Benihbaik x The Body Shop
Salurkan donasi anda ke campaign-campaign di bawah ini
Campaign Pilihan Hari Ini
Tulangnya Sampai Keropos! Bu Elang Alami Kanker Payudara dan Kecelakaan
Elang Yudansih
Dimulai dari Rasa Gatal Luar Biasa, Aku Ketahuan Mengalami Kanker Payudara!
Evi Novianti
Ditinggal Ayah, Ibu Berjuang Sendiri Mendampingi Haura yang Alami Sederet Penyakit
SYAFRINI
Pilihan Benihbaik
Tulangnya Sampai Keropos! Bu Elang Alami Kanker Payudara dan Kecelakaan
Elang Yudansih
Ditinggal Ayah, Ibu Berjuang Sendiri Mendampingi Haura yang Alami Sederet Penyakit
SYAFRINI
Dimulai dari Rasa Gatal Luar Biasa, Aku Ketahuan Mengalami Kanker Payudara!
Evi Novianti
Panggilan Mendesak
Waktu mereka tidak banyak, mereka sangat membutuhkan bantuan kalian
Tumor Ganas Terus Menggerogoti Dagu Diyana Hingga Ia Pendarahan!
“Gumpalan darah terus mengalir dari tumor ganas di dagu Diyana! Bantal yang Ia tiduri sampai kuyup berubah merah. Tapi Ia hanya terbaring diam, menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Namun, air matanya diam-diam mengalir dalam keheningan, akibat rasa sakit yang begitu hebat. ”“Di titik terendah itu, Diyana kesulitan biaya untuk pengobatan. Bahkan pernah, saat penyakitnya kambuh hingga membuatnya tak sadarkan diri, keluarganya harus berlari mencari pinjaman uang terlebih dahulu untuk membawanya ke rumah sakit. Tak dapat diungkapkan dengan kata-kata, betapa sedih keluarganya karena keadaan itu.”Benjolan itu muncul di dagu Diyana (31 thn) dengan ukuran yang kecil. Semula terlihat biasa saja dan samar, jadi diabaikan begitu saja. Siapa sangka, ternyata benjolan tersebut perlahan membesar dan mulai menakutkan. Tubuh Diyana juga terasa berbeda, Ia jadi mudah lelah dan sakit.Setelah bertemu dokter, fakta pahit terkuak. Ternyata bengkak tersebut berasal dari tumor yang sudah mengganas. Dunia Diyana terasa runtuh seketika. Tindakan operasi sudah diupayakan untuk mengangkat penyakit tersebut, tapi harapan pupus ketika benjolan itu tumbuh lagi.Akhirnya operasi kedua kembali dilakukan. Namun, belum sempat Diyana bernapas lega dan merasakan kesembuhan, penyakit itu kembali menggerogoti tubuhnya untuk ketiga kalinya. Ia seakan tak diberi ampun, sampai akhirnya Ia harus dirujuk melanjutkan pengobatan dari Lampung ke Jakarta.Bayangkan, sudah 9 tahun Diyana harus bertahan dari penyakit ini. Tidak ada sedetikpun yang dilaluinya tanpa rasa sakit dan air mata. Kondisinya malah semakin lemah, tidak bisa bekerja lagi dan tidak stabil. Ia harus terus menjalani kemoterapi untuk bertahan hidup.Tiap kali kambuh, Ia akan merasa nyeri hebat di bagian bengkak tumornya dan sampai harus dilarikan ke IGD rumah sakit. Di tengah segala penderitaan yang tak berjeda itu, Diyana selalu semangat untuk sembuh. Ia masih ingin hidup lebih lama, bersama suaminya, menemani anak-anaknya tumbuh besar. Namun, biaya pengobatan yang sangat besar sangat membebani. Suaminya hanyalah buruh tani dengan penghasilan terbatas. Keluarganya sudah menjual segala barang-barang berharga untuk pengobatan Diyana selama ini. Bahkan, keluarga nekat meminjam sana-sini hingga tengah malam dengan harapan tinggi, tapi justru jarang sekali ada yang menolong.Pengobatan Diyana masih panjang, Ia masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, pampers, vitamin dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Diyana tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Diyana!
Dana terkumpul
Alami Kelainan Kelamin, Devanka Belum Bisa Dinyatakan Laki-laki atau Perempuan!
“Anakku didiagnosa kelainan hormon yang menyebabkan alat kelaminnya tidak jelas! Akibatnya, Ia belum bisa dinyatakan laki-laki maupun perempuan. Tubuhnya lemah, kekurangan zat besi, dinyatakan stunting karena tumbuh kembangnya tak sejalan dengan usianya.”“Bagai dihantam bertubi-tubi, hancur sekali hatiku! Setiap hari aku diliputi kecemasan, tentang kesehatannya, tentang kebahagiaannya, tentang bagaimana ia akan menjalani hidupnya kelak. Aku hanya ingin ia tumbuh dengan layak dan tersenyum tanpa beban, tapi jalan yang harus Ia lalui terasa begitu berat.” -Rinda Ardianti, Orang tua Devanka-Anakku, Devanka Rizki (23 bln), lahir lebih cepat sebelum waktunya dan tubuhnya begitu rapuh dengan berat badan 1,4 Kg. Moment kehadiran anak yang seharusnya ku sambut dengan bahagia, seketika bercampur dengan kecemasan. Apalagi dokter menyampaikan Ia mengalami ambigu genitalia, kelainan alat kelamin. Tidak ada dekapan hangat rumah di hari-hari pertama kehidupannya, melainkan ruang NICU yang menjadi tempat istirahatnya selama 11 hari. Setiap detik waktuku rasanya diisi dengan ketakutan dan harapan, karena berkali-kali kondisi anakku menurun. Hingga akhirnya kondisi anakku perlahan membaik dan diizinkan pulang. Namun, perjalanan belum selesai, anakku dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar untuk penanganan lebih lanjut.Anakku menjalani 3 kali operasi pada alat kelaminnya. Namun, hingga kini anakku masih berada dalam ketidakpastian apakah Ia perempuan atau laki-laki. Tubuhnya terus bertahan dan berjuang untuk sembuh, tapi masa depannya seolah masih tertutup kabut. Operasi lanjutan masih menanti anakku ke depannya, tapi biaya pengobatannya bukanlah hal yang mudah bagiku. Aku mulai menjual perhiasan dan emas dari pernikahanku karena kondisi ekonomi keluarga sangat terbatas.Suamiku bekerja sebagai pengemudi ojek online, berat subuh dan pulang larut malam. Itupun penghasilannya tak menentu, kerja kerasnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga sehari-hari. Terkadang, suamiku rela tidak makan, asal kebutuhan anak kami terpenuhi.Bahkan, aku pernah terpaksa menghentikan pembelian susu medis untuk anakku karena benar-benar tidak ada uang lagi. Akhirnya kondisi kesehatan menurun, begitu pula dengan berat badannya. Rasa bersalah menghantamku, karena tidak bisa memberikan yang terbaik.Hingga saat ini, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, tes laboratorium, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Devanka tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Devanka!
