi rutin sebelum menjalani operasi. Proses pengobatannya berjalan dengan penuh derita, Ia mengalami nyeri perut, dada, batuk berdarah, radang usus dan napas tersengal-sengal. Saat kambuh, anakku merasa dadanya seperti diremas. Aku hanya bisa memijat punggungnya, memastikan oksigen tetap terpasang. Sebagai orang tua dengan ekonomi terbatas, hatiku hancur melihat anakku menderita. Aku biasanya narik ojek malam hari, sedangkan siangnya aku tak sanggup meninggalkan anakku karena sakit itu bisa datang kapan saja. Pernah tiba-tiba anakku sesak napas dan kehabisan isi ulang oksigen. Aku tidak punya uang sama sekali, dan sambil menatap langit aku memanjatkan doa kepada Tuhan. Tiba-tiba, saat aku menoleh ke bawah, aku melihat ada uang Rp100 ribu di pinggir jalan. Tuhan menolong di situasi yang sangat terjepit sekalipun. Banyak pertolongan Tuhan tak terduga yang terjadi setiap aku berjuang untuk kesembuhan anakku. Namun, proses pengobatannya masih sangat panjang. Saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Dhavin tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Dhavin!

Dana terkumpul

Rp. 2.359.005
5 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Gerakan Berbagi Makan Siang Gratis untuk Kaum Duafa

#Berbagitakkanrugi merupakan aktivitas atau gerakan membagikan makan siang gratis kepada orang-orang yang membutuhkan yang diadakan saat akhir pekan. Kegiatan ini sudah kami lakukan sejak tahun 2022. Tujuan utama gerakan ini adalah kami ingin mengajak teman semua untuk sama-sama bergerak membantu orang-orang yang sedang membutuhkan bantuan. Kami tidak ingin menjadi organisasi ataupun komunitas.Kami berencana membuat kegiatan ini menjadi kegiatan rutin setiap seminggu sekali di sekitaran Kota Pekanbaru. Maka dari itu, karena kegiatan ini merupakan kegiatan yang baik, kami ingin mengajak Teman-temanBaik untuk ikut berpartisipasi di dalamnya.   Selain itu, kami juga berencana untuk tetap melakukan kegiatan #Berbagitakkanrugi di bulan Ramadhan dengan membagikan makan gratis untuk saudara-saudara kita berbuka puasa. Kami senang apabila TemanBaik ikut mendukung gerakan ini. Dana yang terkumpul akan dibelikan bahan-bahan makanan yang nantinya akan diolah menjadi makan sehat dan bergizi. Bantuan untuk gerakan #Berbagitakkanrugi dapat disalurkan dengan cara klik Donasi Sekarang 

Dana terkumpul

Rp. 11.285.050
6 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Bantu Warga Dusun Pelah, NTB, Dapatkan Akses Air Bersih Setelah 50 Tahun Hidup dalam Kekeringan

Bayangkan berjalan kaki sejauh 6 kilometer setiap hari hanya untuk mendapatkan beberapa jerigen air. Bayangkan harus memilih antara mandi atau memasak karena air yang ada tak cukup untuk keduanya. Inilah kenyataan pahit yang dihadapi oleh 75 keluarga di Dusun Pelah, Kecamatan Mareje Timur, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.Selama lebih dari 50 tahun, warga di Dusun Pelah hidup dalam kekeringan. Tak ada sumur, tak ada aliran air bersih, dan tak ada sumber air yang mudah dijangkau. Satu-satunya sumber air terdekat berada sejauh 5–6 km, yang harus ditempuh dengan berjalan kaki selama hampir satu jam. Kadang, mereka hanya bisa berharap ada truk tangki datang membawa sumbangan air bersih.Mayoritas warga di sini adalah petani. Tapi bagaimana mungkin bercocok tanam jika air pun tidak ada? Kekeringan ini bukan hanya membuat tanah mereka tandus, tapi juga membuat kehidupan sehari-hari terasa begitu berat. Mandi, mencuci, bahkan hanya sekadar memasak, semuanya harus dipikirkan matang-matang karena air sangat terbatas.Lebih dari setengah abad mereka bertahan dalam kekurangan. Saat musim hujan tiba pun, air tetap sulit didapatkan karena tak ada tempat penyimpanan atau aliran air yang layak. Mereka pernah mencoba menggali sumur sendiri, tapi gagal karena alat dan kemampuan yang terbatas.Kini, mereka butuh bantuan kita. Satu sumur bor bisa menjadi jawaban atas puluhan tahun penderitaan ini. Satu sumur bor bisa membawa harapan baru bagi anak-anak, orang tua, dan seluruh warga Dusun Pelah.Mari bantu wujudkan sumur bor untuk Dusun Pelah.Dengan berdonasi hari ini, kamu ikut mengalirkan kehidupan. Kamu hadir sebagai harapan.Klik tombol donasi sekarang. Karena air adalah hak semua manusia. Karena mereka tidak seharusnya berjalan jauh hanya untuk seteguk kehidupan.

