Benihbaik_2026-04-30_177754003369f31bc164bb6.jpeg

Bekas Jahitan Operasi Kankernya Terbuka, Pak Endang Kesulitan Biaya Melanjutkan Pengobatan

Rp. 3.378.002 dari Rp. 10.650.000

7 hari lagi


Penggalang Dana

Endang Suhendar ceklis.svg

Identitas Terverifikasi

Penerima Donasi

anon
Endang Suhendar

Identitas Terverifikasi user

anon
Lokasi

Kab. Pandeglang

anon
Surat Rujukan

Tervalidasi oleh Tim BenihBaik.com user


anon
Surat Hasil Laboratorium

Tervalidasi oleh Tim BenihBaik.com user


anon
Surat Rincian Biaya Pengobatan

Tervalidasi oleh Tim BenihBaik.com user


“Kondisi suamiku kini sangat kritis, rasa sakit yang ia tanggung setiap hari akan semakin menjadi-jadi. Kotorannya keluar bukan hanya melalui anus, tetapi juga dari lubang bekas jahitan operasi di perutnya yang terbuka. Setiap hari ia menahan perih, malu, dan penderitaan yang sulit dibayangkan.” -Asih Triyani, Istri dari Endang-

Tiba-tiba suamiku, Endang Suhendar (39 thn), perlahan mengeluhkan sulit buang air besar dan tidak bisa kentut. Hari demi hari perutnya semakin membesar, keras, dan sembelit yang Ia rasakan begitu menyiksa. 

Aku tidak pernah menyangka, dari keluhan sederhana itu justru menjadi awal cobaan panjang dalam keluargaku. Dokter mengatakan bahwa suamiku menderita kanker usus besar. Saat itu, dadaku seketika sesak dan air mataku jatuh, tidak kuat mendengar kenyataan getir itu.

Kanker besar itu terjadi karena adanya tumor di bagian usus, sehingga saluran pencernaannya terganggu. Rasa sakit yang Ia rasakan begitu hebat, sementara aku hanya bisa menemaninya sambil berdoa agar penderitaannya diringankan.

Suamiku sudah menjalani 3 kali operasi dan tiga kali masuk ICU. Ia juga sudah menjalani rawat inap serta kemoterapi rutin 3 kali dalam sebulan. Setiap kali akan ke rumah sakit, aku harus menempuh perjalanan dari Pandeglang, Banten menuju Jakarta.

Kini, kondisi suamiku sangat memprihatinkan. Ia hanya bisa berbaring di kasur, duduk saja harus aku bantu perlahan sambil disandarkan ke bantal. Bangun dan berjalan pun sangat sulit, Ia akan merasakan nyeri hebat di perut dan lubang anusnya setiap kali kambuh.

Meski tubuhnya melemah, semangat suami saya untuk sembuh tak pernah surut. Setiap hari Ia terus berdoa dan berusaha kuat, seringkali Ia menangis sambil berkata ingin sembuh karena ingin melihat anak-anak kami tumbuh besar. Ia ingin kembali memeluk anak-anaknya dan menjadi ayah yang selalu ada untuk mereka.

Sejak sakit, suami saya tidak lagi bisa bekerja dan tidak memiliki penghasilan. Kini saya yang berjuang mencari nafkah seorang diri. Saya bekerja cuci gosok di rumah tetangga, kadang membantu membuat gorengan, dengan upah Rp50 ribu setiap selesai kerja. 

Demi pengobatannya, aku sudah menjual rumah dan barang-barang sampai tak tersisa. Aku dan keluargaku sampai menumpang tinggal di rumah kakekku yang sudah tua dan rapuh. Pernah ada masa ketika di rumah tak ada uang sedikitpun, akhirnya aku meminjam uang ke tetangga hanya agar anak-anak bisa makan serta suami saya bisa berobat.

#TemanBaik, tak ada donasi yang terlalu kecil jika dilakukan bersama-sama. Dengan Rp100.000 saja, kita bisa jadi alasan Endang tetap punya harapan. Yuk, klik Donasi Sekarang dan bersama kita wujudkan keajaiban bagi hidup Endang! 

Bantu Campaign Lainnya