Dana terkumpul
7 Tahun Tak Bisa Berjalan, Nenek Kiyah Hidup Bergantung pada Bantuan Orang
“Di usiaku yang sudah 75 tahun, aku tak pernah membayangkan hidupku akan bergantung pada belas kasih orang lain. Penyakit telah merenggut kakiku, membuatku tak mampu berjalan. Hari-hari kuhabiskan dengan berbaring, menatap langit-langit rumah yang sunyi sambil menunggu bantuan, bahkan untuk sekedar makan.”“Berobat pun aku harus menahan perih karena keterbatasan biaya. Suamiku telah berpulang 12 tahun lalu, sesekali anakku datang mengurusku. Meski kesembuhan terasa seperti mimpi yang jauh, aku masih menyimpan harapan kecil untuk kesembuhanku.”Namaku Kiyah, Sudah tujuh tahun lamanya aku hidup berdampingan dengan osteoartritis. Penyakit ini perlahan merusak bantalan antar tulang pada sendi kakiku. Hingga suatu pagi, hidupku berubah selamanya. Aku terkejut, mendapati dari pinggang ke bawah tubuhku lumpuh total.Nyeri hebat di kakiku datang setiap hari, tak pernah memberi jeda. Malam-malamku berlalu tanpa tidur nyenyak. Namun pada akhirnya, tak ada yang bisa kulakukan selain menahan rasa sakit itu dalam diam. Beraktivitas sudah tak mungkin, bahkan untuk sekedar berjalan ke kamar mandi atau berwudhu pun aku tak sanggup.Aku harus menunggu bantuan orang lain jika ingin beribadah. Padahal kini, hanya doa yang menjadi satu-satunya cara bagiku untuk bertahan, memohon harapan dan kekuatan. Saat ini, yang kuhadapi bukan hanya rasa sakit, tetapi juga beban biaya pengobatan yang terus berjalan.Pernah ada hari-hari di mana aku tak makan apa pun karena tak ada yang bisa membantu. Namun ada pula hari-hari yang penuh syukur, ketika keponakanku datang membawa sepiring nasi dan telur goreng, setelah sejak pagi perutku kosong.Segala harta yang kumiliki telah kujual satu per satu. Namun pengobatan tak bisa berhenti selama aku belum sembuh. Selama ini, aku hanya mengandalkan bantuan dana dari warga sekitar yang kadang ada dan kadang tidak ada sama sekali.Aku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat-obatan yang tidak ditanggung BPJS, pampers, serta kebutuhan dasar lainnya untuk bertahan hidup.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nenek Kiyah tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nenek Kiyah!
Dana terkumpul
Sel Kanker di Tubuhnya Sempat Mencapai 87%! Kenzie Masih Terus Bertahan
“Sel kanker di tubuh anakku sempat mencapai 87%! Tubuhnya sampai lemas tak berdaya, Ia menangis menahan nyeri, hingga harus menerima transfusi 3 kantong darah merah dan 2 kantong trombosit demi bertahan hidup. Di usianya yang harusnya bebas tertawa dan bermain, anakku justru harus bolak-balik menjalani kemoterapi.”“Perjalanan anakku menuju sembuh masih panjang, tapi aku kesulitan biaya untuk pengobatannya membludak dan kemampuanku terbatas. Sementara itu, sel kanker bisa menyebar hingga ke kepalanya jika pengobatan terhenti. Aku takut kehilangan kesempatan menyelamatkan anakku akibat kendala biaya.” -Viyadhita, Orang tua Kenzie-Anakku, Muhammad Kenzie Arsenio (2 thn), sudah menjalani 10 kali kemoterapi. Pengobatan itu membawa dampak yang begitu berat untuk tubuh kecilnya. Seluruh badannya terasa sakit, lemas tak berdaya, wajahnya pucat, disertai batuk dan flu.Padahal tubuhnya harus selalu dalam kondisi stabil agar bisa melanjutkan kemoterapi. Semua bermula dari demam biasa, hingga bibirnya pecah-pecah sampai berdarah. Dokter sempat menduga anakku terkena DBD dan merujuk kami ke rumah sakit yang lebih besar. Namun siapa sangka, gejala yang terlihat sepele itu berubah menjadi kabar paling menghancurkan dalam hidupku, anakku divonis menderita kanker darah.Rasa kecewaku tak terbendung, tubuhku langsung lunglai mendengar anakku diserang penyakit ganas. Tapi aku juga harus kuat, karena harus berjuang mendampingi anakku pengobatan. Saat ini, kondisi anakku sering menurun drastis, demam, hingga tidak bisa jalan karena persendiannya sering linu. Emosinya pun berubah, ia sering marah-marah, mungkin karena tubuh kecilnya terlalu lelah menahan sakit.Demi menjaga kesehatannya, anakku harus minum susu khusus dan mengkonsumsi makanan bergizi. Namun kebutuhan sederhana itu pun sering kali sulit kami penuhi. Suamiku hanya bekerja sebagai pemasang dekorasi pernikahan, dengan penghasilan yang tak menentu karena pekerjaan tidak selalu adaBahkan, aku butuh biaya yang cukup besar untuk sekedar membawa anakku kontrol rutin karena jarak yang jauh, dari Sukabumi, Jawa Barat ke Bandung. Belum lagi,obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Kenzie tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Kenzie!