Dana terkumpul

Rp. 44.468.022
4 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Ibu Disabilitas Berjuang Demi Kesembuhan Anaknya yang Sakit Jantung

“Kondisi fisikku yang hanya memiliki satu kaki, membuat suamiku harus mengorbankan pekerjaannya demi mendampingi anak kami yang sedang berjuang melawan sakit jantung. Kini, tidak ada lagi sumber penghasilan keluarga, sementara biaya untuk pemasangan alat medis pada jantung anakku sangat besar.”“‘Maafkan Ibu Nak, kondisi Ibu yang tidak sempurna membuatmu tidak bisa mendapatkan yang terbaik,’ itulah bisikan yang selalu ku lontarkan tiap memeluk anakku. Hatiku terluka hingga putus asa, tangisku dalam doa selalu penuh tanya, ‘Tuhan, apakah anakku bisa sembuh dan hidup normal seperti anak lainnya?’” -Kristin Mace, orang tua Maria-Aku percaya semua berada dalam kendali-Mu, Tuhan. Aku akan berusaha semaksimal mungkin demi kesembuhan anakku, Maria Celine Ohoiwutun (3 bln). Namun, kondisi ekonomi juga menjadi salah satu hambatan besar. Tabungan suamiku yang dulu bekerja sebagai mekanik di perusahaan tambang sudah ludes untuk pengobatan anak selama ini. Bahkan, pernah ada masa ketika anakku harus dirawat di rumah sakit tanpa memakai popok, karena kami benar-benar tidak mampu membelinya. Namun di tengah keterbatasan itu, aku percaya Tuhan tidak pernah diam dan aku tak akan pernah menyerah demi kesembuhan anakku.Sejak lahir, anakku sudah masuk ruang NICU karena napasnya tersengal-sengal. Doker mengatakan Ia mengalami infeksi paru-paru (pneumonia). Kian hari, kondisinya terus memburuk. Napasnya sering sesak, setiap kali menyusu ia selalu muntah, bahkan tubuh kecilnya pernah membiru. Rasa cemasku tak terbendung, aku langsung membawanya ke rumah sakit. Saat itulah dokter menyampaikan kabar yang membuat hatiku seakan runtuh, ternyata anakku sakit jantung bawaan. Kondisinya serius hingga Ia harus dirujuk dari Maluku Tenggara ke rumah sakit di Ambon.Namun, berhari-hari dirawat di rumah sakit Ambon, anakku malah dirujuk ke rumah sakit di Jakarta. Bermodal biaya seadanya dan penuh harapan, aku dan suami memberanikan diri membawa anak kami menempuh perjalanan jauh ke Jakarta. Setibanya di sana, Ia langsung menjalani tindakan kateterisasi pertamanya.Kondisi anakku saat ini sudah lebih baik dari sebelumnya. Anakku tidak boleh aktivitas berlebihan. Jantungnya sering berdebar kencang dan sesak napas masih sering terjadi. Saat ini ia sedang menunggu jadwal operasi lanjutan untuk pemasangan empat alat medis pada jantungnya. Sayangnya, aku kesulitan biaya. Perjalanan pengobatan anakku juga tidaklah mudah. Aku harus bolak-balik mengantarkannya berobat, menempuh perjalanan dari Kabupaten Maluku Tenggara ke Kota Ambon, lalu melanjutkan perjalanan panjang menuju Jakarta. Perjalanan itu sangat melelahkan, tetapi semua itu terasa kecil dibandingkan harapan untuk kesembuhan anakku.Aku sudah mencoba berbagai cara untuk bertahan. Barang-barang yang ada di rumah sudah dijual, mulai dari handphone, kipas angin, hingga stroller anak. Namun perjuangan pengobatan anakku masih panjang. Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat tidak ditanggung BPJS, alat medis, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Maria tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Maria!

