Benihbaik_2025-12-18_176603127469437faa40a99.jpeg

Tubuh Kaku dan Tatapan Hilang Arah, Bima Berjuang dari Mikrosefali Hingga Epilepsi

Rp. 8.702.000 dari Rp. 8.644.500

8 hari lagi


Penggalang Dana

Yurike Nurviani ceklis.svg

Identitas Terverifikasi

Penerima Donasi

anon
Yurike Nurviani

Identitas Terverifikasi user

anon
Lokasi

Kab. Sidoarjo

anon
Surat Rujukan

Tervalidasi oleh Tim BenihBaik.com user


anon
Surat Hasil Laboratorium

Tervalidasi oleh Tim BenihBaik.com user


anon
Surat Rincian Biaya Pengobatan

Tervalidasi oleh Tim BenihBaik.com user


“Suara sirine ambulans memecah kesunyian di jam hampir tengah malam itu, anakku kritis! Jantungku berdegup kencang, aku nyaris saja kehilangan anak pertamaku, buah hati yang telah kunantikan selama lima tahun penuh doa dan harapan.”

“Berkali-kali anakku masuk rumah sakit akibat demam tinggi disertai kejang. Namun, berkali-kali pula hasil pemeriksaan menunjukkan anakku baik-baik saja. Hingga akhirnya, kenyataan pahit menghantamku, ternyata anakku mengalami kelainan otak!” -Yurike Nurviani, Orang tua Bima-

Saat ini, Bimantara Ramadhan (10 bln) masih harus menghadapi kejang yang datangnya hingga 5 kali dalam sehari. Tangan dan kakinya sampai kaku, matanya menatap kosong seolah kehilangan arah. 

Semua ini akibat mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil), epilepsi, cerebral palsy (gangguan perkembangan otak), dan terlambat tumbuh kembang. Orang tua Bima setiap hari menahan air mata untuk membiayai pengobatannya. 

Ayahnya bekerja sebagai kurir catering, dibayar Rp10 ribu per alamat. Dalam sehari, pesanan yang didapat hanya enam alamat, artinya Rp60 ribu untuk menghidupi keluarga. Malam hari, Ayahnya bekerja mengantar pakaian laundry,  dengan upah Rp300 ribu seminggu. 

Tak jarang Ibunya menunduk malu, meminjam uang ke tetangga agar bisa membawa Bima berobat. Mimpi buruk Bima dimulai tak lama setelah Ia lahir. Awalnya, Bima lahir dalam kondisi sehat serta tidak ada kelainan apapun meski ibunya sempat pecah ketuban.

Namun, tiba-tiba Bima mengalami demam dan dilanjutkan menolak untuk menyusui memasuki usia 3 hari. Sampai akhirnya, Ia mengalami demam tinggi hingga disertai kejang. Dokter mendiagnosa Bima mengalami dehidrasi dan harus dirawat inap.

Di tengah kecemasan itu, tiba-tiba orang tuanya mendapat kabar bahwa Bima mengalami gagal napas, bahkan hingga 2 kali! Ibunya nyaris jatuh pingsan, apalagi Bima masuk NICU selama 10 hari. Pemeriksaan kepala sempat dilakukan, tapi dokter belum ditemukan kelainan. 

Harapan sempat tumbuh, tetapi sebulan kemudian semuanya berubah. Perkembangan Bima jauh tertinggal. Ia tak mampu tengkurap dan mengangkat kepala seperti anak seusianya. Saat kembali ke rumah sakit, dokter menduga Bima mengalami mikrosefali karena lingkar kepalanya kecil. 

Setahun menjalani pengobatan, kondisi Bima takmenunjukkan banyak perubahan. Hingga suatu hari, Ia kembali masuk rumah sakit akibat kejang yang datang hingga sepuluh kali dalam sehari. Bima dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar, di sanalah satu per satu diagnosis terungkap. Hati Ibunya hancur mendengar kenyataan yang ditanggung Bima.

Lagi-lagi, keterbatasan biaya membuat orang tuanya sering berada di persimpangan yang menyakitkan. Terkadang Bima jadi tidak ikut terapi karena tidak biaya transportasi ke rumah sakit. Belum lagi, biaya untuk obat yang tidak dicover BPJS, dan kebutuhan lainnya. 

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Bima tetap punya harapan untuk sembuh. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Bima!

Bantu Campaign Lainnya