Dana terkumpul
7 Tahun Menanti Kehadirannya, Anakku Malah Didiagnosa Atresia Bllier dan Jantung Bocor!
“Setelah 7 tahun menanti dengan doa dan harapan, akhirnya aku dikaruniai buah hati pertamaku. Ironisnya, kebahagiaan itu meredup ketika anakku didiagnosa penyakit langka yang mematikan, atresia billier. Tak berhenti sampai disitu, anakku juga didiagnosa penyakit jantung.”“Di balik tubuh kecilnya yang lemah, ia sudah melewati masa kritis yang begitu berat, bahkan saat operasi yang dijalani dinyatakan gagal. Kini, anakku harus cangkok hati! Aku sebagai orang tua akan tetap berjuang, demi anakku bisa tumbuh besar dalam keadaan sehat.” -Siti Aisyah, Orang tua Nada-Setiap malam anakku, Nada Putri Masruri (2 thn), hampir tak pernah benar-benar tidur. Ia sering menangis karena rasa tidak nyaman di tubuhnya. Aku hanya bisa memeluknya, mencoba menenangkan, meski hatiku juga hancur melihatnya menderita. Tubuh anakku sangat kurus dan ringkih, karena nutrisinya tidak terserap dengan baik. Ia tidak bisa berjalan dan sering menangis, tapi bukan karena ingin bermanja dengan orang tuanya, tapi karena Ia selalu merasa ada yang salah pada tubuhnya.Penyakit ini bermula saat tubuhnya tampak menguning dan kotoran BAB-nya berwarna pucat. Dokter kemudian menjelaskan bahwa saluran empedu di tubuh anakku tidak terbentuk dengan sempurna atau mengalami sumbatan, sehingga perlahan merusak organ hatinya. Aku mencoba berharap anakku menjalani terapi obat yang disarankan dokter, tapi harapan itu perlahan menyusut ketika tubuh anakku tak merespon. Perutnya terus membuncit karena organ hatinya membengkak. Gatal tak tertahankan di seluruh tubuhnya membuatnya tidak sengaja melukai wajahnya sendiri karena garukan. Di tengah kecemasan itu, aku semakin terpukul karena Ia juga didiagnosa sakit jantung. Akibatnya, Ia jadi sering sesak napas dan mudah lelah. Di tengah penyakit berat yang menyusul datang, anakku harus menjalani operasi kasai untuk empedunya yang tersumbat.Namun, operasi yang dijalani anakku dengan taruhan hidup dan mati itu gagal! Dokter mengatakan langkah terakhir dan satu-satunya hanyalah transplantasi hati. Hati kami hancur, tentu. Tapi jika aku lemah, bagaimana dengan anakku?Biayanya besar dan kondisi gizi anakku belum optimal, langkah itu luar biasa berat bagiku. Aku sudah menjual perhiasan, motor, bahkan menghabiskan tabungan untuk pengobatan anakku selama ini. Suamiku hanya pegawai di rumah sakit, sedangkan aku hanya guru TK. Penghasilan kami tak sebanding dengan biaya pengobatannya yang sangat besar. Sementara itu, anakku masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Nada tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Nada!
Dana terkumpul
Alami TB Meningitis Hingga Fungsi Ginjalnya Terganggu, Sultan Terancam Harus Cuci Darah!
“Nak, yang kuat ya, jangan pernah menyerah melawan sakitmu. Ayah selalu di sini, terus mendampingimu, menggenggam harapan untukmu, apa pun keadaanmu.Ayah juga akan terus mendampingimu, bagaimanapun kondisimu.”“Setiap hari Ayah merindukan suaramu yang dulu memanggil ‘ayah’ dengan penuh ceria, yang kini hanya bisa Ayah dengar kembali dalam ingatan Ayah. Tapi Ayah tidak akan berhenti percaya, akan ada mukjizat yang diberikan Tuhan bagi yang berusaha.”Perkenalkan, aku Uden Efendi, hanya tukang ojek pangkalan di Cisarua yang setiap hari menggantungkan harapan dari upah yang tak menentu. Namun, penghasilanku yang tak seberapa itu kini juga harus mencukupi pengobatan anakku, Sultan Aly Shaheer Arrafif (10 bln).Anakku baru berusia 4 tahun, tapi Ia sudah harus menanggung penyakit yang mengerikan akibat TB meningitis yang menyerang otaknya. Awalnya penyakit ini datang dengan gejala demam, Ia juga lebih sering tertidur. Pihak rumah sakit mengatakan anakku baik-baik saja.Hingga akhirnya kesadaran anakku hilang seiring waktu, tubuhnya terus berkeringat tanpa henti dan Ia mulai sering kejang-kejang. Rasanya duniaku seolah berhenti saking terkejutnya. Aku hanya bisa panik, melarikannya dari satu rumah sakit ke rumah sakit lainnya karena keterbatasan ruang intensif.Sejak itu, tak ada lagi anakku yang aktif, ceria dan pandai bicara. Kini, pemandanganku hanya anakku yang terbaring lemah, tubuhnya kaku karena sering kejang. Bahkan, untuk sekedar bergerak bahkan memanggilku saja, dia sudah tidak mampu. Napasnya sering sesak, harus menggunakan alat bantu napas oksigen. Makan dan minum pun harus mengandalkan selang NGT yang ditancapkan melalui hidungnya, dia tidak mampu mengunyah.Sudah 10 bulan Ia bertahan dari penyakitnya, kondisinya terus memburuk hingga fungsi ginjalnya terganggu. Anakku mengalami dehidrasi berat hingga kembali harus dirawat secara intensif. Anakku dihadapkan dengan kemungkinan terburuk, yaitu cuci darah. Seolah berdiri di ujung harapan, aku begitu ketakutan kehilangannya. Sementara itu, biaya pengobatan anak membuatku terpuruk. Keluarga kami sangat sederhana, penghasilanku dari narik ojek harus dibagi untuk menafkahi empat anak. Sejak anakku sakit, istriku akhirnya ikut serta mencari nafkah sebagai ibu rumah tangga.Bahkan, satu-satunya tanah yang aku miliki, sudah aku relakan untuk dijual demi anakku bisa terus pengobatan. Sementara itu, aku anakku membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, oksigen, selang NGT, obat yang tidak dicover BPJS dan kebutuhan lainnya, Aku yakin, suatu saat anakku bisa kembali seperti dulu, berlari, tertawa dan bisa merasakan kehidupan seperti anak-anak pada umumnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Sultan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Sultan!
Dana terkumpul
Plasma Darahnya Sampai Dikirim Keluar Negeri, Anakku Alami Penyakit Langka!