Dana terkumpul

Rp. 2.785.002
5 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Ada 3 Lubang di Jantungnya! Anak Tukang Ojol Harus Operasi Bedah di Jakarta

“Dokter bilang terdapat 3 lubang di jantung anakku! Air mataku tak berhenti mengalir sepanjang perjalanan di atas motor, sambil menggendong anakku untuk pindah rumah sakit. Sementara suamiku mengendarai motor dengan pandangan kosong, sama linglung dan hancurnya.”“Kepalaku penuh ketakutan, bagaimana jika tubuh kecil anakku tak sanggup bertahan? Aku tak pernah siap kehilangannya. Di tengah kecemasan itu, aku juga dihantam biaya pengobatannya yang besar. Suamiku berbulan-bulan tak dapat upah di tempat kerja sebelumnya, karena mengantar anak berobat. Ia terpaksa banting setir menjadi pengemudi ojek online, yang penghasilannya pun tak menentu.” -Reni Misnawati, Orang tua Reynand-Akibat penyakit, kini tubuh anakku, Reynand Margogo Sinurat (3 thn), semakin hari semakin kurus, hingga tulang rusuknya kelihatan sangat jelas dari balik kulitnya. Ia tidak bisa tidur dengan tenang, karena sesak napasnya akan semakin menyiksa setiap malam hari hingga membuat bagian dadanya cekung.Setiap menangis, wajah anakku akan pucat dan membiru. Tak jarang Ia sampai muntah hebat. Jika kambuh, Ia bisa batuk-batuk sampai tubuhnya lemas dan dilarikan ke IGD rumah sakit. Tak seperti anak-anak seusianya, Ia hanya bisa minum susu untuk makan, itupun susu khusus yang harganya sangat mahal.Aku dan suami sering kewalahan, karena dalam sebulan anakku bisa menghabiskan jutaan rupiah untuk susunya. Bahkan pernah, untuk sekadar makan sehari-hari, aku harus membongkar celengan kaleng dan membeli beras kiloan dari uang logam yang tersisa.Sejak lahir, Reynand selalu menangis jika tak digendong. Aku tak bisa meninggalkannya, tak bisa keluar rumah untuk mencari pekerjaan. Meski begitu, aku terus berusaha. Dari rumah, aku mencoba berjualan produk orang lain secara online, berharap ada sedikit tambahan untuk bertahan.Semua emas dan barang berharga yang kami miliki sudah kujual demi pengobatan anakku. Saat benar-benar buntu, aku hanya bisa menelepon orang tua dan rekan-rekan, memohon pinjaman. Aku keliling kota Pekanbaru, mencari bantuan ke sana kemari, demi satu harapan, dan anakku bisa terus hidup.Kini Reynand dirujuk untuk menjalani operasi bedah jantung di Jakarta. Aku semakin tak tahu harus mencari uang ke mana lagi. Biaya transportasi dari Pekanbaru ke Jakarta saja sudah sangat besar. Belum lagi obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, serta biaya hidup selama kami harus berjuang di tanah perantauan.Sebagai orang tua, aku hanya ingin satu hal, melihat anakku bernapas tanpa rasa sakit, dan hidup seperti anak-anak lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Reynand tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Reynand!

Dana terkumpul

Rp. 24.023.554
3 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kemanusiaan
Sembako untuk Para Difabel di Pelosok Nusa Tenggara Timur!

