Benihbaik_2026-08-11_17864178246a7a92a0070d3.jpeg

Dari Sopir Angkot Menjadi Pasien Usus Bocor, Ayah Kini Bergantung pada Perawatan Keluarga

Rp. 878.000 dari Rp. 6.540.000

13 hari lagi


Penggalang Dana

H.komarudin ceklis.svg

Identitas Terverifikasi

Penerima Donasi

anon
Komarudin

Identitas Terverifikasi user

anon
Lokasi

Kab. Lebak

anon
Surat Rujukan

Tervalidasi oleh Tim BenihBaik.com user


anon
Surat Hasil Laboratorium

Tervalidasi oleh Tim BenihBaik.com user


anon
Surat Rincian Biaya Pengobatan

Tervalidasi oleh Tim BenihBaik.com user


“Ayah yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir angkot, tiba-tiba mengeluhkan nyeri perut yang luar biasa hebat. Bahkan, perutnya keras seperti papan, sampai Ia mual, muntah dan demam tinggi. Ia sampai lemas tak berdaya karena tak kuat menahan penderitaan yang nyari merenggut nyawanya.” 

“Kini, di keluarga hanya aku satu-satunya yang mencari nafkah. Sebagai guru honorer, aku hanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp500 ribu setiap bulan. Penghasilan itu tak hanya dibagi untuk pengobatan ayahku, tapi juga untuk kebutuhan sehari-hari dan pengobatan Ibuku yang sakit jantung. Rasanya begitu berat, tapi aku tak mau kehilangan orang tuaku.” -Fanny Nurul, Anak dari Pak Komarudin-

Awalnya, Keluarga mengira Ayahku, Komarudin, sakit maag. Namun, akhirnya keluarga melarikan ke rumah sakit dengan sangat panik karena kondisinya yang terus menurun. Hasil pemeriksaannya menjadi titik paling menyakitkan bagi keluarga, Ia didiagnosa usus bocor. 

Dokter menjelaskan bahwa usus bocornya menyebabkan isi saluran pencernaan beserta bakteri keluar ke rongga perut. Tanpa banyak waktu untuk berpikir, dokter segera melakukan operasi darurat untuk menutupi kebocoran ususnya dan membuat lubang pada perutnya untuk tempat BAB.

Perjuangan Ayah belum berakhir meski sudah operasi. Luka operasi masih sering terasa nyeri dan perih.  Beliau harus merawat kantong stoma setiap hari agar tidak menimbulkan infeksi baru. Hampir semua aktivitas sehari-harinya harus dibantu keluarga karena kondisi fisiknya lemah. 

Saat nyeri kambuh, beliau hanya bisa meringis kesakitan sambil memegangi perut. Tak jarang rasa sakit itu kembali disertai mual dan demam tinggi sehingga keluarga harus segera memberikan obat atau dibawa ke IGD.

"Aku ingin sembuh. Kasihan keluarga kalau harus mengurus aku terus dalam keadaan sakit seperti ini," kalimat sederhana itu menjadi penguat keluarga untuk terus mendampinginya melewati masa-masa sulit ini.

Aku sendiri sebagai anak melakukan apapun agar pengobatan ayahku tak terputus. Aku mengatur jadwal berobat, membantu membersihkan dan mengganti kantong stomanya, mengantarnya ke rumah sakit, hingga mengantre sejak dini di rumah sakit. Di sisi lain, aku berupaya mencari pekerjaan tambahan agar pengobatan ayahku terpenuhi.

Jujur, aku benar-benar buntu. Aku kesulitan untuk menanggung biaya transportasi ke rumah sakit, obat yang tidak ditanggung BPJS, membeli peralatan medis, dan kebutuhan lainnya. 

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp 100.000 saja, kita bisa jadi alasan Pak Komarudin tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Pak Komarudin!   

Bantu Campaign Lainnya