“Penyakitnya yang diderita anakku sangat langka, sehingga sampel darahnya harus dikirim ke India dan Korea untuk diteliti dokter! Biayanya mencapai Rp 9,8 juta, jumlah yang terasa begitu jauh dari jangkauanku. Sementara aku masih dibayangi utang dari pembelian obat-obatan anakku sebelumnya.”“Akhirnya anakku yang lain juga harus ikut berkorban. Ia terpaksa menunda pendaftaran sekolahnya, karena uang yang ada diutamakan untuk pengobatan adiknya yang sakit. Di tengah semua itu, aku berusaha bertahan dengan mencari penghasilan tambahan sebagai tukang urut, demi sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari. Aku sampai stres, tak selera makan, bingung menghadapi keadaan.” -Siti Rahayu, Orang tua Zhafir-Kondisi anakku, Zhafir Sakif Abqory (3 bln), sudah mengkhawatirkan sejak dalam kandungan. Ia harus lahir lebih cepat melalui operasi caesar karena posisi sungsang, dengan berat badan hanya 1,9 Kg. Sejak itu, Ia harus dirawat di NICU selama 3 hari dan di NFSU2 selama 3 minggu. Saat usianya baru menginjak 3 bulan, anakku mulai menunjukkan gejala aneh. Mata kiri dan kanannya sering berkedut berulang kali. Ia juga enggan menyusui dan tubuhnya tampak lemas. Hingga suatu hari, Ia mengalami sesak napas hebat. Dalam kepanikan, aku segera membawanya ke rumah sakit.Duniaku rasanya berubah menjadi kelam, anakku tak sadarkan diri selama 4 hari! Dokter menyampaikan bahwa ia mengalami radang lambung. Ia sampai diberikan susu kaleng karena terus menolak ASI, tapi anakku justru muntah-muntah. Badannya semakin lemah hingga tak sadarkan diri.Namun kenyataan yang lebih pahit harus aku terima ketika dokter mendiagnosa Zhafir dengan kelainan Mitokondria. Sebuah kondisi langka yang menyebabkan gangguan saraf berat, membuat tubuhnya tidak mampu mengubah makanan menjadi energi. Akibatnya, Ia mengalami kelemahan otot, kejang, gangguan pernapasan, hingga penurunan kemampuan gerak.Dalam sehari, anakku bisa mengalami kejang hingga 6 kali, yang berlangsung sekitar 2 menit, dilanjutkan penurunan kesadaran. Hingga kini, Ia lebih sering keluar-masuk PICU rumah sakit dan menjalani rawat inap berulang. kesulitan menegakkan kepala, hanya bisa mengkonsumsi susu medis dan lebih banyak tidur.Hancur sekali hatiku setiap melihatnya tubuhnya harus menerima tindakan medis, ditusuk berulang kali dan makan minumnya harus melalui selang NGT yang ditancapkan ke hidungnya. Setiap malam aku hanya bisa menangis dan kesulitan tidur karena mengkhawatirkan anakku.Meski dalam keterbatasan ekonomi yang begitu berat, aku tak pernah berhenti berjuang. Bahkan, aku pernah hanya memiliki uang Rp25.000, menggendong anakku naik bus untuk ke rumah sakit. Aku menahan nyeri perut karena lapar berjam-jam, sambil menunggu antrian pengobatan hingga sore.Suamiku bekerja sebagai caddie golf tanpa hari libur. Ia berjalan hingga 8 kilometer setiap hari, hingga kakinya sakit dan kesehatannya ikut menurun. Sering kali ia mengalami migrain karena terpapar panas seharian di lapangan. Namun penghasilan yang didapatkan tetap tidak mencukupi, terlebih biaya pengobatan anak kami Di luar obat yang tidak ditanggung BPJS, masih banyak kebutuhan lain yang harus kami penuhi, mulai dari biaya transportasi ke rumah sakit, vitamin, selang NGT, hingga kebutuhan medis lainnya#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Zhafir tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Zhafir!
Dana terkumpul
Di Balik Senyum yang Memudar, Alina Alami kelainan Jantung Langka
“Aku dan suami hampir depresi ketika putra pertama kami wafat pada usia 19 hari. Dan kini, duniaku runtuh untuk kedua kalinya. Putriku malah diserang penyakit mematikan, jantungnya bermasalah hingga membuatnya terancam gagal organ!”“Pengobatannya membutuhkan biaya yang tak sedikit. Setiap hari aku dan suami berikhtiar berjualan nasi pecel dan gorengan di depan sekolah. Namun, seringkali dagangan itu hanya kembali tanpa terjual, sepi, seperti harapan yang perlahan meredup. Dalam keputusasaan, aku hanya bisa berdoa, Ya Tuhan, bagaimana kami bisa memberikan harapan untuk anak kami?” -Tusama, Orang tua Alina-Sejak mengandung Alina Zalfa Azzura (1 thn), aku sering mengalami pendarahan hebat dan menjalani rawat inap. Aku hanya bisa berdoa, sampai akhirnya Allah mengizinkan Alina bertahan dan dengan gigih lahir ke dunia. Tangis pertamanya menjadi kebahagiaan tak terhingga bagiku.Namun kebahagiaan itu tak berlangsung lama. Memasuki usia 4 bulan, pertumbuhannya seperti terhambat, bahkan kaki dan tangannya tampak membiru. Rupanya, putri kecilku yang biasanya tampak riang telah diserang kelainan jantung kompleks.Penyakit itu tergolong langka di Indonesia! Senyum anakku yang dulu menghangatkan hati, kini berubah menjadi tangis menyayat hati. Aku berlari dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain, berharap ada harapan. Tapi rumah sakit di daerahku tak sanggup menangani penyakit anakku. Akhirnya, anakku dirujuk pengobatan dari Lampung ke Jakarta. Aku tidak punya aset apapun selain rumah dan motor yang biasa digunakan untuk berjualan. Dengan hati berat, motor itu kami gadaikan demi menyelamatkan nyawa anakku.Saat ini, anakku masih menunggu jadwal operasi jantungnya. Tubuh kecilnya sering sesak napas, kulitnya membiru, dan setiap tarikan napasnya terasa seperti perjuangan panjang. Tak ada malam tanpa air mata, aku tak sanggup membayangkan tubuh mungilnya harus terbaring di meja operasi, menghadapi dinginnya ruang bedah.Di tengah perjuangan ini, aku juga dihadapkan pada keterbatasan biaya. Pernah suatu hari, kami kehabisan ongkos dari rumah singgah ke rumah sakit. Aku dan suami hanya bisa berjalan kaki sejauh 1 km, sementara Alina digendong. Selama sebulan, kami bertahan hanya dengan tempe dan terong untuk berhemat.Bahkan, aku pernah berada di titik paling putus asa. Uang yang seharusnya kami gunakan untuk pulang ke Lampung, terpaksa dipakai untuk mengaktifkan kembali BPJS Alina. Saat itu, kami bahkan tak mampu membeli susu dan pampers untuknya. Tapi di saat itulah, Allah kirimkan pertolongan melalui orang-orang baik yang membantu kami pulang.Hari ini, aku masih menggenggam harapan itu. Aku percaya, mukjizat akan datang melalui tangan-tangan baik yang tergerak. Alina hingga kini masih membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Alina tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Alina!
Dana terkumpul
Nyaris Tak Selamat, 7 Tahun Jordan Berjuang dari Meningitis Hingga Hidrosefalus!