“Saat melakukan kunjungan pada difabel yang mengalami cerebral palsy dan hidrosefalus, yang aku dapatkan malah kepedihan hati. Aku menyaksikan difabel itu tidur tak berdaya di atas kain tipis, Ia hanya diberikan air gula karena keluarganya tak sanggup membelikan susu.”“Seketika dadaku terasa sesak, air mataku seketika jatuh. Betapa pilunya melihat kenyataan tak ada beras yang tersisa, dan tak ada lauk untuk dimakan. Keluarganya yang lumpuh tak mampu mencari nafkah, hanya bisa berharap belas kasihan tetangga untuk makan. Itulah awal mula aku terketuk untuk menolong para keluarga difabel.”Perkenalkan, aku Nona Mas’ad (34 thn), seorang perawat di sebuah puskesmas kecil di Watu Alo Desa Ndehes, Kecamatan Wae ri’i, Kabupaten Manggarai, Flores Nusa Tenggara Timur. Sejak 2021 lalu, aku membantu para difabel yang hidup dalam keterbatasan. Aku mencoba datang dari rumah satu ke rumah lainnya, mendata semua difabel serta mencatat kebutuhan mereka. Banyak dari difabel tersebut tidak memiliki KTP. Akhirnya aku membantu mereka mengurus KTP dan KK, agar setidaknya mereka bisa mendapatkan BPJS gratis dan memiliki harapan untuk berobat.Selain itu, ternyata banyak dari mereka yang tinggal di rumah tak layak huni dan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Keluarga mereka rata-rata bekerja di kebun milik orang lain, dengan penghasilan tak menentu.Bahkan, aku pernah menemukan difabel yang tidak bisa berjalan,  tinggal bersama seorang anak berusia 10 tahun. Anak itu seharusnya berada di bangku sekolah, tapi memilih berhenti demi merawat ibunya. Mereka pernah tidak makan selama dua hari. Tak ada beras, hanya jagung yang dipetik dari halaman rumah, itu pun jika ada.Hati ini rasanya tak sanggup hanya melihat. Aku mulai mengumpulkan sumbangan dari teman-teman terdekat. Meski terkadang setiap orang hanya bisa memberikan Rp5 ribu, tapi bantuan itu tetap berarti untuk menyelamatkan seseorang dari lapar hari itu.Namun, dana yang terbatas ternyata juga pernah menjadi masalah serius. anyak dari mereka yang akhirnya tidak bisa berobat karena tidak ada biaya. Aku pernah mengantarkan seorang difabel pulang berobat dengan kursi roda yang kuikat di belakang motorku. Pernah juga ada pasien difabel sekaligus hidrosefalus yang harus menjalani operasi di luar kota. Harapannya begitu besar, tapi kenyataan berkata lain. Biaya transportasi yang dibutuhkan terlalu tinggi, sementara dana yang kukumpulkan tak pernah cukup. Akhirnya, pasien tersebut hanya bisa menangis setiap malam, rasanya aku gagal menjadi relawan. Aku pernah menggunakan gajiku untuk membantu mereka, tapi bantuanku sering tidak cukup untuk beberapa difabel. Aku hanya berharap bantuanku untuk memberikan sembako pada para difabel bisa terus berjalan, agar mereka terus punya alasan untuk bertahan hidup.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan para difabel tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup para difabel!

Dana terkumpul

Rp. 11.956.005
5 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Operasi Tertunda Akibat Kejang Tak Berhenti, Asshafa Berjuang dari Jantung Bocor

