Benihbaik_2026-07-30_17854029006a6b161464fde.jpeg

“Ayah Janji, Nanti Kita Main Lagi," Kini Shanum Berjuang Melawan Meningitis TB dan Hidrosefalus

Rp. 14.990.000 dari Rp. 14.879.000

1 hari lagi


Penggalang Dana

2026-05-07_1778116974_69fbe96ebb0c7.jpg
Nur Rahmah Madaniah ceklis.svg

Identitas Terverifikasi

Penerima Donasi

anon
Shanum Mecca Alfhatunnisa

Identitas Terverifikasi user

anon
Lokasi

Wil. Kota Jakarta Timur

anon
Surat Rujukan

Tervalidasi oleh Tim BenihBaik.com user


anon
Surat Hasil Laboratorium

Tervalidasi oleh Tim BenihBaik.com user


anon
Surat Rincian Biaya Pengobatan

Tervalidasi oleh Tim BenihBaik.com user


“Kakak, Ayah mohon kuat ya kak. Ayah janji, nanti kalau Kakak sehat, kita pergi ke kebun binatang dan main sama-sama lagi.” Itulah kalimat yang selalu aku bisikkan ke telinga anakku. Berbulan-bulan lamanya aku harus merawat putriku sekaligus banting tulang mencari nafkah seorang diri.”

“Bahkan, bersamaan ketika anakku harus berkali-kali operasi, kontrak kerjaku tidak diperpanjang perusahaan. Akhirnya, aku banting setir menjadi kurir paket karena biaya pengobatan anakku terus menanti. Aku harus memanggul puluhan kilogram barang untuk diantar, pikiranku hanya tertuju pada satu hal, putriku. Semoga jerih payah ini bisa membuat putriku terus berjuang dan suatu hari benar-benar sembuh.” -Muamar, Orang tua Shanum-

Shanum Mecca Alfhatunnisa (1 thn), nama cantik itu kuberikan pada anakku sebagai doa agar putriku tumbuh sehat dan membahagiakan keluarga. Kehadirannya menjadi anugerah terindah yang memenuhi rumah kami dengan tawa dan harapan. Tapi siapa sangka, damai hatiku hilang dalam sekejap saat anakku menginjak usia 1 tahun.

Semua bermula dari demam tinggi yang tak kunjung sembuh. Setelah menjalani perawatan rumah sakit, kondisi anakku justru semakin memburuk. Ia mulai hilang kesadaran, tatapannya kosong, Ia tak lagi merespon ketika dipanggil dan matanya juling.

Setelah pemeriksaan lanjutan di rumah sakit, anakku didiagnosa Meningitis TB (ada bakteri di otak), hidrosefalus (penumpukan cairan di otak), dan epilepsi (kerusakan saraf otak). Mendengar satu per satu vonis itu, rasanya dada ini sesak. Hidupku rasanya bagai diterjang badai!

Sejak itu, hidup anakku berubah menjadi penderitaan. Tidurnya tak pernah nyenyak, bahkan dalam sehari ia hanya mampu terlelap sekitar dua jam. Selebihnya, ia harus menahan kejang, tremor, dan detak jantung yang berdetak begitu cepat. 

kondisi anakku saat ini tak bisa aktivitas apapun, hanya tiduran saja. Anakku harus menjalani terapi agar tubuhnya tidak kaku. Ia sudah menjalani operasi berkali-kali pemasangan selang untuk mengurangi kelebihan cairan di kepalanya. 

Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi orang tua selain melihat anaknya terus berjuang melawan rasa sakit tanpa mampu menggantikannya. Bohong jika aku tak merasakan putus asa, tentu saja aku sering merasakannya, apalagi ketika sedang tidak ada uang.

Penghasilanku hanya Rp70 ribu sehari, belum dipotong bensin dan makan.  Saat Shanum mulai jatuh sakit, istriku sedang mengandung. Kini setelah adiknya lahir, ia harus merawat dua anak sekaligus, bayi yang baru mengenal dunia dan Shanum yang membutuhkan perhatian sepanjang waktu.

Demi menambah penghasilan, aku kerap mengambil pekerjaan tambahan sebagai kenek truk pengangkut ayam. Namun, penghasilan yang kami dapat tetap belum mampu mengejar kebutuhan yang terus bertambah. Sementara anakku masih butuh bolak-balik rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS dan kebutuhan lainnya.

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Shanum tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Shanum!  

Bantu Campaign Lainnya