“Anakku pernah dinyatakan meninggal dunia! Saat itu aku menangis histeris sampai tubuhku gemetar, dan dengan sisa harapan yang kupunya, aku memohon kepada dokter agar tidak melepas selang-selang medis penopang hidup anakku. Jangan ambil dia dariku, aku belum siap kehilangan buah hatiku.”“Di tengah keputusasaan itu, aku berdoa tanpa henti. Dan di saat terduga, mukjizat itu datang. Tuhan menjawab dengan cara tak terbayangkan, napas anakku tiba-tiba kembali, Ia hidup! Tak ku sangka, pujian kepada Sang Juru Selamat yang selalu aku lakukan untuk terapi jiwaku yang kalut, ternyata begitu magis dan luar biasa.” -Hotlan Sipangkir, Orang tua Jordan-Pada 2020 lalu, malapetaka datang pada tubuhku kecil anakku, Jordan Kristian Lumban Batu (7 thn). Tiba-tiba Ia mengalami muntah hebat dan kejang berkepanjangan hingga tak sadarkan diri. Saat dirawat di rumah sakit, anakku dinyatakan koma!Lututku lemas, dunia terasa berhenti berputar, aku nyaris jatuh pingsan. Belum sempat aku menerima kenyataan pahit itu, cobaan lainnya datang. Nasib anakku kian tragis, karena hasil pemeriksaan dokter menunjukkan ada bakteri menyebar melalui aliran darah dan merusak organ tubuhnya.Anakku harus menelan takdir getir, Ia didiagnosa penumpukan cairan di otak (hidrosefalus), meningitis, epilepsi, hingga cerebral palsy. Ia harus menjalani operasi pemasangan selang dari kepala menuju perut, untuk mengurangi kelebihan cairan di otaknya.Sejak itu, tidak ada jeda bagi anakku untuk berjuang. Sudah 6 tahun dilewati dengan kepasrahan dan doa, mengharapkan mukjizat Bapa di surga untuk anakku. Hingga kini, Ia belum juga bisa bicara, berdiri, bahkan makan sendiri. Tubuh bagian kanannya melemah akibat kejang hebat, Ia harus minum obat seumur hidupnya. Setiap kambuh, anakku akan memukul dan membenturkan tubuhnya sendiri. Saat itu terjadi, aku hanya bisa memeluknya erat sambil menangis, berharap rasa sakitnya bisa berpindah padaku.Meski begitu, aku tidak pernah berhenti berjuang. Dalam keterbatasan, aku tetap melakukan apa pun demi kesembuhannya. Aku rela meminjam uang ke sana-sini, asalkan anakku bisa terus berobat dan menjalani terapi.Setiap perjuangan, Tuhan selalu memberikan secercah harapan. Sebelumnya anakku tidak bisa apapun, kini sudah bisa duduk. Hal sederhana bagi orang lain, tapi bagiku itu adalah keajaiban yang menguatkan langkahku. Aku bangga dan semakin yakin untuk terus mendampinginya, apapun yang terjadi.Namun, biaya pengobatannya terus berlanjut. Suamiku hanya bekerja sebagai kurir antar paket dan terkadang bekerja kuli bangunan. Penghasilannya terbatas untuk anakku yang membutuhkan biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Jordan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Jordan!
Dana terkumpul
Setahun Lebih Tak Kunjung Operasi, Rianti Bertahan dari Kelainan Jantung
“Dokter telah memasang ring kedua kalinya pada anak saya karena tak kunjung mendapat jadwal operasi. Kami sudah kehabisan biaya, saya hanya penjual seblak di depan rumah, itu pun sambil menggendong anak. Anak saya belum bisa berjalan, tapi semangatnya sangat tinggi untuk belajar berjalan sambil berpegangan. Bahkan Ia sampai kelelahan dan ngos-ngosan, ketika saya suruh berhenti dia akan menangis.” -Refti Ika Purwanti, Orang tua Rianti-Anak ketiga saya, Rianti Anindira Kanza (2 thn), didiagnosa kelainan jantung bawaan. Penyakit ini terlihat saat usianya 6 bulan, yaitu kuku tangan, kaki, hingga bibirnya tampak membiru. Kondisinya semakin parah ketika menangis, Ia akan mengalami sesak nafas. Saya akhirnya membawa anak periksa ke dokter, hasilnya buat saya terkejut. Salah satu katup jantung Rianti tidak terbentuk sempurna dan terjadi penyempitan pembuluh darah. Dokter langsung mengambil tindakan kateterisasi dan pemasangan ring di jantung anak saya agar tidak mengalami sesak.Anak saya dirujuk untuk melanjutkan pengobatan di Jakarta untuk operasi. Saya nekat menjual semua harta yang saya punya demi bisa membawa anak dari Karimun, Riau, menuju Jakarta. Tapi sesampainya di Jakarta, anak saya tidak bisa langsung mendapatkan tindakan karena harus mengantri.Hampir 2 bulan saya menunggu jadwal operasi anak di Jakarta, tapi hasilnya nihil. Akhirnya kami pun kembali pulang ke kampung tanpa adanya tindakan apapun pada anak saya. Saya sudah kehabisan biaya hidup selama di Jakarta. Kini sudah setahun lebih anak saya masih belum juga mendapatkan kabar mengenai jadwal operasi. Selama ini anak saya hanya melakukan kontrol rutin ke rumah sakit di kota. Tentu saja kondisi anak saya memburuk, Ia semakin membiru dan sulit menelan makanan.Anak saya masih harus terus menjalani kontrol rutin ke rumah sakit di kota yang tidak ditanggung BPJS, saya sudah tidak ada biaya. Penghasilan suami saya juga terbatas meski saya juga sudah bantu kerja tambahan. Anak saya masih butuh dana untuk operasi, transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak dicover BPJS, susu, dan kebutuhan anak lainnya.#TemanBaik, mari bantu Rianti agar bisa melanjutkan pengobatan dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Ibu Single Parent Berjuang untuk Anaknya yang Sakit Jantung Hingga Hidrosefalus
“Tak hanya lahir dengan berbagai penyakit di tubuhnya, anakku juga hadir di tengah kisah rumah tanggaku yang hancur. Saat usianya baru 8 bulan, Ia harus berjuang di meja operasi untuk mempertahankan hidupnya. Sementara itu, aku hanya bisa berdiri sendiri di luar ruangan, menunggu selama hampir 4 jam dengan perasaan takut.”“Hanya anakku yang aku punya satu-satunya, yang menjadi penyemangat hidupku setelah aku berpisah dari suami yang entah kemana. Aku tak mau kehilangan anakku, tapi aku juga kesulitan membiayai pengobatannya. Sementara aku tidak bekerja karena mengurus anak, bahkan masih menumpang tinggal di rumah orang tuaku..” -Septa Riani, Orang tua Gintari-Aku sangat cemas ketika anakku, Gintari Bilqis (2 thn), lahir prematur tanpa menangis sama sekali seperti bayi pada umumnya. Tubuh kecilnya justru segera dilarikan ke ruang NICU rumah sakit. Selama 13 hari, ia bertahan di dalam inkubator, berjuang sejak detik pertama kehidupannya.Setelah aku diizinkan untuk membawa anakku pulang, aku berpikir kondisinya akan baik-baik saja. Namun, harapan itu pupus ketika berat badan anakku tak kunjung naik setelah sebulan di rumah. Setiap kali menyusui, Ia selalu tersedak. Tubuhnya tampak membiru hingga urat-uratnya tampak tegang.Saat dibawa ke rumah sakit, ternyata hal yang harus dihadapi anakku sangat menyakitkan. Anakku didiagnosa jantung bocor, epilepsi yang memicu kejang, bronkopneumonia (radang pada paru-paru), cerebral palsy (kerusakan otak) hingga hidrosefalus (penumpukan cairan di otak).Rasanya aku hilang arah mendengar rentetan penyakit anakku, yang bahkan sebelumnya nama penyakit itu sangat asing di telingaku. Pikiranku dipenuhi pertanyaan tak terjawab, apakah anakku bisa menanggung semua ini? Bagaimana bisa aku menjaganya tetap bertahan?Akhirnya, dokter mengambil tindakan untuk menyelamatkan anakku. Ia sudah menjalani operasi pemasangan selang VP-Shunt, untuk mengalirkan penumpukan cairan dari otak ke pertunya. Setiap operasi, aku menjaganya sendirian sampai aku sendiri jatuh sakit karena kelelahan. Anakku hanya bisa menghabiskan waktunya dengan berbaring tak berdaya, jarang sekali bergerak bebas seperti anak-anak seusianya. Terkadang, tanpa tanda apapun, kondisinya tiba-tiba demam. Setiap waktu terasa begitu lambat karena aku terus menanti kondisi anakku membaik.Hingga saat ini, aku masih mengandalkan orang tuaku untuk sehari-hari dan dua anakku. Mereka hanya bekerja sebagai buruh cuci mobil yang penghasilannya Rp70 ribu sehari, itu pun jika hanya ada mobil. Bahkan saat anakku dirawat inap, aku pernah pasrah tidak ada uang sama sekali.Suster saat itu memintaku untuk mempersiapkan pampers, minyak telon, dan minyak zaitun. Aku bingung harus melangkah kemana karena tidak anak uang sama sekali. Namun, hal tak terduga terjadi, orang tua pasien lain yang satu kamar dengan anakku membantu mencarikan semua kebutuhan itu. Ternyata masih ada tangan baik yang hadir tanpa diminta.Pengobatan anakku masih berlanjut, sementara aku kesulitan biaya. Anakku masih membutuhkan transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Gintari tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Gintari !