“Ya Allah, kalau Engkau berkenan, pindahkan saja seluruh rasa sakit anakku itu kepadaku. Biarlah aku yang menanggung, aku tidak tega melihatnya menderita. Jika Engkau masih mengizinkan umurnya panjang, sembuhkanlah ia sepenuhnya. Tapi jika Ia sakit terus, aku akan belajar ikhlas untuk Ia kembali ke sisi-Mu ya Allah.’ Doa itu kupanjatkan dengan tangis yang gemetar.”“Setiap hari aku melatih kesabaran dan menerima dengan lapang dada kenyataan yang tak terbayangkan sebelumnya. Ketika sedang merasa lelah, aku sadar anakku pasti jauh lebih lelah karena kesakitan. Ada kekuatan dalam diriku yang sering muncul ketika melihat perjuangan anakku. Aku tak boleh menyerah untuk harapan hidupnya yang lebih baik.” -Nur Fitriyani, orang tua Asshafa-Duniaku runtuh saat tahu tangisan anakku ada jeritan kesakitan yang tak terucap. Aku beri nama anakku, Asshafa Putri Agnuvina. Ia lahir begitu cantik, mungil dan sehat. Tidak ada firasat buruk apapun, aku memeluknya dengan penuh syukur dan membayangkan hari indah bersamanya.Namun, saat usianya 40 hari, tangisannya berubah menjadi sangat kencang dan berlangsung selama berjam-jam. Aku sangat kebingungan dan panik, apalagi saat itu bibirnya membiru, dadanya naik turun dengan cepat, jantungnya berdetak sangat kencang dan setiap menyusu sering tersedak hingga henti napas sesaat.Aku tetap terus berusaha menenangkan diri, mungkin itu fase biasa yang dialami bayi. Seiring waktu, kondisinya tak kunjung membaik dan akhirnya aku memutuskan membawanya ke dokter. Saat itulah, duniaku mendadak gelap, dokter mengatakan anakku sakit jantung bocor.Ketakutanku diperparah karena ada dua lubang besar di jantungnya dan Ia harus dioperasi. Aku dan suami menangis sejadi-jadinya, tubuhku sampai lemas dan tak sanggup berdiri. Tak pernah ku sangka, tangisan panjangnya selaka ini berasal dari penyakit mematikan.Aku dan suami juga sempat bingung saat itu, karena kondisi ekonomi keluarga juga serba kekurangan. Namun, aku nekat berangkat dari Kuningan, Jawa Barat, ke Jakarta meski tidak punya bekal uang sama sekali. Namun, belum selesai anakku menjalani pengobatan, tiba-tiba Ia mengalami kejang saat usia 9 bulan. Tubuhnya kaku, matanya berbalik ke atas, wajahnya pucat seperti orang kehabisan napas. Hatiku perih, tak sanggup menyaksikan kondisi anakku.Dokter mengatakan anakku mengalami epilepsi (gangguan sistem saraf otak).  Sejak itu, hidupku berada di antara ruang tunggu dan ruang rawat inap. Saat ini, kondisi anakku seperti bayi yang baru lahir, Ia belum bisa duduk, berdiri dan bahkan belum bisa merespon. Ia juga masih sering kejang.Anakku sudah sempat akan menjalani operasi, tapi saat hari yang seharusnya menjadi harapan kesembuhan itu, Ia justru mengalami kejang hebat. Akhirnya operasi pada anakku terpaksa ditunda dan Ia harus kembali menunggu jadwal tindakan berikutnya.Pengobatan anakku masih panjang. Aku sudah menjual handphone, mesin jahit dan barang berharga lainnya untuk pengobatan anak selama ini. Suamiku bekerja dari pagi sampai pagi sebagai penjahit, tapi penghasilannya sering tak menentu. Aku juga berupaya menjual jasa dengan mencuci pakaian tetangga.Aku juga berutang karena karena ingin terus membawa anakku berobat. Bahkan pernah diminta pergi dari rumah orang tua karena pinjaman yang belum mampu ku bayar membuat penagih datang ke sana. Sementara anakku saat ini masih membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Asshafa  tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Asshafa!

Dana terkumpul

Rp. 10.955.000
1 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Perjuangan Anak Petani Melawan Pierre Robin Syndrom dan Penyakit Jantung Sejak Hari Pertama Lahir

“Saat ini, anakku terbaring lemah di ruang NICU rumah sakit. Sebagian wajahnya tertutup alat bantu medis yang menjadi penopang setiap detik hidupnya. Setiap hari aku berdoa dan menggenggam harapan, agar Tuhan memberikan keselamatan atas rasa sakit yang selalu Ia tahan.”“Di tengah perjuangan anakku, ada biaya pengobatan dan perawatan yang terus membengkak. Suamiku hanyalah seorang petani yang menggarap sawah milik orang lain, penghasilannya pas-pasan. Namun, suamiku harus berhenti bekerja demi mendampingi anak pengobatan jauh dari rumah Lampung ke Jakarta. Kini, biaya pengobatan anak terasa seperti jalan buntu.” -Siti Lailatul, Orang tua Revania-Revania Zea As Shakila (3 bln) adalah buah hati yang sangat aku nantikan dalam hidupku. Namun, begitu lahir, suara tangisan yang ku tunggu-tunggu itu tak juga terdengar. Ia hanya diam dan membuat hatiku mulai cemas.Setelah beberapa saat, barulah Ia tampak seperti menangis, itupun suaranya terdengar tertekan, serak, dan aneh. Mendadak hari bahagia itu berubah menjadi air mata ketakutan. Anakku juga tidak mau minum, napasnya sesak hingga bibir dan tubuhnya membiru.Anakku langsung masuk NICU selama seminggu. Dokter menyampaikan ada kelainan pada rahang bawahnya yang mundur, serta terdapat celah pada langit-langit mulutnya. Anakku pun mendapatkan perawatan lanjutan, tapi tak menunjukkan perubahan berarti.Dengan harapan besar, aku membawa anakku ke rumah sakit yang lebih besar. Tapi dokter malah memintaku untuk membawa anakku ke berobat ke Jakarta. Hatiku berdebar dan tubuhku gemetar tak karuan saat itu, berarti kondisi anakku sangat parah?Demi kesembuhan anak, bermodal nekat dan uang terbatas, aku dan suami membawa anakk berobat ke Jakarta. Saat diagnosa lain keluar, selain masalah pada rahang mulutnya nya (Pierre Robin Syndrom), tapi juga penyakit jantung bawaan. Duniaku rasanya runtuh seketika!Kondisi tersebut membuat anakku harus menggunkan alat bantu napas, echo jantung, pemasangan selang NGT ke dalam hidung untuk makan dan minumnya. Tidurnya tak pernah benar-benar tenang, Ia selalu gelisah. Dokter mengatakan anakku baru bisa operasi kelainan pada rahang mulutnya jika berat badannya sudah stabil. Tentu saja hal ini membuat kami semakin lama di perantauan dan pengeluaran terus berlanjut. Bahkan, ada masa-masa ketika aku dan suami tidak makan karena uang yang ada prioritasnya untuk membeli obat anak. Semua barang berharga sudah dijual dan pinjam uang ke kerabat dekat sudah dilakukan, sekarang bingung harus melakukan apalagi. Saat ini, anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. Di tengah kesulitan yang aku alami, aku juga merasakan banyak pertolongan dari tangan-tangan tulus. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Revania tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Revania!

Dana terkumpul

Rp. 30.220.000
7 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Perutnya Sampai Dilubangi, Radikta Berjuang dari Tumor Ovarium Stadium 3

“Anakku mengalami tumor ovarium stadium 3 di usianya yang baru menginjak 5 tahun! Sejak itu, tiada hari yang aku lalui tanpa air mata. Hatiku hancur, melihat tubuh kecilnya yang dulu ceria, kini terbaring lemah menahan sakit. Makan dan minum pun kini harus bergantung pada selang NGT yang ditancapkan ke hidungnya.”“Tak hanya itu, untuk buang air besar pun ia harus melalui lubang di perutnya yang dipasangi kantong kolostomi. Setiap detik yang ia jalani terasa seperti pertarungan melawan rasa sakit. Tubuh kecilnya belum mampu melakukan banyak hal, sehingga hampir sepanjang waktu Ia hanya bisa berada dalam pelukanku.” -Tarilah, Orang tua Radikta-Semua terjadi begitu mendadak! Tiba-tiba anakku, Radikta Aprilia Najwa (5 thn), mengalami sembelit. Aku juga menemukan benjolan di bagian kiri perut bawahnya. Aku yang cemas pada hal janggal itu langsung membawanya ke puskesmas.Saat itu dokter menduga ada fases (kotoran) yang mengendap di perut anakku, lalu Ia diberi obat. Hari demi hari aku menunggu dengan penuh harap agar kondisinya membaik. Namun kenyataannya tidak seperti yang aku bayangkan. Ia masih kesulitan BAB. Akhirnya dokter merujuk anakku periksa ke rumah sakit besar.Hasil pemeriksaan membuat hatiku seperti teriris. Ada bakteri di paru-paru anakku, fungsi ginjalnya juga tidak bekerja dengan baik, dan yang paling membuatku terpukul, anakku didiagnosa tumor ovarium. Ia pun harus dirujuk dari Cirebon ke Jakarta untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.Sejak saat itu, anakku harus menjalani serangkaian operasi besar. Tumor di tubuhnya diangkat, lalu dibuatkan lubang di perutnya sebagai jalur untuk buang air, dan dipasang selang dari ginjal yang keluar melalui tubuhnya. Tak tega rasanya melihat tubuh kecilnya harus menanggung begitu banyak luka operasi.Kini anakku sedang menjalani kemoterapi. Tubuhnya semakin lemah, ia sering muntah, kehilangan nafsu makan, dan masih kesulitan BAB. Meski begitu, di tengah rasa sakitnya Ia sering berkata ingin segera sembuh agar bisa kembali sekolah dan bermain bersama teman-temannya seperti anak-anak lain.Sebagai seorang ibu, aku hanya bisa terus berharap dan berdoa untuk kesembuhannya. Namun di sisi lain, aku juga harus menghadapi kenyataan pahit tentang biaya pengobatan. Suamiku hanyalah seorang buruh proyek dengan penghasilan sekitar Rp75 ribu. Demi terus mengobati anakku, aku sudah meminjam uang ke sana-sini bahkan menjual barang-barang yang ada di rumah. Sementara itu, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi bolak-balik ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, serta berbagai kebutuhan lainnya selama menjalani pengobatan. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Radikta  tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Radikta!