Dana terkumpul
Alami Pembengkakan Hati, Ikhsan Tidak Punya Biaya untuk Operasi Lanjutan
“Selama 4 tahun berjuang dari penyakitnya, anakku sudah 12 kali keluar-masuk rumah sakit dan 2 kali menjalani operasi. Begitu banyak rasa sakit dan air mata yang dilaluinya. Namun, penyakit ini seolah tak memberinya jeda untuk sejenak merasa sembuh, karena sekarang perutnya kembali membuncit.”“Aku terpaksa mengubur semua rasa sedihku dalam-dalam setiap kali berada di depannya. Dokter mengatakan anakku tidak boleh banyak pikiran dan stres, karena itu bisa mempengaruhi kesehatannya. Di hadapan anakku, aku harus tegar dan menjadi sumber kekuatan, meski sesungguhnya aku juga rapuh.” -Mardiana, orang tua Ikhsan-Meski tubuhnya sangat lemah, tapi anakku, Ikhsan Firdaus NST (10 thn), selalu semangat untuk kembali ke kehidupannya yang sehat seperti sebelumnya. Ia selalu mengatakan, “Mak, nanti kalau aku sembuh, aku mau ikut olahraga di sekolah. Aku rindu lari-larian, Mak, rindu renang di sungai.” Ia memang anak yang sangat aktif sebelum sakit.Namun, kehidupannya menjadi kelam ketika Ia memasuki usia 7 tahun. Mata dan seluruh tubuhnya perlahan berwarna kuning. Perutnya juga membuncit dan mengeras secara tidak normal. Aku kira pengobatan di puskesmas saja sudah cukup, tapi ternyata perjalanannya untuk sembuh penuh dengan air mata. Dokter mengatakan organ hati anakku mengalami pembengkakan sehingga perutnya ikut membesar. Ada cairan menumpuk di perutnya akibat organ hatinya bermasalah. Duniaku rasanya runtuh, anakku yang masih kecil harus menanggung beban yang mengerikan mulai detik itu juga.Ia harus menjalani operasi sedot cairan pada organ hatinya. Hari-harinya kini diisi dengan demam yang tak kunjung reda. Tubuhnya lemas, mudah lelah, sering mencret dan kehilangan tenaga. Aku hanya bisa memandangnya sambil menangis, berharap rasa sakit itu pindah kepadaku. Dokter mengatakan perutnya yang kembali membesar harus segera dioperasi lagi. Namun sampai sekarang aku belum bisa membawa anakku berangkat, karena tak ada biaya. Sekedar kontrol ke rumah sakit saja, aku harus menempuh 9 jam perjalanan naik bus dari rumah di kawasan Mandailing Natal ke Padang.Aku sampai menjual kebun hingga meminjam uang pada keluarga demi kesembuhan anakku selama ini. Sementara pekerjaanku hanyalah buruh cuci dan gosok pakaian panggilan, penghasilanku tak menentu. Terkadang aku juga menjual jasa cuci baju keluarga pasien di rumah sakit tempat anakku dirawat hingga jasa titip membeli sesuatu dibayar seikhlasnya. Aku terus berjuang meski pengobatan anakku seperti beban yang terasa mustahil. Selain ongkos ke rumah sakit, anakku masih membutuhkan biaya untuk membeli obat yang tidak ditanggung BPJS, rawat inap, dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Ikhsan tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Ikhsan!
Dana terkumpul
Menjadi Penghafal Al-Qur’an, Wibatsu Ingin Mengubah Masa Depannya
“Wibatsu memilih jalan sebagai penghafal Al-Qur’an. Baginya, prestasi bukan sekedar kewajiban, tapi juga jalan untuk mengubah masa depannya. Baginya, setiap ayat yang dihafal adalah bekal, agar kelak ia bisa membantunya untuk mandiri dalam menempuh pendidikan yang lebih tinggi.”“Sejak kecil, Ia tumbuh dalam keterbatasan. Orang tuanya bekerja tanpa lelah mengantarkan galon isi ulang dan berjualan di sekolah demi menyambung hidup. Penghasilan yang tak menentu membuat langkah Wibatsu untuk mengenyam pendidikan terasa berat…”Wibatsu Hamam Dafauzan (19 thn), saat ini sedang duduk dibangku kelas 3 sekolah MAN 3 Bantul Yogyakarta. Selain itu, Ia juga menjalani hari-harinya di Pondok Pesantren Al-Muna 1, tempat ia menapaki jalan sebagai seorang penghafal Al-Qur’an. Baginya, ayat demi ayat ia jaga dalam hati, menjadi cahaya yang menuntunnya di tengah gelapnya keterbatasan. Cita-citanya sederhana, Ia ingin menjadi seorang ustadz. Ia ingin membagikan ilmu yang Ia pelajari selama ini, agar menjadi penerang bagi orang lain. Wibatsu sadar, langkahnya untuk menuju bangku kuliah tidaklah mudah. Bahkan mungkin terasa hampir mustahil. Namun, Ia memilih untuk tidak menyerah. Ia ingin tetap melanjutkan pendidikan, bahkan jika Ia harus sambil bekerja.Ia ingin membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Ia selalu mengingat nasihat dari orang tuanya, bahwa Tuhan selalu memberikan jalan bagi mereka yang berusaha. Ia ingin sukses, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk mengangkat derajat orang tuanya. Apa yang dijalani Wibatsu adalah tentang keteguhan. Tentang seorang anak yang tetap melangkah meski jalannya terjal. Tentang kerja keras dan doa orang tua yang tak pernah putus dari orang tua yang berharap anaknya bisa memiliki kehidupan yang lebih baik.Kini, di persimpangan antara mimpi dan kenyataan, Wibatsu masih terus berjuang. Ia masih membutuhkan biaya untuk uang sekolah, biaya pesantren, transportasi ke sekolah dan kebutuhan lainnya.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Wibatsu tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Wibatsu!