Dana terkumpul

Rp. 4.804.000
7 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Anak
Perjuangan dari Papua ke Jakarta, Elisius Jalani 4 Kali Operasi demi Sembuh dari Kelainan Usus

“Aku nekat! Bermodalkan utang di bank, aku membawa anakku berobat dari pelosok Papua ke Jakarta dengan hati cemas dan penuh harap. Namun belum juga pengobatannya selesai, uang yang kubawa sudah habis tak tersisa dan anakku malah pingsan hingga 2 kali. Aku ketakutan luar biasa menyaksikan tubuhnya tak berdaya.”“Di tengah kebingungan itu, aku juga luntang-lantung di perantauan, tidak ada uang untuk sewa tempat tinggal. Namun, di titik paling gelap itu, Seorang yang baru kukenal di rumah sakit, dengan tulus menawarkan tempat tinggal selama anakku dirawat inap. Kebaikan itu bagai pelukan hangat dari Tuhan. Saat itulah aku percaya, akan selalu ada tangan baik yang Tuhan kirimkan.” -Ika Setianingrum, orang tua Elisius-Di usianya yang baru 1 tahun, anaku, Elisius Daniel Saputra Mbaubedari (1 thn)  sudah melewati 4 kali operasi! Ia didiagnosa hirschsprung disease, yaitu kelainan bawaan sejak lahir yang membuat usus besarnya tidak memiliki saraf.Di hari pertama kelahirannya, ia tak kunjung BAB dan malah muntah. Hati seorang ibu mana yang tidak panik? Dengan penuh kecemasan aku membawanya ke dokter. Benar saja, semuanya berubah serius. Di usia yang baru 4 hari, Ia sudah harus menjalani operasi pertamanya. Anakku dirujuk ke Jakarta untuk operasi lanjutannya. Namun cobaan tak berhenti di situ. Tak lama setelah operasi, perutnya kembung, ia mencret tanpa henti, ususnya membengkak. Dokter menyarankan terapi dan obat, tetapi tak ada perubahan berarti. Bahkan dokter sampai terbang ke Singapura untuk berdiskusi dengan tim medis di sana demi mencari jalan terbaik untuk anakku. Hasilnya ditemukan penyempitan di atas anusnya, dan harus menjalani operasi ulang. Setelah itu, Ia bukannya membaik, tapi malah mengalami dehidrasi, demam tinggi, campak, bahkan infeksi bakteri yang menyebabkan kista di ketiaknya.Dokter memutuskan anakku menggunakan selang NGT melalui hidungnya untuk makan dan minum agar menghindari infeksi. Ia BAB bukan melalui anus, tapi melalui perut sebelah kanannya yang dilubangi dan dibungkus kantong stoma. Setiap kali membersihkannya, aku berusaha tersenyum, meski air mata sering jatuh tanpa bisa kutahan.Namun, meski sudah sakit sejak lahir, tapi anakku jarang sekali merengek seperti anak sakit pada umumnya. Ia hanya merintih pelan saat rasa sakitnya benar-benar tak tertahankan. Berat badannya yang tetap baik, meski dengan segala keterbatasan pencernaannya, seperti menjadi tanda bahwa ia ingin sembuh, ia ingin hidup.Perjuangan kami belum selesai, operasi lanjutan masih menunggu. Suamiku kini bekerja lebih keras, dari pagi hingga malam menarik ojek, meninggalkan anak kami yang lain sendirian di rumah demi biaya pengobatan adiknya. Aku sudah mencoba menghubungi berbagai yayasan, berharap ada bantuan, tetapi belum ada jawaban.Sekedar makan sehari-hari pun, aku masih dibantu oleh orang baik yang aku temui di rumah sakit. Beberapa pasien juga membantu menebus obat anakku. Sementara itu, perjalanan sembuh anakku masih panjang. Ia masih terus membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Elisius tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Elisius!