Dana terkumpul
Bekas Jahitan Operasi Kankernya Terbuka, Pak Endang Kesulitan Biaya Melanjutkan Pengobatan
“Kondisi suamiku kini sangat kritis, rasa sakit yang ia tanggung setiap hari akan semakin menjadi-jadi. Kotorannya keluar bukan hanya melalui anus, tetapi juga dari lubang bekas jahitan operasi di perutnya yang terbuka. Setiap hari ia menahan perih, malu, dan penderitaan yang sulit dibayangkan.” -Asih Triyani, Istri dari Endang-Tiba-tiba suamiku, Endang Suhendar (39 thn), perlahan mengeluhkan sulit buang air besar dan tidak bisa kentut. Hari demi hari perutnya semakin membesar, keras, dan sembelit yang Ia rasakan begitu menyiksa. Aku tidak pernah menyangka, dari keluhan sederhana itu justru menjadi awal cobaan panjang dalam keluargaku. Dokter mengatakan bahwa suamiku menderita kanker usus besar. Saat itu, dadaku seketika sesak dan air mataku jatuh, tidak kuat mendengar kenyataan getir itu.Kanker besar itu terjadi karena adanya tumor di bagian usus, sehingga saluran pencernaannya terganggu. Rasa sakit yang Ia rasakan begitu hebat, sementara aku hanya bisa menemaninya sambil berdoa agar penderitaannya diringankan.Suamiku sudah menjalani 3 kali operasi dan tiga kali masuk ICU. Ia juga sudah menjalani rawat inap serta kemoterapi rutin 3 kali dalam sebulan. Setiap kali akan ke rumah sakit, aku harus menempuh perjalanan dari Pandeglang, Banten menuju Jakarta.Kini, kondisi suamiku sangat memprihatinkan. Ia hanya bisa berbaring di kasur, duduk saja harus aku bantu perlahan sambil disandarkan ke bantal. Bangun dan berjalan pun sangat sulit, Ia akan merasakan nyeri hebat di perut dan lubang anusnya setiap kali kambuh.Meski tubuhnya melemah, semangat suami saya untuk sembuh tak pernah surut. Setiap hari Ia terus berdoa dan berusaha kuat, seringkali Ia menangis sambil berkata ingin sembuh karena ingin melihat anak-anak kami tumbuh besar. Ia ingin kembali memeluk anak-anaknya dan menjadi ayah yang selalu ada untuk mereka.Sejak sakit, suami saya tidak lagi bisa bekerja dan tidak memiliki penghasilan. Kini saya yang berjuang mencari nafkah seorang diri. Saya bekerja cuci gosok di rumah tetangga, kadang membantu membuat gorengan, dengan upah Rp50 ribu setiap selesai kerja. Demi pengobatannya, aku sudah menjual rumah dan barang-barang sampai tak tersisa. Aku dan keluargaku sampai menumpang tinggal di rumah kakekku yang sudah tua dan rapuh. Pernah ada masa ketika di rumah tak ada uang sedikitpun, akhirnya aku meminjam uang ke tetangga hanya agar anak-anak bisa makan serta suami saya bisa berobat.#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Endang tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Endang!
Dana terkumpul
Ditabrak Saat Pulang Kerja, Yontrinus Harus Operasi Bedah Tulang!
“Adikku ditabrak saat mengendarai motor sepulang kerja! Kejadian itu mengubah hidupnya dalam sekejap. Tulang kaki kanan dan jari kelingkingnya patah, memaksanya menjalani serangkaian operasi bedah tulang. Kini, yang paling menakutkan bukan hanya rasa sakit, tapi ancaman kehilangan kakinya untuk selamanya.”“Saat ini, adikku mengalami dilema dan stres karena takut kehilangan kakinya karena tak mampu membiayai pengobatannya. Baginya, kaki itu bukan sekadar anggota tubuh, tapi harapan untuk kembali berdiri, berjalan, dan mencari nafkah seperti dulu. Sementara aku, dengan segala keterbatasan, hanya mampu berusaha semampuku, menahan sesak di dada karena tak bisa berbuat lebih untuknya.” -Narto Yabu, Kakak dari Yontrinus-Adikku, Yontrinas Umbu Kapanding (27 thn), saat ini masih terbaring tak berdaya di kamar rumah sakit. Ia sudah menjalani dua kali operasi pada kakinya. Ia masih belum bisa melakukan aktivitas apapun, kakinya masih sangat sakit untuk digerakkan.Terkadang, rasa nyeri yang sangat tajam pada kakinya kambuh. Ia hanya bisa menahan sendiri sambil meneguk obat, lalu mencoba tidur, berharap sakit itu mereda ketika Ia bangun. Hal yang membuat adikku semakin terpukul, Ia diperkirakan tidak bisa bekerja hingga 1-2 tahun. Sementara Ia juga harus membiayai hidupnya dan pengobatannya, tidak bisa selamanya mengandalkan bantuan dari orang yang ada. Tabungan yang Ia kumpulkan dari keringat sebagai tukang aluminium untuk pembuatan lemari, jendela, dan pintu, kini habis tak tersisa. Sedangkan aku sebagai walinya, lebih banyak membantu mencari pinjaman sana-sini, bahkan pernah tidak tidur dua malam untuk mengurus keperluannya.Aku juga berupaya mencari pekerjaan apa pun agar adikku bisa melanjutkan pengobatannya. Saat ini, Yontrinus masih membutuhkan biaya untuk transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, pampers dan kebutuhan lainnya. #TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Yontrinus tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Yontrinus!