Dana terkumpul

Rp. 12.970.000
1 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Card image cap
Kesehatan
Nuh Alami Penyakit Langka Sampai Kehilangan Penglihatannya

“Tak pernah terbangkan bagiku, anakku mengidap penyakit langka yang hanya terjadi pada 3 anak di Indonesia di tahun ini! Semua terungkap setelah saat menakutkan itu, ketika aku hampir kehilangannya yang mengalami henti napas.”Dokter mengirimkan sampel darah anakku ke Jerman dan Hongkong untuk diteliti, ternyata anakku mengalami mutasi genetik Maple Syrup Urine Disease (MSUD). Ia terpaksa minum air dan gula, karena aku tak sanggup membeli susu khusus yang harganya sangat mahal. Sementara semua susu biasa adalah racun bagi anakku!” -Arisha Trisna, Orang tua Nuh-Seminggu setelah lahir, Nuh Tsabit Qies Sinulingga (2 thn) mendadak sering memejamkan matanya dan menolak minum susu. Aku terus berusaha meminumkannya karena berat badannya turun drastis, tapi justru membuatnya tersedak.Dokter mengatakan anakku mengalami dehidrasi dan infeksi paru-paru. Ia harus menggunakan alat medis karena sempat henti napas secara tiba-tiba. Dua minggu berlalu di ruang perawatan, anakku masih tetap tak membuka matanya.Tapi ketika dicubit, Ia tetap merespon meski lambat, tanda Ia masih berjuang.Sebulan kemudian, hasil tes keluar. Air mataku langsung jatuh. Di urin anakku ditemukan penumpukan zat beracun yang bisa merusak otak, menyebabkan pembengkakan, kejang, bahkan koma dan kematian. Aku serasa kehilangan napas. Dokter mengatakan, jika kondisinya membaik, Nuh perlu menjalani transplantasi hati.Biaya pengobatan yang ada saja sudah begitu berat, lalu bagaimana selanjutnya? Bahkan anakku sampai dipulangkan dari rumah sakit karena kami tak kehabisan uang. Suamiku hanya bekerja sebagai staf administrasi honorer di pemerintahan dengan penghasilan terbatas. Namun, demi keselamatannya, aku menjual semua harta yang kami punya dan menggalang dana bersama teman-teman. Dari situlah kami bisa membawa Nuh berobat ke Malaysia, tempat yang katanya memiliki fasilitas lebih baik untuk penyakitnya.Kini, kondisi anakku hanya bisa berbaring ke kanan dan ke kiri. Terkadang, Ia mengalami kejang hingga tubuhnya kaku, lupa menelan dan kehilangan penglihatannya. Meski begitu, aku tetap yakin suatu hari nanti anakku bisa tersenyum dan tumbuh sehat seperti anak-anak lain.Aku percaya, selalu ada jalan bagi mereka yang berusaha dan bertawakal. Saat ini, anakku membutuhkan biaya untuk membeli susu khusus, transportasi ke rumah sakit, obat dan vitamin yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nuh tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nuh!

Dana terkumpul

Rp. 10.445.001
2 hari lagi
Dari Rp. 20.000.000
Lihat Semua
  Lihat Semua Campaign