Dana terkumpul
Bantuan Sembako untuk Yatim, Duafa, dan Lansia di Panti Babussalam Cisalak
Panti Babussalam Cisalak berupaya untuk meningkatkan kesejahteraan sosial, setiap anak berhak untuk hidup dan tumbuh kembang berdasar pada kasih sayang.Hai TemanBaik, Aku memutuskan untuk mendirikan Yayasan Babussalam Cisalak pada tahun 2017 di Kota Depok, atas keprihatinanku dalam melihat banyaknya anak menjadi pekerja serabutan dan terlantar. Panti ini kemudian bergerak di bidang penyantunan anak yatim, duafa, dan lansia. Sudah 80 anak yang terdiri dari anak yatim, piatu dan duafa, yang kami tampung. Banyak dari mereka yang tidak mampu secara ekonomi, sehingga mereka tidak terlalu memperhatikan pendidikan dan makanannya. Salah satunya, Satria. Anak yang ditelantarkan ayahnya sejak masih kecil. Sementara, ibunya bekerja sebagai satpam dan jarang pulang. Ia lalu dititipkan ke Panti Babussalam Cisalak. Alhamdulillah, selama di sini Satria mendapatkan perhatian dan bantuan untuk sekolah. Maka dari itu, aku ingin tetap bisa menjaga mereka, mencukupi kebutuhan sehari-hari anak binaan. Supaya selain pendidikan, gizi dan asupan mereka pun terpenuhi dengan baik. Untuk TemanBaik yang ingin turut membantu anak-anak di sini, boleh dengan meng-klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul
Berjuang di Sisa Usia, Pak Mugni Berjuang Melawan Kanker Usus Stadium 4
“Saat ini aku sedang bertarung melawan kanker stadium empat! Namun, perjuangan ini bukan hanya milikku seorang, tapi juga ada istriku, wanita yang tak pernah pergi meski setiap hari menyaksikanku menahan sakit. Di usia kami yang tak lagi muda, kami hanya hidup berdua, tanpa anak, dan saling menguatkan.”“Setiap hari perutku melilit hebat, membuatku merintih. Di sisi tempat tidur, istriku hanya bisa menangis, tak berdaya karena sering tak punya biaya untuk membawaku berobat. Ia hanya bisa mengusap perutku berulang kali, berharap sentuhannya bisa meredakan rasa sakit yang menggerogoti tubuhku.”Aku Mugni (57 thn). Dulu aku seorang petani, pekerjaan yang membuatku merasa hidup, karena membuatku menafkahi diriku dan istriku. Namun, penyakit ini merenggut segalanya, tak hanya tubuhku, tapi juga penghasilanku. Kini, hidupku semakin sulit karena tak bisa bekerja lagi. Perut sebelah kiriku bengkak dan mengeras saat pertama kali penyakit ini datang. Aku sampai tidak bisa BAB, bahkan buang angin pun tidak. Dengan harapan sembuh, aku bergegas ke rumah sakit. Tapi kenyataannya, perutku malah makin membengkak hanya dalam waktu 1 malam.Dokter mengungkapkan kenyataan yang begitu kejam, aku didiagnosa kanker usus. Duniaku runtuh, sejak itu hidupku tak mudah. Aku buang air melalui perutku yang dilubangi, dengan ususku berada diluar perut setelah 2 kali menjalani operasi. Tubuhku semakin kurus dihabisi penyakit, bagai tulang dibalut kulit.Selama ini, kebutuhan sehari-hari dan pengobatan, aku hanya bisa menunggu bantuan dari keluarga dan tetangga. Kadang ada, kadang tidak sama sekali. Pernah kondisi tubuhku memburuk karena pengobatan terputus karena tak ada biaya.Di tengah semua kesulitan itu, istriku setiap hari merawatku, mengantarkanku bolak-balik ke rumah sakit dengan tubuhnya yang juga mulai renta. Kesabarannya menjadi kekuatan yang sering kali membuatku menahan air mata.Aku masih ingin sembuh. Aku ingin bisa bekerja lagi, berdiri di atas kaki sendiri, dan tidak merepotkan siapa pun. Namun jalanku masih panjang. Aku masih harus menjalani kemoterapi dan berbagai pengobatan lainnya.Saat ini aku sangat membutuhkan biaya transportasi dari Banten ke rumah sakit di Jakarta, obat yang tidak dicover BPJS, kantong kolostomi untuk menampung kotoran buang air, alat medis, dan kebutuhan lainnya.
Dana terkumpul
Penyakit Jantung Kompleks Mengintai Nyawa Daviandra
“Kami rela mengubur semua mimpi-mimpi kami, sekarang tujuan kami hanya berjuang keras agar anak bisa pengobatan. Hidup kami hanya berputar pada perjuangan, bahkan kami harus menumpang tinggal di rumah kakak untuk bisa menghemat tidak bayar kontrakan.”“Namun, sudah 8 bulan lamanya, kami tidak bisa membawa anak ke Jakarta untuk kontrol rutin karena tidak ada biaya. Suamiku yang bekerja sebagai petani, penghasilannya tak menentu, kadang semua yang ditanam gagal panen karena cuaca buruk.” -Yanti Ristia, Orang tua Daviandra-Tiga jam perjalanan menggunakan motor kutempuh dengan kekhawatiran, demi membawa anakku, Daviandra Elvano Triyan (2 thn), periksa ke rumah sakit. Semua bermula ketika petugas posyandu curiga melihat bibir anakku yang membiru saat menangis.Diagnosa sakit jantung kompleks harus diterima anakku bagai petir yang menyambar. Anakku juga harus dirujuk pengobatan ke Jakarta, taka pernah kubayangkan sebelumnya. Bingung sekali, tapi saat itu aku bertekad untuk kesembuhan anakku bagaimanapun caranya.Berbekal meminjam dana, aku membawa anakku dari Lampung ke Jakarta. Syukurlah, Ia sudah menjalani operasi dan pulih dengan cepat. Kondisinya saat ini membaik, meski sesak napas jika kelelahan dan belum bisa jalan untuk anak seusianya. Anakku harus terus kontrol rutin di rumah sakit Jakarta dan rumah sakit daerah menjelang operasi lanjutan, namun biaya yang terus mengalir membuatku merasa hampir putus asa. Di sisi lain, aku takut, karena dokter mengatakan anakku mungkin tidak akan bertahan lama jika pengobatannya terhenti.Sementara untuk kontrol ke rumah sakit daerah saja kami harus menghabiskan biaya Rp500 ribu karena jaraknya yang jauh, apalagi untuk kontrol rutin ke Jakarta. Belum lagi, untuk membeli obat yang tidak dicover BPJS yang harganya ratusan ribu dan kebutuhan lainnya. Aku telah berusaha dengan segala cara, berjualan online demi mencari tambahan biaya, namun pendapatannya masih jauh dari cukup. Aku sudah tak tahu lagi harus bagaimana untuk memberikan yang terbaik bagi kesehatannya.#TemanBaik, mari bantu Daviandra untuk melanjutkan pengobatannya dengan cara klik Donasi Sekarang di bawah ini!
Dana terkumpul